Skalaindonesiacom

Skalaindonesiacom Informasi Pasti dan Bermakna SKALA CYBER MEDIA, PT
bertanggung jawab atas Halaman ini

Ketika Kampus Menjadi Mesin Ekonomi Negara Maju, Indonesia Masih Sibuk Memberi Makan PerutSKALAINDONESIA.com — Di banyak...
28/05/2026

Ketika Kampus Menjadi Mesin Ekonomi Negara Maju, Indonesia Masih Sibuk Memberi Makan Perut

SKALAINDONESIA.com — Di banyak negara maju, universitas tidak lagi dipandang sekadar tempat mencetak sarjana. Perguruan tinggi berfungsi sebagai pusat inovasi, inkubator industri, sekaligus mesin penggerak ekonomi nasional.

Kampus tidak berdiri terpisah dari negara dan industri. Riset dikembangkan menjadi teknologi, teknologi melahirkan perusahaan, perusahaan menciptakan lapangan kerja, lalu ekonomi tumbuh dari pengetahuan dan inovasi.

Amerika Serikat menjadi contoh paling nyata. Ekosistem riset dan kewirausahaan di Stanford University, misalnya, tercatat mampu melahirkan hampir 40 ribu perusahaan di berbagai belahan dunia.

Perusahaan-perusahaan yang dibangun alumni dan civitas kampus tersebut menghasilkan sekitar US$2,7 triliun per tahun atau setara sekitar Rp44 kuadriliun, sekaligus menciptakan sekitar 5,4 juta lapangan kerja global.

Nilai ekonomi itu diperkirakan setara sekitar 10 hingga 18 persen Produk Domestik Bruto (GDP) Amerika Serikat, tergantung basis perhitungan dan tahun pembanding ekonomi nasional AS.

Dari lingkungan Stanford lahir perusahaan-perusahaan teknologi raksasa seperti Google, Hewlett-Packard, Cisco Systems, NVIDIA, Netflix, hingga Yahoo!.

Hal serupa terjadi di Massachusetts Institute of Technology (MIT). Kampus berbasis riset teknologi tersebut melahirkan lebih dari 30 ribu perusahaan aktif dengan total nilai ekonomi mencapai sekitar US$1,9 triliun per tahun atau setara sekitar Rp31 kuadriliun. Ekosistem MIT juga menyerap sekitar 4,6 juta tenaga kerja di seluruh dunia.

Dari MIT lahir perusahaan-perusahaan global seperti Intel, Qualcomm, Dropbox, Bose, iRobot, hingga Akamai Technologies.

Di Tiongkok, arah pembangunan bahkan bergerak lebih agresif. Negara tersebut membangun klaster industri berbasis teknologi dan inovasi sebagai tulang punggung ekonomi baru.

Kawasan industri teknologi tinggi di Tiongkok disebut hanya menggunakan sekitar 2,5 persen total lahan konstruksi nasional, namun mampu menyumbang sekitar 13,4 persen terhadap Produk Domestik Bruto (GDP) negara.

Artinya, negara-negara maju tidak lagi bertumpu pada luasnya eksploitasi ruang, melainkan pada kemampuan mengonsolidasikan riset, teknologi, modal, industri, dan kualitas manusia dalam satu ekosistem produktif.

Bagaimana dengan Indonesia? Negara ini tampaknya masih bergerak dalam logika pembangunan lama: membuka lahan, menggali gunung, menebang hutan, lalu berharap pertumbuhan ekonomi datang dengan sendirinya.

Jutaan hektare kawasan hutan dan pegunungan dibuka untuk pertambangan, perkebunan, dan berbagai proyek ekstraktif lainnya. Laporan Auriga Nusantara mencatat hilangnya hutan alam pada 2025 mencapai 433.751 hektare atau meningkat sekitar 66 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Namun, besarnya ruang ekologis yang dikorbankan itu belum benar-benar melahirkan transformasi ekonomi yang signifikan. Indonesia memang menghasilkan komoditas, tetapi belum cukup menghasilkan inovasi.

Karena itu, tidak mengherankan bila muncul anggapan bahwa di Indonesia, pembangunan jalan tambang kerap berjalan lebih cepat dibanding pembangunan laboratorium riset. Negara tampak lebih sibuk memperluas kawasan eksploitasi dibanding memperkuat pusat pengetahuan.

Ironisnya lagi, negara terlihat lebih fokus memberi makan perut, tetapi belum serius memberi makan otak. Dampaknya mulai terlihat dari lahirnya generasi yang lemah dalam tradisi berpikir dan miskin daya riset. Imajinasi kerap melangit, tetapi belum cukup ditopang logika, ilmu pengetahuan, dan inovasi yang membumi.

Di tengah ekonomi global yang semakin berbasis teknologi, ketimpangan itu mulai terlihat semakin jelas. Negara-negara maju membangun kekuatan ekonomi dari kampus, riset, dan inovasi. Sementara Indonesia masih terlalu bergantung pada eksploitasi sumber daya alam mentah.

Perguruan tinggi di negara maju didorong menjadi pusat penciptaan industri dan teknologi. Sebaliknya, banyak kampus di Indonesia masih berkutat pada rutinitas administratif, akreditasi, birokrasi, dan produksi ijazah.

Akibatnya, hubungan antara universitas dan industri nasional berjalan lemah. Banyak hasil riset berhenti sebagai dokumen akademik, tidak berkembang menjadi teknologi, produk, maupun perusahaan yang mampu menciptakan nilai tambah besar bagi negara.

Padahal pengalaman dunia menunjukkan bahwa kekuatan ekonomi modern tidak lagi ditentukan oleh siapa yang paling banyak memiliki sumber daya alam, melainkan siapa yang paling mampu mengubah pengetahuan menjadi kekuatan produktif.

Karena itu, paradigma pembangunan Indonesia seharusnya mulai bergeser. Amerika Serikat dan Tiongkok menunjukkan bahwa kemajuan ekonomi tidak dibangun dengan menggunduli hutan atau memperluas eksploitasi alam secara besar-besaran, melainkan dengan memperkuat manusia, riset, teknologi, dan inovasi.

Di era ekonomi berbasis pengetahuan, masa depan sebuah negara tidak lagi ditentukan oleh seberapa luas sumber daya alam yang dimiliki, tetapi oleh seberapa besar kemampuan negara tersebut membangun kualitas otak manusianya.

Suherman Yusuf

SMA Negeri 1 M***a Juara UM Bima Cup 2026, Bukti Konsistensi Dukungan Sekolah dan Keseriusan PemainSKALAINDONESIAcom – T...
13/05/2026

SMA Negeri 1 M***a Juara UM Bima Cup 2026, Bukti Konsistensi Dukungan Sekolah dan Keseriusan Pemain

SKALAINDONESIAcom – Tim voli putra SMA Negeri 1 M***a berhasil meraih gelar juara 1 UM Bima Cup 2026. Gelar itu di raih setelah mengalahkan MAN 1 Kota Bima pada grand final yang berlangsung di lapangan voli Kampus 2, Universitas Muhammadiyah Bima, pada 12 Mei 2026.

SMAN 1 M***a memastikan gelar juara setelah melalui pertandingan sengit hingga lima set, sebelum akhirnya menutup laga dengan kemenangan 3-2. Selain meraih juara 1, pemain SMAN 1 M***a, Ahmad Haryawan yang akrab disapa Satria, juga menyabet gelar pemain terbaik tingkat SMA sederajat se-Pulau Sumbawa.

Kepala SMAN 1 M***a, Suhardi mengapresiasi pencapian anak didiknya yang kembali meraih gelar juara. Menurutnya, keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa disiplin, fokus, dan semangat juang menjadi kunci bagi atlet untuk meraih prestasi.

“Kami berharap capaian ini dapat terus dijaga dan menjadi motivasi untuk meraih prestasi yang lebih tinggi ke depan,” ujar Suhardi, Rabu (13/5/2026).

Ia menambahkan bahwa hasil tersebut tidak terlepas dari pembinaan yang konsisten dan berkelanjutan.

“Kemenangan ini menjadi bukti bahwa pembinaan yang berkelanjutan dan lingkungan yang mendukung dapat menghasilkan performa yang optimal,” katanya.

Sementara itu, Guru Olahraga SMAN 1 M***a, Awaluddin menilai konsistensi, kerja keras, dan kekompakan tim menjadi faktor utama keberhasilan SMAN 1 M***a sepanjang musim.

Ia berharap pencapaian tersebut dapat menjadi inspirasi bagi siswa untuk terus berprestasi di bidang olahraga. Menurut Awaluddin, keberhasilan itu juga menjadi modal penting bagi tim untuk menghadapi kompetisi pada musim mendatang, sekaligus memperkuat pembinaan atlet dan kualitas kompetisi olahraga di sekolah.

“SMA Negeri 1 M***a terus membuka ruang-ruang pembinaan dan mendukung kompetisi yang dapat melahirkan atlet-atlet berprestasi, sekaligus memberikan inspirasi bagi generasi muda,” tutur Awaluddin.

Sementara itu, pembina tim voli SMAN 1 M***a, Abdul Hamid menyebut keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja sama seluruh pemain sepanjang musim hingga babak final.

“Saya sangat bangga dengan tim ini. Kemenangan ini bukan hanya soal hasil, tetapi juga perjalanan yang dibangun bersama. Setiap pemain memiliki peran dan saling mendukung di lapangan,” ujarnya, Senin (27/4/2026).

Menurut Hamid, kekompakan dan komunikasi antarpemain menjadi kunci penting dalam meraih kemenangan.

Ia juga menilai timnya mampu menunjukkan kualitas permainan yang kompetitif hingga menarik perhatian publik yang lebih luas.

Hamid mengakui timnya menghadapi ekspektasi tinggi selama pertandingan, namun ia bersyukur tim binaannya mampu menjawab tantangan tersebut.

“Kami paham ekspektasi besar terhadap tim selama pertandingan. Tim kami menjawabnya dengan kerja keras dan kepercayaan satu sama lain di lapangan,” ujarnya.

Ia menambahkan, kemenangan tersebut juga dipersembahkan bagi para suporter yang terus memberikan dukungan sepanjang kompetisi.

Sesuai mottonya, SMAN 1 M***a kini terus bergerak menuju puncak. Untuk itu, sekolah ini berkomitmen untuk mendukung target pencapaian akademis dan terus mendorong program-program nonakademis yang berdampak langsung pada capaian prestasi siswa.

Seluruh upaya tersebut sejalan dengan transformasi SMA Negeri 1 M***a yang berorientasi pada tata kelola, pelayanan siswa, keberlanjutan prestasi, dengan menerapkan prinsip-prinsip karakter, sosial, dan transparansi di seluruh lini kegiatan dan operasional sekolah.

Suherman Yusuf

KORPORATISASI DESA DAN PARADOKS "KOPERASI PELAT MERAH"Laporan Khusus: Membedah Ambisi 80.000 Gerai di Balik Instruksi Pr...
06/05/2026

KORPORATISASI DESA DAN PARADOKS "KOPERASI PELAT MERAH"

Laporan Khusus: Membedah Ambisi 80.000 Gerai di Balik Instruksi Presiden

Pagi itu di Desa Tangga, aroma semen basah bercampur dengan debu jalanan yang terbang disapu angin. Di sebuah lahan yang sebelumnya ditumbuhi rumput gajah, kini berdiri kerangka beton yang dipaksakan tegak. Di atas kertas, bangunan itu adalah Gerai Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Tangga. Namun, di balik kerangka yang sedang bertumbuh itu, tersimpan sebuah narasi besar tentang ambisi, kecepatan, dan sebuah sistem yang bergerak melampaui logika kedaulatan desa.

Titah 80 Ribu Atap

Semua keramaian ini bermula dari Jakarta. Melalui Instruksi Presiden Nomor 17 Tahun 2025, sebuah target kolosal dicanangkan: pembangunan 80.000 gerai KDMP di seluruh penjuru negeri. Presiden menunjuk PT Agrinas (Persero) sebagai ujung tombak tunggal. Sebuah tugas raksasa yang menuntut kecepatan luar biasa.

Menyadari luasnya wilayah geografis dan ketatnya tenggat waktu, PT Agrinas mengambil langkah strategis dengan menggandeng TNI. Melalui struktur teritorial yang menjangkau hingga pelosok terdalam, militer menjadi mesin perbantuan yang paling logis untuk memastikan mandat Inpres ini tegak di lapangan.

Di Desa Tangga, kehadiran personil Babinsa adalah bagian dari rantai komando tersebut—sebuah upaya negara untuk memastikan proyek strategis nasional ini berjalan tanpa hambatan logistik atau birokrasi lokal.

Kamuflase "B to B" di Balik Pagar Proyek

Ada yang ganjil dalam proses konstruksi ini. Berbeda dengan proyek pemerintah pada umumnya, gerai KDMP berdiri tanpa papan proyek yang memampang nilai kontrak atau nama pelaksana. Di mata hukum, ini adalah langkah yang cerdik. Karena pembangunannya menggunakan skema pembiayaan perbankan (Himbara), proyek ini diklaim sebagai urusan bisnis antar-perusahaan (Business to Business).

Secara teknis, status "swasta" ini menggugurkan kewajiban memajang papan proyek sebagaimana yang berlaku pada dana APBN/APBD murni. Namun, di sinilah letak ironinya. Meski dananya berasal dari pinjaman bank, beban pengembaliannya justru diletakkan di pundak desa. Ini adalah proyek publik yang dibungkus baju swasta demi menghindari transparansi mata publik.

PT Agrinas membawa seluruh paket pembangunan dari pusat. Tenaga kerja hingga material tidak berasal dari desa, bahkan didatangkan jauh dari pulau Jawa. Desa, yang seharusnya menjadi subjek utama koperasi, hanya diposisikan sebagai penonton.

Pengurus hanya dilibatkan untuk urusan administrasi: membubuhkan tanda tangan di atas materai agar kucuran kredit perbankan bisa mengalir lancar ke rekening vendor pusat. Mereka adalah pemilik sah yang dilarang mengintip isi dapurnya sendiri.

Aritmatika yang Mencekik: Utang Bank, Beban Desa

Kejenakaan mencapai puncaknya saat kita membedah angka. Setiap unit KDMP dibanderol seharga Rp3 miliar. Namun, alokasinya memicu tanda tanya besar. Hanya Rp500 juta yang benar-benar menjadi modal kerja koperasi. Sebesar Rp1,6 miliar terserap ke dalam struktur beton gerai, dan sisanya habis untuk pengadaan unit kendaraan operasional niaga dan perlengkapan gerai.

Investigasi di tingkat tapak mengungkap bahwa pelaksana konstruksi di daerah seringkali hanya menerima nilai yang jauh lebih kecil dari plafon pusat. Ada potensi selisih atau "penguapan" anggaran di antara labirin vendor yang ditunjuk langsung. Karena menggunakan skema perbankan, audit publik terhadap aliran dana ini menjadi jauh lebih sulit ditembus.

Bagi desa, ini bukan hadiah, melainkan jerat. Dana Desa yang seharusnya digunakan untuk infrastruktur dasar atau pelayanan warga, kini dipangkas otomatis sebesar Rp500 juta per tahun selama enam tahun ke depan untuk menutup cicilan.

Desa dipaksa membeli aset dengan harga yang sudah dikgelembungkan sejak dari Jakarta, sebuah praktik "finansialisasi desa" yang menyandera otonomi daerah.

Logistik dari Bollywood: Besi Tua yang Menunggu Waktu

Jika gerai beton adalah tubuhnya, maka kendaraan operasional adalah kakinya. Namun, kaki yang akan diberikan kepada Desa Tangga datang dari ribuan kilometer jauhnya: India. Paket pengadaan kendaraan operasional truk, pick-up, dan motor roda tiga didatangkan secara impor sebagai satu kesatuan yang tidak bisa ditawar.

Di Jakarta, pemilihan merek ini mungkin dianggap efisiensi. Namun di pelosok desa, kendaraan-kendaraan ini adalah teka-teki mekanis. Mereka hadir tanpa dukungan jaringan suku cadang (spare parts) maupun teknisi yang paham cara merawatnya.

Membeli kendaraan impor tanpa ekosistem perawatan adalah sebuah perjudian yang mahal. Bagi warga, kendaraan ini tak ubahnya pajangan mewah yang menunggu waktu untuk menjadi besi tua di halaman kantor saat kerusakan pertama muncul.

Menunggu Kunci, Menanti Beban

Pembangunan terus dikebut menuju tahap akhir. Mekanisme "Terima Kunci" akan segera dilakukan sebagai penanda suksesnya target Inpres di meja Presiden. Upacara simbolis akan dipoles menjadi narasi keberhasilan di media massa, namun kamera tidak akan merekam bagaimana kedaulatan ekonomi desa sedang digadaikan.

Di balik kunci yang akan diserahkan, ada beban utang miliaran rupiah dan ketergantungan pada sistem yang asing. Inilah wajah korporatisasi desa: sebuah gerakan yang memakai baju koperasi, dijalankan dengan logika korporasi pusat, dikawal dengan komando negara, namun beban akhirnya diletakkan di pundak rakyat desa.

Indonesia, negeri yang terlihat semakin jenaka.

Perubahan Wajah SMPN 4 M***a: Penataan Lingkungan dan Target Akreditasi ASKALAINDONESIAcom, Bima — SMP Negeri 4 M***a ki...
21/04/2026

Perubahan Wajah SMPN 4 M***a: Penataan Lingkungan dan Target Akreditasi A

SKALAINDONESIAcom, Bima — SMP Negeri 4 M***a kini tampil beda. Di bawah nakhoda baru Kamaluddin, sekolah yang berdiri sejak 2007 ini tengah menjalani transformasi besar. Penataan lingkungan dilakukan secara menyeluruh guna menyegarkan kembali suasana belajar yang selama ini statis.

Pembenahan fisik tampak mulai dari pengecatan gedung hingga penataan taman. Fasilitas dasar pun diperhatikan, salah satunya melalui pengadaan tandon air. Langkah ini diambil guna menjamin ketersediaan air bersih bagi siswa.

"Penataan ini kami lakukan secara bertahap sesuai kemampuan anggaran yang tersedia. Yang terpenting adalah lingkungan sekolah menjadi lebih bersih, tertata, dan nyaman untuk proses belajar-mengajar," ujar Kamaluddin, Senin (21/4/2026).

Standar Mutu

Perubahan tersebut tidak berhenti pada aspek fisik. Kamaluddin juga menggerakkan perbaikan sistemik dalam administrasi pendidikan. Untuk itu, ia mendorong para guru untuk meningkatkan standar kualitas pembelajaran di kelas.

SMP Negeri 4 M***a juga kini tengah bersiap naik kelas dari akreditasi B menuju A. Kamaluddin bersama para guru dan staf tengah fokus melengkapi berbagai instrumen penilaian, mulai dari pembenahan dokumen sekolah hingga pemenuhan standar nasional pendidikan yang ditetapkan.

Upaya ini dilakukan secara simultan. Selain fisik dan administrasi, kultur kerja sama dihidupkan Kembali melalui pelibatan siswa dalam kerja bakti rutin dan penataan ruang kelas.

Kamaluddin menegaskan, transformasi ini merupakan komitmen jangka panjang. Untuk itu, pihaknya tidak berhenti pada pembenahan fisik semata, melainkan terus melakukan evaluasi terhadap setiap aspek pendidikan.

"Kami akan terus berupaya membenahi sekolah ini tanpa henti. Perubahan ini tidak hanya berhenti di sini, melainkan ikhtiar berkelanjutan untuk menghadirkan pendidikan yang berkualitas bagi anak-anak di M***a," tegasnya.

Transformasi ini pun memetik pengakuan luas. Penilaian positif kini datang dari pihak di luar lingkungan sekolah, termasuk respons hangat dari orang tua siswa. Mereka menilai langkah kepala sekolah membawa arah pembaruan yang lebih baik.

Dengan dukungan kolektif, pihak sekolah optimistis target akreditasi dan peningkatan daya saing sekolah di tingkat daerah dapat segera tercapai.

(Suherman Yusuf)

Pemotongan THR Guru di M***a: Jejak Iuran, Bantahan Korwil, dan Tanda Tanya Aliran DanaSKALAINDONESIAcom, Bima — Pemoton...
18/03/2026

Pemotongan THR Guru di M***a: Jejak Iuran, Bantahan Korwil, dan Tanda Tanya Aliran Dana

SKALAINDONESIAcom, Bima — Pemotongan Tunjangan Hari Raya (THR) sebesar Rp100 ribu per guru di Kecamatan M***a, Kabupaten Bima, memicu polemik. Pemotongan dilakukan saat pencairan tanpa persetujuan tertulis dari para guru.

Sejumlah guru menyatakan nominal THR yang mereka terima sudah berkurang. “Langsung dipotong saat diterima,” kata seorang guru yang meminta namanya tidak disebutkan. Ia menegaskan tidak pernah menandatangani persetujuan apa pun.

Dipungut Saat Dana Cair

Penelusuran menunjukkan pemotongan terjadi di saat pencairan. Bendahara Koordinator Wilayah (Korwil) Kecamatan M***a, Amir disebut melakukan pemungutan secara langsung. Skema ini membuat guru tidak memiliki ruang untuk menolak.

“Bukan hanya soal Rp100 ribu, tapi mekanismenya. Kami tidak tahu dasar hukumnya,” ujar guru lainnya.

Selisih dengan Surat Edaran

Polemik mengarah pada iuran organisasi. Surat Edaran Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) tingkat kabupaten tertanggal 4 Maret 2026 menetapkan iuran Rp96.000 per tahun atau Rp8.000 per bulan. Namun praktik di lapangan berbeda.

Saat THR cair, guru ASN dipotong Rp100.000 per orang, melebihi total iuran tahunan. “Kalau iuran, kenapa tidak sesuai edaran? Kenapa dipotong saat THR?” kata seorang guru.

Versi Berbeda

Koordinator Wilayah (Korwil) M***a, Bahtiar, S.Pd, membantah memberi perintah. “Saya tidak pernah menginstruksikan pemotongan. Itu inisiatif PGRI, bukan Korwil,” ujarnya.

Bahtiar mengaku banyak guru menghubunginya untuk mempertanyakan pemotongan tersebut. “Mereka mengira saya yang memerintahkan. Padahal tidak pernah. Kalau ada yang menyebut itu atas perintah saya, jelas nama saya dicatut,” ujarnya.

Sementara itu, Amir, mengakui pemotongan dilakukan pihaknya. Ia menyebut tindakan tersebut mengacu pada surat dari PGRI Kabupaten Bima. Katanya, pengurus PGRI telah membahas hal itu bersama guru.

Dua pernyataan ini saling bertolak belakang, antara bantahan korwil dan pengakuan pelaksana di lapangan.

Rantai Tanggung Jawab Kabur

Perbedaan keterangan memperlihatkan rantai tanggung jawab yang tidak jelas. Guru menilai pemotongan tidak mungkin terjadi tanpa koordinasi. “Pasti ada yang mengatur,” kata seorang guru senior.

Hingga kini, belum ada klarifikasi resmi dari pemerintah daerah Kabupaten Bima maupun pengurus PGRI kabupaten terkait dasar hukum, besaran iuran, dan mekanisme penarikan saat THR.

Desakan Transparansi

Guru menuntut kejelasan dasar hukum dan transparansi penggunaan dana. Jika merupakan iuran, mereka meminta penarikan mengikuti aturan resmi dan persetujuan anggota.

“Harus jelas peruntukannya dan ada laporan,” ujar seorang guru.

Kasus di M***a menyoroti batas kabur antara iuran dan pungutan. Tanpa transparansi dan persetujuan, potongan Rp100 ribu berubah menjadi persoalan akuntabilitas.

Ilustrasi THR.Foto: Shutterstock)

Dua SPPG MBG di Desa Tangga Mulai BeroperasiBIMA, SKALAINDONESIAcom — Dua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Program...
11/02/2026

Dua SPPG MBG di Desa Tangga Mulai Beroperasi

BIMA, SKALAINDONESIAcom — Dua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Tangga, Kecamatan M***a, Kabupaten Bima, mulai beroperasi pada Rabu (11/2/2026).

Operasional perdana ditandai dengan pendistribusian makanan bergizi ke sejumlah sekolah dasar dan menengah di wilayah tersebut.

Di beberapa sekolah, kedatangan mobil pengantar makanan disambut antusias para siswa. Anak-anak yang sejak pagi menunggu di lingkungan sekolah langsung bersorak ketika kendaraan berhenti dan petugas menurunkan paket makanan.

“Horeee…” teriak para siswa MIS Tangga saat makanan mulai dibagikan.

Seorang guru di sekolah tersebut mengatakan, program MBG berdampak pada semangat belajar siswa. “Anak-anak terlihat lebih bersemangat dan sejak pagi sudah bertanya kapan makanan datang,” ujarnya.

Dua SPPG yang mulai beroperasi itu adalah SPPG Suci dan SPPG Alifa yang sama-sama berlokasi di Desa Tangga. SPPG Suci melayani sekolah-sekolah di Desa Sakuru, Desa M***a, dan Desa Baralau. Adapun SPPG Alifa mendistribusikan makanan ke sekolah-sekolah di Desa Tangga dan Desa Sie.

Pada hari pertama operasional, SPPG Alifa melayani 4 Taman Kanak-Kanak (TK), 5 Sekolah Dasar (SD), dan 1 Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sementara itu, SPPG Suci melayani MIS Sakuru, SDN Inpres Sakuru, TK dan SDN Sakuru, serta TK yang digabung dengan SMP Negeri 4 M***a.

Kepala SPPG Alifa, Baharudin Akbar, mengatakan pihaknya menyiapkan 1.350 ompreng untuk kebutuhan siswa penerima manfaat pada tahap awal.

“Jumlah itu disesuaikan dengan data siswa penerima di sepuluh sekolah yang kami layani pada hari pertama,” kata Baharudin.

Distribusi dilakukan pada jam belajar pagi menggunakan kendaraan pengantar makanan. Setiap paket makanan berisi nasi, lauk berprotein, sayuran, dan buah sesuai standar menu gizi program MBG.

Program MBG merupakan bagian dari kebijakan pemenuhan gizi peserta didik yang dilaksanakan secara bertahap di berbagai daerah.

Di Kecamatan M***a, operasional dua SPPG tersebut diharapkan dapat memperluas cakupan layanan sesuai kapasitas produksi masing-masing unit.

Selain melibatkan tenaga kerja lokal dalam proses produksi dan distribusi makanan, kehadiran program ini juga dapat membantu meningkatkan asupan gizi siswa sekaligus mendukung upaya penurunan angka stunting di Kabupaten Bima.

Suherman Yusuf






Pembangunan Gerai Koperasi Desa Merah Putih Tangga Resmi DimulaiSKALAINDONESIAcom, Bima – Pembangunan Gerai Koperasi Des...
07/02/2026

Pembangunan Gerai Koperasi Desa Merah Putih Tangga Resmi Dimulai

SKALAINDONESIAcom, Bima – Pembangunan Gerai Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Tangga, Kecamatan M***a, Kabupaten Bima, resmi dimulai. Pembangunan tersebut ditandai dengan peletakan batu pertama di lokasi pembangunan gerai, Sabtu (7/2/2026).

Peletakan batu pertama dilakukan oleh Camat M***a Abbas Hasan bersama Danramil M***a Mayor CKE Ade. Kegiatan ini menandai dimulainya pembangunan sarana ekonomi desa yang ditujukan untuk memperkuat aktivitas ekonomi masyarakat.

Kegiatan tersebut dihadiri Ketua KDMP Tangga Suherman Yusuf bersama Bendahara Nursah Fathurrahmi, Babinsa Desa Tangga, serta sejumlah unsur masyarakat setempat.

Dalam kesempatan itu, Danramil M***a Mayor CKE Ade meminta pihak pelaksana pembangunan agar menjaga kualitas pekerjaan dan memastikan seluruh proses pembangunan dilaksanakan sesuai dengan spesifikasi teknis yang telah ditetapkan.

Ia juga mengecek penerapan besi ulir berdiameter 13 milimeter (D13) sesuai standar tulangan konstruksi gerai koperasi.

Sementara itu, Camat M***a Abbas Hasan menilai koperasi desa memiliki peran strategis dalam memperkuat perekonomian masyarakat di tingkat akar rumput. Kehadiran gerai koperasi diharapkan menjadi pusat kegiatan ekonomi yang dikelola secara bersama dan transparan.

Pembangunan gerai koperasi dipandang sebagai bagian dari penguatan peran kelembagaan ekonomi desa yang dikelola langsung oleh masyarakat. Pengelolaan koperasi diharapkan berjalan selaras dengan kebutuhan warga serta mendukung aktivitas ekonomi di tingkat desa.

Ketua KDMP Tangga Suherman Yusuf mengatakan pembangunan gerai koperasi merupakan bagian dari upaya memperluas layanan koperasi kepada masyarakat Desa Tangga. Gerai tersebut akan dimanfaatkan untuk penyediaan kebutuhan pokok sekaligus mendukung pengembangan usaha ekonomi produktif warga desa.

Melalui sistem koperasi, masyarakat diharapkan memperoleh akses barang dan layanan dengan harga lebih terjangkau serta manfaat ekonomi melalui pembagian sisa hasil usaha (SHU) sesuai ketentuan yang berlaku.

Pembangunan gerai koperasi ditargetkan rampung pada awal April 2026 dan segera beroperasi untuk mendukung kemandirian ekonomi masyarakat Desa Tangga.

***a

Jalan Rusak Sakuru dan Sikap Diam Pemerintah Kabupaten BimaSKALAINDONESIAcom, Bima - Kerusakan jalan provinsi di Desa Sa...
05/02/2026

Jalan Rusak Sakuru dan Sikap Diam Pemerintah Kabupaten Bima

SKALAINDONESIAcom, Bima - Kerusakan jalan provinsi di Desa Sakuru, Kecamatan M***a, Kabupaten Bima, bukan persoalan baru. Warga setempat menyebut kondisi jalan itu telah rusak cukup lama. Lubang di sejumlah titik dan badan jalan yang kian memburuk dibiarkan tanpa tanda-tanda perbaikan hingga kini.

Secara kewenangan, ruas jalan tersebut berada di bawah tanggugjawab Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat. Namun jalan itu terletak di wilayah administratif Kabupaten Bima dan menjadi akses utama warga untuk aktivitas ekonomi, pendidikan serta layanan dasar.

Sejumlah warga Sakuru mengatakan keluhan terkait kondisi jalan telah disampaikan berulang kali, baik secara informal maupun melalui aparat desa. Namun, tidak ada kejelasan tindak lanjut. “Kami sudah lama mengeluh, tapi jalan tetap begitu,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya.

Kekecewaan warga kian bertambah karena, menurut mereka, Bupati Bima tak jarang melintasi ruas jalan tersebut. Artinya, kondisi jalan bukan sesuatu yang tidak diketahui oleh kepala daerah.

Meski demikian, warga mengaku tidak melihat adanya upaya terbuka dari Pemerintah Kabupaten Bima untuk mendorong perbaikan atau setidaknya menyampaikan aspirasi warga kepada pemerintah provinsi.

Situasi itu akhirnya memicu aksi protes. Awalnya, warga menanam pohon pisang di badan jalan sebagai simbol kritik terhadap pembiaran kerusakan yang dinilai berlarut-larut.

Aksi tersebut berlangsung beberapa hari, namun tidak mendapat respons. Karena tak ada tanggapan, warga kemudian melakukan aksi pemblokiran jalan, yang mereka anggap sebagai langkah terakhir agar keluhan didengar.

Pemblokiran sempat mengganggu arus lalu lintas dan menarik perhatian aparat. Namun, warga menilai respons pemerintah baru muncul setelah situasi mengganggu ketertiban umum, bukan saat keluhan disampaikan secara damai.

Secara administratif, Pemerintah Kabupaten Bima dapat beralasan bahwa jalan tersebut bukan kewenangannya. Namun, sejumlah pengamat menilai persoalan ini tidak sesederhana pembagian tugas antarlevel pemerintahan.

Kepala daerah, kata mereka, memiliki peran strategis sebagai penghubung antara kepentingan warga dan pemerintah yang lebih tinggi.

“Ketika masalah infrastruktur dibiarkan berlarut-larut hingga memicu aksi protes, itu menunjukkan ada yang tidak berjalan dalam fungsi advokasi pemerintah daerah,” ujar seorang pengamat kebijakan publik di Bima.

Kasus jalan rusak di Sakuru memperlihatkan bagaimana batas kewenangan kerap dijadikan alasan untuk bersikap pasif. Padahal, bagi warga, yang dipertaruhkan bukan soal siapa yang berwenang, melainkan keselamatan dan kelancaran hidup sehari-hari.

Sikap diam pemerintah daerah justru memunculkan pertanyaan: sejauh mana kepala daerah hadir ketika warganya menghadapi persoalan yang nyata di depan mata.

Suherman Yusuf

Bupati Baru dan Dinamika Jabatan Kepala Sekolah di Kabupaten BimaSKALAINDONESIAcom, Bima - Pergantian bupati kerap diiku...
04/02/2026

Bupati Baru dan Dinamika Jabatan Kepala Sekolah di Kabupaten Bima

SKALAINDONESIAcom, Bima - Pergantian bupati kerap diikuti penataan jabatan di lingkungan pemerintah daerah. Situasi ini sering memunculkan anggapan bahwa seluruh posisi strategis dapat langsung diganti, termasuk kepala sekolah.

Fenomena serupa juga mengemuka di Kabupaten Bima. Pergantian kepala daerah memicu spekulasi dan kekhawatiran di kalangan aparatur pendidikan terkait keberlanjutan penugasan jabatan, khususnya kepala sekolah.

Padahal ditilik dari sejumlah peraturan, kepala sekolah bukan jabatan politik. Penugasan kepala sekolah berbasis kompetensi dan kinerja. Masa tugasnya ditetapkan dalam periode tertentu sesuai regulasi pendidikan. Pergantian kepala daerah tidak otomatis membatalkan penugasan tersebut.

Regulasi juga menegaskan bahwa pergantian kepala sekolah sebelum masa tugas berakhir hanya dapat dilakukan dengan alasan yang sah. Alasan tersebut mencakup hasil evaluasi kinerja, pelanggaran disiplin, atau kebutuhan organisasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Tanpa dasar itu, pergantian kepala sekolah berpotensi menyimpang dari prinsip kepastian hukum dan profesionalisme birokrasi pendidikan.

Namun, di lapangan muncul informasi yang memicu perhatian. Sejumlah sumber di lingkungan pendidikan menyebut adanya intervensi pihak nonstruktural yang diduga merupakan bagian dari tim sukses bupati terpilih. Intervensi tersebut diarahkan pada penentuan dan penyesuaian jabatan, termasuk siapa yang menjabat sebagai kepala sekolah, meskipun masa tugas belum berakhir.

Jika kondisi ini benar, maka penataan jabatan berisiko bergeser dari pendekatan profesional ke pertimbangan politis. Kepala sekolah tidak lagi dinilai semata berdasarkan kinerja, melainkan persepsi kedekatan politik. Situasi ini menempatkan aparatur sipil negara pada posisi yang rentan terhadap pelanggaran asas netralitas.

Dampak kebijakan semacam ini tidak hanya bersifat administratif. Pergantian pimpinan sekolah tanpa evaluasi objektif berpotensi mengganggu kesinambungan program pendidikan. Iklim kerja di sekolah menjadi tidak stabil. Fokus peningkatan mutu pembelajaran pun terancam tergeser.

Karena itu, pemerintah daerah dituntut memastikan setiap keputusan berjalan sesuai aturan. Penataan jabatan kepala sekolah harus dilakukan secara terbuka, berbasis data kinerja, dan bebas dari tekanan politik. Pendidikan tidak boleh menjadi ruang salah tafsir kewenangan ataupun instrumen konsolidasi kekuasaan pasca-pilkada.

Dalam konteks ini, Bupati Bima memegang tanggung jawab strategis untuk menjaga integritas pendidikan agar tidak terseret dalam tarik-menarik kepentingan pasca-pilkada. Jargon perubahan yang digaungkan selama ini kehilangan makna jika penataan jabatan di sektor pendidikan justru dipraktikkan tanpa pijakan regulasi dan penilaian kinerja yang objektif.

Pilihan kebijakan pada titik ini menjadi penentu arah tata kelola pendidikan daerah ke depan. Sebab, kualitas pendidikan bertumpu pada konsistensi penerapan regulasi dan keberlanjutan kebijakan. Pergantian jabatan yang tidak berbasis pada prinsip tersebut berpotensi menyeret sekolah ke dalam pusaran kepentingan politik, sehingga mengganggu profesionalisme dan orientasi mutu pendidikan.

Suherman Yusuf

Address

Jalan Lintas Parado, Tangga, Kecamatan M***a
Bima
84172

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Skalaindonesiacom posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Skalaindonesiacom:

Share