Mak Iwul

Mak Iwul see what do you see👀

DONGENG:Domba Kecil yang IkhlasDi sebuah desa yang damai, hiduplah seekor domba kecil bernama Mimi. Mimi adalah domba ya...
27/05/2026

DONGENG:

Domba Kecil yang Ikhlas

Di sebuah desa yang damai, hiduplah seekor domba kecil bernama Mimi. Mimi adalah domba yang lucu, berbulu putih bersih, dan sangat disayangi oleh seorang anak bernama Adit.

Setiap hari, Adit merawat Mimi dengan penuh kasih. Ia memberi makan rumput segar, mengajak Mimi bermain, bahkan sering bercerita sebelum tidur.

Suatu hari, Adit mendengar ayahnya berkata,
“Besok kita akan merayakan Idul Adha, dan Mimi akan menjadi hewan kurban kita.”

Adit terdiam. Ia sangat menyayangi Mimi. Malam itu, Adit duduk di samping Mimi dengan mata berkaca-kaca.
“Mimi… aku sedih,” kata Adit pelan.
Ajaibnya, Mimi bisa berbicara. Dengan lembut Mimi berkata,
“Adit, jangan sedih. Aku bahagia bisa menjadi bagian dari ibadahmu.”

Adit terkejut. “Tapi aku akan kehilanganmu…”
Mimi tersenyum,
“Idul Adha adalah tentang keikhlasan dan berbagi. Aku akan membantu banyak orang yang membutuhkan. Bukankah itu hal yang baik?”
Adit mengangguk pelan. Ia mulai mengerti.

Keesokan harinya, saat matahari bersinar hangat, Adit mengelus Mimi untuk terakhir kalinya.
“Terima kasih, Mimi. Kamu sangat baik,” bisiknya.
Sejak hari itu, Adit belajar bahwa mencintai bukan berarti memiliki selamanya, tapi juga merelakan dengan ikhlas demi kebaikan.
Dan di hatinya, Mimi akan selalu hidup sebagai sahabat kecil yang mengajarkannya arti pengorbanan.

Selamat Hari Raya Idul Adha
Berbagi itu indah🙏

Puasa Pertama Aira 🌙Di sebuah rumah kecil yang hangat, tinggal seorang anak perempuan bernama Aira. Tahun ini Aira berus...
16/02/2026

Puasa Pertama Aira 🌙

Di sebuah rumah kecil yang hangat, tinggal seorang anak perempuan bernama Aira. Tahun ini Aira berusia lima tahun, dan ia sangat bersemangat karena ingin mencoba puasa untuk pertama kalinya.
“Boleh ya, Bu, Aira mau puasa seperti Ayah dan Ibu,” kata Aira sambil memeluk boneka kelincinya.
Ibu tersenyum lembut. “Boleh, tapi puasa pertama cukup sampai dzuhur dulu, ya.”
Aira mengangguk mantap, walau sebenarnya ia belum tahu dzuhur itu lama atau sebentar.
Pagi hari, Aira bangun sahur. Matanya masih setengah tertutup, rambutnya berantakan seperti sarang burung.
“Aira kuat!” katanya sambil mengunyah nasi dengan mata hampir terpejam.
Setelah sahur, Aira kembali tidur. Saat bangun, matahari sudah tinggi.
Awalnya semua terasa biasa saja. Aira menggambar, bermain balok, lalu menonton kartun. Tapi menjelang siang…
“Bu… perut Aira bunyi ‘kriuk kriuk’…” keluhnya sambil memeluk perut.
Ibu tertawa kecil. “Itu tanda Aira sedang belajar kuat.”
Aira mencoba mengalihkan perhatian. Ia menyiram tanaman, membantu Ibu melipat baju (meski lipatannya malah jadi seperti bola), lalu bermain dengan kucing peliharaan.
Ketika jam hampir dzuhur, Aira mulai lemas. Ia rebahan di sofa.
“Aira capek…”
Ibu duduk di sampingnya. “Puasa itu bukan cuma menahan lapar, tapi juga belajar sabar.”
Aira mengangguk pelan.
Tak lama kemudian, suara adzan terdengar.
“Allaaahu akbar…”
Mata Aira langsung berbinar.
“Bu! Sudah boleh makan?”
“Sudah, pejuang kecil Ibu.”
Aira minum air putih dengan pelan. Rasanya… segar sekali! Lebih enak dari biasanya.
“Bu, kenapa air putih hari ini enak banget?”
“Karena Aira menunggu dengan sabar.”
Sore harinya, Ayah pulang membawa kurma.
“Ini hadiah untuk Aira yang berhasil puasa pertama.”
Aira tersenyum bangga. Dadanya terasa hangat.
“Malam ini Aira mau puasa lagi besok… tapi sampai dzuhur juga ya,” bisiknya.
Ayah dan Ibu tertawa sambil memeluknya.
Sejak hari itu, Aira tahu bahwa puasa bukan tentang kuat-kuatan, tapi tentang belajar pelan-pelan dengan hati yang sabar.
Dan di rumah kecil itu, lahirlah satu pejuang puasa kecil yang sangat membanggakan.


Rumah Baru untuk LalaSuatu pagi yang cerah, Lala si kelinci kecil duduk di depan rumah kayunya. Di sekelilingnya, kardus...
18/01/2026

Rumah Baru untuk Lala

Suatu pagi yang cerah, Lala si kelinci kecil duduk di depan rumah kayunya. Di sekelilingnya, kardus-kardus tersusun rapi. Ibu dan Ayah sedang sibuk mengepak barang.
“Lala, kita akan pindah rumah,” kata Ibu lembut.
Mata Lala membesar. “Pindah? Tapi aku s**a rumah ini. Di sini aku punya pohon jambu dan teman-temanku.”
Ayah tersenyum. “Rumah baru kita dekat padang bunga. Kamu akan punya banyak petualangan baru.”
Hari pindahan pun tiba. Lala membantu membawa mainan kesayangannya ke dalam gerobak. Ia melambaikan tangan pada rumah lama sambil berbisik, “Terima kasih sudah melindungiku.”
Sesampainya di rumah baru, Lala terkejut. Halamannya luas, ada ayunan, dan bunga warna-warni bermekaran. Tak lama, datanglah tetangga baru: Kiko si tupai dan Mimi si kucing.
“Hai! Mau main bersama?” tanya mereka.
Wajah Lala pun cerah. Mereka bermain kejar-kejaran hingga sore. Saat malam tiba, Lala tidur di kamar barunya dengan senyum manis.
Ia berkata dalam hati, “Pindah rumah memang membuatku sedih, tapi juga memberiku teman dan cerita baru.”
Sejak hari itu, Lala belajar bahwa rumah bukan hanya tempat, tetapi rasa hangat bersama keluarga dan sahabat. 🌈✨

Address

Pondok Gede
Bekasi
17411

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Mak Iwul posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share