Clicky

Galeri Santri Aceh

Galeri Santri Aceh بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً
“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat

Operating as usual

26/03/2022
25/03/2022
25/03/2022
24/03/2022
24/03/2022
23/03/2022
22/03/2022
21/03/2022
21/03/2022
19/03/2022
12/03/2022
07/03/2022

𝗔𝗱𝗮 𝗖𝗶𝗻𝘁𝗮 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗔𝗱𝗮𝗯

Oleh: Syakier Anwar

Diriwayatkan dalam al-Adab al-Mufrad, bahwa ada rombongan sahabat yang mengecup tangan dan kaki yang mulia Baginda Nabi Shallallahu ‘alaih wa sallam. Ada juga
riwayat tentang Abu Ubaidah bin al-Jarrah yang mengecup tangan Sayyidina Umar saat
beliau tiba di negeri Syam. Bahkan Ibnu Katsir dalam al-Bidayah-nya meriwayatkan bahwa
Umar berencana mencium kaki Abu Ubaidah namun Abu Ubaidah mencegahnya. Masyhur
juga bahwa Sayyidina Ali pernah mencium tangan dan kaki pamandanya, al-Abbas bin
Abdul Muthalib. Kita juga tahu bahwa al-Imam al-A’zam Abu Hanifah tidak pernah menjulurkan kakinya ke arah rumah gurunya, Hammad bin Abi Sulaiman dan dari pengakuannya sendiri bahwa beliau tak pernah luput mendoakan gurunya tersebut selepas
salat semenjak Hammad meninggal dunia. Imam Syafi'i juga pernah meninggalkan bacaan qunut subuh karena menghormati Abu Hanifah yang berpendapat berbeda. Imam Ahmad
bin Hambal pernah mendapat cibiran dari ahli hadis hanya karena beliau memegang tali
unta, menuntun tunggangan Imam Syafii. Masyhur di kalangan penggiat hadis perkataan
Imam Muslim saat menjumpai Imam Bukhari, “andai Anda mengizinkan, wahai gurunya para
guru, sungguh aku mencium kedua kakimu.” Dan masih banyak lagi teladan dari generasi
sahabat atau tabiin dan pengikut mereka dalam perkara memuliakan guru dan orang alim.

Tanpa perlu keliling dunia, dengan kemajuan teknologi, kita pun dapat melihat bagaimana orang alim dimuliakan di berbagai belahan dunia. Ada murid yang sebatas berjabat tangan dengan gurunya, ada yang mengecup kening gurunya, banyak yang mengecup tangannya, ada yang mengecupnya bolak-balik, depan-belakang, ada yang mencium lutut gurunya, sampai ada yang mencium kaki gurunya. Semua itu adalah bentuk penghormatan dan menyasar keberkahan ilmu dan kesalihan sang guru. Semua itu muncul
dari hati, tidak ada paksaan. Tak diajar pun sikap ini akan timbul sendiri dari hati seseorang yang merendah diri di haribaan ilmu pengetahuan. Lebih-lebih ilmu tentang Tuhan dan yang Tuhan inginkan dan perintahkan.

Di nusantara, adab dan akhlak murid kepada guru atau orang alim pun bermacam-macam. Adab-adab umum dalam budaya pesantren dan masyarakat pesantren tentunya jamak dijumpai dalam kehidupan masyarakat nusantara. Akhlak sederhana seperti memuliakan guru dengan semata mencium tangannya, mendahulukannya dalam banyak hal, berdiri saat kehadiran dan ketibaan orang alim, tidak mengangkat lutut saat duduk membersamai guru, membalikkan sendalnya, dan adab-adab lainnya yang mudah dijumpai di pesantren. Di sebagian daerah bahkan ada yang membungkuk saat dilewati guru atau orang alim, mundur ke belakang saat hendak keluar dari kehadiran guru, sampai ada sebagian murid yang mengusung tandu tempat duduk demi menghormati ilmu sang guru.

Di luar pesantren, masyarakat umum di negeri ini juga sudah terbiasa dengan budaya menghormati orang alim. Bahkan yang tidak ke pesantren atau mengaji sekalipun. Jangan heran melihat masyarakat membungkuk mencium tangan ulama, memprioritaskan
mereka di acara-acara kemasyarakatan, membawa bayi baru lahir agar ditahnik atau
sekadar disentuh usap kepala saja oleh Teungku, dan bahkan memberikan harta dan waktu mereka untuk orang alim. Panen dari sawah, kebun, dan hasil tambak ikan acap kali
dibawakan ke rumah Kyai sebagai hadiah dan bentuk cinta. Bila Anda menjadi orang alim
dalam masyarakat seperti ini, jangan harap masyarakat akan membiarkan Anda
menanggung beban belanjaan atau ikut menggotong jenazah ke kuburan. Penghormatan ini tidak saja dilakukan terhadap ulama, tapi anak dan keturunannya pun tak luput dari rasa hormat masyarakat. Tak ada maksud lain dari mereka selain memuliakan ilmu dan ahlinya. Mereka melakukannya dengan suka cita.

Di pihak lain, menjadi orang alim dalam masyarakat dengan budaya seperti di atas memang susah. Risih, iya. Tak enak, iya. Tapi mau bagaimana lagi, masyarakat sudah kadung menganggap hal itu sebagai hak mereka. Tapi pada saat yang sama, menjadi alim dilarang menikmati semua penghormataan dari murid dan masyarakat terhadapnya. Menikmati dalam arti menyukai dan mengharapkan berbagai bentuk penghormatan di atas ditujukan padanya. Larangan besar itu. Haram hukumnya menyukai dihormati. Tengok saja hadis dalam musnad Ahmad tentang kecaman terhadap orang yang suka orang lain berdiri untuk menghormatinya. Cukuplah menyukai penghormatan sebagai tanda bahwa seseorang belum pantas menjadi orang alim.

Dalam syariat sendiri, memuliakan dengan cara mencium tangan adalah sunnah, terutama mencium tangan orang alim, orang saleh, atau orangtua. Apakah itu sekadar menghormati atau mengambil keberkahan. Banyak dalil tentang ini, di antaranya yang disebutkan di muka tulisan. Lain halnya bila dilakukan demi harta, jabatan, atau kekuasaan. Makruh banget itu mencium tangan orang kaya karena kekayaannya. Memang ada khilaf di antara para ulama tentang mencium tangan sambil membungkukkan badan, namun yang rajih dan kuat adalah boleh menjura alias membungkuk bila dengan tujuan menghormati. Adapun budaya dan tradisi lainnya dalam memuliakan ilmu dan ahlinya tentu tidak mengapa selama dalam batas rambu-rambu syariat.

Anda bisa jadi terheran-heran dengan sebagian tradisi pesantren dalam memuliakan orang alim. Masyarakat dan santri yang melakoninya tanpa paksaan, kok. Mereka hanya mengekspresikan penghormatan dan cinta mereka terhadap gurunya atau ahli ilmu. Anda bisa jadi sulit menerimanya, tak masalah, itu hanya soal rasa dan kebiasaan. Tak perlu bercita-cita agar tradisi mulia ini dihilangkan, apalagi sampai menganggapnya sebagai bentuk feodalisme. Jauh panggang dari api. Bila berpikiran demikian, bisa jadi kemulian ilmu belum masuk ke dada atau tak tahu pun Anda feodalisme itu apa. Asbun total. Salam.

Photos from Abiya Jeunieb's post
06/03/2022

Photos from Abiya Jeunieb's post

04/03/2022
04/03/2022
03/03/2022
03/03/2022
27/02/2022
23/02/2022
22/02/2022
Yang Mulia Syaihk Abu MUDI
18/02/2022

Yang Mulia Syaihk Abu MUDI

07/02/2022
05/02/2022
04/02/2022
30/01/2022
Super !!!
29/01/2022

Super !!!

24/01/2022

Address

Banda Aceh - Medan
Beureunun
24173

Telephone

+6285326654379

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Galeri Santri Aceh posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Videos

Nearby media companies


Other Beureunun media companies

Show All

Comments

IZIN SHARE SAHABAT FILLAH 😇😇 PERSONIL AL ASYRAF • COVER (We will not go down) 🤩🤩😭😭😭😭😭
VOCAL NASYID ACEH BERSUARA MERDU 😍😍😍
PENAMPILAN BEGITU KEREN •• EL ZAIN VOICE NASYID GROUP 😍😍
PENAMPILAN DPEKTAKULER 😎😎
AL ASYRAF SUARA TERMERDU 😍😍😍
SYAIR ACEH PALING SEDIH 😇😇😇
Berbagi Info Lengkap •• Habib Muhammad Bin Al Atras 🤧🤧
Amazing suara bikin tenang hati 😍😍😍
GROUP GABUNGAN PRNCINTA SHOLAWAT NABI 😉😉🤩🤩🤩
SUNGGUH INDAH COVER VOCALIS NASYID ACEH 😎😎👇👇
VOCAL SUARA MERDU "Bidadari Surga" Alm. UJE ~ Ini yg di cari cari 🙏🙏😇😇🤩🤩
ADZAN MEKKAH SULIT DI TIRU •• PRIA INI MAMPU MEMBUAT ORG SEDIH DENGAN SUARA MERDUNYA 🤧🤧🤧