09/01/2026
Ancaman bencana longsor di wilayah Kabupaten Batang semakin mengkhawatirkan seiring meluasnya lahan kritis di kawasan perbukitan dan dataran tinggi.
Berdasarkan data tahun 2024, puluhan ribu hektar lahan di Batang masuk dalam kategori kritis hingga berpotensi kritis, sehingga membutuhkan penanganan serius dan berkelanjutan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Batang mencatat total luas wilayah lahan mencapai 67.260 hektar. Dari jumlah tersebut, sebagian besar berada dalam kondisi tidak ideal sebagai kawasan penyangga lingkungan, terutama di wilayah tangkapan air.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Batang, Rusmanto, mengatakan bahwa kondisi lahan di Batang terbagi ke dalam empat kategori tingkat kerawanan.
“Data kita di tahun 2024, total lahannya ada 67.260 hektar. Itu terbagi dalam kondisi sangat kritis, kritis, berpotensi kritis, dan agak kritis,” ujar Rusmanto di Kantor DLH Batang, Kamis (8/1/2026).
Ia merinci, lahan dengan kategori sangat kritis mencapai sekitar 1.050 hektar, lahan kritis seluas 3.826 hektar, lahan berpotensi kritis sekitar 9.500 hektar, serta lahan agak kritis yang paling luas mencapai 20.200 hektar.
Menurut Rusmanto, angka-angka tersebut bukan sekadar data statistik, melainkan peringatan serius terhadap kondisi lingkungan dan potensi bencana yang dapat mengancam keselamatan warga, terutama yang tinggal di kawasan bawah lereng perbukitan.
“Ini bukan hanya soal data di atas kertas. Kondisi ini menjadi alarm bagi kelestarian lingkungan sekaligus keselamatan masyarakat,” tegasnya.
Rusmanto menjelaskan, mayoritas lahan kritis tersebut berada di wilayah tangkapan air yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Beberapa wilayah yang masuk zona rawan antara lain Desa Gerlang di Kecamatan Blado, Kecamatan Bawang, Kecamatan Reban, dan Kecamatan Bandar.
“Wilayah-wilayah tersebut merupakan kawasan atas dan daerah resapan air. Jika kondisinya rusak, dampaknya bisa dirasakan sampai ke wilayah bawah,” katanya.
Selengkapnya: pojokbacaid