02/01/2026
Indonesia memasuki 2026 dengan bayang-bayang perlambatan ekonomi global yang masih membebani prospek pertumbuhan. Tekanan dari suku bunga tinggi di negara maju, fragmentasi geopolitik, serta volatilitas harga komoditas menempatkan banyak ekonomi berkembang dalam posisi defensif. Namun, sentimen domestik Indonesia menunjukkan ketahanan yang relatif kuat.
Indikator kepercayaan konsumen tetap berada di zona optimistis, mencerminkan keyakinan rumah tangga bahwa tekanan ekonomi akan bersifat sementara.
Meski masyarakat mengakui risiko kenaikan biaya hidup dan ketidakpastian pendapatan, ekspektasi terhadap stabilitas makro dan keberlanjutan kebijakan pemerintah menjadi penyangga utama sentimen tersebut.
Fondasi ekonomi Indonesia dinilai lebih solid dibandingkan periode krisis sebelumnya. Rasio utang pemerintah yang terkendali, stabilitas sektor perbankan, serta cadangan devisa yang memadai memberikan ruang kebijakan bagi otoritas fiskal dan moneter.
Bank Indonesia mempertahankan pendekatan yang berhati-hati, menyeimbangkan kebutuhan menjaga stabilitas nilai tukar dengan upaya mendukung pertumbuhan.
Di tingkat akar rumput, daya tahan ekonomi tercermin dari adaptasi sektor informal dan UMKM. Pelaku usaha kecil memanfaatkan digitalisasi untuk menekan biaya distribusi dan menjangkau konsumen baru, sementara sektor ekonomi kreatif dan jasa berbasis teknologi tetap mencatat pertumbuhan, meski dengan laju yang lebih moderat.
baca selengkapnya :
Media Online Jawa Tengah Dan Sekitarnya