22/07/2026
SURAT TERBUKA UNTUK BAPAK KEPALA BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Yth. Bapak Kepala Badan Kepegawaian Negara,
Perkenankan saya, seorang ibu rumah tangga sekaligus kakak ipar dari seorang Aparatur Sipil Negara, menyampaikan sepucuk surat ini dengan penuh hormat dan harapan.
Saya tidak menulis surat ini untuk mempersoalkan aturan. Saya juga tidak menulisnya untuk meminta perlakuan istimewa. Saya hanya ingin menyampaikan sebuah kisah sederhana tentang sebuah keluarga kecil yang hari ini sedang berjuang menjalankan pengabdian kepada negara, sambil memelihara harapan agar suatu hari nanti dapat kembali hidup bersama.
Adik ipar saya telah mengabdi sebagai Pegawai Negeri Sipil di Pemerintah Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo, sejak diangkat sebagai CPNS pada tahun 2019 (formasi CPNS tahun 2018). Selama bertahun-tahun, ia menjalankan tugasnya sebagai ASN dengan penuh tanggung jawab. Di balik pengabdiannya sebagai abdi negara, ia adalah seorang istri dan seorang ibu yang hanya menginginkan kedua anaknya tumbuh dalam kehangatan keluarga yang utuh.
Suaminya merupakan anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia. Beberapa bulan yang lalu beliau memperoleh mutasi tugas dari Polres Limboto ke Polres Palopo, Sulawesi Selatan. Kepindahan itu bukanlah demi mencari kenyamanan ataupun kepentingan pribadi, melainkan karena ingin lebih dekat dengan ibunya yang kini menjalani masa tuanya setelah ditinggal wafat oleh suaminya. Sebagai seorang anak, ia merasa memiliki tanggung jawab moral untuk mendampingi dan merawat ibunya di masa-masa tersebut.
Di sisi lain, kedua orang tua adik ipar saya juga tinggal di Kabupaten Luwu. Hingga hari ini, merekalah yang dengan penuh kasih sayang membantu mengasuh cucu mereka yang baru berusia enam bulan. Kehadiran kakek dan nenek adalah anugerah yang tidak ternilai. Namun, sebesar apa pun kasih sayang seorang kakek dan nenek, tidak akan pernah mampu menggantikan hangatnya pelukan seorang ibu.
Anak pertama mereka yang kini duduk di bangku Sekolah Dasar kelas I tetap tinggal di Gorontalo, hanya berdua bersama ibunya, agar dapat melanjutkan sekolah. Sementara itu, bayi mereka yang baru berusia enam bulan tinggal di Kabupaten Luwu bersama ayahnya dan dalam kesehariannya diasuh oleh kakek dan nenek dari pihak ibu.
Begitulah kenyataan yang kini mereka jalani.
Dua bersaudara yang seharusnya tumbuh di bawah satu atap, kini menjalani masa kecil di tempat yang berbeda.
Seorang ibu harus menahan rindu kepada bayi yang baru enam bulan ia lahirkan.
Seorang ayah menjalankan tugas negara sambil berusaha menunaikan baktinya kepada ibunya yang menjalani masa tua seorang diri.
Dan dua anak yang masih sangat membutuhkan kehadiran ayah dan ibunya harus tumbuh dalam keadaan terpisah, bukan karena kurangnya kasih sayang, melainkan karena kedua orang tuanya sedang berusaha menunaikan tanggung jawab kepada keluarga sekaligus kepada negara.
Yang mereka korbankan bukanlah harta ataupun kenyamanan.
Yang mereka korbankan adalah kebersamaan.
Hari-hari yang seharusnya dipenuhi tawa dua bersaudara dalam satu rumah, kini berganti dengan kerinduan. Hari-hari yang seharusnya diisi pelukan seorang ibu kepada bayinya, kini hanya dapat terobati ketika ada kesempatan untuk bertemu. Hari-hari yang seharusnya menjadi kenangan indah sebuah keluarga muda, kini dijalani dengan doa agar suatu saat mereka dapat kembali berkumpul.
Sebagai seorang ibu, setiap kali saya melihat bayi itu tertidur dalam pelukan kakek dan neneknya, hati saya selalu bertanya, bukankah seharusnya ia juga tertidur dalam pelukan ibunya?
Setiap kali saya melihat kakaknya p**ang sekolah, hati saya kembali bertanya, bukankah seorang anak juga berhak berlari menyambut ayahnya ketika p**ang bertugas?
Saya percaya tidak ada yang salah dalam pengabdian mereka.
Tidak ada yang salah ketika seorang anak ingin berbakti kepada ibunya.
Tidak ada yang salah ketika seorang ibu tetap menjalankan tugasnya sebagai ASN.
Tidak ada p**a yang salah ketika keduanya memilih tetap setia mengabdi kepada negara.
Hanya saja, keadaan membuat mereka harus menjalani pengorbanan yang tidak ringan.
Saya memahami sepenuhnya bahwa setiap Aparatur Sipil Negara wajib mematuhi seluruh ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Oleh karena itu, surat ini sama sekali bukanlah permohonan agar aturan diabaikan ataupun dikesampingkan.
Dengan segala kerendahan hati, saya hanya berharap, apabila terdapat mekanisme yang dibenarkan oleh ketentuan yang berlaku, kiranya kondisi keluarga ini dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan.
Saya percaya bahwa negara tidak hanya hadir melalui aturan yang memberikan kepastian hukum, tetapi juga melalui kebijaksanaan yang tetap memuliakan nilai-nilai kemanusiaan.
Keutuhan keluarga.
Bakti seorang anak kepada orang tuanya.
Dan kepentingan terbaik bagi anak-anak yang masih membutuhkan kehadiran ayah dan ibunya.
Nilai-nilai itulah yang selama ini menjadi kekuatan bangsa kita.
Bapak Kepala Badan Kepegawaian Negara yang saya hormati,
Melalui surat terbuka ini saya hanya menitipkan satu harapan sederhana.
Semoga suatu hari nanti keluarga kecil ini dapat kembali tinggal dalam satu rumah.
Semoga dua bersaudara itu dapat tumbuh bersama.
Semoga seorang bayi dapat kembali setiap hari berada dalam pelukan ibunya.
Semoga seorang anak dapat kembali merasakan hangatnya kehadiran ayah di sisinya.
Dan semoga suami istri yang sama-sama mengabdikan diri kepada negara tetap diberi kesempatan untuk membangun keluarganya secara utuh, tanpa mengurangi sedikit pun dedikasi mereka kepada bangsa dan negara.
Saya percaya, negara tidak hanya dibangun oleh aturan yang baik, tetapi juga oleh keluarga-keluarga yang tetap dijaga keutuhannya. Sebab ketika hati seorang ayah dan seorang ibu tenang karena keluarganya utuh, mereka akan mengabdi kepada bangsa dengan hati yang lebih lapang dan pengabdian yang lebih kuat.
Terima kasih atas waktu, perhatian, dan kebijaksanaan Bapak.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan, kekuatan, dan petunjuk kepada Bapak dalam mengemban amanah untuk melayani bangsa dan negara.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Hormat saya,
MUTIASTUTY MUCHTAR
Kakak ipar yang berharap sebuah keluarga kecil dapat kembali utuh.