GSA DAILY

GSA DAILY بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً
“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari)

Snouck Hurgronje punya andil besar terhadap runtuhnya Kerajaan Aceh Darussalam, kerajaan Islam terbesar di Sumatera, ter...
13/01/2026

Snouck Hurgronje punya andil besar terhadap runtuhnya Kerajaan Aceh Darussalam, kerajaan Islam terbesar di Sumatera, terutama lewat nasihat-nasihatnya selama Perang Aceh.
---
Perang Aceh yang berkepanjangan berakhir dengan kemenangan Belanda dan runtuhnya Kerajaan Aceh Darussalam, kerajaan Islam terbesar di Sumatera. Perang Aceh juga membuat nama Snouck Hurgronje semakin cemerlang dan banyak dikenal orang.

Snouck Hurgronje punya andil besar terhadap menangnya Belanda dalam Perang Aceh. Dan secara tidak langsung, dia punya andil besar terhadap bubarnya Kerajaan Aceh Darussalam.

Inilah sosok Snouck Hurgronje, utusan kolonial Belanda yang ternyata pernah menjadi Syaikhul Islam Jawa. Snouck juga punya gelar Haji.

Profil Snouck Hurgronje

Snouck tiba di Batavia pada 11 Mei 1889. Tugasnya di Hindia Belanda adalah sebagai penasihat pemerintaha kolonial dalam urusan pribumi, khususnya dalam urusan Islam. Snouck, bisa dibilang, adalah arsitek dari segala kebijakan terkait islam zaman Belanda.

Yang jelas, sebagaimana ditulis oleh Intisari, Snouck masuk Islam. Ini sebuah kenyataan, sebagaimana yang tercatat dalam buku hariannya. Tapi apakah dia benar-benar meyakini Islam, hanya Tuhan yang tahu.

Yang jelas, selama hampir setahun tinggal di Jeddah dan Mekkah, serta 17 tahun di Hindia Belanda, sulit menganggapnya bukan seorang Islam. Dia dikhitan, naik haji, berzakat, taat melakukan salat, juga berpuasa.

Semua kewajiban berat, yang hampir mustahil dilakukan hanya untuk sekadar berpura-pura. Anehnya, dalam surat kepada rekannya, seorang islamolog Jerman, Snouck pernah menulis bahwa dia hanya sekadar melakukan izhar al-Islam, bersikap lahiriah Islam.

Dengan kata lain, apakah batinnya tidak Islam?
Tak hanya keislaman Snouck yang tidak jelas. Iman Kristen-nya juga sering diragukan. Soalnya, setelah menginjak dewasa ia juga tak pernah menunjukkan tanda-tanda sebagai pengikut Kristus yang taat.
Tak ada seorang pun yang menuntutnya berkelana jauh sampai ke Arab. Waktu itu, 1884, sebenarnya kedudukannya sudah lumayan sebagai dosen muda di Universitas Leiden. Namun, Snouck ingin sekali mempelajari kebudayaan dan bahasa Arab di negeri asalnya. Sesuatu yang sebelumnya hanya dia kenal lewat sumber-sumber tertulis.

Jalan menuju tanah Arab dia temukan di Departemen Kolonial Belanda, yang atas usulannya menyetujui dan mau membiayai penelitian tentang kehidupan jemaah haji Hindia Belanda di sana. Pada kenyataannya Snouck tak hanya menjalankan penelitian yang ditugaskan. Laporan setebal hampir 400 halaman yang kemudian disusunnya, merupakan salah satu catatan paling lengkap dan rinci tentang berbagai aspek kehidupan di kota suci Mekkah.

Bahwa dia sebuah pribadi dengan hasrat berpetualang yang besar, juga terlihat dalam soal kepergiannya ke Mekkah. Perjalanan ini sebetulnya sama sekali berada di luar rencana yang disetujui pemerintah di Den Haag, yang hanya memintanya melakukan penelitian di Jeddah.

Kurang pas jadinya kalau mencap bulat-bulat Snouck alat pemerintah kolonial untuk memata-matai Islam, seperti yang sering didengungkan. Mungkin lebih tepat kalau dibilang justru Snouck-lah yang telah memperalat pemerintah Belanda untuk mencapai obsesinya menjadi penguasa pengetahuan Islam yang besar.
Snouck berayahkan J.J. Snouck Hurgronje, seorang pendeta gereja Heryormd di Tholen, Provinsi Zeeland, yang lalu dipecat dari jabatannya karena meski sudah kawin punya hubungan asmara dengan seorang anak pendeta lain. Setelah istri pertamanya meninggal, dia kawin lagi dengan pacar gelap yang bernama Anna Maria ini.

Snouck yang lahir 8 Februari 1857 adalah anak keempat dari perkawinan ini. Konon, kakak-kakak kandung Snouck sudah dilahirkan sebelum kedua orangtuanya menikah secara resmi.

Lulus dari sekolah menengah Snouck berkuliah di Jurusan Teologi, Universitas Leiden. Namun, entah mengapa, ia lalu pindah ke fakultas sastra, jurusan Arab, dan berhasil meraih gelar doktor tahun 1880, dalam usia 23 tahun.

Snouck memang sangat cerdas dan memiliki bakat besar dalam soal kebahasaan. Sebagai ahli sastra Arab tentu saja ia bisa berbahasa Arab dengan baik. Setelah tinggal di Hindia Belanda, ia juga dengan cepat bisa menguasai bahasa Melayu berbagai bahasa daerah.

Dalam usia lanjutnya Snouck juga sempat menguasai bahasa Turki yang dipelajarinya hanya dalam waktu enam minggu. Konon, sepanjang hayatnya Snouck menguasai tak kurang dari 15 bahasa.

Setelah jadi doktor dengan disertasi tentang upacara naik haji, pengetahuan Snouck tentang Islam sudah sangat luas dan mendalam. Dia juga sudah lancar berbahasa Arab. Karenanya, boleh dikata ia hampir tak mendapat kesulitan apa pun selama setahun melakukan penelitian di Jeddah dan Mekkah.

Terpesona oleh ketinggian ilmu Islamnya, para ulama setempat dengan mudah memberi pengakuan ketika ia mengikrarkan diri masuk Islam. Kemudian Snouck juga tak sekadar diizinkan mengunjungi Mekkah yang tertutup bagi orang bukan Islam, tapi bahkan sampai diundang sendiri oleh para ulama dan walikotanya.

Selama tujuh bulan tinggal di Mekkah Snouck berhasil mengorek berbagai informasi yang dia perlukan, termasuk dari para ulama asal Hindia Belanda. Dia pasti masih akan lebih lama tinggal di Mekkah andaikata tak "dikhianati" wakil konsulat Prancis di Jeddah yang mungkin iri melihat Snouck berhasil masuk Mekkah dan leluasa melakukan penelitian di sana.

Snouck pun diusir dari kota suci sebelum tugasnya benar-benar selesai.
Selama di Hindia Belanda ia juga dianggap ulama besar yang tahu segalanya tentang Islam. Dr. Aqib Suminto, islamolog IAIN Jakarta yang pernah meneliti sejarah politik Islam Hindia Belanda, mengatakan hanya ulama-ulama papan atas yang berani berdiskusi soal agama dengan Snouck.
Ilmu Haji Abdul Gaffar ini rupanya memang luar biasa, sampai-sampai ia sering disebut sebagai m***i Batavia, m***i Hindia Belanda, bahkan syaikhul Islam Jawa, gelar-gelar yang tak sembarang ulama bisa menyandangnya.

Mengapa Snouck bisa sampai di Hindia Belanda sebagian besar juga karena dipacu semangat petualangannya. Setelah kabur dari Mekkah, Snouck kembali mengajar di Universitas Leiden. Tapi ia merasa kurang puas dan ingin melepaskan diri dari tugas mengajar.

Apa yang dimauinya adalah melakukan penelitian tentang Islam di Hindia Belanda. Dia lagi-lagi beruntung karena permohonannya pada gubernur jenderal mendapat sambutan positif.

Menteri kolonial Belanda juga mendukung rencana Snouck yang memang berotak cemerlang. Salah satu tugas utamanya adalah meneliti suku bangsa Aceh, yang sudah lama menjengkelkan pemerintah di Batavia karena tak mau tunduk dan terus melakukan perlawanan pada pemerintah kolonial.

Dia dijanjikan akan mendapat tunjangan sebesar 1.150 gulden sebulan. Namun, terbatasnya dana yang ada membuat tunjangan ini dikurangi menjadi hanya 700 gulden saja. Baru dua minggu di Hindia Belanda Snouck sudah akrab dengan sejumlah tokoh keturunan Arab dan para ulama, yang sebagian memang sudah dikenalnya di Arab.

Secara khusus ia menjalin persahabatan dengan Othman bin Yahya, ulama keturunan Arab yang lalu jadi orang kepercayaannya di Kantoor voor Inlandsche Zaken, Kantor Urusan Pribumi, yang dipimpin Snouck.

Di kalangan pegawai Belanda di Batavia, Snouck dianggap lain dari yang lain. Tidak seperti amtenar Belanda umumnya, Snouck lebih s**a tinggal di lingkungan kaum pribumi atau keturunan Arab.
Di Batavia dia misalnya pernah tinggal di Gang Sentiong dan di Oude Tamarindelaan, Jl. Asem Lama (sekarang Jl. Wahid Hasyim), di mana banyak tinggal warga keturunan Arab. Maksudnya tentu saja agar ia lebih dekat dengan para narasumbernya.
Dia juga pernah tinggal di Cilegon untuk meneliti sebab-sebab terjadinya pemberontakan yang diduga didalangi para ulama di sana. Dari Cilegon Snouck lalu pindah ke Menes dan tinggal menumpang di rumah keluarga-bupati Serang yang sudah ia kenal sebelumnya.

Ketika Snouck di Mekkah dia banyak ditolong oleh Raden Abu Bakar Djajadiningrat, seorang kerabat bupati Serang.

Waktu bertugas sebagai penasihat dalam Perang Aceh, 1891-1892, Snouck pun turun langsung ke lapangan. Sebagai M***i Abdul Gaffar, dengan gampang dia mendapatkan kepercayaan dari para tokoh masyarakat dan ulama Aceh.

Snouck sendiri merasa sreg dengan tugas-tugas yang dipikulnya dan jadi betah tinggal di Jawa. Dia lalu memohon agar statusnya sebagai petugas tidak tetap dalam pemerintahan Hindia Belanda diubah menjadi petugas tetap.

Kariernya di Hindia Belanda menanjak terus. Maret 1891 ia diangkat menjadi Penasihat Bahasa-bahasa Timur dan Hukum Islam, dan meningkat menjadi Penasihat Urusan Pribumi dan Arab pada bulan Januari 1889.

Meski ia berkantor di Batavia, Snouck tetap sering turun ke berbagai daerah di Jawa. Antara tahun 1898-1903 Snouck Hurgronje sempat beberapa kali ke Aceh untuk membantu Jenderal Van Heutz dalam menaklukkan Aceh.

Setelah 17 tahun di Hindia Belanda, tahun 1906 dia pulang untuk berlibur ke Negeri Belanda. Namun, Snouck malah diangkat menjadi guru besar di Universitas Leiden, merangkap penasihat menteri jajahan.

Dalam sebuah perjalan tugasnya ke berbagai pelosok Jawa Barat, Snouck yang masih bujangan jatuh hati pada anak gadis kepala penghulu Ciamis, Raden Haji Muhammad Taib. Snouck pun menikah secara Islam dengan Sangkana, begitu nama si anak penghulu, di Masjid Ciamis.

Perkawinan ini, yang beritanya antara lain dimuat dalam Soerabaja Courant edisi 9 dan 13 Januari 1890, menimbulkan kehebohan besar di kalangan pemerintah. Bukan hanya pemerintah di Batavia, tapi juga sampai pemerintah pusat di Den Haag.

Pasalnya, perkawinan campuran Belanda-pribumi adalah haram menurut undang-undang kolonial, karena dianggap bisa menurunkan martabat bangsa Belanda. Menteri penjajahan secara resmi meminta penjelasan pada gubernur jenderal tentang kebenaran berita tersebut.

Menurut penjelasan gubernur jenderal–yang entah mengapa bernada membela Snouck–apa yang sebenarnya terjadi adalah Snouck telah menyaksikan sebuah upacara perkawinan Islam di Masjid Ciamis dalam rangka penelitian yang dilakukannya. Snouck juga ikut membantah keras berita perkawinannya itu.

Dari perkawinan ini Snouck menghasilkan empat anak: Salamah Emah, Oemar, Aminah dan Ibrahim. Sangkana meninggal dunia pada tahun 1895, ketika keguguran anaknya yang kelima. Keempat anak Snouck lalu dipelihara dan dibesarkan oleh istri bupati Ciamis yang masih berkerabat dengan istrinya.

Empat tahun setelah kematian istri pertamanya Snouck kawin lagi di Bandung. Lagi-lagi dengan anak perempuan keluarga penghulu. Kali ini dengan cucu penghulu kepala Bandung, Haji Muhammad Rusdi.

Penghulu kepala ini mempunyai anak bernama Haji Muhammad Sueb, wakil penghulu Bandung, yang dikenal dengan sebutan Kalipah Apo dan kondang sebagai qori — pembaca Al Quran — jempolan. Snouck kawin dengan anak gadis Kalipah Apo, Siti Sadijah, yang memberinya seorang anak laki-laki bernama Raden Joesoef.

Agar rahasia perkawinannya tak sampai terbongkar, Snouck antara lain melarang anak-anaknya dididik di sekolah Belanda. Dia juga tidak setuju ketika setelah dewasa R. Joesoef, Ibrahim dan salah seorang anaknya yang perempuan menyatakan ingin melanjutkan pendidikan di Negeri Belanda.

Setelah pulang ke Negeri Belanda, Snouck sempat kawin lagi. Dari perkawinannya yang ketiga ini dia punya seorang anak perempuan, Christine. Seperti hampir semua orang, Christine tak pernah tahu ia masih punya seorang kakak laki-laki di Indonesia. Semua baru kaget setelah sejarawan Belanda von Koningsveld pada awal tahun 1980-an membeberkan di surat kabar hasil penelitiannya tentang kehidupan perkawinan Snouck selama ia tinggal di Hindia Belanda.

Begitu membaca berita tersebut, Christine lalu menyurati R. Joesoef, menyatakan ingin bertemu dan mengharapnya berkunjung ke Negeri Belanda.
Singkat cerita, akhirnya bertemulah kakak-beradik R. Joesoef — Christine, yang sebelumnya tak pernah saling kenal selama lebih dari 70 tahun. Konon, peristiwa pertemuan dua manusia lanjut usia ini sangat mengharukan, penuh linangan air mata.
Dokumen-dokumen sejarah yang baru ditemukan belakangan, makin kuat menunjukkan bahwa Snouck menjadi Islam hanya karena ingin secara total menyelami dan menguasai pengetahuan Islam–dan juga demi tugas sebagai penasihat pemerintah dalam urusan pribumi. Dahulu, hal ini tak ada seorang pun yang tahu, termasuk dua penghulu yang sempat jadi mertuanya.

Juga tak ada sahabat-sahabat pribuminya yang tahu bahwa Snouck malah sering bertindak di luar jalur ajaran Islam. Tahun 1915, misalnya, Snouck pernah mengajukan usulan pada pemerintah agar umat Islam Hindia Belanda dilarang melakukan ibadah haji ke Mekkah, semata-mata untuk menghindari pengaruh gerakan Pan Islamisme yang revolusioner.

Jalan sejarah pasti akan lain jadinya andaikata Snouck tidak pernah bersembunyi di balik nama Abdul Gaffar, syaikhul Islam Jawa.
Bagaimana Snouck memenangkan Perang Aceh?
Bagi Belanda, Perang Aceh, selain melelahkan, adalah perang yang modalnya sangat besar. Perang ini merentang selama lebih dari 30 tahun, dibagi menjadi empat babak.

Yang membuat Belanda kesulitan mengalahkan Aceh, salah satunya adalah kurangnya informasi mengenai medan Aceh yang superberat. Saat perang telah berjalan dua dekade, Belanda yang mulai kewalahan memutuskan untuk mengubah strategi.

Untuk menaklukkan Aceh, Belanda menempuh jalan lain, yaitu dengan mengirim "sosok spesial" untuk mencari rahasia tata negara Aceh, terutama yang menyangkut kehidupan sosial-budayanya. Sosok spesial itu adalah Snouck Hurgronje.

Snouck Hurgronje adalah seorang orientalis pilih tanding, berkebangsaan Belanda, yang menghabiskan banyak waktunya untuk mempelajari Islam. Di Mekkah, dia mendapat bimbingan langsung dari para ulama kaliber untuk belajar Islam.
Dari situlah, Hurgronje fasih berbahasa Arab dan memiliki pengetahuan luas tentang Islam.

Di Mekkah, dia juga sempat belajar bahasa Melayu dan bergaul dengan orang-orang Aceh yang sedang naik haji. Berdasarkan pengalaman itu, Hurgronje, yang telah berada di Batavia sejak 1889, dipandang menjadi sosok yang tepat untuk diberi tugas memecahkan kesulitan-kesulitan yang dihadapi Belanda dalam penaklukan Aceh.

Pada Juli 1891, Snouck Hurgronje dikirim oleh Belanda untuk menyelidiki tata negara Aceh agar diketahui kelemahannya.

Untuk mengalahkan pertahanan Aceh, Snouck menyamar sebagai ulama dengan nama Abdul Gafar selama dua tahun. Dengan cara itu dia melakukan kajian tentang seluk beluk kehidupan dan semangat juang orang-orang Aceh.

Selama tinggal di tengah-tengah rakyat di Peukan Aceh dan menjalin hubungan dengan tokoh adat serta para ulama, Hurgronje menulis lebih dari 1.400 laporan tentang situasi di sekitarnya. Tujuh bulan berada di Aceh membuat Snouck Hurgronje mengetahui masalah utama yang dihadapi Belanda.
Dari penelitian yang dia lakukan, Snouck berkesimpulan, kekuatan terbesar Aceh terletak pada peran para ulama. Meskipun sultan berhasil ditundukkan, perlawanan akan terus berkobar selama ulama tidak bisa ditaklukkan.

Pada 23 Mei 1892, Snouck menulis sebuah laporan kepada pemerintah Belanda yang diberi judul "Atjeh Verslag". Laporan tersebut berisi temuannya selama menyamar dan beberapa cara menaklukkan Aceh berdasarkan pihak yang akan dihadapi.

Mengacu pada temuan-temuannya, Snouck Hurgronje memberi banyak saran untuk mengakhiri Perang Aceh. Salah satu saran yang diberikan oleh Hurgronje kepada Belanda dalam menghadapi Perang Aceh adalah memecah belah kekuatan yang ada dalam masyarakat Aceh.

Kaum ulama yang memimpin perlawanan harus dihadapi dengan kekuatan senjata. Terkait masalah ini, Hurgronje mengusulkan untuk mengadakan serangan umum di Aceh yang dipimpin oleh tokoh Belanda yang bernama J.B van Heutz, Gubernur Sipil dan Militer Aceh.

Di samping itu, Belanda akan membuka kesempatan bagi bangsawan Aceh dan anak-anaknya untuk masuk dalam korps pamong praja pemerintah kolonial. Dengan begitu, bangsawan Aceh dapat terikat dengan Belanda dan terpisah dari golongan ulama.

Penugasan Snouck Hurgronje pun terbukti mampu membalikkan keberuntungan Belanda. Penemuan Hurgronje dijadikan dasar untuk membuat siasat perang yang baru, termasuk dalam pembentukan Korps Marchausse, yakni pas**an yang terdiri dari orang-orang Indonesia yang berada di bawah pimpinan opsir-opsir Belanda.

Belanda membutuhkan waktu lebih dari 30 tahun untuk mengalahkan rakyat Aceh dalam Perang Aceh. Itu pun setelah mereka me...
13/01/2026

Belanda membutuhkan waktu lebih dari 30 tahun untuk mengalahkan rakyat Aceh dalam Perang Aceh. Itu pun setelah mereka melakukan berbagai taktik, termasuk mengirim Snouck Hurgonje.
---
Cukup banyak sumber yang menyebut bagaimana babak belurnya Belanda menghadapi perlawanan masyarakat Aceh dalam Perang Aceh. Meskipun pada akhirnya memenangkan pertempuran, Belanda menanggung kerugian yang tak terperkirakan.
Mengapa Aceh begitu gigih melawan Belanda? Semangat apa yang melandasi perjuangan mereka?
Perang Aceh berlangsung cukup lama, dari 1873 hingga 1904 -- itu pun setelah 1904 perlawanan tidak kunjung mereda. Beberapa sumber mencatat bahwa Perang Aceh adalah salah satu perang terlama di dunia.

Perang Aceh terjadi berawal dari keinginan Belanda untuk menguasai seluruh wilayah Sumatera. Tapi karena kurangnya informasi yang mereka punya, Belanda cukup kerepotan menghadapi kesultanan Aceh. Itu belum termasuk sulitnya medan yang harus dilalui oleh Belanda.

Belanda ingin menguasai Aceh. Dengan menguasai Aceh, mereka bisa memperkuat kedudukannya, terutama untuk terlibat dalam perdagangan dunia sejak dibukanya Terusan Suez pada 1869.
Pada 17 Maret 1824, Inggris dan Belanda sudah sepakat tentang pembagian wilayah jajahan di Indonesia dan Semenanjung Malaya. Dalam kesepakatan tersebut Belanda disebut tidak dapat mengganggu kemerdekaan Aceh.

Meski dalam praktiknya, Belanda tetap berusaha melancarkan serangan terhadap Aceh yang jauh dari ibu kota. Tapi di sisi lain, Sultan Aceh terus meningkatkan kewaspadaannya dan bersiap menghadapi segala konsekuensi yang akan dihadapinya.

Pada 1871, terjadi penandatangan Traktat Sumatra antara Inggris dan Belanda yang semakin membuat Aceh khawatir. Di situ disebutkan bahwa Belanda diberi kebebasan untuk memperluas wilayah di seluruh Sumatera, termasuk Aceh.

Setelah itu, Belanda melancarkan agresinya pada 5 April 1873 dipimpin Jenderal JHR Kohler. Pas**an Aceh yang terdiri atas para ulebalang, ulama, dan rakyat terus mendapat gempuran dari pas**an Belanda.

Pertempuran sengit di antara keduanya berlangsung dalam upaya memperebutkan Masjid Raya Baiturrahman. Namun, pas**an Aceh terus melakukan perlawanan, hingga pada akhirnya Jenderal JHR Kohler tewas di tangan pas**an Aceh.
Kematian Kohler ini membuat pas**an Belanda terpaksa ditarik mundur ke pantai. Belanda kembali melakukan penyerangan pada 9 Desember 1873 di bawah pimpinan Jan van Swieten. Dalam serangan kedua ini, Belanda berhasil membakar Masjid Raya Baiturrahman dan menduduki Keraton Sultan.

Sementara itu, pas**an Aceh terus menjaga pantai utara dan timur yang menjadi tempat masuknya kapal-kapal asing. Pun begitu dengan jalur darat di selatan dan pantai barat yang tidak kalah ketat dari penjagaan pas**an Kerajaan Aceh.

Untuk menghancurkan pertahanan, Belanda berusaha menghancurkan perkampungan dan pelabuhan dengan melakukan tembakan meriam. Tak hanya itu, Belanda juga memanfaatkan orang-orang yang mudah diperalat untuk menjalankan siasat pecah belah.

Meskipun demikian, nyatanya pas**an Aceh tetap tak mundur. Mereka justru semakin mempersatukan kekuatan mereka dengan semaksimal mungkin dalam melawan Belanda. Selain itu, rakyat Aceh juga tidak mudah terbuai dengan adu domba yang dilakukan Belanda.

Kegigihan rakyat Aceh

Salah satu alasan mengapa Perang Aceh berlangsung begitu lama salah satunya adalah kegigihan rakyat Aceh dalam melawan penjajah. Berbagai macam cara dilakukan mereka untuk mengusir Belanda dari tanahnya, di antaranya dengan taktik perang gerilya.

Perang gerilya adalah strategi militer untuk berperang dengan cara bersembunyi, berpindah tempat secara cepat dan senyap. Tujuan taktik perang gerilya dilakukan adalah memecah konsentrasi musuh. Dalam perang Aceh, taktik perang gerilya baru digunakan pada 1881, yang dipimpin oleh Teuku Umar sampai akhir masa pertempuran tahun 1904.

Rupanya taktik itu cukup membuat Belanda gelagapan. Taktik perang gerilya juga menjadi lebih efektif karena didukung oleh kondisi alam Aceh yang bergunung-gunung dan dikelilingi hutan lebat sehingga memudahkan rakyat Aceh untuk bersembunyi dan berlindung dari Belanda.
Perang gerilya benar-benar membuat Belanda kerepotan.

Selain itu, sebagaimana disebut di awal, di antara yang membuat Belanda begitu susah menaklukkan Aceh adalah karena mereka kekurangan informasi tentang masyarakat Aceh. Untuk menghadapi taktik perang gerilya, Belanda sempat menerapkan strategi konsentrasi stelsel dengan cara memusatkan pas**an supaya lebih terkumpul.

Tapi, cara ini masih belum dianggap efektif untuk bisa menangani rakyat Aceh. Karena itulah dilakukan strategi lain agar bisa mendapat informasi lebih dalam tentang rakyat Aceh dengan cara mengirimkan salah seorang Penasehat Urusan Pribumi asal Belanda bernama Snouck Hurgronje.
Singkat cerita, Hurgronje kemudian menyamar selama dua tahun untuk mengkaji seluk beluk kehidupan sekaligus semangat perjuangan rakyat Aceh. Berdasarkan penelitiannya, Hurgronje menyamar menggunakan nama Abdul Gafar.

Dia pun mendapat informasi bahwa kekuatan utama Aceh terletak pada para ulama. Seusai mendapat informasi tersebut, Belanda langsung menerapkan siasat baru, termasuk membentuk Korps Marchausse.

Korps Marchausse adalah pas**an yang terdiri dari rakyat pribumi yang berada di bawah pimpinan opsir-opsir Belanda. Setelah berperang selama lebih dari 30 tahun, akhirnya Belanda berhasil mematahkan strategi perang gerilya dengan siasatnya tersebut. Perang Aceh berakhir pada 1904, tetapi semangat juang rakyatnya masih terus berlanjut hingga masa pendudukan Jepang.

Semangat Perang Sabil

Satu lagi yang membuat Belanda kesusahan menaklukkan Aceh, semangat Perang Sabil yang diusung oleh masyarakat Aceh. Menurut rakyat Aceh, perang melawan Belanda adalah perang melawan orang kafir dan semangat itu benar-benar bikin kalang kabut Belanda.

Semangat itu terpotret dalam Hikayat Perang Sabil atau Hikayat Prang Sabi (ditulis 1881). Hikayat Prang Sabi berisi empat buah kisah, yaitu kisah Ainul Mardliyah, kisah pas**an gajah, kisah Sa’id Salmy, dan kisah Muhammad Amin (budak mati hidup kembali).

Mengutip Gramedia, salah satu bagian yang paling penting dari Hikayat Prang Sabi adalah mukadimah atau pendahuluan. Bagian yang juga berbentuk syair ini menunjukkan secara jelas tujuan dari penulisan Hikayat Prang Sabi yang berhubungan dengan perang melawan Belanda: diawali dengan puji-pujian kepada Allah SWT lalu dilanjutkan dengan seruan-seruan melakukan perang sabil melawan kaum kafir.

Hikayat Prang Sabi ditulis oleh Teungku Chiek Pante Kulu. Berikut kutipan Hikayat Perang Sabil yang ditulisnya.

Nyoe keuh prang sabi beu tatukri aduen-adoe
Soe na ibadat cit seulamat, teungkue baranggasoe.
Teungku ditiroe nyang keumarang, mangat dum tatusoe.

Yang artinya:
Inilah hikayat perang, ialah perang sabil, agar mengerti adik-abang
Yang beribadah akan selamat, Anda semua siap pun jua
Teungku di Tiro yang mengarang supaya Anda mengenalinya.

Begitulah mengapa Belanda begitu kesulitan mengalahkan rakyat Aceh dalam Perang Aceh. Selain karena minimnya informasi, sulitnya medan, Belanda juga harus menghadapi semangat perang sabil yang menjadi pengobat semangat rakyat Aceh melawan mereka.

Hikayat Prang Sabi atau Hikayat Perang Sabil menggambarkan perjuangan rakyat Aceh melawan Belanda di berbagai tempat di ...
13/01/2026

Hikayat Prang Sabi atau Hikayat Perang Sabil menggambarkan perjuangan rakyat Aceh melawan Belanda di berbagai tempat di Aceh.

Belanda dibuat kerepotan dalam Perang Aceh. Ada banyak faktor yang membuat perang berlangsung lebih dari tiga dekade, satu di antarnya adalah semangat perang sabil yang melambari kegigihan masyarakat Aceh.

Semangat perang sabil tentu tak muncul begitu saja. Menurut beberapa sumber, semangat perang sabil ini terinspirasi dari gerakan mahdisme di Sudan pada ujung abad ke-19. Ketika itu, Muhammad Ahmad mendeklarasikan dirinya sebagai Imam Mahdi dan memimpin gerakan melawan pendudukan Inggris-Mesir.

Gerakan ini berhasil membuat Sudan merdeka dan lebih dari itu menginspirasi perlawanan rakyat Aceh dalam pertempuran melawan Belanda. Semangat perang sabil juga tidak langsung muncul di awal-awal Perang Aceh.

Perang Mahdi atau The Mahdist War atau Atstsaurah Almahdiyah dalam bahasa Arab adalah perang melawan pendudukan Inggris di Sudan pada akhir abad ke-19. Perang yang berlangsung selama 18 tahun ini menghasilkan negara pemerintahan bersama Sudan Inggris-Mesir.

Semangat perang sabil rakyat Aceh diabadikan dalam sebuah karya sastra berjudul Hikayat Prang Sabi (Hikayat Perang Sabil).

Karya sastra ini terdiri atas dua genre: tambeh (nasihat) dan epos. Bagian tambeh banyak ditulis oleh para ulama yang berisi nasihat, peringatan, ajakan dan seruan untuk terjun ke medan perang demi menegakkan agama Allah dari orang kafir. Sementara yang bagian epos bercerita tentang peristiwa pertempuran yang terjadi di berbagai tempat di Aceh.

Riwayat Perang Aceh
Perang Aceh adalah perang yang berlangsung begitu lama, sekitar 31 tahun, sejak 1873 hingga 8 Februari 1904. Setelah itu juga masih ada perlawanan-perlawanan meskipun skalanya jauh lebih kecil.

Perang Aceh dipicu oleh keingina Belanda untuk menguasai seluruh Wilayah Sumatera, termasuk wilayah Kesultan Aceh. Dengan menguasai seluruh Aceh, Belanda bisa mengamankan kepentingan dagangnya di sekitar Selat Malaka -- terlebih setelah Terusan Suez dibuka.

Sebelum langsung menyerang ke jantung Aceh, Belanda terlebih dahulu menaklukkan wilayah-wilayah garis depan seperti Serdang, Asahan, dan Langkat. Wilayah-wilayah itu sebelumnya adalah taklukkan Kesultanan Aceh.
Traktat London 1824, sebuah perjanjian antara Belanda dan Inggris, sejatinya mengakui kedaulatan Kesultanan Aceh. Tapi traktar itu dianulir oleh Traktat Sumatra 1871 di mana Inggris mengizinkan Belanda menguasai seluruh Sumatera. Aceh tentu saja melawan dengan gigih ... selama 30 tahun lebih.
Saking panjangnya, Perang Aceh dibagi dalam empat periode, sebagaimana dikutip dari Kompas :

1. Perang Aceh periode pertama (1873-1874)

Pada periode awal Perang Aceh, yang berlangsung sejak 1873 hingga 1874, Belanda menerapkan strategi perang semesta atau perang total. Saat itu, pas**an Belanda dipimpin oleh Köhler. Mereka berusaha untuk menguasai wilayah Aceh secara penuh dengan menggelar serangan militer besar-besaran dan pendudukan wilayah secara intensif.

Ini mencakup upaya untuk menyerang pusat-pusat kekuasaan Kesultanan Aceh dan mengontrol wilayah-wilayah strategis. Sementara itu, masyarakat Aceh berperang dengan melibatkan Panglima Polim dan Sultan Mahmud Syah sebagai pemimpin perlawanan terhadap pas**an Belanda.
Berkat strategi perang yang baik, pas**an Köhler dengan diperkuat 3.000 tentara berhasil dihadapi dan dikalahkan oleh masyarakat Aceh. Köhler pun tewas pada 14 April 1873.

Hanya 10 setelahnya, pertempuran meletus di berbagai wilayah, termasuk upaya merebut kembali Masjid Raya Baiturrahman, dengan dukungan dari beberapa kelompok pas**an.

Tak hanya itu, pertempuran juga terjadi di Peukan Aceh, Lambhuk, Lampu'uk, Peukan Bada, hingga Lambada, dan Krueng Raya. Ribuan penduduk dari Teunom, Pidie, Peusangan, dan berbagai wilayah lainnya juga bergabung dalam perjuangan tersebut.

2. Perang Aceh periode kedua (1874-1880)

Pada periode kedua Perang Aceh yang berlangsung sejak 1874 hingga 1880, Kesultanan Aceh beralih ke strategi perang gerilya. Pada periode ini, Teuku Umar memimpin gerakan perlawanan ini. Teuku Umar menggunakan strategi perang gerilya melibatkan serangan cepat, taktik hit-and-run, dan pemanfaatan medan yang sulit untuk mempersulit upaya pengejaran oleh pas**an Belanda.

Namun pas**an Belanda di bawah kepemimpinan Jenderal Jan van Swieten, berhasil menaklukkan Keraton Sultan pada 26 Januari 1874, yang kemudian dijadikan sebagai pusat pertahanan Belanda. Pada 31 Januari 1874, Jenderal Van Swieten mengumumkan bahwa seluruh wilayah Aceh secara resmi menjadi bagian dari Kerajaan Belanda.

Ketika Sultan Machmud Syah meninggal pada 26 Januari 1874, Tuanku Muhammad Dawood diangkat menjadi sultan di Masjid Indrapuri.

3. Perang Aceh periode ketiga (1881–1896)

Selama Perang Aceh periode ketiga terjadi serangkaian peristiwa signifikan yang mencakup serangan besar-besaran oleh Belanda terhadap Aceh, penggunaan taktik militer keras, dan pertempuran sengit antara pas**an kolonial Belanda dan pemberontak Aceh dengan dipimpin oleh Teuku Umar.

Pembakaran desa, penggunaan senjata api, serta isolasi ekonomi terhadap Aceh oleh Belanda menjadi ciri khas perang ini. Selama perang gerilya tersebut, pas**an Aceh yang dipimpin oleh Teuku Umar, bersama dengan Panglima Polim dan Sultan.
Pada 1899, terjadi serangan mendadak oleh Van der Dussen di Meulaboh yang mengakibatkan gugurnya Teuku Umar. Namun, Cut Nyak Dhien, istri Teuku Umar, kemudian mengambil peran sebagai komandan perang gerilya. Perang ini berakhir dengan Perjanjian Boven-Digoel pada 1896 yang memberikan pengakuan terbatas terhadap kedaulatan Sultan Aceh.

4. Perang Aceh periode keempat (1896-1910)

Perang Aceh periode keempat pada 1896 hingga 1910 menggunakan strategi sporadis tanpa adanya komando dari pemerintah Aceh. Sebagian besar perang dilakukan dalam bentuk gerilya yang melibatkan kelompok dan individu yang melakukan perlawanan, serangan, pengadangan, dan pembunuhan tanpa ada komando sentral dari pemerintahan Kesultanan.

Belanda yang kesulitan mengirimkan seorang orientalis yang pernah lama tinggal di Arab Saudi bernama Snouck Hurgronje. Dia masuk-masuk ke pedalaman Aceh untuk mempelajari budaya dan watak masyarakat Aceh.

Melalui laporannya, Snouck menyarankan Gubernur Militer Belanda Joannes Benedictus van Heutsz mengesampingkan terlebih dahulu golongan Keumala (Sultan yang berkedudukan di Keumala) dan fokus pada kaum ulama. Dia juga menyarankan untuk tidak melakukan negosiasi dengan pemimpin gerilya dan mendirikan pangkalan permanen di Aceh Raya.

Tak hanya itu, Snouck juga mengusulkan agar Belanda menunjukkan niat baik kepada rakyat Aceh dengan mendirikan langgar, masjid, memperbaiki infrastruktur seperti jalan dan irigasi, serta memberikan bantuan dalam pekerjaan sosial rakyat Aceh. Strategi dari Dr. Snouck Hurgronje ini diterima oleh Van Heutz, yang kemudian menjabat sebagai Gubernur Militer dan Sipil di Aceh pada periode 1898-1904.

Snouck sendiri kemudian diangkat sebagai penasihatnya dalam melaksanakan strategi tersebut. Dengan menggunakan strategi tersebut, Belanda berhasil mengalahkan Aceh dan perang diakhiri dengan penandatanganan Traktat Pendek atau perjanjian penyerahan yang ditandai dengan menyerahnya Sultan Alaudin Muhammad Daud Syah sebagai sultan terakhir Kesultanan Aceh. Kesultanan Aceh kemudian dibubarkan oleh Belanda.

Address

Beureunun
24173

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when GSA DAILY posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share