19/06/2018
Info Xfm Blora :
Mengenalkan Anak pada Keluarga Besar
MENURUT dra Psi Tisna Candra, mengenalkan anak dengan extended family atau sering diistilahkan dengan "pohon keluarga" memang harus sudah dilakukan sejak anak berusia balita. Mereka yang disebut extended family ini adalah kakek, nenek, paman, bibi, sepupu, saudara kandung kakek, saudara kandung nenek, sepupu ayah, sepupu ibu, dan sebagainya. Tak perlu bingung bagaimana menerangkan hubungan kekerabatan itu. Inilah langkah-langkahnya, seperti yang dibagikan psikolog dari Spectrum Treatment Center, Bintaro, Tangerang, ini kepada kita:
Menjelaskan Hubungan Kekerabatan
* Awali dengan menerangkan siapa saja yang termasuk dalam keluarga inti. Kemudian, penjelasan tersebut diluaskan dengan penjelasan mengenai keluarga inti dari pihak ayah maupun ibu. Misalnya menerangkan siapa orangtua si ayah yang harus dipanggil kakek-nenek, maupun kakak-adik ayah yang harus mereka panggil dengan sebutan om-tante, atau paman-bibi maupun sebutan setara lainnya.
* Lebih baik lagi bila penjelasan yang disampaikan menggunakan analogi dalam keluarga mereka sendiri. "Hubungan ayah dengan kakek sama seperti kamu dengan ayah. Ayah dengan tante, seperti kamu dengan adikmu," contohnya. Penganalogian seperti ini memudahkan anak memahami pohon keluarga. Meski mungkin belum sepenuhnya dimengerti anak, tapi penjelasan seperti ini bisa disampaikan selagi anak masih balita. Dengan demikian penjelasan tersebut diharapkan bisa menjadi bekal/landasan anak menjalin hubungan dengan extended family-nya.
* Hindari penggunaan kata yang sulit dipahami anak, seperti sepupu, keponakan, dan sebagainya. Bila tidak, bukan mustahil anak malah bingung. Bagaimanapun, daya pemahaman mereka memang belum sampai sejauh itu. Jadi, saat menjelaskannya, gunakan kata yang familiar, seperti "Mas Andri itu anaknya Pakde Bambang. Berarti dia saudara kamu." Kalimat seperti ini lebih mudah diterima anak ketimbang, "Andri itu sepupu kamu" yang pasti akan disusul dengan sederet pertanyaan lain. Di antaranya, "Sepupu itu apa sih?" dan seterusnya.
* Penjelasan dengan bagan berupa pohon silsilah pun sebaiknya dihindari. Misalnya dengan menempatkan nama kakek dan nenek di kotak paling atas, kemudian bercabang sesuai jumlah saudara ayah/ibu dengan menempatkan masing-masing nama mereka di kotak yang sejajar. Selanjutnya kota-kotak tersebut dibagi lagi menjadi cabang-cabang baru dengan setiap anak dari masing-masing keluarga. Hal ini, menurut Tisna, akan kian memusingkan anak, hingga tujuan penjelasan itu jadi tidak tersampaikan.
* Bila anak sama sekali belum pernah berjumpa dengan extended family-nya hindari penjelasan dengan menggambarkan rupa/wajahnya. Cara ini sama sekali tidak akan efektif. Itulah mengapa penjelasan sebaiknya ditunda sampai si anak berjumpa langsung dengan kerabat yang dimaksud.
* Akan sangat mengena bila saat bertemu, orangtua langsung menjelaskan pada anak siapa sosok yang dijumpainya itu. Apakah tante, om, anak tante, adik nenek, atau kerabat lainnya. Soalnya, tahap berpikir anak balita masih konkret sehingga ia masih amat sulit membayangkan sesuatu yang belum pernah dilihatnya.
Termasuk memahami bahwa orang yang belum pernah dilihatnya tadi adalah keponakan dari mama/papanya. Penjelasan semacam itu akan sangat efektif karena anak berjumpa secara langsung hingga tahu persis bagaimana rupa sekaligus kepribadian orang yang dimaksud. Apalagi, anak usia ini sangat mudah untuk melabel seseorang. Bila orang yang dimaksud kebetulan berbadan subur, misalnya, anak akan kian mudah mengingatnya. "Yang gendut itu namanya Tante Wati, dia adik mamaku." Atau om yang jangkung itu namanya Om Budi, adik papaku."
* Besar kemungkinan anak akan mengajukan pertanyaan, "Lo, apa bedanya tante adik Papa dengan tante sebelah? Kan aku juga manggilnya tante?" Menanggapinya, lanjut Tisna, jelaskan perbedaannya. "Tante Nining itu adik Mama seperti kamu dengan adikmu. Sedangkan tante sebelah rumah bukan adik Mama. Kebetulan saja rumahnya berdekatan dengan kita," misalnya.
* Manfaatkan pertemuan keluarga yang biasanya diselenggarakan secara berkala untuk memperkenalkan keluarga besar kepada anak. Terutama, jika orangtua tak punya waktu luang mengajak anak berkunjung ke rumah paman dan bibinya satu-per satu. Selain itu, jangan sia-siakan hari raya seperti Lebaran, Natal, Tahun Baru, atau hari raya lain untuk mempertemukan anak dan keluarga besar. Di kesempatan inilah akan tumbuh kedekatan antara anak dan extended family-nya.
Tisna pun memandang positif kebiasaan masyarakat kita p**ang kampung di hari-hari besar. "Kebiasaan mudik saat Lebaran atau hari hari-hari besar lainnya patut dijadikan tradisi untuk menjaga hubungan kekerabatan." Toh, kerepotan dan faktor biaya bisa disiapkan jauh-jauh hari agar tak jadi hambatan untuk mudik.
Sumber : https://entertainment.kompas.com