Info unik

Info unik 📚 Satu fakta baru setiap hari. Biar scroll-mu nggak cuma hiburan, tapi juga nambah wawasan. ✨

Bagi seorang ibu, tidak ada batas sejauh apa ia akan berjuang demi kebahagiaan anaknya.Kisah luar biasa ini datang dari ...
29/07/2026

Bagi seorang ibu, tidak ada batas sejauh apa ia akan berjuang demi kebahagiaan anaknya.

Kisah luar biasa ini datang dari Illinois, Amerika Serikat. Julie Loving, seorang wanita berusia 51 tahun, mengambil keputusan yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya: ia rela menjadi ibu pengganti untuk putrinya sendiri, Breanna Lockwood.

Selama bertahun-tahun, Breanna yang tinggal di Chicago mendambakan seorang anak. Ia mencoba berbagai usaha, termasuk menjalani program bayi tabung (IVF). Namun, harapan itu berkali-kali hancur setelah ia mengalami beberapa kali keguguran.

Tidak berhenti sampai di situ, Breanna kemudian didiagnosis menderita sindrom Asherman, sebuah kondisi langka yang menyebabkan jaringan parut pada rahim dan membuatnya tidak dapat mengandung secara alami.

Meski tubuhnya tidak lagi mampu membawa kehamilan, impian Breanna untuk menjadi seorang ibu belum sepenuhnya pupus. Sel telur dan embrionya masih dalam kondisi baik, sehingga masih ada peluang untuk memiliki anak melalui ibu pengganti.

Melihat perjuangan panjang putrinya, Julie akhirnya membuat keputusan besar. Ia menawarkan dirinya untuk mengandung bayi Breanna sebagai ibu pengganti gestasional.

Perjalanan itu tentu tidak mudah. Kehamilan di usia 51 tahun membawa banyak tantangan, tetapi Julie tetap kuat dan menjalani semuanya dengan penuh cinta. Setelah berbulan-bulan mengandung, ia akhirnya menghadapi proses persalinan yang berat.

Pada 2 November 2020, sebuah momen yang mengharukan terjadi. Julie melahirkan seorang bayi perempuan sehat bernama Briar Juliette Lockwood — cucunya sendiri.

Hari itu, Julie bukan hanya menjadi seorang ibu yang melahirkan, tetapi juga menjadi sosok yang memberikan hadiah terbesar bagi putrinya: kesempatan untuk menjadi seorang ibu.

Setelah kelahiran Briar, Breanna mengungkapkan rasa syukurnya melalui Instagram. Ia memuji keberanian dan pengorbanan sang ibu yang telah melakukan sesuatu yang begitu luar biasa untuk keluarganya.

“Pengorbanan yang ia lakukan untuk membawa sedikit potongan surga ini ke dunia kami benar-benar membuat saya terdiam,” tulis Breanna.

Kisah Julie dan Breanna menjadi bukti bahwa kasih seorang ibu tidak mengenal batas. Demi melihat anaknya bahagia, seorang ibu bahkan rela melakukan hal yang luar biasa — memberikan kesempatan kedua untuk sebuah mimpi yang hampir mustahil terwujud.

Pangeran William jarang membagikan cerita tentang kehidupan pribadinya, tetapi kali ini ia membuka sedikit sisi lain dar...
29/07/2026

Pangeran William jarang membagikan cerita tentang kehidupan pribadinya, tetapi kali ini ia membuka sedikit sisi lain dari keluarganya. Dalam wawancara bersama Eugene Levy di serial Apple TV+ The Reluctant Traveler, William mengungkap kebiasaan sederhana yang ia dan Putri Kate terapkan untuk ketiga anak mereka.

Wawancara yang direkam pada Februari 2025 dan tayang pada episode keempat pada 3 Oktober 2025 itu membahas rutinitas keluarga kerajaan di rumah.

Saat Levy bertanya apakah keluarga William masih sering makan malam bersama, sang pangeran langsung menjawab dengan senyum, “Ya, tentu saja. Kami duduk bersama dan berbincang. Itu sangat penting.”

William kemudian mengungkap aturan yang cukup ketat di keluarganya: ketiga anaknya belum memiliki ponsel.

“Kami sangat tegas soal itu. Tidak ada satu pun anak kami yang memiliki ponsel,” ujar William.

Aturan tersebut berlaku untuk anak-anaknya bersama Putri Kate, yaitu Pangeran George (12), Putri Charlotte (10), dan Pangeran Louis (7). Bagi William, waktu makan bersama bukan sekadar rutinitas, tetapi momen penting agar seluruh keluarga bisa saling mendengarkan, berbagi cerita tentang hari mereka, dan menikmati kebersamaan tanpa gangguan layar.

Tanpa ponsel, lalu apa yang dilakukan anak-anak mereka saat bersenang-senang?

William tertawa ketika menceritakan putra bungsunya, Louis, yang disebut sangat menyukai trampolin. Ia bahkan bercanda bahwa anak-anaknya sering berakhir dengan “melompat-lompat di trampolin dan saling menjatuhkan” hampir sepanjang waktu.

Setiap anak juga memiliki minat masing-masing. Charlotte menikmati olahraga netball dan belajar balet, sementara George menyukai sepak bola dan hoki. Selain olahraga, William dan Kate juga mendorong anak-anak mereka untuk belajar musik serta banyak menghabiskan waktu di luar rumah.

Bagi keluarga William dan Kate, masa kecil anak-anak bukan tentang berapa lama mereka bermain dengan layar digital, melainkan tentang bergerak aktif, mengeksplorasi dunia sekitar, membangun komunikasi, dan menciptakan kenangan bersama.

Rutinitas sederhana seperti makan malam bersama ternyata menjadi salah satu cara keluarga kerajaan menjaga kedekatan di tengah kehidupan yang penuh perhatian publik.

Selama hampir tujuh tahun, Melina Salazar bekerja sebagai pelayan di Luby’s Cafeteria, Brownsville, Texas. Setiap hari, ...
29/07/2026

Selama hampir tujuh tahun, Melina Salazar bekerja sebagai pelayan di Luby’s Cafeteria, Brownsville, Texas. Setiap hari, ia bertemu dengan banyak pelanggan, tetapi ada satu orang yang paling sulit dilupakan: Walter “Buck” Swords, seorang veteran Perang Dunia II berusia 89 tahun.

Buck dikenal sebagai pelanggan yang sangat sulit dilayani. Banyak pegawai bahkan menghindarinya. Ia selalu meminta makanannya disajikan sangat panas—bahkan terkadang sampai membakar mulutnya sendiri. Ia jarang tersenyum, sering terlihat kesal, dan hampir tidak pernah meninggalkan uang tip.

Namun, Melina memilih untuk melihat Buck dengan cara yang berbeda.

Apa pun sikap Buck, Melina tetap melayaninya dengan sabar, ramah, dan penuh hormat. Ia tidak pernah membalas sikap keras Buck dengan perlakuan buruk. Setiap kali Buck datang, Melina selalu menyambutnya dengan senyuman dan keramahan yang sama.

Bagi Melina, itu hanyalah bentuk pelayanan biasa. Ia tidak pernah tahu bahwa kebaikan kecil yang ia berikan ternyata memiliki arti besar bagi seseorang.

Pada Juli 2007, Buck meninggal dunia. Melina mengetahui kabar tersebut dari berita kematiannya. Ia merasa sedih, tetapi tidak pernah menyangka bahwa pria yang selama ini ia layani ternyata telah menyiapkan kejutan terakhir untuknya.

Beberapa hari sebelum Natal tahun itu, sebuah kabar mengejutkan datang. Dalam surat wasiatnya, Buck meninggalkan warisan untuk Melina: uang tunai sebesar **US$50.000** dan sebuah mobil Buick keluaran tahun 2000 miliknya.

Bukan hanya harta yang ia tinggalkan, tetapi juga sebuah pesan penuh makna. Pesan itu mengungkapkan betapa besar arti kebaikan, kesabaran, dan rasa hormat yang selalu diberikan Melina selama bertahun-tahun.

Semasa hidup, Buck bukanlah orang yang pandai menunjukkan perasaan. Namun melalui hadiah terakhirnya, ia menunjukkan bahwa ia sebenarnya sangat menghargai satu orang yang tetap memperlakukannya dengan baik ketika banyak orang memilih menjauh.

Melina benar-benar terkejut hingga sulit berkata-kata. Kepada stasiun televisi lokal KGBT-TV, ia hanya mampu berkata, “Saya masih tidak percaya.”

Kisah Melina dan Buck menjadi bukti bahwa kebaikan sekecil apa pun tidak pernah sia-sia. Terkadang, sebuah senyuman, kesabaran, dan sikap menghargai orang lain bisa meninggalkan jejak yang jauh lebih besar daripada yang pernah kita bayangkan.

Pada Juli 2013, Jocelyn Rojas yang baru berusia 5 tahun sedang bermain di halaman depan rumahnya di Lancaster, Pennsylva...
29/07/2026

Pada Juli 2013, Jocelyn Rojas yang baru berusia 5 tahun sedang bermain di halaman depan rumahnya di Lancaster, Pennsylvania. Tiba-tiba, seorang pria tak dikenal menghampirinya. Dengan iming-iming es krim, pria itu berhasil membujuk Jocelyn masuk ke dalam mobilnya.

Tak lama kemudian, keluarga Jocelyn menyadari bahwa putri kecil mereka menghilang. Kepanikan pun terjadi. Polisi, keluarga, dan warga sekitar segera bergerak mencari ke segala penjuru, berharap Jocelyn bisa ditemukan dalam keadaan selamat.

Di tengah pencarian itu, dua remaja bernama Temar Boggs (15) dan sahabatnya, Chris Garcia (13), memutuskan ikut membantu. Mereka mengambil sepeda dan menyusuri jalan-jalan di sekitar lingkungan dengan tekad menemukan Jocelyn.

Sekitar 800 meter dari rumah korban, mereka melihat sebuah sedan berwarna merah marun dengan seorang gadis kecil di dalamnya. Keduanya langsung curiga gadis itu adalah Jocelyn. Tanpa ragu, mereka mulai membuntuti mobil tersebut.

Begitu menyadari ada yang mengikutinya, sang penculik berusaha kabur. Ia berbelok ke jalan-jalan kecil, masuk ke kawasan cul-de-sac (jalan buntu), bahkan beberapa kali mencoba mengecoh kedua remaja itu. Namun Temar dan Chris tidak menyerah. Mereka terus mengikuti mobil tersebut.

"Setiap kali dia berbelok atau berputar balik, kami tetap mengikutinya," kenang Temar.

Pengejaran itu berlangsung sekitar 15 menit. Akhirnya, si penculik menghentikan mobilnya di ujung sebuah jalan menurun dan melepaskan Jocelyn. Gadis kecil itu langsung berlari menghampiri Temar sambil menangis dan berkata bahwa ia ingin bertemu ibunya.

Nenek Jocelyn, Tracey Clay, tak mampu menyembunyikan rasa harunya. Ia menyebut Temar sebagai "pahlawan kami."

"Saya benar-benar tidak punya kata-kata untuk mengungkapkan rasa terima kasih," ujarnya.

Sementara itu, Temar menanggapi pujian tersebut dengan sangat sederhana.

"Saya hanya merasa hari ini telah melakukan sesuatu yang benar-benar berarti."

Polisi kemudian menggambarkan pelaku sebagai pria kulit putih berusia sekitar 50 hingga 70 tahun yang mengendarai mobil berwarna ungu kemerahan atau merah marun dengan lampu belakang berbentuk bulat. Saat itu ia dilaporkan mengenakan sepatu hijau, celana hijau, serta kemeja bergaris merah-putih, dan berjalan pincang.

Meski Jocelyn berhasil diselamatkan berkat keberanian dua remaja tersebut, pelaku penculikan itu dilaporkan tidak pernah berhasil ditangkap.

Pria asal Northmead, Australia, yang terlahir dengan sindrom Down ini menjadi bukti bahwa dedikasi, kerja keras, dan ket...
29/07/2026

Pria asal Northmead, Australia, yang terlahir dengan sindrom Down ini menjadi bukti bahwa dedikasi, kerja keras, dan ketulusan mampu meninggalkan jejak yang tak terlupakan.

Saat berusia 18 tahun, Russell mendapat kesempatan bekerja di McDonald's melalui Jobsupport, sebuah program yang didukung pemerintah Australia untuk membantu penyandang disabilitas intelektual mendapatkan pekerjaan sesuai kemampuan mereka. Ia mulai bekerja pada tahun 1984, meski beberapa sumber menyebutkan tahun 1986. Saat itu, Russell termasuk sekitar 100 orang pertama di Australia dengan sindrom Down yang berhasil memperoleh pekerjaan tetap dengan gaji.

Siapa sangka, pekerjaan yang awalnya hanya sebuah kesempatan itu kemudian berubah menjadi perjalanan luar biasa selama 32 tahun.

Russell bekerja tiga hari setiap minggu di McDonald's Northmead. Tugasnya sederhana: menyambut pelanggan dengan senyum ramah, membersihkan area makan, dan membereskan nampan bekas makanan. Namun, yang membuatnya istimewa bukan hanya pekerjaannya, melainkan cara ia melakukannya.

Lambat laun, Russell bukan lagi sekadar karyawan. Ia menjadi wajah yang begitu dikenal dan dicintai oleh masyarakat sekitar. Banyak pelanggan setia bahkan sengaja datang pada hari-hari saat Russell bekerja hanya untuk bertemu dan disambut oleh senyumnya.

Pada tahun 2018, di usia 50 tahun, Russell memutuskan pensiun agar bisa lebih fokus menjaga kesehatannya. Keputusannya menutup perjalanan panjang yang dipenuhi kerja keras dan kebanggaan.

Ayahnya, Geoff, mengenang peran besar Jobsupport dalam kehidupan Russell.

"Tanpa program itu, banyak orang seperti Russell mungkin tidak akan memiliki pekerjaan seperti sekarang. Padahal pekerjaan memberi mereka rasa bangga, meningkatkan kepercayaan diri, dan membuat mereka merasa menjadi bagian penting dari masyarakat."

Saudaranya, Lindsey, juga menggambarkan Russell sebagai sosok yang usil, penuh keceriaan, sekaligus sangat berarti dalam keluarganya.

"Dia kakak saya, dan dialah yang sering membuat saya tetap disiplin."

Kisah Russell O'Grady mengingatkan kita bahwa pekerjaan bukan hanya soal mencari nafkah. Bagi sebagian orang, pekerjaan adalah kesempatan untuk berkarya, dihargai, membangun rasa percaya diri, dan menjadi bagian dari komunitas.

Karena pada akhirnya, bukan seberapa besar jabatan seseorang yang dikenang, melainkan seberapa besar dampak yang ia berikan kepada orang-orang di sekitarnya.

Dokter menyatakan otaknya sudah tidak lagi menunjukkan aktivitas dan bersiap melepas alat bantu hidupnya. Namun sang aya...
28/07/2026

Dokter menyatakan otaknya sudah tidak lagi menunjukkan aktivitas dan bersiap melepas alat bantu hidupnya. Namun sang ayah menolak menyerah.

Pada 24 Januari 2015, George Pickering II mendapat kabar bahwa putranya yang berusia 27 tahun, George Pickering III, mengalami stroke berat. Tim medis di sebuah rumah sakit di Texas menyimpulkan bahwa peluangnya untuk hidup nyaris tidak ada. Karena George III terdaftar sebagai pendonor organ, proses donor pun mulai dipersiapkan.

Namun bagi George, putranya belum benar-benar pergi.

Dalam keputusasaan, ia nekat masuk ke ruang ICU sambil membawa pistol. Ia meminta semua orang keluar, lalu mengunci diri bersama putranya. Selama hampir empat jam, polisi dan tim SWAT mengepung rumah sakit, sementara George terus berbicara kepada sang anak.

Ia hanya meminta satu hal.

"Kalau kamu masih bisa mendengar Ayah... genggam tangan Ayah."

Tak lama kemudian, sesuatu yang tak disangka terjadi.

Jari-jari George III perlahan bergerak dan beberapa kali menggenggam tangan ayahnya. Momen itu menjadi tanda bahwa ia masih mampu merespons.

Kebuntuan akhirnya berakhir setelah putra George yang lain berhasil merebut pistol tersebut. George menyerahkan diri kepada polisi tanpa perlawanan dan kemudian menjalani hukuman penjara selama sekitar 11 bulan.

Yang paling mengejutkan, George Pickering III akhirnya pulih sepenuhnya.

Saat mengenang kejadian itu, ia hanya mengucapkan satu kalimat sederhana:

"Semua ini karena cinta."

Baginya, sang ayah adalah orang yang tidak pernah berhenti percaya, bahkan ketika semua orang sudah kehilangan harapan.

Pada September 2025, Randy Fyllesvold, seorang petani berusia 43 tahun, meninggal dunia akibat kecelakaan mobil di North...
28/07/2026

Pada September 2025, Randy Fyllesvold, seorang petani berusia 43 tahun, meninggal dunia akibat kecelakaan mobil di North Dakota. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi sang istri, Kharra, kedua putra mereka, serta hampir 1.400 acre/ekar lahan jagung, kedelai, dan kanola yang belum sempat dipanen.

Di saat keluarga masih berjuang menghadapi kehilangan, sahabat-sahabat Randy memilih untuk bertindak. Andy Gates dan Wyatt Thompson menghubungi para petani dari berbagai daerah, lalu berjanji kepada keluarga Randy, "Jangan khawatir soal panennya. Kami yang akan menyelesaikannya."

Saat musim panen tiba, janji itu benar-benar ditepati.

Sekitar 75 petani dari lebih dari 10 komunitas datang membawa 12 mesin pemanen untuk memanen seluruh lahan milik Randy. Mereka membagi pekerjaan menjadi beberapa tim agar panen bisa selesai secepat mungkin. Bahkan tempat penampungan hasil panen setempat ikut membantu menerima hasil panen dalam jumlah besar.

Pemandangan itu menjadi bukti betapa Randy begitu dicintai semasa hidupnya. Salah satu sahabatnya berkata, "Mengenal Randy berarti menyayanginya. Kebaikannya menyentuh begitu banyak orang."

Bagi Kharra dan kedua putranya, melihat puluhan petani bekerja bersama demi menghormati Randy adalah momen yang tak akan pernah mereka lupakan. Ia menggambarkannya sebagai pemandangan yang "sangat luar biasa" dan mengaku merasa begitu diberkati.

Melalui Facebook, Kharra kemudian menyampaikan rasa terima kasih kepada semua orang yang telah membantu keluarganya. Ia juga mengenang Randy sebagai "orang terbaik yang pernah saya kenal."

Panen itu bukan sekadar menyelamatkan hasil pertanian. Panen itu adalah bukti bahwa kebaikan, persahabatan, dan kepedulian masih hidup. Di tengah duka yang mendalam, satu komunitas bersatu untuk menyelesaikan panen terakhir seorang sahabat yang mereka cintai.

Di usia 20 tahun, Putri Leonor kembali mencatat sejarah. Pewaris takhta Spanyol itu resmi menjadi anggota pertama keluar...
28/07/2026

Di usia 20 tahun, Putri Leonor kembali mencatat sejarah. Pewaris takhta Spanyol itu resmi menjadi anggota pertama keluarga kerajaan yang berhasil menyelesaikan pelatihan terjun payung militer.

Pelatihan berlangsung di Escuela Militar de Paracaidismo Méndez Parada, Pangkalan Udara Alcantarilla, Murcia. Bersama sekitar 50 taruna lainnya, Leonor menjalani berbagai latihan berat, termasuk lompatan terjun payung pada malam hari yang menjadi salah satu tantangan tersulit dalam program tersebut.

Setelah menyelesaikan seluruh tahapan, ia menerima diploma sekaligus lencana "Cazador Paracaidista", tanda resmi bahwa ia telah memenuhi kualifikasi sebagai penerjun payung militer.

Pencapaian ini terasa semakin istimewa karena bahkan ayahnya, Raja Felipe VI, dan kakeknya, Juan Carlos I, yang sama-sama pernah menjalani pendidikan militer, tidak pernah meraih kualifikasi tersebut.

Keberhasilan ini sekaligus menutup perjalanan pendidikan militer Leonor yang telah berlangsung selama tiga tahun. Sejak 2023, ia menjalani pelatihan di tiga matra militer Spanyol, mulai dari Angkatan Darat, Angkatan Laut, hingga Angkatan Udara dan Antariksa. Selama masa pendidikan, ia juga berhasil menerbangkan jet tempur F-5 dan menuntaskan penerbangan solo pertamanya menggunakan pesawat latih Pilatus PC-21.

Dalam perayaan Hari Angkatan Bersenjata Spanyol, Raja Felipe VI tak bisa menyembunyikan rasa bangganya. Di hadapan publik, ia mengucapkan, "Sebagai seorang ayah, saya berhak mengatakan ini... selamat, Leonor."

Kini, setelah menyelesaikan seluruh pendidikan militernya, Putri Leonor bersiap memulai babak baru dengan melanjutkan studi Ilmu Politik di Universitas Carlos III Madrid.

Saat kuliah S2, kebanyakan mahasiswa memilih tinggal di dekat kampus. Namun, Bill justru melakukan hal yang tak masuk ak...
28/07/2026

Saat kuliah S2, kebanyakan mahasiswa memilih tinggal di dekat kampus. Namun, Bill justru melakukan hal yang tak masuk akal: ia memilih naik pesawat pulang-pergi tiga kali seminggu daripada ngekos.

Selama menempuh program Magister Teknik Transportasi di University of California, Berkeley, Bill tetap tinggal di Los Angeles. Setiap pekan, ia terbang dari Los Angeles ke San Francisco untuk menghadiri kuliah, lalu kembali lagi ke rumahnya di hari yang sama.

Rutinitasnya sangat berat. Ia harus bangun pukul 03.30 pagi demi mengejar penerbangan pukul 06.00. Setelah mendarat di San Francisco, ia melanjutkan perjalanan dengan kereta menuju Berkeley agar bisa mengikuti kelas pukul 10.00. Selesai kuliah, ia langsung kembali ke bandara dan sering baru tiba di rumah sekitar tengah malam.

Selama satu tahun delapan bulan, Bill mencatat total 238 kali penerbangan dengan jarak tempuh lebih dari 92.000 mil. Sebagian besar tiketnya menggunakan Alaska Airlines, sementara biaya penerbangan banyak tertutupi dari poin frequent flyer yang telah ia kumpulkan.

Seluruh pengeluarannya juga dihitung dengan rinci. Total biaya transportasi, parkir, bensin, tiket kereta, hingga WiFi di pesawat mencapai US$5.592,66. Angka itu jauh lebih murah dibanding menyewa kamar di Berkeley yang diperkirakan menghabiskan sekitar US$20.000 selama masa kuliah.

Kisah Bill kemudian viral setelah ia membagikannya di Reddit dan forum FlyerTalk. Meski harus menjalani perjalanan yang melelahkan hampir setiap minggu, ia berhasil lulus pada Mei 2023. Keputusannya yang sempat dianggap nekat ternyata berhasil menghemat banyak uang sekaligus mengantarkannya meraih gelar master.

Kane Tanaka lahir pada 2 Januari 1903 di Fukuoka, Jepang. Selama 119 tahun hidupnya, ia menyaksikan dunia berubah dari e...
27/07/2026

Kane Tanaka lahir pada 2 Januari 1903 di Fukuoka, Jepang. Selama 119 tahun hidupnya, ia menyaksikan dunia berubah dari era tanpa internet hingga masa pandemi COVID-19.

Pada 2019, Guinness World Records resmi menobatkannya sebagai orang tertua yang masih hidup di dunia. Saat itu, usianya telah mencapai 116 tahun 28 hari.

Meski telah berusia lebih dari satu abad, Kane tetap menjalani hari-harinya dengan penuh semangat. Ia gemar bermain permainan papan, mengerjakan teka-teki matematika untuk menjaga otaknya tetap aktif, serta menikmati cokelat dan minuman soda, dua camilan favorit yang tak pernah ia tinggalkan.

Kisah hidupnya menginspirasi jutaan orang. Ia bahkan sempat dipilih menjadi pembawa obor Olimpiade Tokyo 2020. Namun, demi menjaga kesehatannya di tengah pandemi COVID-19, ia memutuskan mengundurkan diri dari acara tersebut.

Di balik usianya yang luar biasa, Kane juga menjalani kehidupan yang penuh perjuangan. Ia menikah dengan Hideo Tanaka pada 1922 dan bersama-sama membesarkan lima anak, termasuk satu anak angkat. Pasangan ini menghidupi keluarganya dengan mengelola usaha mi dan kue beras selama bertahun-tahun.

Pada 19 April 2022, Kane Tanaka meninggal dunia di usia 119 tahun 107 hari. Hingga kini, ia tercatat sebagai orang tertua kedua dalam sejarah yang usianya telah terverifikasi. Rekor tersebut hanya kalah dari Jeanne Calment dari Prancis yang hidup hingga usia 122 tahun.

Kane Tanaka bukan hanya perempuan berumur panjang. Ia adalah saksi hidup lebih dari satu abad sejarah dunia, membuktikan bahwa ketangguhan, kesederhanaan, dan semangat menjalani hidup dapat meninggalkan inspirasi yang tak lekang oleh waktu.

Address

Jln. Yos Sudarso
Bima
84182

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Info unik posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share