12/08/2026
Panas Surabaya dan Kerasnya Trotoar Jakarta
Pecahan a***k kristal berserakan menghantam lantai pualam rumah mewah.
"Keluar dari rumah ini jika coretan sampah itu masih kau sebut masa depan!" Suara bariton Hari menggema keras, memantul menabrak pilar-pilar besar ruang keluarga.
Bima bergeming. Rahangnya mengeras kaku. Pemuda dua puluh tahun itu menatap tajam mata ayahnya tanpa sekelumit ketakutan. Penampilannya sangat kontras mencoret kemewahan ruangan itu. Rambut ikalnya gondrong tak beraturan, menutupi sebagian dahi. Kemeja flanel pudar membalut tubuh tegapnya. Tangan kanannya mengepal kuat di samping paha, menyembunyikan sisa noda grafit membekas hitam di sela jari-jarinya.
"Ayah selalu menilai segala hal dari sampulnya saja," balas Bima pelan. Suaranya dingin menusuk. "Kejaksaan mengajari Ayah cara memenjarakan penjahat. Apakah sekarang Ayah juga ingin memenjarakan anak di rumahnya sendiri."
Plakk!
Satu tamparan keras mendarat telak di p**i kiri Bima. Panas menjalar. Perih menyengat kulit. Namun Bima pantang menunduk. Matanya terus menantang pria paruh baya berseragam dinas rapi di hadapannya.
"Anak tidak tahu diuntung!" Napas Hari memburu cepat. Telunjuknya menuding tepat ke depan wajah Bima. "Fasilitas lengkap. Uang saku berlebih. Masa depan sudah kusiapkan rapi. Kamu malah memilih keluyuran bersama berandalan terminal! Membolos kuliah demi coretan mural tembok kumuh pinggir jalan itu!"
Bima hanya tersenyum sinis. Ujung ibu jarinya mengusap darah segar menetes dari sudut bibir. Ia membalikkan badan perlahan.
https://www.ceritasakti.com/2026/08/kulepaskan-semua-dengan-ikhlas-bab-1.html?m=1