06/06/2026
JUDUL: BATU DI TEPI PANTAI (Cerita Rakyat Malin Kundang)
https://youtu.be/w0sapwX5Kh4
[INTRO]
Yeah...
Dari Ranah Minang sampai ke seluruh negeri,
Kisah lama ini masih berdiri.
Tentang mimpi, tentang ambisi,
Tentang hati yang lupa diri.
[VERSE 1]
Lahir dari ombak dan angin pesisir,
Rumah sederhana, hidup tak berlebih.
Ibu bekerja dari fajar sampai akhir,
Demi masa depan yang lebih bersih.
Malin kecil menatap cakrawala,
Melihat kapal hilang di lautan.
Katanya hidup harus berubah,
Tak mau selamanya jadi penonton keadaan.
Maka berangkatlah dia merantau,
Membawa doa dalam setiap langkah.
Ibunya hanya bisa melambai jauh,
Sambil berharap Tuhan menjaga arah.
[PRE-HOOK]
Mimpi itu indah saat dikejar,
Tapi kadang manusia lupa belajar.
[HOOK]
Hei...
Kalau kau tinggi jangan lupa tanah,
Kalau kau kaya jangan lupa rumah.
Sebab akar yang kau tinggalkan,
Bisa jadi alasan kau kehilangan.
Hei...
Kalau kau jauh jangan lupa pulang,
Kalau kau menang jangan lupa orang.
Yang dulu berdiri saat kau jatuh,
Saat dunia belum mengenal namamu.
[VERSE 2]
Tahun berganti nama mulai dikenal,
Emas dan sutra menghiasi badan.
Dari anak kampung jadi terpandang,
Duduk megah di atas kemewahan.
Kapal besar masuk ke pelabuhan,
Sorak warga menyambut kedatangan.
Seorang ibu berlari perlahan,
Membawa rindu bertahun-tahun lamanya.
"Malin... anakku..."
Suara itu menembus keramaian.
Tapi yang datang bukan pelukan,
Melainkan penolakan dan penghinaan.
Katanya,
"Aku tak kenal wanita itu."
Seketika waktu seperti membeku.
Lebih tajam dari ombak yang menghantam batu,
Luka seorang ibu tak terlihat tapi menghancurkan kalbu.
[HOOK]
Hei...
Kalau kau tinggi jangan lupa tanah,
Kalau kau kaya jangan lupa rumah.
Sebab akar yang kau tinggalkan,
Bisa jadi alasan kau kehilangan.
Hei...
Kalau kau jauh jangan lupa pulang,
Kalau kau menang jangan lupa orang.
Yang dulu berdiri saat kau jatuh,
Saat dunia belum mengenal namamu.
[VERSE 3]
Langit hitam datang tanpa aba-aba,
Angin berteriak di atas samudra.
Petir menyambar membelah udara,
Seolah alam ikut bersuara.
Kapal megah berubah petaka,
Gelombang besar datang menerjang.
Tak ada emas yang bisa menjaga,
Saat kesombongan mulai tumbang.
Satu demi satu layar roboh,
Harapan hilang bersama badai.
Tubuh Malin perlahan membatu,
Menjadi kisah di sepanjang pantai.
[OUTRO]
Jika suatu hari kau berhasil,
Dan dunia mulai memanggil namamu.
Ingat wajah yang pertama tersenyum,
Saat tak seorang pun percaya padamu.
Karena sebesar apa pun kemenangan,
Tak akan pernah lebih besar,
Dari kasih seorang ibu.