31/01/2026
Desa Jangan Cuma Jadi Sasaran Program
Saya sudah lama kerja di desa, sampai akhirnya dipercaya jadi kepala desa. Dari situ saya benar-benar merasakan perubahan sejak ada Nawa Cita. Waktu itu desa seperti diberi kepercayaan baru. Ada Dana Desa, ada kewenangan, dan ada ruang musyawarah. Walaupun serba terbatas, desa mulai belajar mengurus dirinya sendiri.
Memang tidak semua desa langsung siap. Banyak aparat desa belajar sambil jalan. Ada yang salah atur, ada yang masih bingung, pengawasan juga belum rapi. Tapi itu wajar, karena desa sedang belajar berdemokrasi.
Sekarang masuk Asta Cita, tuntutannya makin berat. Desa bukan cuma disuruh bangun jalan atau balai, tapi juga harus bisa menghasilkan uang, pangan, dan lapangan kerja. BUMDes harus untung, pertanian harus maju, desa harus produktif.
Saya setuju desa harus mandiri secara ekonomi. Tapi jangan sampai desa hanya jadi alat mengejar target. Jangan sampai yang dikejar cuma laporan dan angka, sementara warganya tidak dilibatkan. Musyawarah jangan kalah oleh tekanan program.
Bagi saya, pembangunan desa itu bukan cuma soal bangunan dan angka.
Warganya juga harus ikut berkembang, ekonominya maju, tapi gotong royong tetap hidup.
Nawa Cita sudah meletakkan dasar yang baik. Asta Cita seharusnya melanjutkan, bukan membelokkan arah. Kalau keduanya disambungkan dengan benar, desa bukan cuma jadi lumbung negara, tapi benar-benar jadi rumah yang nyaman dan sejahtera bagi warganya.