09/11/2025
Si Tunas Pisang
Hijaunya pepohonan membentang membentuk permadani tebal seolah membungkus erat punggung bukit, batangnya yang gagah menjulang tinggi merobek selimut kabut putih dingin, yang tampak mencegah cahaya fajar menyentuh lantai hutan. Sinar matahari seolah malu-malu menampakan diri dan hanya menyisipkan garis-garis keemasan diantara celah dedaunan yang lebat. Batang-batang itu kadang menari sunyi disentuh lembutnya hembusan angin pagi.
Tetesan sisa air hujan semalam membentuk embun yang berkilau seperti mutiara di ujung daun. Setetes demi setetes ia terjun bebas dengan suara lirih yang memecah keheningan, menyapa rerumputan liar dan akhirnya jatuh membentuk tanah gembur yang berwarna cokelat gelap. Di bawah sana, karpet tebal dari dedaunan yang gugur dan lapuk, menjadi istana yang sunyi bagi ribuan mahluk yang tunduk dan bergantung penuh pada kemurahan hati alam.
Dari balik celah bilik bambu yang usang, yang menjadi dinding penahan rindangnya rumah panggung sederhana, sosok Abah Asep perlahan menyembul. Kepalanya yang dipenuhi uban diselubungi topi rajutan, bukan sekadar penutup kepala, melainkan sebuah mahkota sunyi dari anyaman kulit batang bambu yang disulamnya sendiri, serat demi serat, sebagai lambang kelekatan hidupnya pada bumi.
Abah Asep, salah satu orang yang masih setia merajut takdirnya dengan benang-benang alam, ia mengantungkan hidupnya pada kebaikan alam. Tiap langkahnya ditemani sang istri, yang suaranya sering menjadi irama pagi. Namun, sejak dua hari lalu, ada sunyi yang berat menyelimuti rumah, istrinya terbaring duduk diantara bale bambu, kakinya terkilir tak sengaja, kalah oleh licinnya tanah basah dan guguran daun yang tersembunyi.
"Pohon pohon pisang di sudut sana, yang menjulang dekat pohon besar itu, kalau sudah ranum, tebanglah segera. Nanti buahnya kita simpan baik-baik di dapur," bisik sang istri, suaranya sehalus embun, seraya menyodorkan bungkusan nasi yang masih hangat.
"Iya, Abah akan memilih tandan yang paling tua dan berisi, lalu membawanya p**ang dengan selamat," jawab Abah Asep, menggenggam erat bekal tersebut. Ia mengangguk, namun tatapannya tak sepenuhnya tenang saat berpamitan, melangkah meninggalkan istrinya yang kini diliputi kabut kekhawatiran.
Wajah sang istri tampak memucat, tersemat mendung yang pekat. Bayangan kelam kejadian kemarin terasa masih menusuk, bagai belati yang menusuk dada. Ia tidak hanya khawatir, tetapi terancam oleh trauma, takut sekali nasib buruk dan bahaya yang tak terduga kembali menyergap dan merenggut suaminya.
Dingin pagi itu bukan sekadar udara, tetapi ia bagai jarum es yang ditusukkan perlahan, menembus setiap lapis kain panjang rapuh yang melekat, membungkus kulit yang sudah keriput. Walau tubuh telah berlapis baju tebal, udara beku itu menyelinap masuk melalui sobekan-sobekan kecil pada baju yang telah termakan usia, menyentuh hingga ke sumsum, meninggalkan getar linu pada tubuh yang sudah rentah.
Abah Asep melangkah perlahan, menyusuri batas sunyi antara perkampungan dan rimba yang masih memejam. Di bahunya, sebilah cangkul bertengger tegak, mata besinya memantulkan sisa cahaya rembulan yang enggan menghilang.
Dibalik kemeja lusuh tua itu, tampak urat dan kulit di pundaknya menebal seperti tameng lama dari sebuah prasasti, menyimpan segala cerita beban berat yang ia telah jinakkan.
Waktu masih menggenggam erat kegelapan. Jarum jam baru menunjuk angka enam, kabut dingin masih membekap lembah, menciptakan jarak yang terasa jauh antara gubuk reotnya yang hangat dengan petak tanah subur tempat ia menggantungkan napas. Dalam kesunyian fajar itu, hanya derap kakinya yang memecah keheningan, mengiringi langkah seorang petani menuju janji harapan dari sebuah alam.
Setelah tapak demi tapak menyatu dengan keheningan hutan, waktu seolah kehilangan maknanya bagi Abah Asep, Jauh tak terukur, dekat tak terasa, sebab langkahnya telah menghafal setiap lekuk bumi yang ia injak.
Akhirnya, pandangan disambut oleh sebuah punggungan tanah yang melandai lembut, sebuah teras alam yang menaungi harta karun di bawahnya. Di sanalah, bersemayam kerumunan rumpun pisang yang subur tak terkira. Rindang daunnya yang hijau pekat bergetar lembut, dilingkari erat oleh benteng pepohonan rimba yang menjulang, menjadi saksi bisu keperawanan tanah yang belum tersentuh serakahnya manusia.
Setiap batang pisang berdiri gagah, memancarkan kesuburan abadi. Daun-daunnya yang lebar dan panjang, seperti kain sutra raksasa yang dilambai angin, menjuntai anggun, seolah selendang hijau dari bidadari yang baru saja ditinggalkan.
Di bawah naungan langit biru yang memayungi, dilindungi oleh benteng alam yang menjaga dan merawat, ia tumbuh tegak menjulang. Dari jantungnya yang berwarna merah keunguan, lahirlah tandan-tandan emas yang sarat akan buah-buah kuning ranum bergelantungan lebat, menyimpan cita rasa manis khas yang murni, sebuah kenikmatan surgawi bagi setiap penikmatinya.
Pesonanya tak hanya berhenti di buah. Ia adalah kedermawanan sejati. Setiap helai daunnya yang lebar menjadi payung pelindung dan alas jamuan, batangnya yang berlapis menyuguhkan harapan akan kehidupan. Segala yang dimilikinya adalah berkah, dari bawah akar hingga puncak.
Dengan semangat yang teguh berani, ia menyelesaikan siklus kehidupannya. Induk yang telah menunaikan tugasnya, perlahan merunduk, mengikhlaskan diri. Namun, sebelum nafasnya benar-benar usai, sebuah tunas muda yang gigih telah muncul dari pangkal, warisan energi abadi. Ia tumbuh menggantikan, mengulang kembali tarian hidup dan mati dengan cara yang agung.
Senyum kecil yang tersungging itu bukanlah sorot kegembiraan sesaat, melainkan pantulan kebahagiaan murni, terukir lembut di antara liuk keriput wajah pria tua. Mata tuanya berbinar teduh, menghitung setiap tandan pisang yang menyuguhkan janji manis di kejauhan.
Namun, rezeki yang memanggil itu tidaklah mudah dijamah, ia menggantung, terlindungi oleh pundak lereng bukit dibawah hamparan kebun cabai yang ia tanam kemarin, hanya sepelemparan batu dari tempatnya berdiri, seolah menggoda sekaligus menantang sisa kekuatan yang ia miliki.
Sepasang kaki tuanya yang sarat pengalaman dan beban usia, kini menjejak keraguan. Setiap langkahnya adalah pertimbangan sunyi di antara lumpur basah yang berkilauan dan tanah licin yang menipu mata. Ia tak hanya berjalan di atas bumi, namun juga di atas selembar peringatan dari sang istri.
Memori tentang jatuhnya sang pendamping hidup terasa seperti denyutan nyeri di pergelangan kakinya sendiri. tanah, yang sekilas tampak kokoh bak janji suci, ternyata menyimpan rongga lumpur yang gelap, yang kapanpun bisa merenggut keseimbangan dan mengkhianati pijakan. Dengan segenap kehati-hatian yang terangkai dari rasa cinta dan takut, Abah Asep terus mencari titik sandaran yang jujur di hamparan jalanan setapak.
Sejumlah tandan pisang yang matang sempurna telah terpilih. ia hanya mengambil buah-buah yang kulitnya telah dihiasi bintik emas yang sarat akan janji kemanisan, sebuah isyarat dari alam bahwa waktu panen telah tiba. Jumlahnya terukur, sekadar untuk memuaskan hasrat bersahaja dirinya dan sang istri, serta sebagian kecil akan menjadi penghangat saat dibagikan kepada saudara atau tetangga, sebuah ritual berbagi sebagai perwujudan syukur atas kemurahan hati Tuhan melalui anugerah bumi yang tak pernah habis.
Bukanlah desakan nafsu yang tak bertepi yang menjadi pemandu. ia menolak keras untuk membabat habis semua, meninggalkannya dengan dahan-dahan renta dan batang pohon yang meratap di tanah. Bukankah tindakan itu adalah perwujudan keserakahan buta yang merusak, sebuah penghinaan terang-terangan terhadap kemuliaan dan kasih sayang dalam setiap pemberian Sang Pencipta.
Delapan sisir pisang dengan rona warna kuning keemasan menandakan telah matang sempurna, tertata rapi dan kokoh. Abah Asep membagi beban itu secara adil, empat sisir padat di setiap keranjang yang terikat erat pada ujung pikulan bambu tua yang telah menghitam, saksi bisu ribuan langkah dan piluh. Pikulan itu, dengan segala guratan usianya, terasa akrab dan setia di bahu.
Setiap ayunan langkahnya memantulkan irama harapan yang dalam. Pikirannya melayang, bukan pada untung yang akan didapat, melainkan pada senyum lega istrinya yang berlumur sakit. Pisang-pisang ini, buah dari kerja kerasnya, bukan sekadar hasil berkebun, melainkan penghibur manis yang ia bawa p**ang, sepercik kebahagiaan yang dapat meringankan beban lara yang kini membelenggu bidadari hatinya.
Namun, di sela heningnya waktu, sepintas lalu terselip bisikan liar yang diembuskan dari mulut ke mulut warga dusun. Kabar mengenai sebuah proyek pembangunan yang skalanya konon akan merobek jantung dusun. Secepat kilat, benak tuanya menampik sangkaan itu. Ia menganggapnya tak lebih dari suara burung yang terbawa angin hampa yang tak patut digubris.
Bagaimana mungkin? Apa yang hendak ditancapkan di tengah rimba yang jauh terpencil dari denyut nadi peradaban? Bahkan, jalanan yang mereka pijak hanyalah urat nadi batu-batu kali yang disusun kasar, saksi bisu keikhlasan gotong royong warga dusun. Pembangunan kolosal? Itu sungguh bualan yang paling sia-sia pikirnya.
Bisikan pilu itu masih menggantung tebal di relung batinnya, sebuah beban yang asing dan tak biasa bagi seorang Abah Asep. Di bawah naungan pekat malam yang bisu, ia menumpahkan segala kekalutan dan kegelisahan yang menikam jiwanya kepada sang istri, perihal kabar pembangunan raksasa yang sudah kadung riuh di seantero dusun.
Gelisahnya bukan tentang pundi-pundi rupiah dari ganti rugi tanah yang terlepas, bukan p**a tentang hitungan untung rugi duniawi. Namun, yang merobek pikirannya adalah ratapan sunyi bagi nasib Bumi yang telah lama berderma. Hutan paru-paru hijau yang memberikan setiap hela nafas kehidupan dengan kemurahan yang tak bertepi tanpa pernah menuntut balasan, semuanya kini terancam menjadi tumbal keegoan mereka yang mengaku beradab.
Pagi itu, cahaya masih berupa janji samar di balik tirai kelabu kabut tebal yang memeluk dusun. Udara dingin yang menusuk tulang terasa merayap dan tertahan di setiap pori-pori bilik bambu rumah tua yang reyot. Matahari, sang raja siang, seolah masih ragu untuk menampakkan selendang emasnya, membiarkan dunia diselimuti kebisuan yang menggigil.
Ketenangan itu tiba-tiba terkoyak oleh deru gumam dan bisikan riuh yang dibawa angin dari kejauhan. Bunyi percakapan warga dusun itu bukan sekadar obrolan biasa, namun ia juga menghadirkan desakan dan rasa ingin tahu yang tak tertahankan di benak Abah Asep. Sebuah pertanyaan menggetarkan di dadanya, mengoyak keheningan pribadinya, Gerangan perkara apa yang mampu memecah kesunyian sepagi ini?
Tadi malam, di bawah naungan rembang cahaya kuning dari lampu pijar usang yang tergantung sebatang kara di tengah balai dusun, udara beku merayap masuk. Selimut kabut tebal tak hanya menyelimuti bumi, tetapi juga meremas dada. Di jantung keheningan itu, Kepala Dusun duduk berhadapan dengan derap kekhawatiran warga dusun. Mereka berkumpul, bukan untuk merapal doa panen yang sudah biasa mereka lakukan, bukan p**a tentang pembicaranan mengenai hasil panen atau harga garam, melainkan tentang sebentuk rencana yang akan merobek sunyi pembangunan jalur kereta cepat.
Sebuah 'ular besi' modern yang konon katanya dapat melesat menembus batas waktu, memangkas jarak perjalanan dengan amukan kecepatan yang tak terbayangkan, sepintas seperti peluru meriam yang melesak membelah udara dan meninggalkan jejak kekaguman.
Pikiran yang selama ini hanya berbisik dalam palung benak, kini mengejar takdir dengan lantang. Rencana pembebasan lahan bagi si ular besi yang sunyi, telah menggerus batas cakrawala dusun. Satu per satu, nama-nama warga dusun para pemilik tunggal sepetak sejarah dan kehidupan mulai terpatri dalam daftar pendataan proyek itu.
Di benak para penguasa, ini adalah puncak evolusi, sebuah lompatan megah yang akan mengukir simbol kemajuan teknologi. Mereka merangkai janji, konektivitas urat nadi pembangunan yang merata, denyut penambahan tenaga kerja yang menjanjikan, dan pastinya, efisiensi waktu tempuh yang diukur dalam hitungan menit yang berharga.
Akan tetapi, di balik kilauan fatamorgana visi kemajuan itu, tersembunyi sebuah ironi yang mencabik nurani. Benarkah yang didamba oleh nadi warga dusun adalah deru kecepatan transportasi dan lompatan digital yang asing? Hingga detik ini, di lembah dan pelosok sunyi, cahaya televisi masih merupakan kemewahan yang terhitung jari.
Inilah jurang yang menganga, kekayaan bumi yang tumpah ruah berpasangan mesra dengan tangisan pilu kemiskinan yang mencekik, gelar sarjana yang menumpuk tinggi berhadapan dengan lapangan kerja yang sepi senyap, dan pesta raya kaum oligarki di puncak piramida, sementara jutaan rakyat jelata terseret ke dasar jurang kemelaratan yang makin dalam.
Namun, kita hanyalah debu yang diterbangkan angin kekuasaan, sosok hamba yang tak berdaya. Mereka yang menggenggam takhta, suara mereka adalah guntur yang tak boleh dibantah. Segala hasrat, ego, dan gemerlap nafsu disabdakan sebagai panji kemajuan yang wajib dipatuhi laksana wahyu. Maka, di bilik sunyi ketidakberdayaan, kita hanya bisa terpaku, menatap siluet pembangunan, tapi tak pernah sekali pun mencicipi manis buah kemenangannya.
Dua belas purnama telah berlalu, dan bumi kini disayat oleh guratan-guratan baja. Tiang-tiang besi simbol keangkuhan, kini menusuk inti bumi, mencabut nyawa kedamaian yang lama bersemayam. Bukit sunyi, yang dulu hanya bisa dipijak oleh langkah kaki setapak, telah menjelma menjadi arena bising, perutnya terkoyak menampung armada raksasa yang memuntahkan bongkahan-bongkahan beton.
Lukisan pegunungan yang hijau, kini ternoda oleh goresan kelam sisa pohon-pohon yang mati dan digantikan oleh hamparan dinding fondasi semen. Makhluk-makhluk renta, yang nafasnya terajut pada sulaman rimba, terpaksa angkat kaki, mencari rumah yang masih sudi mengalah. Sementara mereka yang tak sempat beranjak, terperangkap, gugur di bawah palu takdir yang diukir oleh tangan-tangan yang mengaku berakal
Dari punggung bukit yang sunyi, Abah Asep sosok tua yang menyimpan ribuan musim kenangan dengan bumi berdiri membatu. Matanya yang teduh sayu, seolah menyimpan kesedihan, menyaksikan tragedi penghancuran ciptaan Tuhan.
Bukit yang dahulu perkasa dengan jubah hijau beludru, kini telanjang, memamerkan tulang-tulang geologis yang kering kerontang. Mereka menampakkan wujud tuanya yang renta, sebuah kesaksian pilu akan luka yang menganga.
Selimut perawan pepohonan telah dirampas, bukan lagi oleh tangan, melainkan oleh gergaji mesin yang meraung buas, meninggalkan guratan tajam di sekujur tubuh Ibu Pertiwi. Setiap tebasan adalah ritme keangkuhan manusia yang mengubah hijau kehidupan menjadi debu yang mencekik.
Tergeraklah jiwa Abah Asep merindukan reruntuhan kebun itu, tanah leluhur yang dahulu menyimpan sisa-sisa kemewahan surga ilahi. Ia adalah rahim bumi yang pernah melahirkan anugerah hakiki, mengeluarkan sari pati kehidupan dari setiap dahan dan akar, memuaskan dahaga raga dan jiwa duniawi.
Di sanalah bisikan syahdu alam membelai ketenangan hati, diembus oleh angin senyap yang membawa hanyut alam pikiran Abah Asep, membimbingnya pada sembah puji atas keagungan tak terhingga Sang Pencipta dalam setiap ukiran ciptaan-Nya.
Sebuah hasrat Abah Asep sampaikan kepada belahan jiwa, sang istri tercinta, ia bisikkan sebentuk kerinduan yang mendesak, tentang keinginan untuk menapak kembali ke bumi yang tak lagi ia miliki. Tempat itu, yang dulu adalah ruang sunyi tempat memori kebaikan alam bersemayam, tempat denyut nadi keanekaragaman hayati bernaung dalam rimbun perlindungan. Sebuah surga yang dulu tersembunyi dari pandangan dunia, dirahasiakan oleh raga pepohonan. Namun kini, panorama telanjangnya membentang pilu di hadapan mata, kering, tanpa lagi teduh. Sebab, benteng pelindung itu telah tumbang, barisan pepohonan perkasa itu kini terbaring kaku tercabik dan mati.
Melangkah pagi itu ia, ditopang kesetiaan sang istri yang tak pernah pudar, menyusuri kembali jalur setapak yang kini terasa asing. Ke mana lenyapnya rimbun teduh yang dulu menyelimuti? Kaki renta itu, yang dahulu begitu waspada, melangkah menghindari tanah basah dan genangan air yang licin, kini melaju tanpa beban. Jalur itu, yang seharusnya basah dan sulit, telah mengering, retak di bawah terik mentari. Kubah agung dedaunan dari pohon-pohon penjaga alam telah sirna, meninggalkan Abah dan istrinya berjalan di bawah langit yang telanjang, diterpa cahaya yang keras dan tanpa ampun."
Keheningan itu mengendap di kerut wajah pasangan renta, terpahat dalam garis bibir yang tak mampu berdusta, menyaksikan pepohonan hijau yang dulu rimbun kini tercabut dan digantikan oleh hamparan ilalang yang tumbuh pasrah, bersanding dengan kaki-kaki beton penopang rel baja. Tiang-tiang besi berbalut semen itu seakan angkuh dan sombong, berdiri menikam ke langit, bersanding dengan bukit-bukit di sekitarnya, seolah berbisik ingin menandingi keagungan ciptaan Tuhan.
Jauh di dalam sanubari, tersingkap tirai memori yang merangkai nikmat Ilahi yang tak terhingga melalui lumbung agung alam semesta. Dia membentangkan permadani kehidupan, menyajikan napas udara yang murni, mengalirkan air dari sungai-sungai yang bening dan terjaga, dan menghidangkan rezeki dari bumi yang subur, sebagai bukti kedermawanan abadi dari Sang Pencipta.
Di balik kabut duka yang memayungi batin, rasa kehilangan yang menggerogoti atas hilangnya keindahan dan kebaikan alam, mata tua itu menyentak tajam. Sinar pandangnya terhenti, bukan pada kekosongan, melainkan pada keajaiban.
Dari celah sempit fondasi tiang beton yang membisu, sebuah tunas pisang mencuat, hijau muda yang berani melawan kejamnya kehidupan. Ia adalah detak jantung alam yang menentang takdir, menikam kerasnya bebatuan yang menimbunnya, seolah merobek tirai kekakuan untuk menyambut cahaya. ia terlahir, bukan hanya untuk hidup, tapi untuk merayakan janji mengulang abadi siklus kehidupan.
Tunas kecil ini, sebuah perwujudan takdir dari rahim bumi, membawa denyut kehidupan yang melebihi ukurannya. Di pundaknya yang mungil, bersemayam warisan keuletan dan ketabahan yang dihela dari akar induknya yang agung. Ia berjuang, berjanji untuk menjadi oase hijau yang memancarkan anugerah tanpa batas, merangkul setiap jiwa yang dahaga dengan sejuta manfaat dari keteduhan"
Senyum lapang dan damai menyelimuti raut wajah renta Abah Asep dan belahan jiwanya. Tunas kecil itu, sebilah janji hijau yang baru mekar, adalah penawar paling mujarab bagi luka kehilangan yang berbekas. Ia bukan sekadar tanaman, melainkan ingatan murni akan kebaikan sang induk yang telah tiada.
Kuasa Sang Pencipta berbisik di antara puing. Mereka, yang disangkakan mati oleh kekejaman tangan-tangan tak beradab, mampu menembus belenggu maut. Dari himpitan bongkahan beton yang dingin dan pekat, semangat kehidupan itu menjulur, melawan, dan bangkit.
Dengan hati yang meluap penuh syukur, mereka menimang tunas itu, membawanya ke rumah yang baru, sebuah pelabuhan aman untuk tumbuh. Di sana, ia akan meneruskan sirkulasi agung kehidupan, menjanjikan sejuta naungan dan manfaat bagi sepasang kekasih yang tak pernah lelah mencintai getar alam.
Alam seyogyanya sebuah cawan kehidupan yang tak pernah kering. Ia akan selalu menyediakan kebaikan, asalkan kita datang bukan sebagai penjarah, melainkan sebagai penjaga yang bersujud tunduk menjaga dan merawat. Ketika manusia kembali merajut janji suci dengan alam, memperlakukan setiap jengkalnya dengan hormat yang tulus, saat itulah kita akan menuai anugerah sejati yang membawa ketentraman pada jiwa yang suci.
Si Tunas Pisang
Kota Bekasi, 09/11/2025
By: Rizal Wahyudin
Entrepreneur dan Vloger - Content Creator