14/12/2015
MEMPERINGATI HARI JADI BANYUWANGI KE 242
BANYUWANGI - Memperingati hari Jadi Banyuwangi yang ke 242, Masyarakat Banyuwangi menggelar napak tilas di Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Minggu (13/12/2015). Gelaran yang di laksanakan setiap tahunnya ini, diikuti oleh seluruh masyarakat Banyuwangi. Menempuh jarak sejauh 3km, ratusan masyarakat antusias mengikuti acara tersebut dengan berbagai kostum yang mereka gunakan baik dari peserta perorangan maupun beregu. Selain itu, acara ini untuk memperingati perang puputan Bayu melawan tentara Belanda pada tahun 1771 lalu.
Menempuh jarak 7 Km yang terdiri atas 2 Km jalan aspal dan 5 Km jalan setapak di tengah hutan mulai dari Lapangan Sragi hingga wana wisata Rowo Bayu, Tempat petilasan Prabu Tawangalun. Namun ada yang berbeda dari napak tilas sebelumnya,warga desa Songgon juga mengelar kirab Pusaka dan kirab tumpung gunungan hasil bumi. Kirap yang menempuh jarak 3 Km ini juga finis di tempat yang sama, ratusan pusaka yang dikirap ini adalah pusaka peninggalan leluhur saat perang menghadapi tentara Belanda.
Sekretaris Daerah (Sekda) Banyuwangi, Slamet Karyono mengapresiasi peran serta seluruh peserta yang berasal dari berbagai elemen, mulai dari dinas/instansi, pelajar, mahasiswa dan umum. "Kita maknai kegiatan ini sebagai wujud meningkatkan patriotisme dan semangat pahlawan melawan penjajah," ujarnya.
(Bahasa Using: puput = habis; Puputan Bayu = Perang habis-habisan di Bayu).Perang Puputan Bayu adalah peperangan yang terjadi antara pasukan VOC Belanda dengan pejuang-pejuang Blambangan pada tahun 1771-1772 di bayu (Kecamatan Songgon sekarang). Peperangan ini oleh fihak Belanda sendiri diakui sebagai peperangan yang paling menegangkan, paling kejam dan paling banyak memakan korban dari semua peperangan yang pernah dilakukan oleh VOC Belanda di manapun di Indonesia (Lekkerkerker, 1923 : 1056). Di fihak Blambangan, peperangan ini merupakan peperangan yang sangat heroik-patriotik dan membanggakan, yang patut dicatat, dikenang dan dijadikan suri tauladan bagi anak cucu kita dalam mencintai, mcmbela dan membangun daerahnya, Bumi Blambangan.
Dalam Perang Puputan bayu tersebut pejuang-pejuang Blambangan dipimpin oleh Rempeg, yang kemudian dikenal dengan nama Pangeran Jagapati, seorang buyut Pangeran Tawang Alun, putra Mas Bagus Dalem Wiraguna (Mas Bagus Puri) dengan ibu dari desa Pakis, Banyuwangi (Pigeaud, 1932: 255). Rempeg atau Pangeran Jagapati ini oleh Pengikutnya dipercaya sebagai titisan Wong Agung I) yang legendaris (yang juga masih buyut Pangeran Tawang Alun). Karena itu oleh Belanda Rempeg atau Pangeran Jagapati ini disebut dengan sebutan “Pseudo Wilis “, Wilis-semu. Rempeg dengan hampir seluruh pengikutnya, sepcrti Patih Jagalara, Mas Ayu (Sayu) Wiwit, Bekel-bekel Utun , Udhuh, Runteb dan lain-lain, gugur dengan gagah berani dalam Perang Puputan Bayu tersebut.