15/12/2025
🩱👓
Saat membeli ponsel baru hari ini, fitur dual SIM hampir selalu dianggap sebagai hal yang wajar. Dua kartu dalam satu perangkat bukan lagi keistimewaan, melainkan kebutuhan.
Namun, di balik statusnya sebagai standar global, tidak banyak yang menyadari bahwa dual SIM lahir bukan dari pusat riset raksasa teknologi dunia, melainkan dari kebutuhan nyata pengguna di Asia.
Pada awal 2000-an, sebagian besar ponsel hanya mendukung satu kartu SIM. Di Eropa dan Amerika, kondisi ini tidak menjadi masalah besar karena tarif operator relatif stabil dan kualitas jaringan cukup merata.
Situasinya berbeda di banyak negara Asia. Tarif operator sering berubah, kualitas sinyal tidak merata antarwilayah, dan pengguna memiliki kebutuhan ganda antara urusan kerja dan pribadi. Akibatnya, banyak orang terpaksa membawa dua ponsel sekaligus.
Kebutuhan untuk menggabungkan dua nomor dalam satu perangkat sebenarnya sudah terasa sejak lama. Namun, produsen besar seperti Nokia, Motorola, dan Sony Ericsson saat itu belum melihat dual SIM sebagai fitur penting.
Fokus mereka masih pada kamera, desain, dan daya tahan baterai. Dual SIM dianggap terlalu spesifik dan tidak relevan untuk pasar global.
Justru produsen kecil di Asia yang bergerak lebih cepat. Di Tiongkok, sejumlah pabrikan OEM mulai memproduksi ponsel dengan dua slot kartu, melihat langsung kebutuhan konsumen lokal.
Salah satu nama yang sering disebut sebagai pelopor adalah Gionee. Meski bukan pemain besar, inovasi ini cepat diadopsi oleh berbagai merek lokal di Asia Tenggara, India, dan Afrika. Di India, produsen seperti Micromax, Spice, dan Karbonn turut mempopulerkan ponsel dual SIM dengan respons pasar yang sangat positif.
Asia menjadi titik balik penting karena pola penggunaan ponselnya yang unik. Pengguna terbiasa memiliki beberapa kartu untuk memanfaatkan tarif murah, promosi, atau jaringan yang lebih stabil di lokasi tertentu.
baca selengkapnya :
Media Online Jawa Tengah Dan Sekitarnya