Momy Felisha

Momy Felisha konten sindiran

29/03/2026

Copas by dokter Erta

Menolak Renta Sebelum Waktunya: Rahasia "Mesin" Tubuh dalam Al-Qur’an dan Diplomasi Langit Anas bin Malik

Sore ini, semilir angin di pelataran Masjid Nabawi terasa membawa pesan yang sangat personal. Di masjid Nabawi, saya menyempatkan diri menyimak sebuah kajian dalam bahasa Indonesia yang mengetuk logika kedokteran saya. Sang ustaz membahas tentang desain biologis manusia yang tertulis rapi dalam Al-Qur'an—sebuah manual kehidupan yang sayangnya sering kita baca hanya demi mengejar target khatam, tanpa benar-benar mencerna "skema anatomi" yang ditawarkan Sang Pencipta.

Banyak dari kita sering terjebak dalam fatalisme yang keliru dan sedikit "malas": "Kalau sudah waktunya mati, ya mati saja, mau sehat atau sakit." Pernyataan ini sekilas terdengar sangat tawakal, tapi bagi saya yang sehari-hari berhadapan dengan pasien di ruang praktik, ini adalah bentuk pelarian tanggung jawab yang dibungkus dengan dalih takdir. Kita lupa bahwa di antara titik lahir dan titik mati, ada ruang luas bernama ikhtiar. Allah membekali kita akal bukan untuk pasrah secara pasif, melainkan untuk mengelola unit biologis ini agar tetap prima hingga akhir kontraknya.

Al-Qur'an secara gamblang membagi fase hidup kita dalam k***a simetris yang sangat presisi dalam Surah Ar-Rum ayat 54: “Allah-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah kuat itu lemah (kembali) dan beruban.” Ini adalah sunnatullah, sebuah kepastian biologis yang tidak bisa dinegosiasikan. Namun, masalah besarnya ada pada fase "kuat" tersebut. Banyak masyarakat kita merasa masa mudanya adalah cek kosong yang bisa dikuras habis tanpa memikirkan saldo kesehatan di masa tua nanti.

Secara medis, fase Ardzalil Umur atau masa tua yang paling renta (pikun dan tak berdaya) adalah sesuatu yang sebisa mungkin kita tunda kedatangannya melalui pola hidup. Bayangkan, Allah memberikan kita mesin tubuh yang begitu canggih, namun kita memberinya "bahan bakar" berupa gorengan berlemak trans setiap pagi, asap rokok yang membakar alveoli paru secara sukarela, dan enggan menggerakkan sendi dengan alasan sibuk bekerja. Kita sedang melakukan sabotase terhadap ciptaan-Nya sendiri, lalu saat jatuh sakit, kita dengan mudahnya menyalahkan garis tangan.

Kematian memang sebuah ketetapan yang sudah terkunci di Lauh Mahfuzh, tak bisa maju atau mundur sedetik pun sesuai firman-Nya dalam Surah Fatir ayat 11. Namun, kualitas hidup menuju titik finis tersebut adalah wilayah pilihan kita. Islam tidak mengajarkan kita untuk sekadar hidup lama dalam penderitaan, tapi hidup yang barakah. Dalam bahasa medis, barakah itu bisa kita terjemahkan sebagai high quality of life—di mana di usia senja, kita masih mampu sujud dengan sempurna tanpa rintihan nyeri sendi yang hebat atau sesak napas yang mengganggu zikir.

Ikhtiar untuk sehat bukanlah bentuk ketidakpatuhan pada takdir. Justru, menjaga tubuh adalah bentuk syukur yang paling nyata atas amanah nyawa. Menjaga pola makan bukan sekadar diet agar terlihat rupawan di cermin media sosial, melainkan upaya agar pembuluh darah kita tidak mampet sebelum waktunya berangkat haji. Rutin berolahraga bukan sekadar hobi kaum urban, tapi cara memastikan otot kita tetap mampu menopang tubuh saat berdiri lama dalam salat malam di masa tua nanti.

Menjauhi rokok? Itu bukan sekadar urusan label peringatan di bungkusnya yang sering diabaikan. Secara logika klinis, merokok adalah cara paling efisien untuk mempercepat fase "lemah kedua" yang disebutkan dalam Al-Qur'an. Kita secara sadar mengundang kerapuhan seluler sebelum waktunya, seolah-olah kita sedang menantang siklus alami yang sudah Allah gariskan dengan sangat indah. Kita meminta umur panjang dalam doa, tapi perilaku kita justru sedang "memotong kompas" menuju penyakit kronis.

Ibadah itu sendiri sebenarnya adalah protokol kesehatan yang paripurna jika dilakukan dengan benar. Gerakan salat yang thumaninah adalah fisioterapi terbaik bagi kelenturan tulang belakang. Puasa adalah mekanisme autofagi—pembersihan sel-sel rusak—yang kini dipuja-puji dunia sains modern. Bahkan ketenangan batin yang didapat dari zikir adalah obat mujarab bagi hormon stres (kortisol) yang seringkali menjadi akar dari segala penyakit degeneratif di tengah masyarakat kita yang semakin kompetitif dan cemas ini.

Saya sering melihat pemandangan memilukan di rumah sakit: pasien yang menyesal di masa tua, saat harta melimpah tapi lidah tak lagi bisa mencecap rasa karena komplikasi diabetes atau jantung. Di sinilah letak ironi terbesar manusia modern: kita bekerja keras mencari uang sampai jatuh sakit, lalu menghabiskan seluruh uang tersebut hanya untuk sekadar bisa merasa sedikit sehat kembali. Padahal, jika kita mengikuti ritme wasathiyah (keseimbangan) yang diajarkan Islam, tubuh ini akan menjadi kawan paling setia dalam beribadah.

Di penghujung kajian di Masjid Nabawi tadi, sang ustaz mengingatkan kembali tentang sebuah diplomasi langit yang sangat masyhur: Doa Nabi Muhammad SAW untuk pelayannya, Anas bin Malik. Rasulullah tidak hanya mendoakan urusan ukhrawi, tapi juga urusan duniawi yang mendukung ibadah. Beliau berdoa: “Allahumma aktsir maalahu, wa waladahu, wa baarik lahu fiimaa a’thaitahu” (Ya Allah, perbanyaklah hartanya, anak-anaknya, dan berkahilah apa yang Engkau berikan kepadanya).

Hasilnya? Sejarah mencatat Anas bin Malik hidup hingga usia melampaui 100 tahun dengan kondisi yang tetap terjaga. Namun, kunci dari doa itu bukan hanya pada jumlah tahun yang dilewati, tapi pada kata "berkah". Umur panjang yang kita minta seharusnya adalah umur panjang yang produktif dalam ketaatan. Sebuah masa tua di mana akal tetap tajam untuk mengingat ayat-ayat-Nya, dan fisik tetap kokoh untuk melangkah ke rumah-Nya tanpa perlu dipapah oleh banyak orang.

Sebagai penutup, mari kita mulai "menabung" untuk masa tua kita bukan hanya dalam bentuk rupiah, tapi dalam bentuk kesehatan sel-sel tubuh kita. Kita tidak sedang berusaha hidup selamanya, kita hanya sedang berusaha agar saat "kontrak" nyawa ini selesai, kita kembali kepada Sang Pemilik dalam keadaan telah merawat titipan-Nya dengan sebaik-baiknya. Jangan biarkan tubuh yang seharusnya menjadi kendaraan menuju surga, justru menjadi beban karena kelalaian kita di masa muda.

Doa Harian untuk Umur Panjang yang Berkah
Agar ikhtiar fisik kita semakin kuat, silakan amalkan doa yang terinspirasi dari arahan Rasulullah SAW kepada Anas bin Malik ini setiap selesai salat atau saat memulai pagi:

اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالِي، وَوَلَدِي، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَنِي، وَأَطِلْ حَيَاتِي عَلَى طَاعَتِكَ، وَأَحْسِنْ عَمَلِي وَاغْفِرْ لِي

(Allahumma aktsir maali, wa waladi, wa baarik lii fiimaa a’thaitanii, wa athil hayaatii ‘ala thaa’atika, wa ahsin ‘amalii waghfir lii)

Artinya:
"Ya Allah, perbanyaklah hartaku dan anakku, berkahilah apa yang Engkau berikan kepadaku, panjangkanlah umurku dalam ketaatan kepada-Mu, perbaikilah amalku, dan ampunilah aku."

Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk tetap sehat, bugar, dan berumur panjang dalam ketaatan yang nyata. Jangan lupa bagikan tulisan ini jika menurut Anda bermanfaat—karena mengajak orang lain untuk sehat adalah bagian dari dakwah yang nyata.

EPW 28/3/2026

05/01/2026

*Membuat Anakmu Sholat TANPA Debat .. Keringat .. Urat .. & Pengingat* ..

"Bagaimana Membuat Anak2 Anda Sholat dengan
Kesadaran Mereka Sendiri Tanpa Berdebat dan
Tanpa Perlu Diingatkan .. ?

💕Anak2 anda tidak mau sholat .. ? atau mereka
sampai membuat anda capek saat mengingatkan
untuk sholat .. ?

Mari kita lihat bagaimana kita bisa merubah ini semua ~ biidznillah

""Seorang sahabat
berkisah : "Aku akan menceritakan satu kisah yg terjadi
padaku "

""Saat itu, anak perempuanku duduk di kelas 5 SD7
Sholat baginya adalah hal yg sangat berat ..
sampai2 suatu hari aku berkata kepadanya :
"Bangun .. !! Sholat .. !!",
dan aku mengawasinya ..

"Aku melihatnya mengambil sajadah, kemudian
melemparkannya ke
lantai ..
Kemudian ia
mendatangiku ..
Aku bertanya kepadanya : "Apakah kamu sudah sholat .. ?"
Ia menjawab : "Sudah"

Kemudian aku Mencubitnya.
Aku tahu aku salah.
Tetapi kondisinya mmg
benar2 sulit ..

Aku menangis ..
Aku benar2 marah padanya, aku rendahkan dia
dan aku menakut2inya akan siksa Allah ..
Tapi .. ternyata semua kata2ku itu tidak ada manfaatnya ..

📋Suatu hari, seorang sahabatku bercerita suatu kisah
""Suatu ketika ia berkunjung kerumah seorang kerabat dekatnya, ketika datang waktu sholat, semua anak2nya langsung bersegera melaksanakan sholat tanpa diperintah

⏫Ia berkata :
Aku berkata padanya "Bagaimana anak2mu bisa sholat dg kesadaran mereka tanpa berdebat dan tanpa perlu diingatkan .. ?

"Ia menjawab :
Demi Allah, aku hanya ingin
mengatakan padamu bahwa sejak jauh sebelum aku menikah aku selalu memanjatkan DO'A
ini ..

dan sampai saat ini pun aku masih tetap berdo'a dg DO'A tersebut.

✅Setelah aku mendengarkan nasehatnya, aku selalu tanpa henti berdoa dg do'a ini ..
Dalam sujudku ..
Saat sebelum salam ..
Ketika witir ..
Dan disetiap waktu2 mustajab ..

Demi Allah wahai saudara2ku ..
Anakku saat ini telah duduk dibangku SMA ..
Sejak aku memulai berdoa dg doa itu,

anakku lah
yg rajin membangunkan kami dan mengingatkan
kami untuk sholat ..
Dan adik2nya,

Alhamdulillah .. mereka semua selalu menjaga sholatnya
Sampai2 .. saat ibuku berkunjung dan menginap
dirumah kami, ia tercengang

melihat anak perempuanku bangun pagi, kemudian membangunkan kami satu persatu untuk sholat

❇Aku tahu anda semua penasaran ingin
mengetahui doa apakah itu?
Yaaa .. doa ini ada di QS.Ibrahim : 40

رب اجعلني مقيم الصلاة ِﻭَﻣِﻦ ﺫُﺭِّﻳَّﺘِﻲ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻭَﺗَﻘَﺒَّﻞْ ﺩُﻋَﺎﺀ )

Rabbij'alni muqimas salati wamin zurriyati rabbana wataqobbal du'a

"Ya Robbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yg tetap melaksanakan
sholat .. Ya Robb kami , perkenankanlah doaku"
(QS. Ibrahim : 40 )

♻Yaa .. Doa .. Doa .. dan Doa ..

Sebagaimana anda semua tahu bahwa doa
adalah senjata seorang mukmin

"Kirimkan tulisan ini agar lebih banyak orang yg mengambil manfaat ..

🕜"Semoga Allah merahmati orang yang bersedia men-share (tulisan ini), kemudian
menjadikannya pemberat bagi timbangan kebaikannya"

☑Baca selalu doa ini untuk anak2mu, biidznillah mereka akan selalu berada dalam penjagaan dan perlindungan Allah Ta'ala .. Aamiin Allaahumma Aamiin

_jangan hanya dibaca sendiri, yuuu' sebarkan dan rasakan manfaat kebaikan demi kebaikan_

21/12/2025

Kronologinya:
Seseorang bernama Rina dia sangat menyukai kucing. Di gang dekat rumahnya ada seekor kucing belang abu-abu yang sering ia beri makan lalu ia bawa pulang kerumahnya.Kucing itu tampak kurus, tapi jinak. Suatu sore, saat Rina hendak mengangkatnya karena hampir tertabrak motor, kucing itu mendadak memberontak.Cakarannya mengenai punggung tangan dan kaki Rina. Tidak dalam. Hanya garis merah tipis. Rina mengelapnya dengan tisu, lalu lupa. "Ah, cuma dicakar kucing," katanya.

Beberapa hari kemudian, kucing itu menghilang. Warga bilang kucing tersebut sempat menyerang anjing lain dan tampak ngiler berlebihan sebelum akhirnya mati di selokan.

Rina mulai merasa tidak enak badan dua minggu setelah cakaran itu. Demam ringan. Sakit kepala. la pikir hanya kecapekan. Lalu muncul hal aneh: Tenggorokannya terasa kaku saat minum la merasa takut air, padahal haus Tidurnya gelisah, mudah marah, jantung berdebar. Keluarganya membawa Rina ke rumah sakit saat ia mulai kejang dan berteriak ketakutan setiap kali mendengar suara air. Dokter langsung bertanya: "Pernah digigit atau dicakar hewan?"Rina terdiam. Baru ia ingat cakaran kecil itu. Diagnosis keluar cepat: Rabies.

Dokter menjelaskan dengan suara pelan tapi tegas: rabies bisa menular dari kucing,dan ketika gejala sudah muncul, tidak ada obat yang bisa menyelamatkan.Rina dirawat intensif. Keluarganya hanya bisa menunggu. Beberapa hari kemudian, Rina MD.Semua bermula dari satu cakaran kecil yang dianggap tidak penting.

Cerita ini menjadi pengingat untuk kita semua, bahwasanya jangan menyepelekan hal² kecil.👍🏻


20/12/2025

Mengapa harus menghafal Alquran sebelum buku Iqra?Mengapa harus belajar mendengar sebelum membaca?
Bagaimana cara mengajar membaca yang mengstimulasi otak kanan ?

BY Umm Marwan(Nia Nuraeni Gustini Lc,MA)

Di Tk dan sd Australia menggunakan metode Jolly Phonics untuk mengajarkan anak membaca dan menulis yang menggunakan pendekatan bottom up process dan top-down secara seimbang, yaitu mulai dengan mengajarkan unit terkecil bunyi untuk persiapan membaca kelak dan memberikan konteks cerita dalam pengajaran huruf.

Dibawah 7 tahun fokus pada pengajaran :
1.Suara huruf huruf.
2.Mengenal suara melalui kata -kata(vocabularies).

Mengapa demikian?

Karena dengan mendengar :
1.Mengstimulasi otak anak agar berkerja dan bisa membedakan setiap bunyi yang didengar.
2.Mengajarkan konsentrasi dan terbiasa mendengar.
3.Mengajarkan bisa merespon suara dan perintah.

Jadi:
Tidak diajarkan mengeja tapi diajarkan mendengar.
Tidak diajarkan menulis hanya diajarkan mengenali suara suara tersebut diberbagai kosa kata yang didengar.

Demikian juga dengan Alquran Harus belajar suara huruf sebelum membaca perhuruf metodologi ini saya namai metodologi "samii'un bashirun"

Bagaimana mengajarkan membaca huruf bahasa arab kepada anak dibawah 7 tahun?

Dalam Islampun sama:

Belajar menghapal Alquran sebelum membaca buku Iqra(belajar membaca perhuruf).

Dan juga anak dibawah 7 tahun pemfokusan hanya kepada :

1.Suara huruf dan bukan diperkenalkan kepada nama huruf,contoh:

Bukan alif tapi langsung bunyinya a
Bukan jim tapi langsung bunyinya ja
Bukan shod tapi langsung bunyi sho

2. Mengenalkan kata yang mewakili huruf tersebut seperti:

a ada di arnab(kelinci)
ja ada di jamal(unta)

Juga mengenalkan huruf huruf sesuai dengan namanya sendiri dan yang ada pada anggota keluarga misalkan:

Marwan akan mengenal huruf "ma" dan akan menyebutkannya dikata apapun dalam bahasa arab yang dia lihat.

Fatima akan mengenal huruf "Fa" dan akan menyebutkannya dikata apapun dalam bahasa arab yang dia lihat.

3. diajarkan bisa membedakan dua suara yang berbeda .
seperti :
الصَوْتُ dan السَوْطُ
Suara dan pecut
اَلْمَوْزُ dan اَلْمَوْجُ
Pisang dan ombak

Karena itu maka sebelum membaca maka anak harus menghafalkan bacaan Alquran agar dengan mudah bisa membantu membaca ketika umurnya sudah 6/7 tahun.

kedua metodologi diatas jolly phonic dan metodologi samii'un bashiirun adalah merujuk kepada surah insan ayat 2 karena Allah menciptakan telinga(pendengar terlebih dahulu sebelum penglihatan) :

"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat."

Karena itu bila menyuruh anak membaca buku Iqra terlalu awal sebelum 6/7 tahun maka:

Otak anak tidak terstimulasi.
Otak anak dipaksa sebelum matang.
Otak anak dipaksa sebelum siap.
Anak akan merasa terpaksa.
Anak akan membenci membaca.

Dengan mengajarkan menghapalkan alquran maka :

mengstimulasi otak anak.
mengajarkan konsentrasi.
mengajarkan mendengar.
mengajarkan bicara.
mengistall ruh iman

Semoga Allah memberikan ilmu untuk mengajar anak anak kami. aamiin

Umm Marwan

Address

Depati Payung Negara
Bengkulu
38212

Opening Hours

09:00 - 17:00

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Momy Felisha posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share