10/09/2022
.
lelaki penunggu hujan.
terdiam ia disana, menghitung rintik ketidakpastian. menyatukan tetes, menciptakan air.
biar kecil tergenang, nyata terkenang. digenggamnya gagang besi payung itu, tegap ia berdiri dan berteriak pada lamunan.
tak ada satu suara selain jiwanya menasbihkan diri,
"ada dan tiada dirimu, ada aku dengan ingatan terlepas di kepalaku."
derai hujan yang berterbangan, berhasil menyapu wajah lelaki bergendang telinga seni. tak lain maksud sang air menyapa akan aliran sedu sedan akan suatu putusan sore beberapa hari lalu.
sebagai lelaki perasa, menjadi pendengar cukup tak banyak sumbang cakap. seperti payung, biar cukup hadir menjaga relung.
ah kawan, tak berani kukatakan hanya gumaman,
"tak perlu mentari apalagi pelangi, masih ada bunyi dimana kita masih bisa bernyanyi dan menari."