Herbal Fizz

Herbal Fizz Selamat Datang Di Halaman Herbal Fizz

Bolehkah Ibu Hamil Makan Daging Kambing?  Banyak orang menyukai daging kambing. Namun, saat hamil, sebagian wanita engga...
26/07/2022

Bolehkah Ibu Hamil Makan Daging Kambing?

Banyak orang menyukai daging kambing. Namun, saat hamil, sebagian wanita enggan untuk makan kambing karena takut mengalami darah tinggi. Kalau Bumil ragu, yuk, simak dulu fakta tentang keamanan makan daging kambing saat hamil.

Bumil perlu tahu bahwa daging daging kambing menyimpan beragam nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh, antara lain protein, lemak, dan omega-3. Selain itu, daging hewan pemakan rumput ini juga kaya akan kalsium, zat besi, fosfor, kalium, zat besi, zinc, folat, selenium, serta vitamin B.

Bolehkah Ibu Hamil Makan Daging Kambing? - Alodokter

Ibu Hamil Tidak Dilarang Mengonsumsi Daging Kambing
Ketika hamil, Bumil memang dianjurkan untuk lebih selektif dalam memilih makanan dan minuman, sebab segala yang Bumil konsumsi bisa memengaruhi kesehatan Bumil dan janin.

Namun, melihat banyaknya kandungan gizi tersebut, konsumsi daging kambing saat hamil bukanlah hal yang dilarang. Oleh sebab itu, Bumil tidak perlu khawatir untuk makan daging kambing, ya.

Daging kambing termasuk ke dalam jenis daging merah. Saat hamil, Bumil boleh mengonsumsi daging jenis ini, kok. Namun, tetap ada aturannya. Bumil boleh makan daging kambing dan daging merah lainnya asalkan sudah dimasak hingga matang.

Hindari untuk mengonsumsi daging kambing yang masih mentah, karena daging mentah berisiko tinggi mengandung kuman, seperti Salmonella, yang bisa menyebabkan ibu hamil mengalami gangguan pencernaan, infeksi, atau keracunan makanan.

Selain itu, batasan daging merah yang dianjurkan untuk dikonsumsi oleh ibu hamil adalah 2–3 porsi atau sekitar 75–100 gram per hari. Walau Bumil gemar makan daging kambing atau daging merah lainnya, pastikan Bumil tidak mengonsumsinya melebihi jumlah yang dianjurkan, ya.

Ini karena terlalu banyak makan daging merah saat hamil bisa meningkatkan risiko Bumil mengalami masalah kesehatan tertentu, seperti diabetes gestasional, tekanan darah tinggi atau hipertensi, obesitas, dan kolesterol tinggi.

Daftar Manfaat Daging Kambing bagi Ibu Hamil
Berkat kandungan gizinya yang tinggi, ada banyak manfaat daging kambing yang bisa Bumil dan janin peroleh, lho. Berikut adalah beberapa manfaat daging kambing tersebut:

1. Mencegah anemia
Kurang darah atau anemia saat hamil adalah salah satu masalah kesehatan yang masih banyak dialami oleh ibu hamil. Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini bisa berbahaya dan berdampak buruk pada janin.

Ibu hamil yang mengalami anemia bisa lebih berisiko mengalami infeksi, melahirkan bayi prematur, atau melahirkan janin dengan berat badan lahir rendah.

Guna menghindari hal tersebut, Bumil dianjurkan untuk mengonsumsi makanan tinggi kandungan zat besi, folat, dan vitamin B12, seperti daging kambing, ikan, daging sapi, telur, kacang-kacangan, serta hati sapi atau ayam.

Dengan tercukupinya asupan nutritis tersebut, produksi sel darah merah dalam tubuh Bumil akan lebih lancar, sehingga menurunkan risiko terjadinya anemia.

2. Meningkatkan berat badan ibu hamil dna janin
Mengonsumsi daging kambing bisa membantu meningkatkan berat badan ibu hamil, karena daging ini mengandung kalori, protein, dan lemak yang cukup tinggi. Selain bisa menambah berat badan Bumil, daging kambing juga turut meningkatkan berat badan janin.

Dengan memiliki berat badan yang normal, tubuh Bumil akan kuat menopang janin hingga persalinan. Sementara itu, peningkatan berat badan janin penting untuk mendukung tumbuh kembang dan kesehatannya hingga ia lahir kelak. Tak hanya itu, daging kambing juga mengandung omega-3 yang penting untuk perkembangan otak janin.

3. Mencukupi kebutuhan nutrisi harian
Daging kambing merupakan salah satu sumber protein, lemak, dan zat besi yang sangat baik bagi ibu hamil dan janin. Dengan tercukupinya asupan gizi, Bumil bisa memperoleh peningkatan berat badan yang sehat guna menunjang tumbuh kembang janin.

Namun, selain makan daging kambing, Bumil juga perlu mengonsumsi beragam macam makanan sehat lainnya, seperti aneka sayur dan buah, biji-bijian, kacang-kacangan, telur, ikan, dan susu. Bumil juga dianjurkan untuk memenuhi asupan nutrisi dengan rutin minum vitamin prenatal sesuai anjuran dokter.

4. Meningkatkan massa otot
Daging kambing adalah salah satu sumber protein berkualitas tinggi yang sangat penting untuk pembentukan massa otot dan menjaga kekuatannya. Selain itu, protein atau asam amino juga berperan penting dalam membentuk jaringan tubuh, termasuk jaringan dan organ tubuh janin.

Dengan memiliki otot dan jaringan tubuh yang kuat, Bumil pun bisa bebas melakukan aktivitas sehari-hari dan tubuh Bumil akan lebih siap untuk menghadapi hari persalinan nanti.

5. Menambah asupan energi
Daging kambing tak hanya padat nutrisi, tapi juga banyak mengandung kalori. Di dalam 100 gram daging kambing terdapat sekitar 280 kalori. Jumlah kalori yang tinggi pada daging kambing menjadikan makanan ini sebagai salah satu sumber energi bagi Bumil agar tidak mudah kelelahan.

Dari informasi di atas, kesimpulannya adalah ibu hamil boleh mengonsumsi daging kambing, asalkan sesuai dengan aturan yang ditentukan. Namun, karena bisa meningkatkan berat badan dan tinggi kalori, ibu hamil yang mengalami obesitas mungkin perlu membatasi konsumsi daging ini.

Selain itu, makan daging kambing berlebihan juga bisa meningkatkan kadar kolesterol, yang dapat membahayakan ibu hamil.

Agar lebih aman, ibu hamil dengan kondisi medis tertentu sebaiknya berkonsultasi dulu dengan dokter sebelum makan daging kambing. Hal ini penting untuk mengetahui berapa porsi daging kambing yang aman dikonsumsi sesuai kondisi ibu hamil, serta jenis makanan lain yang perlu dikonsumsi atau dihindari.

27/06/2022

Panduan Memberikan MPASI Setelah Bayi Berusia 6 Bulan

MPASI atau makanan pendamping ASI dapat mulai diberikan kepada bayi setelah usia 6 bulan. Namun, pemberian MPASI sebaiknya dilakukan secara bertahap. Ketahui cara memberikan MPASI yang tepat agar asupan nutrisi bayi tetap tercukupi.

Pemberian MPASI merupakan salah satu periode penting bagi tumbuh kembang bayi. Pada periode ini, bayi mulai belajar mengenal bentuk dan rasa makanan, selain ASI.

Panduan Memberikan MPASI Setelah Bayi Berusia 6 Bulan - Alodokter

MPASI sendiri sebaiknya tidak diberikan sebelum bayi berusia 6 bulan, karena pada usia tersebut bayi lebih berisiko mengalami alergi makanan. Selain itu, pemberian MPASI sebelum bayi berusia 4 bulan juga bisa meningkatkan risiko bayi tersedak.

Tanda-Tanda Bayi Siap Makan
Perkembangan setiap bayi memang berbeda dan tidak dapat dibandingkan satu sama lain. Namun, ada beberapa tanda yang menunjukkan bayi telah siap mengonsumsi makanan, di antaranya:

Bisa meraih makanan dan memasukannya ke dalam mulut, karena telah ada koordinasi yang baik antara mata, mulut, dan tangannya.
Duduk sendiri tanpa bantuan dan dapat menegakkan kepala.
Tertarik pada makanan yang dimakan orang lain.
Mampu membuka mulut dengan baik untuk mengambil makanan dari sendok.
Dapat menelan makanan dan tidak mengeluarkannya kembali dari mulut.
Namun, beberapa tanda lain yang ditunjukkan bayi, seperti memasukkan jarinya ke dalam mulut dan menangis pada malam hari, dapat membuat Anda keliru dan mengira bayi telah bisa diberi makanan padat. Padahal, hal ini dapat menjadi pertanda bayi menginginkan lebih banyak ASI.

Membiasakan Bayi dengan MPASI
Berikut ini adalah panduan yang dapat Anda lakukan untuk mengenalkan dan membiasakan bayi dengan MPASI:

1. Ajak bayi makan bersama keluarga di meja makan
Anak-anak sering kali meniru hal-hal yang dilakukan orang tua dan orang-orang di sekitarnya. Dengan mengajak bayi makan bersama dengan keluarga, ia dapat memperhatikan serta meniru cara makan yang baik.

Untuk memulainya, Anda bisa menempatkan Si Kecil pada kursi makan khusus bayi dan jangan lupa untuk memasang pengaman agar ia tidak terjatuh.

2. Berikan MPASI secara bertahap
Untuk memperkenalkan makanan padat kepada Si Kecil, awali dengan memberikannya sedikit demi sedikit, setidaknya tiga kali sehari. Namun, jangan terlalu dipaksakan bila Si Kecil tidak mau mengonsumsi makanan yang diberikan.

Lebih baik Si Kecil makan lebih sering dalam porsi kecil daripada dalam porsi banyak, tetapi hanya sesekali.

3. Berikan waktu kepada bayi untuk menyesuaikan diri
Hindari memaksa Si Kecil mengonsumsi dan menghabiskan makanannya. Bila ia belum tertarik dengan suatu makanan, bukan berarti Si Kecil tidak tertarik untuk mengonsumsi makanan tersebut seterusnya. Cobalah untuk menawarkan MPASI kembali keesokan harinya.

4. Biarkan bayi mencoba makan sendiri
Biarkan Si Kecil mengambil dan memasukkan makanannya sendiri ke dalam mulut. Hal tersebut merupakan bagian dari proses belajarnya dalam mengenal makanan. Namun, jangan meninggalkan Si Kecil seorang diri saat mengonsumsi makanan, sebab ia masih rentan tersedak saat mengunyah dan menelan makanan.

Agar lebih aman, Bunda bisa menemami SI Kecil makan sendiri ketika ia berusia sekitar 9 bulan.

5. Perhatikan peralatan makan yang digunakan bayi
Hindari menggunakan perlengkapan makan berbahan kaca yang berisiko pecah dan melukai bayi. Pasangkan kain atau celemek pada leher Si Kecil untuk mengantisipasi makanan yang tumpah dari sendok atau mulutnya.

Bunda juga bisa menggunakan perlengkapan makan yang cerah untuk membuat suasana makan menarik dan lebih menyenangkan bagi Si Kecil.

Pola makan bayi bermula dari masa pertamanya mengonsumsi makanan. Oleh karena itu, berikan beragam jenis makanan sehat, terutama sayur dan buah, agar ia mendapatkan cukup nutrisi dan terbiasa untuk menyantapnya.

Makanan yang Perlu Dihindari Ketika Memberikan MPASI
Dalam memilih menu MPASI, beberapa jenis makanan di bawah ini sebaiknya tidak diberikan kepada bayi:

Jus buah
Terlalu banyak mengonsumsi jus, terlebih jus kemasan dengan gula tambahan, dapat menyebabkan bayi mengalami diare dan gigi berlubang. Selain itu, jus juga mengandung serat dan nutrisi yang lebih rendah daripada buah segar yang dihaluskan atau dipotong.

Susu sapi
Hindari memberikan susu sapi untuk bayi sebelum ia berusia satu tahun. Hal ini karena susu sapi tidak sesuai dengan kebutuhan nutrisinya dan justru dapat meningkatkan risiko kekurangan zat besi.

Pemberian susu formula sebagai tambahan nutrisi sebaiknya dilakukan sesuai dengan saran dokter saat bayi memiliki kondisi tertentu.

Madu
Madu juga sebaiknya tidak diberikan kepada bayi yang berusia di bawah usia 1 tahun sebagai bagian dari menu MPASI. Hal ini karena madu dapat menyebabkan bayi terkena botulisme, yaitu kondisi keracunan akibat bakteri Clostridium botulinum yang terkandung di dalam madu.

Makanan keras
Hindari memberikan biji-bijian atau makanan yang bertekstur keras dan berukuran kecil, seperti popcorn, kacang, atau permen, sebab makanan ini dapat meningkatkan risiko bayi tersedak.

Penyedap rasa
Sebaiknya Anda tidak menambahkan penyedap rasa, gula, atau garam, ke dalam menu MPASI bayi. Semua bahan tambahan yang diberikan terlalu dini berisiko mengganggu perkembangan bayi.

Selain beberapa makanan di atas, Bunda juga disarankan agar tidak memberikan makanan yang terlalu panas, makanan cepat saji, dan makanan kemasan untuk orang dewasa, kepada Si Kecil.

Jenis dan Cara Pemberian MPASI Sesuai Usia Bayi
Cara pemberian dan jenis MPASI umumnya disesuaikan dengan usia bayi. Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat menjadi panduan Bunda dalam menentukan MPASI untuk Si Kecil:

MPASI untuk bayi usia 6–7 bulan
Saat Si Kecil berusia 6 bulan, Bunda dapat memberikan sayur, buah, dan nasi yang dihaluskan. Bila Si Kecil sudah terbiasa dengan makanan tersebut, Bunda dapat memberikan jenis makanan lain, seperti daging ayam, ikan, roti, dan telur, yang telah dihaluskan.

MPASI untuk bayi usia 8–9 bulan
Pada usia ini, Si Kecil biasanya sudah bisa makan tiga kali sehari. Selain makanan yang dihaluskan, Bunda juga bisa mulai mengenalkan makanan padat yang dipotong memanjang seukuran jari dewasa sehingga Si Kecil lebih mudah menggenggamnya.

Cobalah untuk memberikan Si Kecil sayuran, seperti wortel, buncis, dan kentang, yang sudah dimasak hingga lunak.

MPASI untuk bayi usia 12 bulan dan seterusnya
Saat Si Kecil mulai memasuki usia 1 tahun, Bunda dapat memberikannya makanan tiga kali sehari dan menambahkan camilan di antara jam makannya.

Berikan camilan sehat seperti buah, sayur, roti panggang, dan yoghurt pada bayi. Namun, pastikan untuk tidak menambahkan gula atau garam pada camilannya, ya.

Hal penting yang perlu diperhatikan dalam pemberian MPASI adalah tidak memaksa Si Kecil untuk menghabiskan makanannya. Selama Si Kecil tumbuh dan berkembang sesuai usianya, Bunda tidak perlu khawatir ia kekurangan makanan.

Jika bayi mengalami gejala alergi setelah mengonsumsi makanan tertentu, seperti kulit memerah dan bengkak, muntah, diare, atau sulit bernapas, segera bawa ia ke dokter untuk mendapatkan penanganan.

6 Manfaat Matahari Pagi bagi Kesehatan Tubuh  Manfaat matahari pagi tidak hanya dapat dinikmati oleh bayi, tetapi juga a...
27/06/2022

6 Manfaat Matahari Pagi bagi Kesehatan Tubuh

Manfaat matahari pagi tidak hanya dapat dinikmati oleh bayi, tetapi juga anak-anak, orang dewasa, bahkan lansia. Tak hanya dapat meningkatkan daya tahan tubuh, paparan sinar matahari yang cukup diketahui dapat mencegah berbagai penyakit.

Anjuran untuk berjemur di pagi hari, misalnya sambil berolahraga atau sekadar duduk di teras rumah, bukanlah tanpa alasan. Selain meningkatkan produksi vitamin D dalam tubuh, ada beragam manfaat sinar matahari pagi bagi kesehatan.

6 Manfaat Matahari Pagi bagi Kesehatan Tubuh - Alodokter

Berbagai Manfaat Matahari Pagi
Berikut ini adalah beragam manfaat matahari pagi yang bisa Anda peroleh:

1. Meningkatkan produksi vitamin D
Paparan sinar matahari pagi dapat merangsang produksi vitamin D dalam tubuh. Vitamin D diperlukan untuk meningkatkan penyerapan kalsium dan fosfor di usus, sehingga mampu memperkuat tulang, gigi, serta otot.

Tak hanya itu, mencukupi kebutuhan vitamin D setiap hari juga dapat mencegah beragam penyakit, seperti rakitis, osteoporosis, tekanan darah tinggi, dan diabetes tipe 2.

2. Meningkatkan imunitas tubuh
Produksi vitamin D yang cukup dengan bantuan sinar matahari juga mampu meningkatkan daya tahan tubuh. Oleh karena itu, aktivitas ini juga berperan penting dalam melindungi tubuh dari berbagai penyakit maupun infeksi kuman.

Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa berjemur di bawah sinar matahari dapat membantu pemulihan saat sakit, misalnya saat menderita COVID-19 atau tuberkulosis.

3. Memperbaiki kualitas tidur
Manfaat matahari pagi juga mampu memperbaiki kualitas tidur di malam hari, terutama bagi Anda yang memiliki masalah tidur seperti insomnia. Hal ini karena paparan sinar matahari pagi yang cukup dapat merangsang produksi hormon serotonin dalam tubuh.

Serotonin adalah hormon penting yang berperan dalam meningkatkan kualitas tidur dan membantu seseorang agar merasa tenang. Jika kadar serotonin di dalam darah rendah, siklus tidur dapat terganggu.

4. Mencegah depresi
Peningkatan kadar hormon serotonin dalam tubuh juga dapat meningkatkan suasana hati, membuat tubuh lebih berenergi, dan membantu Anda tetap fokus.

Tanpa paparan sinar matahari pagi yang cukup, kadar serotonin dalam tubuh bisa menurun. Penurunan hormon serotonin juga dikaitkan dengan risiko terjadinya depresi.

5. Mengatasi penyakit kulit
Paparan sinar matahari pagi hari dalam jumlah yang cukup juga diyakini bermanfaat untuk meredakan gejala dari penyakit kulit, mulai dari jerawat, eksim, penyakit kuning, hingga psoriasis.

Namun, sebelum Anda memutuskan untuk berjemur di bawah sinar matahari pagi, sebaiknya konsultasikan ke dokter lebih dulu mengenai aturan dan lamanya waktu berjemur sesuai kondisi kulit Anda.

6. Menurunkan risiko penyakit kanker
Terpapar sinar matahari secara berlebihan bisa memicu kanker kulit. Namun, dalam kadar yang tepat, paparan sinar matahari justru bisa mencegah berbagai penyakit kanker, seperti kanker prostat, kanker pankreas, kanker ovarium, kanker usus besar, dan kanker getah bening.

Untuk memperoleh berbagai manfaat matahari pagi di atas dengan risiko efek samping yang kecil, Anda disarankan berjemur sebelum jam 10 pagi agar terhindar dari bahaya sinar ultraviolet.

Berjemurlah selama 5–15 menit, sebanyak 2–3 kali seminggu. Selain itu, gunakan tabir surya untuk melindungi kulit dari bahaya yang bisa ditimbulkan oleh sinar ultraviolet.

Jika Anda masih memiliki pertanyaan seputar cara mendapatkan manfaat mahatari pagi yang optimal, jangan ragu bertanya ke dokter. Dokter bisa memberikan saran mengenai waktu terbaik dan durasi berjemur di pagi hari sesuai kebutuhan serta kondisi kesehatan Anda.

27/06/2022

Selamat Datang...

Address

Jalan Boulevard Raya Ruko Sinpasa Blok F No. 5
Bekasi
175412

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Herbal Fizz posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share