16/09/2025
Part 1
"Kamu gi la? Aku kakakmu! Buang jauh-jauh pikiran ko nyol mu itu! Kalau Papa sampai tahu, Papa bisa mrah besar!"
Lagi-lagi aku di tolak. Aku juga tak tahu, kenapa aku bisa sangat menyukai kakak ku itu. Bahkan cita-cita ku dari dulu adalah menjadi kekasihnya, lalu kita menikah dan hidup bahagia bersama ank-ank buah cinta kami.
"Memangnya kenapa? Lagian kan Kakak bukan Kakak kndung ku, apa salahnya kalau kita paca ran?" Aku masih keukeuh. Tak ingin menyerah begitu saja.
Sejak kecil aku sangat dekat dengan Kak Aksa, dia selalu menjadi pelindungku dalam situasi apapun, garda terdepan yang siap membela ku saat aku dalam masalah.
Menginjak usia remaja, kedekatan itu membuat ku mempunyai pandangan berbeda padanya. Normalnya remaja yang memasuki usia pu ber, aku mulai mengenal cinta. Dan itu pada kakak ku sendiri.
Aneh memang, banyak sekali yang mendekati ku, tapi aku tak pernah terta rik. Lagi p**a, Kak Aksa selalu melarang ku dekat dengan sembarang pria kecuali dengannya dan dengan orang-orang yang dia kenal baik.
"Al, sudahlah. Jangan punya pikiran kesana lagi, kamu tetap akan menjadi adik ku selamanya. Jangan jadikan aku manusia yang gak tahu diri, gak tahu terima kasih pada Mama dan Papa yang sudah mera wat ku sejak kecil."
Dia mengatakan itu sembari meme gang kedua pun dak ku, berusaha membuat ku mengerti dengan penolakannya.
"Papa akan mengerti, Kak. Kakak tenang saja, aku yang akan bicara pada Papa. Mau yah jadi pa car aku?" Aku tersenyum riang, me nye ntuh le ngannya dengan mnja.
"Ya Tuhan, Alinea! Harus dengan cara apa aku membuat mu mengerti? Jangan knyol!"
Bbr ku manyun, tetap tak menerima penolakannya. Bagi ku, Kak Aksa adalah laki-laki yang tepat untuk ku. Memangnya apa salahnya? Dia kakak angkat ku, tak ada hubungan drh di antara kami, bukankah kami bisa menikah?
Dulu, saat pernikahan Papa dan Mama menginjak Lima Tahun, Papa sengaja mengangkat Kak Aksa sebagai ank. Katanya sebagai pancingan agar Papa dan Mama segera di karuniai a nk.
Mama sulit hmil, sudah berbagai cara di upayakan, tetapi tak membuahkan hasil. Lalu Kak Aksa datang sebagai penolong. Saat itu Mama keco pe tan, Kak Aksa yang tengah me nga men menolong Mama mengejar pen co pet, sampai warga pun ikut mengejar dan pen co pet itu berhasil di tangkp.
Dari sanalah Mama dan Kak Aksa dekat, Mama juga yang membujuk Papa agar mengangkat Kak Aksa ank.
Kak Aksa sebtng kara, hidup di jalanan sebagai pe nga men. Dia putus sekolah sejak kelas Dua SD. Orang tuanya berpisah lalu meninggalkannya bersama neneknya. Tapi nenek mening gal, membuat Kak Aksa hidup sendirian. Menghadapi ke rasnya hidup di Jakarta, Kak Aksa me nga men untuk bertahan hidup.
Mama dan Papa terkesan pada Kak Aksa yang jujur. Meski hidup susah tanpa kasih sayang dan didikan orang tua, Kak Aksa tak pernah makan dari hasil men cu ri. Dia menga men atau sesekali menjadi pe mu lung.
Kak Aksa di ado psi Mama dan Papa saat usia Kak Aksa menginjak 10 Tahun. Kak Aksa mendapat kasih sayang Mama dan Papa, juga mendapat pendidikan yang bagus di sekolah terbaik.
"Kakak yang harusnya mengerti, apa salahnya kalau kita paca ran? Kita bukan saudara kndng, Kak."
"Alinea cukup, kakak harap ini terakhir kalinya kamu membahas hal ini. Jangan sampai Kakak menjauhi kamu karena ini," ucapnya. Ini memang bukan pertama kalinya aku menyatakan cinta, sejak aku kelas 1 SMP sampai sekarang lulus SMA. Aku menyukainya sudah selama itu.
"Kakak lihat saja, aku akan bilang ke Papa. Papa juga pasti setuju kok," tekad ku bulat, mengatakan semuanya pada Papa dan Mama. Aku yakin mereka akan setuju, mereka sangat menyayangi ku, tak pernah menolak keinginan ku.
Tapi sepertinya aku salah, Papa terdiam sangat lama saat aku jujur tentang perasaan ku pada Kakak angkat ku itu. Begitu pun dengan Mama, tak ada reaksi apapun dari Mama.
"Pa, Ma. Papa sama Mama pasti setuju kan? Dari pada aku punya pcar laki-laki gak jelas, mending aku sama Kak Aksa. Papa sama Mama sudah tahu Kak Aksa seperti apa, dia bisa menjaga ku," ucap ku lagi. Meski respon mereka membuat ku ragu, aku terus bicara untuk meyakinkan mereka.
"Al, sebaiknya kamu kembali ke kmar," Papa justru meminta ku ke kmar.
"Tapi Papa setuju kan aku pa caran sama Kak Aksa?"
"Alinea, ke kamar Nak," kali ini Mama yang bicara. Ku hembuskan nafas gu sar, mulai semakin ragu dengan restu yang akan ku dapat.
Tak lama berselang, Kak Aksa di panggil Papa ke ruang kerjanya. Jntng ku dag dig dug, mereka pasti membicarakan keinginan ku tadi.
"Ya Tuhan, semoga Papa setuju," gumam ku dalam hati. Merasa tak tenang hanya berdiam diri di kmar saja, aku memutuskan keluar. Mencari tahu apa yang terjadi di ruang kerja Papa.
Bertepatan dengan aku keluar kmar, Kak Aksa muncul dari arah tangga. Sejenak tatapan kami bertemu, aku mencoba tersenyum tapi dia tidak.
Perasaan ini mulai tak nyaman, apa Papa mrah? Lekas ku hampir dia, tapi dia justru berjalan cepat memasuki kmarnya.
"Kakak tunggu," Aku mengejar, tapi dia buru-buru menutup pintu kmar lalu menguncinya. Tak ingin putus asa, aku mencoba mengge dor pintu.
"Kak, apa yang Papa bicarakan? Kak Aksa buka, kita harus bicara!"
Sejak saat itu, sikap Kak Aksa berubah. Dia begitu dingin padaku, tak pernah lagi tersenyum apalagi bercanda seperti dulu. Tapi sikapnya pada Mama dan Papa tak berubah, tetap hangat dan penurut.
Aku tersik sa dengan perubahannya, dia selalu menghindari ku. Apa yang sebenarnya Papa katakan padanya? Saat aku menanyakan pada Papa, Papa tak pernah menjawab. Papa selalu bilang, 'Gak ada apa-apa, kamu fokus saja belajar. Sebentar lagi kamu kuliah.'
Sampai akhirnya, aku memilih kuliah di Luar Negeri. Aku tak sanggup menghadapi sikap dingin Kak Aksa. Dia memang tak pernah mengatakan membnci ku, tapi aku merasa dia membe nci ku karena aku bicara pada Papa.
Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi aku yakin pembicaraan mereka tentang pengakuan ku mencintai Kak Aksa.
Tahun pertama aku mengenyam pendidikan di LA tak mudah. Nyaris setiap hari ku habiskan dengan menangis, menahan rindu pada laki-laki yang saat aku pergi pun tak menemui ku sama sekali. Alasannya karena sedang sibuk di skripsi.
Tak pernah sekali pun aku menghubunginya, begitu pun dia. Aku hanya bisa mencari tahu tentangnya dari sahabatku, Cita. Dia jarang main sosmed, kecuali ada hal yang sangat spesial menurutnya, baru dia akan upload moment.
Fotonya di IG pun hanya dua, foto keluarga kita dan foto ku saat aku lulus SMP dengan caption yang ku protes saat itu. 'Selamat menuju dewasa ya, Dek.' Aku tak s**a dia memanggilku DEK, seolah mengingatkan bahwa aku tak mungkin bisa bersamanya sebagai pasangan.
"Kamu tuh masih kecil, jangan cinta-cintaan terus. Apalagi sama Kakak," katanya saat aku mengutarakan perasaanku di malam perpisahan sekolah.
Aku cembrt, berge layut mnja di le ngannya, "Tapi aku serius, aku s**a sama Kakak," ucapku.
"Hanya cinta mo nyet, nanti juga hilang," sangkalnya sembari menga cak rambutku. Kenyataannya sampai sekarang cinta itu justru semakin besar.
Salah Papa juga, kenapa selalu membanggakan dan memuji Kak Aksa di depan ku. Aku jadi kagum, semua yang ada pada dirinya aku s**a. Perlahan rasa kagum itu berubah jadi cinta.
"Lihat Kakak mu, dia pintar, tampan, dan calon ank Papa yang sukses. Kamu juga harus sukses, belajar yang benar. Ikuti jejak Kakak mu, dia selalu menjadi juara di sekolah," kata Papa suatu waktu.
Aku mengangguk semangat, menatap Kak Aksa yang malu-malu penuh kekaguman.
"Non, makan siang sudah siap," Aku tersentak. Suara Ria, asisten pribadi ku menyapa telinga.
"Jangan panggil, Non! Kamu ban del," protesku. Usia Ria tak jauh beda dari ku, hanya Dua tahun lebih tua. Aku tak s**a dia memanggil ku Non.
"Iya Alinea sayang, yuk makan siang. Aku masak makanan kes**aan kamu, di jamin lahap," ucapnya sembari merangkul ku. Kami sudah seperti sahabat, bahkan Ria seperti kakak bagi ku. Dia yang selaku menyemangati ku untuk move on dari Kak Aksa.
"Al, kamu sudah mau skripsi. Gimana rencana kamu selanjutnya? Mana mungkin kamu terus tinggal disini," Tanya Ria di sela acara makan kami.
Aku terdiam, tatapan ku menerawang, "Aku gak tahu. Mungkin aku akan terus disini dan mengambil S2. Menurut Kak Ria gimana?"
Dia tersenyum, mengusap lenganku sekilas, "Mengambil S2 juga bagus. Tapi mau sampai kapan kamu lari terus? Kasian Tante Mia, dia pasti sedih kalau kamu terus disini. Aku yakin kamu bisa move on, hanya saja hati kamu belum sepenuhnya ingin move on. Percaya deh sama Kakak, kamu pasti bisa kalau kamu mau."
Apa iya aku yang tak mau move on? Padahal aku selalu bilang aku mau melupakan Kak Aksa, tapi hati kecil ku memang belum bisa.
Suara dering ponsel milik Ria memutus percakapan kami. Ada telpon masuk.
"Ya Zak? Ada apa?" Itu telpon dari Zaki, asisten pribadi Kak Aksa. Entah mengapa jantung ku berdegup kencang.
"Di perjalanan? Ok, aku sampaikan ke Non Al."
"Ada apa?" Tanya ku saat telpon sudah terputus.
"Al, Pak Aksa menuju ke apartemen ini. Katanya dia sedang kunjungan kerja, jadi sekalian nengok kamu. Dia ..."
"Apa?"
Baca lengkapnya di KBMAPP
Judul KAKAK, AKU MENCINTAIMU!
Penulis SAVANA ALIFA