Info seputar Bekasi dan Jawa Barat

Info seputar Bekasi dan Jawa Barat infomasi Sekitar wilayah Jawa barat

JAKARTA, 8 September 2026 — Seiring melonjaknya permintaan masker akibat penyebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau, h...
08/09/2026

JAKARTA, 8 September 2026 — Seiring melonjaknya permintaan masker akibat penyebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau, harga masker di sejumlah pasar, apotek, dan toko perlengkapan kesehatan di Jakarta tercatat naik hingga dua kali lipat dalam beberapa hari terakhir. Warga melaporkan kesulitan mendapatkan stok dengan harga wajar, sementara di beberapa tempat masker jenis N95 justru sudah langka.

Kenaikan harga ini paling terasa di kawasan Jakarta Barat, Jakarta Selatan, dan Jakarta Utara yang sejak awal paling terdampak sebaran debu vulkanik. Masker medis yang biasanya dijual Rp2.000–Rp3.000 per lembar, kini banyak dijual Rp5.000 hingga Rp8.000. Masker N95 yang biasanya Rp5.000–Rp7.000 per lembar, ada yang dijual sampai Rp15.000–Rp20.000.

Merespons keluhan yang makin banyak masuk, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung langsung mengeluarkan pernyataan tegas.

"Saya tegaskan: kebutuhan warga di saat bencana tidak boleh dipermainkan demi keuntungan sepihak. Masker adalah barang kebutuhan pokok saat ini. Jangan ada yang sengaja menimbun, menaikkan harga secara tidak wajar, atau memanfaatkan situasi sulit warga," ujar Gubernur Pramono di Balai Kota, Selasa pagi (8/9).

📋 Langkah Pemerintah Segera Dilakukan:

- 🚓 Pengawasan Pasar Diperketat: Satuan Tugas Pengawasan Barang dan Jasa turun ke seluruh pasar, apotek, serta toko perlengkapan kesehatan mulai hari ini.

- ⚖️ Sanksi Tegas: Pelaku usaha yang terbukti menaikkan harga berlebihan atau menimbun stok akan dikenakan sanksi sesuai UU Perdagangan dan UU Perlindungan Konsumen — bisa denda hingga pencabutan izin usaha.

- 📦 Pasokan Dijamin: Pemprov DKI memastikan stok masker terus didatangkan dari pusat dan didistribusikan lewat apotek milik daerah, Puskesmas, serta posko bencana secara gratis atau harga terkendali.

- 📞 Lapor Langsung: Warga menemukan kecurangan bisa melapor ke nomor layanan publik 112 atau akun resmi Dinas Perdagangan DKI.

📌 Jaminan Ketersediaan

Dinas Perdagangan DKI menjelaskan kenaikan harga sebagian besar bukan karena stok habis, melainkan spekulasi penjual. Pasokan baru sudah masuk bertahap dan akan disebar merata ke seluruh wilayah Jakarta dalam 1×24 jam ke depan.

Pemerintah juga mengimbau warga tetap tenang, tidak berbelanja berlebihan, dan membagikan informasi yang benar kepada tetangga sekitar.







KOTA BEKASI, 7 September 2026 — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bekasi mengumumkan kesiapan distribusi a...
07/09/2026

KOTA BEKASI, 7 September 2026 — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bekasi mengumumkan kesiapan distribusi alat pelindung diri guna mengantisipasi dampak penyebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Sebagai langkah awal, BPBD menyiapkan sebanyak 1.000 lembar masker berkualitas tinggi untuk setiap kecamatan yang ada di wilayah Kota Bekasi.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Bekasi menyampaikan bahwa persiapan ini dilakukan sebagai langkah pencegahan utama demi melindungi kesehatan warga, terlebih jika arah angin kembali membawa sebaran debu ke wilayah Bekasi dan sekitarnya.

"Saat ini Kota Bekasi sudah mulai terasa dampaknya, meski belum setebal di wilayah Banten. Kami tetap bersiaga penuh. Setiap kecamatan sudah dialokasikan 1.000 masker — jenis yang mampu menyaring partikel halus — untuk dibagikan secara bertahap ke pos pengamanan dan kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, serta penderita gangguan pernapasan," ujarnya di kantor BPBD, Senin (7/9).

📋 Rincian Kesiapan:

- 📦 Alokasi: 1.000 masker per kecamatan, tersedia di seluruh 12 kecamatan se-Kota Bekasi

- 🎯 Prioritas Penerima: Lansia, balita, ibu hamil, penderita asma/penyakit paru, serta warga di kawasan terbuka padat penduduk

- 📌 Tempat Pengambilan: Kantor Kecamatan, Posko Kelurahan, dan Puskesmas terdekat

- 📈 Siaga Tambahan: Stok cadangan puluhan ribu lembar siap didistribusikan ulang jika kondisi memburuk

⚠️ Imbauan Resmi BPBD Kota Bekasi:

- 😷 Gunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan

- 🏠 Tutup rapat pintu, jendela, dan lubang ventilasi rumah

- 🫁 Kurangi aktivitas luar ruangan terutama pagi hingga siang hari

- 💧 Tutup rapat tempat penampungan air bersih agar tidak terkontaminasi

- 📞 Hubungi posko darurat 112 atau kantor BPBD terdekat jika mengalami gangguan kesehatan serius

Pemerintah Kota Bekasi juga terus berkoordinasi dengan BMKG dan PVMBG untuk memantau arah angin serta ketebalan abu vulkanik secara berkala. Masyarakat diminta tetap tenang, waspada, dan hanya mempercayai informasi resmi dari pihak berwenang.





07/09/2026
07/09/2026

Berdasarkan pemantauan satelit dan BMKG, sebagian besar abu vulkanik Anak Krakatau bergerak menjauhi Indonesia menuju Samudra Hindia, terutama pada ketinggian hingga 15 km.16,5 rb
Pada ketinggian lebih rendah, sebagian abu tetap terpantau menyebar ke sejumlah wilayah di Jawa dan Sumatera, termasuk Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan Lampung.






BANTEN — JAKARTA — BEKASI, 7 September 2026 — Seiring meluasnya penyebaran abu vulkanik hasil erupsi Gunung Anak Krakata...
07/09/2026

BANTEN — JAKARTA — BEKASI, 7 September 2026 — Seiring meluasnya penyebaran abu vulkanik hasil erupsi Gunung Anak Krakatau yang kini menyelimuti wilayah Banten, Jabodetabek, hingga sebagian Jawa Barat, permintaan alat pelindung diri khususnya masker meningkat tajam. Warga berbondong-bondong berburu stok masker, terutama jenis N95, guna mengantisipasi risiko gangguan kesehatan akibat paparan debu vulkanik.

Di toko obat, apotek, dan toko perlengkapan kesehatan di Serang, Cilegon, Tangerang, Jakarta Barat, hingga Bekasi, antrean pembeli terlihat panjang sejak pagi hari. Banyak warga membeli dalam jumlah banyak untuk kebutuhan keluarga maupun tetangga.

"Biasanya sehari hanya laku puluhan bungkus, sekarang habis ratusan bungkus dalam sehari. Yang paling dicari masker N95 dan masker medis berlapis tebal. Bahkan beberapa toko sudah mulai kehabisan stok," ujar salah satu pemilik apotek di kawasan Cikarang, Kabupaten Bekasi.

Warga mengaku khawatir karena abu vulkanik diketahui mengandung partikel tajam serta zat belerang yang dapat mengiritasi saluran pernapasan, mata, dan kulit. Khususnya bagi anak-anak, lansia, serta penderita asma dan penyakit paru, penggunaan masker yang tepat menjadi kebutuhan wajib.

📊 Apa yang Terjadi di Pasar?

- 📈 Permintaan naik 3–5 kali lipat dibandingkan hari biasa

- ⚠️ Stok masker N95 paling cepat habis; di beberapa tempat mulai langka

- 💸 Harga cenderung stabil, namun ada beberapa penjual yang menaikkan harga secara tidak wajar

- 🛒 Pembeli rata-rata membeli 5–20 lembar per orang

🛡️ Masker yang Tepat untuk Abu Vulkanik:

- ✅ Paling disarankan: Masker N95 / KN95 — mampu menyaring partikel halus sekaligus

- ✅ Alternatif: Masker medis berlapis tebal + kain tebal di luar — pakai ganda

- ❌ Kurang efektif: Masker kain tipis saja — debu halus masih bisa tembus

- ❌ Jangan pakai: Masker dengan katup — partikel bisa masuk lewat celah katup

⚖️ Pemerintah Siaga & Imbauan

Kepala Dinas Perdagangan Provinsi Banten dan DKI Jakarta telah mengumumkan pengawasan harga dan stok di seluruh wilayah. "Kami pastikan pasokan terus dipenuhi dan tidak boleh ada yang menaikkan harga secara berlebihan. Pelanggaran akan ditindak tegas," tegas pernyataan resmi.

Sementara itu, Dinas Kesehatan mengingatkan: masker saja belum cukup. Tetap kurangi keluar rumah, tutup rapat jendela-pintu, cuci muka-tangan setelah p**ang, dan segera mandi jika tubuh terkena debu.





JAKARTA — BANTEN, 7 September 2026 — Sejak erupsi besar Gunung Anak Krakatau dimulai, banyak warga beranggapan bahwa deb...
07/09/2026

JAKARTA — BANTEN, 7 September 2026 — Sejak erupsi besar Gunung Anak Krakatau dimulai, banyak warga beranggapan bahwa debu vulkanik akan hilang begitu saja saat turun hujan atau berubah arah angin. Namun, pakar vulkanologi dari PVMBG menjelaskan hal tersebut tidak sepenuhnya benar, dan ada penjelasan ilmiah kapan kondisi udara benar-benar pulih.

Kapan Abu Vulkanik Berhenti Menghujani Bumi?
Kepala Bidang Pemantauan Gunung Api PVMBG menjelaskan:

"Hujan memang bisa membantu membersihkan debu yang sudah melayang di udara, tapi itu bukan faktor penentu utama. Penyebab utama berakhirnya hujan abu adalah berkurangnya atau berhentinya aktivitas erupsi dari kawah. Selama gunung masih meletus dan menyemburkan debu ke atmosfer, berapa pun hujan turun atau angin berputar, abu akan terus datang lagi dari sumbernya."

Dijelaskan p**a:

- ✅ Angin hanya mengubah arah penyebaran, bukan menghilangkan abu

- ✅ Hujan mempercepat jatuhnya debu yang sudah ada di udara, tapi tidak menghentikan keluarnya debu baru dari gunung

- ✅ Kunci utama: aktivitas letusan harus menurun drastis hingga berhenti menyemburkan materi ke udara secara terus-menerus

📌 Berapa Lama Biasanya Bertahan?

- Jika erupsi berhenti total: debu di udara perlahan hilang dalam beberapa hari hingga 1–2 minggu, tergantung ketinggian debu dan kondisi cuaca

- Jika erupsi masih berlanjut: debu bisa terus muncul bergantian, meski kadang tebal kadang tipis, mengikuti kekuatan letusan

- Di permukaan tanah: abu yang sudah jatuh tetap ada sampai dibersihkan atau terbawa air hujan — bisa berbulan-bulan jika tidak ditangani

⚠️ Catatan Penting:

- Meskipun arah angin bergeser ke barat, wilayah lama seperti Banten dan sekitarnya belum tentu langsung bersih total

- Hujan setelah terkena abu bisa menjadi hujan asam — jangan dipakai mandi atau minum

- Tetap pakai masker sampai udara terlihat jernih dan dinyatakan aman oleh pihak berwenang

Saat ini Gunung Anak Krakatau masih berstatus SIAGA (Level III). PVMBG mengingatkan masyarakat: jangan hanya berharap pada hujan atau angin, tapi pantau terus perkembangan aktivitas gunungnya. Selama masih ada letusan, tetap siaga.





BANTEN — JAKARTA, 7 September 2026 — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis pembaruan prakiraan pe...
07/09/2026

BANTEN — JAKARTA, 7 September 2026 — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis pembaruan prakiraan penyebaran abu vulkanik hasil erupsi Gunung Anak Krakatau. Berdasarkan pemantauan angin di berbagai lapisan atmosfer pada hari ini, arah sebaran abu diperkirakan berubah dan bergerak dominan ke arah Barat hingga Barat Daya.

Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG menjelaskan bahwa perubahan pola angin ini menjadi faktor utama pergeseran arah sebaran. "Selama beberapa hari terakhir angin lebih banyak mengarah ke timur dan timur laut, sehingga abu menyelimuti Banten, Jabodetabek, hingga sebagian Jawa Barat. Mulai hari ini angin berbelok, sehingga potensi sebaran utama bergeser ke arah barat," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (7/9).

📍 Wilayah yang Berpotensi Terdampak:

- ✅ Saat ini masih terdampak: Seluruh wilayah Banten, pesisir Lampung, dan sebagian Jakarta Barat

- ➡️ Berpotensi makin tebal: Wilayah pesisir barat Banten, Kabupaten Pandeglang, Serang bagian barat, hingga wilayah pesisir Provinsi Lampung

- ⬅️ Berpotensi berkurang: Kepadatan abu di Jakarta, Bekasi, dan Bogor perlahan menurun seiring beralihnya arah angin

⚠️ Yang Perlu Diketahui Masyarakat:

- 📊 Pergerakan abu bisa berubah sewaktu-waktu mengikuti perubahan arah dan kecepatan angin

- 🫁 Meskipun arah berubah, udara di wilayah yang sudah terdampak tetap belum bersih sepenuhnya — tetap waspada

- 😷 Tetap gunakan masker, tutup rapat rumah, dan hindari aktivitas luar ruangan jika debu masih terlihat tebal

- 📡 Pemantauan dilakukan setiap jam, pembaruan terbaru hanya lewat saluran resmi BMKG dan PVMBG

📌 Status Gunung Tetap Sama

Hingga pukul 14.00 WIB, status Gunung Anak Krakatau masih berada di Level III (SIAGA). PVMBG mengingatkan meskipun arah sebaran berubah, aktivitas erupsi belum menurun secara signifikan, sehingga imbauan menjauhi radius 5 kilometer dari kawah tetap berlaku mutlak.

Pemerintah daerah di wilayah barat Banten dan Lampung telah meningkatkan kesiapsiagaan pemantauan kualitas udara serta ketersediaan alat pelindung diri bagi warga.






Kementerian Perhubungan resmi memperpanjang penutupan sementara operasional 8 bandara di wilayah Jawa dan Sumatera hingg...
06/09/2026

Kementerian Perhubungan resmi memperpanjang penutupan sementara operasional 8 bandara di wilayah Jawa dan Sumatera hingga Minggu, 6 September 2026 pukul 24.00 WIB (tengah malam). Keputusan ini diambil menyusul meluasnya sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau yang masih berlangsung aktif.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menjelaskan bahwa perpanjangan dilakukan setelah koordinasi dengan BMKG dan AirNav Indonesia. Hasil pemantauan menunjukkan abu vulkanik masih menyebar dan berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan.

"Kondisi debu vulkanik saat ini masih mengarah ke timur dengan ketinggian tertentu. Melihat hal tersebut dan koordinasi dengan seluruh stakeholder penerbangan, kami memutuskan delapan bandara tersebut ditutup sampai pukul 24.00 WIB," ujar Menhub Dudy.



✈️ DAFTAR 8 BANDARA YANG DITUTUP:

Tabel
No Nama Bandara Lokasi
1 Bandara Internasional Soekarno-Hatta Tangerang, Banten
2 Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta
3 Bandara Radin Inten II Lampung
4 Bandara Husein Sastranegara Bandung, Jawa Barat
5 Bandara Pondok Cabe Tangerang Selatan, Banten
6 Bandara Budiarto (Curug) Tangerang, Banten
7 Bandara Muhammad Taufiq Kiemas (Krui) Pesisir Barat, Lampung
8 Bandara Atung Bungsu Pagar Alam, Sumatera Selatan





📊 DAMPAK PENERBANGAN:

- ✈️ 1.558 penerbangan tertunda/dibatalkan

- 👥 Ratusan ribu penumpang terdampak

- 🔄 Penerbangan dialihkan ke Bandara Kertajati, Semarang, Surabaya, dan Yogyakarta

- 💳 Maskapai penerbangan membuka opsi refund dan reschedule tanpa biaya tambahan

⚠️ INFORMASI PENTING BAGI PENUMPANG:

- 📞 Selalu cek status penerbangan melalui aplikasi resmi maskapai sebelum ke bandara

- 🔄 Maskapai menyediakan opsi pengalihan jadwal atau pengembalian dana

- 📡 Pantau info resmi dari Kemenhub, AirNav Indonesia, dan akun resmi maskapai penerbangan

- 🕒 Untuk penerbangan Senin (7/9), dipastikan Bandara Soekarno-Hatta dan Halim Perdanakusuma dibuka kembali mulai pukul 08.59 WIB

Pemerintah menegaskan keselamatan penerbangan adalah prioritas utama. Jika kondisi abu vulkanik masih berisiko, penutupan dapat diperpanjang kembali. Masyarakat yang akan bepergian lewat udara diminta memantau perkembangan informasi terbaru secara berkala .






BANTEN — JAKARTA, 6 September 2026 — Informasi mengenai sebaran gas Sulfur Dioksida (SO₂) hasil erupsi Gunung Anak Kraka...
06/09/2026

BANTEN — JAKARTA, 6 September 2026 — Informasi mengenai sebaran gas Sulfur Dioksida (SO₂) hasil erupsi Gunung Anak Krakatau yang disebut "membawa dampak" hingga wilayah Banten, Jabodetabek, dan sekitarnya ramai dibicarakan di media sosial. Banyak warga melaporkan mencium bau belerang yang menyengat, terutama pada malam hari, serta mengalami iritasi mata dan tenggorokan. Terkait hal tersebut, Badan Geologi Kementerian ESDM memberikan penjelasan resmi.

Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan bahwa gunung api yang mengalami erupsi magmatik memang dapat melepaskan gas SO₂ dalam jumlah besar, yang kemudian dapat terbawa angin dan menyebar ke wilayah luas. Namun, paparan gas tersebut perlu dilihat berdasarkan konsentrasi dan ketinggiannya di atmosfer.

"Jika gas SO₂ mencapai ketinggian atmosfer yang tinggi, wilayah paparan juga berada di atmosfer atas dan tidak terlalu dirasakan di permukaan. Sebaliknya, apabila gas lebih dominan berada di lapisan atmosfer bawah, paparan dapat lebih dekat dengan permukaan tanah dan berpotensi dirasakan masyarakat," ungkap Lana.

🔍 Kenapa Gas SO₂ Terasa di Banten & Jabodetabek?

Kondisi tersebut terjadi pada erupsi Gunung Anak Krakatau yang saat ini melepaskan SO₂ dalam jumlah besar. Menurut Lana, gas relatif berada pada ketinggian atmosfer rendah karena erupsi berupa lava fountain (pancaran lava). Karena itulah, gas mudah terbawa angin dan dapat dirasakan atau tercium oleh masyarakat di wilayah Banten, Jabodetabek, hingga Lampung.

⚠️ Apa Itu Gas SO₂ dan Bahayanya?

- Gas Sulfur Dioksida (SO₂) adalah gas vulkanik beracun, tidak berwarna, namun berbau tajam dan menyengat

- Dapat mengiritasi mata, hidung, tenggorokan, dan saluran pernapasan

- Pada konsentrasi tinggi, dapat menyebabkan sesak napas, terutama bagi penderita asma dan penyakit paru kronis

- Bisa bereaksi dengan uap air di udara dan memicu hujan asam

📡 Status Gunung & Imbauan Resmi

- Status Gunung Anak Krakatau tetap Level III (SIAGA)

- Warga diimbau tidak beraktivitas dalam radius 5 km dari kawah

- Gunakan masker N95 saat beraktivitas di luar ruangan

- Tutup rapat pintu dan jendela rumah, terutama pada malam hari saat gas cenderung terperangkap di lapisan udara bawah
- Hindari memanfaatkan air hujan untuk keperluan rumah tangga sementara waktu
- Pantau informasi resmi melalui akun PVMBG dan BMKG

Badan Geologi menegaskan bahwa pihaknya terus memantau perkembangan aktivitas gunung dan kualitas udara secara berkala. Masyarakat diminta tidak panik, tetap waspada, dan hanya mempercayai informasi dari sumber resmi pemerintah





JAKARTA, 6 September 2026 — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta resmi mengeluarkan kebijakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) b...
06/09/2026

JAKARTA, 6 September 2026 — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta resmi mengeluarkan kebijakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi seluruh jenjang pendidikan di Jakarta, mulai hari Senin, 7 September 2026. Keputusan ini diambil menyusul meluasnya penyebaran abu vulkanik dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang kini telah menyelimuti sebagian wilayah ibu kota dan berpotensi mengganggu kesehatan siswa serta tenaga pendidik.

Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta menyampaikan bahwa kebijakan ini berlaku untuk TK, SD, SMP, SMA, dan SMK — baik negeri maupun swasta — di seluruh wilayah Jakarta.

"Mengingat kondisi udara yang masih mengandung abu vulkanik dan berpotensi mengganggu sistem pernapasan serta kesehatan kulit dan mata, kami memutuskan pembelajaran dilaksanakan secara daring besok. Langkah ini diutamakan demi keselamatan dan kesehatan para siswa, guru, dan warga sekolah," ungkap Kepala Dinas Pendidikan dalam keterangan resminya, Minggu (6/9).

Kebijakan ini juga sejalan dengan imbauan Dinas Kesehatan DKI Jakarta yang memperingatkan risiko gangguan kesehatan akibat paparan abu vulkanik, mulai dari iritasi mata, kulit gatal, hingga sesak napas — terutama bagi anak-anak yang tergolong kelompok rentan.

📋 Rincian Kebijakan:

- 📅 Berlaku: Senin, 7 September 2026 — sampai pemberitahuan lebih lanjut

- 🏫 Jenjang: TK, SD, SMP, SMA, SMK (Negeri & Swasta)

- 💻 Metode: Pembelajaran Jarak Jauh / Daring

- 🏢 Guru & Tenaga Kependidikan: Tetap bertugas di sekolah atau bekerja dari rumah sesuai arahan kepala sekolah

- 📊 Evaluasi: Kondisi akan dievaluasi setiap hari; jika kualitas udara membaik, pembelajaran tatap muka dapat dibuka kembali

Pihak sekolah diminta tetap memberikan materi dan tugas yang sesuai tanpa membebani siswa, serta menjadwalkan pengecekan kondisi kesehatan siswa. Orang tua juga diimbau untuk tetap mengawasi anak di rumah, menjaga kebersihan lingkungan, dan memastikan asupan gizi yang cukup selama masa PJJ.

Sementara itu, Pemprov Banten dan Kabupaten Bogor juga dilaporkan sedang meninjau kemungkinan kebijakan serupa mengingat dampak abu vulkanik yang lebih tebal di wilayah tersebut. Masyarakat diminta terus memantau pengumuman resmi dari dinas pendidikan masing-masing daerah.





Address

Bekasi

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Info seputar Bekasi dan Jawa Barat posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Info seputar Bekasi dan Jawa Barat:

Shortcuts

Share