03/05/2025
Jika kalian pikir titik tertinggi marahnya seorang istri ada pada marah-marahnya, emosinya yang meledak-ledak, omelannya yang terlalu sering atau teriakannya.
Itu salah!
Ketika diam menjadi tameng untuk menjaga diri.
Dia tak lagi meminta banyak hal pada suaminya.
Dia tak lagi banyak berkomentar terhadap apapun yang dilakukan suaminya.
Dia akan terus mengiyakan apapun yang diinginkan oleh suaminya meski itu salah.
Dia lebih memilih banyak diam meskipun banyak hal salah disekelilingnya yang tak sesuai dengan inginnya.
Banyak dari kita memilih diam, kita nggak bisa bersuara. Tapi karena kita tahu, ada beberapa hal di dunia ini yang tidak akan selesai jika terus diungkapkan.
Bahkan kita memilih diam karena tahu ujungnya adalah kesia-siaan yang justru memperburuk keadaan.
Dan kita sadar diam adalah pilihan yang paling bijak, bukan karena kita tidak lagi peduli, Tapi karena kita memilih untuk membiarkan waktu dan pemahaman merangkai jawaban yang tak lagi didapatkan hanya dengan kata-kata.
Karena pernah memberi masukan namun tak indahkan.
Pernah menegur suami ketika ia salah, namun tak didengar malah dituduh hanya mencari masalah.
Pernah menyuarakan apa yang dirasakan, namun hanya dikomentari terlalu berlebihan menghadapi kenyataan.
Berkomitmen jujur dan terbuka namun sering dilanggar tanpa ada kata maaf dan perubahan yang nyata.
Sering disepelekan karena hanya ibu rumah tangga dan tak punya penghasilan.
Diam ibaratkan hujan, kan selalu bertanda buruk, tapi terkadang sebagai jeda yang dibutuhkan agar segalanya yang terluka bisa pulih sebelum langit kembali cerah.
Kadang kita hanya butuh ruang untuk sembuh.
Karena diam adalah bentuk perasaan paling marah, karena tahu perkataan tidak akan bisa merubah apa-apa.
Jika laki-laki berfikir bahwa emosi wanita adalah bentuk marah dan lelahnya, itu salah!.
Karena justru titik tertinggi dari marah dan kecewanya justru ada pada diamnya, jika ini terus menerus terjadi maka akan berakhir dengan rasa yang mati, yang juga perlahan akan menghapus rasa peduli.
🍂 Catatanwanita