Mama Alkaiii

Mama Alkaiii 🌸Content Creator
🌸Daily Vlog
🌸Cooking
🌸Living in Batam city
(2)

Wanita yg ku bantu malah menjadi perusak rumah tangga ku.. Aku nikah umur 28 tahun. Rumah ada, mobil mau lunas, usaha pe...
30/05/2026

Wanita yg ku bantu malah menjadi perusak rumah tangga ku..

Aku nikah umur 28 tahun. Rumah ada, mobil mau lunas, usaha pecel lele tendaan 2 cabang. Semua aku rintis dari nol.

Disamping itu aku kerja di bank, jabatan lumayan. Nikah sama security kantor. Lembut, baik. Aku nggak mikir status. Yang penting dia setia.

Beberapa bulan setelah nikah, suami resign karna minder dan malu, mngingat dia hanya security sedangkan aku punya jabatan di kantor.
Aku maklumin itu..

Melamar kerja sana sini gak keterima juga, akhirnya aku saranin dia buat bantu bantu diwarung pecel lele ku,daripada dirumah terus jadi bahan omongan ibu ibu komplek.

Setahun kemudian Asri datang. Asri adalah tetangga ku di kampung. Bawa baju seplastik kresek. Minta tolong, minta kerja, minta tempat tinggal. Katanya kabur dari suami yang tiap hari mukul sampai dia mengalami keguguran.

Aku tolong. Aku kasih kerja di warung,aku juga kasi tempat tinggal disebuah kamar kos, yg aku sewakan buat dia, *aku harap kamu betah disini ya sri.. *

Aku nggak tau... Tempat tinggal yang aku kasih, dia pake buat ngerebut suami ku.

Aku tau mereka selingkuh dari lama,karywan warung ku kadang cerita, tapi kadang aku ngga percaya,masa sih mereka tega, Tapi aku tetep diem.
Sambil diem, aku kumpulin bukti. Foto, chat, dan saksi karyawan.

Setelah ku rasa cukup dan mereka terbukti selingkuh, aku gugat cerai.

Di meja warung aku bilang ke Asri:
Asri aku tau kamu udh tidur bareng suami aku, bukan sekali dua kali, sering!, kamu mau akui itu apa ngga?

Asri : iya mba, itu benar, lalu apa? Sekarang kamu udah tau kan mba, aku juga lagi hamil skrg!
Aku :wah hebat kamu sri, bagus itu, tapi kamu harus tau ya sri.
"Rumah ini milikku, aku bangun bahkan jauh sebelum kenal dia. Mobil ini aku yang nyicil sebelum nikah sama dia.Dan usaha ini hasil keringatku. Suamiku nggak punya apa-apa sri, Kamu kira nikah sama dia kamu bakal jadi nyonya sri?"keluar dari rumahku dia miskin gak punya harta sri..
Disitu dia dan suami cuma diam, tanpa kata maaf sedikitpun.

Aku cuma kasih pesangon ke Asri. Terus usir mereka berdua dari warungku. Baju suamiku dan baju asri udah aku packing dalam karung goni.
Dan mengusir mereka.

Nggak lama mereka buka warung pecel lele juga. Sewa tempat kecil.
Asri hamil gede, masih nyambi jualan, sedangkan si lakik anggak kerja, cuma bantuin duduk di warung.
Sayangnya warungnya ga begitu maju.

Aku? Warungku makin rame. Cabang nambah lagi.
Setahun kemudian aku menikah lagi, dijodohkan sma orang tua,suami ku yg sekarang Alhamdulillah mapan, punya usaha tambak ikan gurame, yg di suplay ke restoran restoran dikota..
Dan saat ini aku aku punya 2 anak...

Sedangkan asri, dia datang setelah sekian purnama, meminta maaf dgn tulus,dan cerita dgn derai air mata 7 tahun lamanya kerja diluar negri sbg TKW, uangnya habis
dihambur hamburkan laki laki sampah itu untuk berselingkuh dan nyenengin wanita lain. Malangnya nasib asri, Jangankan rumah, gubuk pun tak nampak ...

inilah cerita ku ,balasku bukan maki-maki. Balasku: aku hidup. Tanpa mereka..

_ib -> kisah followers

Aku pikir aku yg diselingkuhin, Ternyata aku yg jadi selingkuhan... Aku janda, status yg gak pernah aku minta.. Suami pe...
29/05/2026

Aku pikir aku yg diselingkuhin, Ternyata aku yg jadi selingkuhan...

Aku janda, status yg gak pernah aku minta..
Suami pertama pergi ninggalin aku sama 3 anak. Yang sulung SMP, tengah SD, bungsu mau masuk TK. Sejak itu hidupku cuma muter di dapur, cucian, kerja serabutan. Bangun sebelum subuh, tidur setelah semua anak nyenyak. Capek? Iya. Tapi aku pikir itu udah takdirku.

Sampai dia datang.

Dia merantau ke kotaku. Katanya cari kerja. Wajahnya lugu, bicaranya halus. Ngakunya bujangan. Waktu aku ragu, dia tunjukin KTP. Status: Lajang. Aku percaya. 5 bulan kami kenal. 5 bulan dia rajin ke rumah, benerin pintu yang reot, nemenin aku ke pasar. Anak-anak mulai manggil dia "Om".

"Nikah siri aja Bu, biar halal dan berkah." Katanya suatu malam.
Aku luluh. 2 bulan setelah ijab kabul siri itu, aku hamil.

Aku bahagia. Untuk pertama kali setelah lama, aku ngerasa ada laki-laki yang mau tanggung jawab. Aku mulai nyicil baju baju bayi, tetangga ngasih lungsuran ku simpan, aku cuci bersih.

7 bulan kandunganku, dunia aku runtuh.

HP dia ketinggalan di meja. Layar nyala. Notifikasi masuk dari kontak "mamanya iqbal". Isinya foto USG 8 bulan + chat: "Mas, aku udah di RS ya. Katanya mau lahiran malam ini. Doain ya Mas."

Jantungku berhenti. Napasku sesak.

Ternyata selama ini dia bolak-balik kampung bukan jenguk ortunya seperti yang dia bilang. Dia pulang ke rumahnya. Pulang ke istri sahnya. Pulang ke anaknya. Aku baru tau, dia juga udah punya anak di kampung.

Aku marah. Aku stres gak karuan. Aku lempar semua yang ada di meja. Tapi dia diem. Nggak ada pembelaan. Nggak ada "maaf". Cuma satu kalimat: "Aku mau pergi Bu."

Seminggu setelah itu dia jual semua barangnya. Motor, HP, baju-baju. Semua dijual. Lalu dia pergi naik bus malam. Ninggalin aku hamil 7 bulan, tanpa uang sepeserpun, tanpa kepastian.

Aku nggak kerja. Ortuku udah tua sekali, kerjaannya cuma jadi petani di ladang sepetak punya tetangga, Aku bingung. Aku takut. Aku bayangin nanti lahiran, terus anak ini makan apa.

Putus asa bikin aku gila. Aku terpikir untuk cari orang tua adopsi buat anakku nanti. Jujur, aku nggak sanggup merawatnya. Aku nggak sanggup lahiran normal. Dokter bilang harus SC,karna umurku sudah tua, iya aku hamil diusia 40 tahun,dan laki laki itu 4 tahun lebih muda dari ku. Biayanya puluhan juta buat melakukan operasi SC.

Aku nggak punya apa-apa lagi. Akhirnya aku jual sepetak tanah warisan satu-satunya dari bapak. Tanah terakhir. Uangnya habis buat biaya operasi.

Anakku lahir perempuan lewat SC. Badannya kecil, tapi tangisnya kencang.

3 hari keluar dari rumah sakit, datang sepasang suami istri. 9 tahun mereka jadi pejuang garis dua. 9 tahun rahimnya kosong. Mereka lihat anakku, mata mereka berkaca-kaca.

"Kami siap ganti semua uang biaya operasi Ibu. Kami tanggung biaya pemulihan Ibu. Kami siap kasih nafkah. Syaratnya cuma satu Bu: malam ini juga Ibu harus ikhlas melepas anak ini ke kami. Biar nggak ada ibu-ibu tetangga yang nanya-nanya."

Hari itu udah ditetapkan. Malamnya mereka akan bawa anak itu. Aku udah pasrah. Aku udah siap tanda tangan.

Tapi malamnya, pas anakku digendong, dia nyusu di dadaku. Hangat. Lahap.

Setelah kenyang, dia lepas dari puting. Lalu jari mungilnya nyari jariku. Dia genggam kelingkingku. Kuat. Nggak mau lepas.

Dadaku kayak disayat pisau.
Air mata ku keluar deras, 3 anakku ikut menagis, tak
Ingin pisah dari adiknya..

Aku batalkan niatku. Aku tarik anakku ke dada sekuat tenaga. Aku menangis ke pasangan itu: "Bu, Pak... maafkan aku. Aku nggak bisa. Aku nggak sanggup jual darah dagingku sendiri. Maafkan aku."

Mereka pun menangis. Mereka paham. Mereka cium kening anakku, lalu pergi ninggalin kami. Dengan tangan kosong.

Hari itu aku pilih miskin. Tapi anakku nggak jadi yatim piatu.Aku menerima semua konsekuensi nya, aku menjadi buah bibir disini, tapi aku harus tebal muka, inilah hasil kebodohan ku...

Saat ini anak itu berumur 11 tahun. Kelas 5 SD. Aku bersusah payah mengusahakan dan menafkahinya. Aku kerja setengah mati. Jadi kuli panggul, cuci setrika, jualan apa aja yang halal. 3 kakaknya juga aku sekolahkan sebisanya.
Dan sekarang diantara nya sudah bekerja dan membantu ku menafkahi sibungsu..

Alhamdulillah, aku bisa melewati masa-masa sulit itu. Sendiri. Tanpa bapaknya.

*Aku pikir aku diselingkuhin. Ternyata aku yang jadi selingkuhan. Aku pikir aku akan menyerah. Ternyata satu genggaman tangan bayi 7 hari bisa ngajarin aku apa arti "bertahan".*

*Buat perempuan di luar sana: Kalau dia ngaku bujangan tapi nggak berani nikah resmi, lari. Jangan sampai kamu hamil 7 bulan, melahirkan,lalu nyesel seumur hidup.*
*semoga kisah ini bisa menjadi pengingat buat para perempuan supaya lebih berhati hati dalam memilih pasangan*

*BANTU SHARE YA,BIAR JADI PENGINGAT BUAT SEMUA PEREMPUAN DILUARAN SANA*

Ib- _kisah followers_

*Alhamdulillah... akhirnya selesai juga misi bonus dari Meta!* 🥹🙏Jujur ya, beberapa minggu ini aku nggak sempat bikin vi...
29/05/2026

*Alhamdulillah... akhirnya selesai juga misi bonus dari Meta!* 🥹🙏

Jujur ya, beberapa minggu ini aku nggak sempat bikin video ngonten di pasar. Anak rewel, motor ga ada, waktu mepet banget.
Sempat mikir "udah deh, bonusnya lewat aja kali ini".

Tapi aku nggak nyerah. Aku maksimalin yang aku bisa,bikin foto jujur dari kehidupan sehari-hari, sama nulis cerpen dari hati.
Sebenarnya mnggu lalu misi bonus ini muncul, aku post foto reach masing2 500 ribu views lebih, hampir 600/700 ribuan gtu, tapi gak kebaca sistem nya, mungkin terlalu mungil viewsnya😆

Yaudah kata aku mungkin $50 bukan rezeki aku,
Lalu aku post foto+cerita spt biasa, tembuus 1,3 jt views,aku baca d dashboard misi nya 1 terbaca, senangnya bukan main, aku lihat jangka waktunya masi 4 hari, lalu aku post lagi photo+cerita, Alhamdulillah reach 1 juta views lebih, dan akhirnya 😭😭😭...

Nggak nyangka, masing-masing tembus *1 juta lebih views*! Jadi total *2 juta views*dan misi 2/2 selesai ✅, kurang dari 1 mnggu

Bersyukur bngt, lebaran idul adha ini, berkah bngt buat aku...

Makasih ya teman teman udah bantu aku sejauh ini, udah mendoakan aku, padahal kalian tidk kenal aku, tapi bneran doa kalian nembus langit, semoga Allah yg balas kebaikan kalian semua...

Jadi buat temen-temen yang lagi ngonten tapi waktunya mepet, jangan menyerah ya!
- Reels minimal 500rb views per video
- Foto minimal 1 juta views per post
Kalo ga sempat bikin vidio, bkin foto juga bisa kok selesai kan misi ini, tapi ya itu, 1 juta penayangan per post🤣

Jadi totalnya 2 juta reach ya gaiss, Nggak harus selalu video kok.

*Kuncinya cuma 1: konsisten dan selalu libatkan Allah dalam hal apapun.*

28/05/2026

Produk dari .id parah bngt😩
* “Setelah coba brow mascara ini, aku benar-benar berhenti pakai pensil alis🤣Ini solusi tepat semua masalah alis kita.”✅

*Lebih Mudah Dipakai:* “Kuasnya pas dengan bentuk alis, cukup sekali sapu langsung rapi, tidak perlu gores berulang, sangat cocok untuk pemula makeup.”✅

*Hasil Lebih Natural & Awet:* “Hasil rambut alis terlihat asli dan bertekstur, tidak kaku seperti pakai pensil alis.”✅

*Tahan Air & Anti Luntur:* “Tahan air, anti keringat, tidak mudah luntur meskipun terkena air. Dipakai seharian tetap rapi tanpa perlu touch-up.”

Hari raya Idul Adha tahun itu, aku cuma punya uang 5 ribu perak.  Cukup buat beli tiga bungkus mi instan. Mereknya Inter...
28/05/2026

Hari raya Idul Adha tahun itu, aku cuma punya uang 5 ribu perak.
Cukup buat beli tiga bungkus mi instan. Mereknya Intermie. Yang paling murah. Yang harganya masih seribuan waktu itu. Sekarang entah berapa.

Namaku Rani. Umurku 32 tahun, ibu dari empat anak.
Waktu itu yang paling besar kelas 2 SMP, yang paling kecil baru 18 bulan. Di antara mereka, ada dua anakku yang jadi “kakak sekaligus ayah” kalau aku nggak ada di rumah.

Suamiku?
Dia suami di KTP saja. Ayah di akta kelahiran saja.
Di rumah, dia cuma makan, tidur, marah-marah.

Kerja? Kadang-kadang. Itupun kalau lagi mau. Kalau nggak, aku yang harus putar otak biar dapur tetap ngebul.

“Adek, tolong beliin mi ya di warung Bu Siti,” kataku ke anakku yang nomor dua.
Aku nggak berani pergi sendiri. Malu.
Aku masih punya utang hampir 50 ribu di warung itu. Dan Bu Siti sudah bilang, “Bu Rani, maaf ya, utang nggak boleh lebih dari 50 ribu.”
Aku paham. Dia juga butuh muter uang.

Sambil nunggu anakku pulang, aku keluar rumah.
Di samping rumah tumbuh kangkung liar. Nggak sengaja tumbuh, tapi Allah yang numbuhin.
Aku petik pelan-pelan. Buat dicampur ke mi nanti. Biar kelihatan banyak. Biar anak-anak nggak cuma makan mi kosong.

Nasi juga aku masak. Cuma satu kaleng susu Indomilk yang kecil itu.
Kalian tau kan, kaleng yang s**a dipakai buat takar beras di kampung?
Itulah menu kami di hari raya Idul Adha.
Nasi, mi instan mix kangkung.

Pas nyuapin anak bungsu ku yang masih bau susu, dadaku sesak.
Sedih sekali rasanya jadi ibu.
Aku merasa gagal. Gagal bikin anak-anakku makan enak di hari besar. Gagal bikin mereka nggak nanya, “Mak, kok nggak ada daging kayak punya teman?”

Mau ngadu ke orang tua? Sudah nggak ada tempat.
Aku nikah dulu tanpa restu Ibu. Sampai sekarang, namaku nggak disebut-sebut lagi di rumah itu.
Mau ngadu ke mertua? Lebih parah.
Habis aku. Pasti aku yang disalahin. “Kerjaanmu cuma beranak aja. Nggak bisa ngurus suami biar rajin kerja.”

Sore harinya, ada anak masjid datang bawa dua kantong plastik hitam.
“Daging qurban, Bu,” katanya singkat.
Hatiku bergetar. Alhamdulillah. Akhirnya anak-anakku bisa makan daging.

Tapi masalahnya, di rumah nggak ada bumbu. Nggak ada bawang, nggak ada cabai, nggak ada ketumbar.
Yang ada cuma kelapa tua glondongan yang jatuh dari pohon di sebelah rumah.
Alhamdulillah, pohon kelapa itu nggak pernah berhenti berbuah. Seolah Allah bilang, “Ini untukmu, Rani.”

Aku bawa satu kantong daging ke rumah Bu Lilis, tetanggaku.
“Bu, boleh nggak aku tukar daging ini sama bumbu rendang dan sedikit beras? Di rumah nggak ada apa-apa,” kataku pelan, hampir nangis.

Bu Lilis diem sebentar. Terus dia masuk ke dalam.
Keluarnya bawa uang 70 ribu dan sekantong beras kira-kira 5 kilo.
“Nggak usah tukar dagingnya, Ran. Ambil aja ini. Buat anak-anak makan enak hari ini.”

Aku nggak bisa ngomong apa-apa.
Aku cuma bisa peluk dia, terus lari pulang.
Sampai rumah, aku peluk anak-anakku satu-satu.
Cuma mereka yang aku punya.
Dan tentunya, pertolongan Allah yang datang lewat tangan Bu Lilis.

Malam itu kami makan rendang.
Bukan rendang mewah, tapi dagingnya empuk, bumbunya meresap, santannya dari kelapa sebelah rumah.
Anak-anakku makan sampai nambah dua kali.
Untuk pertama kalinya dalam setahun, aku lihat mereka ketawa lepas di hari raya.

Dari hari itu aku mutusin.
Aku nggak bisa terus begini. Aku harus kerja.
Walaupun harus ninggalin anak bungsu yang masih menyusu.
Anakku yang pertama dan kedua janji jaga adiknya.
“Pergi aja Mak. Kami jaga adik. Yang penting Mak jangan nangis lagi,” kata anak sulungku.

Aku jadi buruh cuci dan setrika baju di komplek perumahan 2 kilometer dari rumah.
Upahnya kecil, tapi halal. Dan yang paling penting, aku nggak perlu ngutang mi instan lagi.

Singkat cerita, aku mutusin pisah.
Pisah secara agama dan negara.
Bukan karena benci, tapi karena aku harus jaga mental aku dan anak-anak.
Aku sudah cukup hidup sama laki-laki yang tempramen, s**a KDRT, dan nggak bertanggung jawab.

Sekarang, tahun tahun sulit itu sudah berlalu
Anak bungsuku udah mau masuk SMP
Anak sulungku sudah bekerja, sambil kuliah
Anak Anak ku tinggal dirumah neneknya,yaitu IBUKU...

Setahun setelah bercerai, aku memutuskan kerja
Sbg TKW ke Arab Saudi, aku bekerja keras demi anak anakku , kebahagiaan mereka adalah prioritas ku.

ALHAMDULILLAH, skrg aku sudah punya rumah, sawah,kendaraan, dan usaha toko kelontong yg dikelola ibuku dan dan dibantu anak anakku. . ..
Sekarang tinggal menghabiskan sisa kontrak ku, setelah itu aku akan menghabiskan hari tua ku bersama ortu dan anak anakku...

Buat kalian yang lagi di titik paling bawah, aku cuma mau bilang:
Allah nggak pernah tidur.
Kadang pertolongan itu datang lewat tetangga yang ngerti keadaan.
Kadang lewat pohon kelapa yang tiba-tiba berbuah.
Kadang lewat 70 ribu yang nggak disangka-sangka.

Dan percayalah,
menjadi ibu yang kuat untuk anak-anak kita itu ibadah.
Aku nggak kaya. Tapi aku merdeka.
Merdeka dari rasa takut, merdeka dari KDRT, merdeka dari rasa gagal.

Semoga kisahku bisa jadi pelajaran.
Kalau aku bisa bangkit, kalian juga pasti bisa.
Karena di balik setiap air mata ibu, ada doa yang didengar langit.


ib -> Cerita FOLLOWERS

*Alhamdulillah, Dagingnya Datang Bertubi-tubi*Alhamdulillah, di rumah aku bisa masak daging juga.Semalam aku pulang sila...
28/05/2026

*Alhamdulillah, Dagingnya Datang Bertubi-tubi*
Alhamdulillah, di rumah aku bisa masak daging juga.

Semalam aku pulang silaturahmi dari rumah keluarga suami.Diperjalanan pulng aku lihat rame di masjid warga berjejer menukar kupon qurban,
Suami berucap, Insyaallah kita qurban ya tahun depan, bismillah aja, langsung aku Amin in ucapan nya🥺,Semoga apa yg diusahakan sama suami tercapai...

Pas sampai rumah, Pakmer langsung nyamperin sambil senyum lebar,
"Itu kita dapat daging qurban dari masjid, dianterin anaknya Pak RT."

Ya Allah...
Aku yang biasanya cuma bisa lihat orang lain bagi-bagi daging, tahun ini giliran aku yang nerima.
Senangnya bukan main. Kayak ada beban yang tiba-tiba lepas.

Belum reda senangku, malamnya ada kabar lagi.
Teman baik yang aku kenal lewat Facebook, dia bagi aku daging qurban juga.
Tanpa aku minta.

Alhamdulillah wasyukurillah.
Tahun ini aku punya extra daging.
Rasanya kayak Allah ngasih rezeki berlapis-lapis cuma biar aku bisa senyum lebih lebar.

Tapi yang paling bikin hati tenang, aku jadi bisa berbagi.
Ada teman yang tahun ini nggak dapat jatah qurban.
Aku ambil splastik jatah qurban ku, aku bagi ke teman,maaf bukan mau sok jadi pahlawan kesiangan, tapi mungkin ini cara Allah kasi rezeki buat kita.

Karna aku paham rasanya.
Disaat gundah gulana, rasanya dunia sempit. Tapi ternyata masih ada sedikit harapan yang nyempil lewat tangan orang baik.

Hari ini aku masak di rumah teman aku,
Bukan masak mewah, cuma semur daging sederhana. Tapi aromanya nyebar sampai ke ruang tamu, bikin anak-anak ngumpul semua.
Kami makan bareng-bareng. Ketawa, cerita, saling suapin.

Dan untuk pertama kalinya setelah lama merantau,
aku nggak ngerasa sendiri lagi di sini,
Teman rasa saudara.

Alhamdulillah.
Punya teman yang baik itu juga rezeki.
Punya tetangga yang mau berbagi itu juga rezeki.
Dan bisa berbagi, itu rezeki yang paling mahal.

Semoga tahun depan, kita semua masih diberi kesempatan buat begini lagi.
Bisa menerima, bisa memberi, dan bisa makan bareng dengan hati yang tenang.

Aamiin.

Aku udah resmi jadi warga Batam 6 tahunan.  KTP udah ganti, dan tinggal Di alamat yg tertera di ktp 6 tahunan ini,dan to...
27/05/2026

Aku udah resmi jadi warga Batam 6 tahunan.
KTP udah ganti, dan tinggal Di alamat yg tertera di ktp 6 tahunan ini,dan total hidup di sini udah hampir 10 tahunan lebih, tapi rasanya masih kayak numpang.

Enam tahun, baru sekali dapet kupon kurban.
Tahun ini? Kosong. Nggak ada yang ketok pintu, nggak ada yang nyebut nama.

Hari raya Idul Adha tahun ini hampa banget,
Tambah lagi aku nggak bisa sholat Ied. Lagi periode 🔴.
Tambah lagi jauh dari keluarga..
Jadi aku cuma dengerin takbir dari masjid ..
Bener bener vibes lebarannya ga kerasa..

Anakku nanya, “Mak, kita nggak makan daging ya?”
Aku nggak tau mau jawab apa. Akhirnya cuma senyum.

Rasanya hampa.
Di luar rame, di sini sepi.
Di WA keluarga rame bagi-bagi foto daging kurban, aku cuma bisa lihat doang.
Nggak iri sih, tapi nyesek.

Yaudah lah jalanin aja.
Gampang la ya daging mah. Klo ada uang nanti baru beli.
Nggak ada uang ya kita makan apa adanya dulu.
Hari ini tak ada bikin apa, ketupat opor atau apalah itu, hari ini spt hari hari biasa saja..

Tapi aku nggak mau larut.
Mungkin tahun ini giliran aku yang harus bersabar.
Biar nanti kalau rezeki datang, rasanya lebih bersyukur.

Buat kalian yang tahun ini jauh dari keluarga juga, nggak dapet kupon, kontrakan sepi…
Semangat ya.
Kalian nggak sendiri.

Jalanin aja dulu.
Semangat mak...

Selamat Hari Raya Idul Adha buat yg merayakan....

26/05/2026

Tahun ini idul Adha di rantau lagi...

Address

Batam

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Mama Alkaiii posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share