25/09/2025
Novel : Pelukan yang Bukan Darah
Namaku Wati, dan usiaku genap dua puluh tahun hari ini. Di pagi yang sunyi ini, aku tidak terbangun karena ciuman hangat ibuku, melainkan karena aroma nasi goreng spesial yang selalu dibuatnya—bukan ibu kandungku, tetapi Rani, ibu tiriku.
Aku turun ke dapur. Rani, dengan rambut hitamnya yang selalu dicepol rapi dan apron bergambar bunga matahari, sedang menata meja.
"Selamat ulang tahun, kesayangan Ibu," katanya, suaranya lembut dan renyah seperti kerupuk baru digoreng. Ia langsung memelukku. Pelukan itu, bukan pelukan darah, tetapi pelukan yang menyelamatkan.
"Terima kasih, Bu," bisikku sambil balas memeluknya erat. Mataku berkaca-kaca, bukan karena bahagia, tapi karena memori yang menyakitkan.
Kenangan Pahit dan Permulaan Baru
Ayahku menikah dengan Rani saat aku masih SMP, tak lama setelah Ibu kandungku meninggal karena sakit. Rasa sakit kehilangan itu membuatku seperti duri; aku menolak Rani. Setiap kebaikan yang ia berikan, aku anggap sebagai manipulasi.
"Jangan sentuh barang-barang Ibu!" teriakku suatu sore, saat ia mencoba merapikan kamarku.
"Aku bukan ibumu! Aku tidak butuh ibu tiri!" kataku lagi di hari lain, kata-kata yang kukutip dari sinetron murahan, namun berhasil melukai Rani hingga ia diam mematung.
Ayah hanya bisa menghela napas, lelah dengan perang dingin di rumah. Tapi Rani? Ia tidak pernah membalas. Ia hanya tersenyum tipis dan pergi. Namun, ia tidak berhenti.
Saat aku sakit demam tinggi, ia begadang di sampingku, mengompres dahiku, dan menyanyikan lagu nina bobo yang dulu sering Ibu kandungku nyanyikan—lagu yang ia pelajari secara diam-diam dari Ayah. Saat aku gagal masuk universitas impianku, aku mengurung diri selama seminggu. Rani mengetuk, membawa teh hangat, dan duduk di lantai di luar pintu kamarku.
"Wati," panggilnya lirih. "Tidak apa-apa. Kamu boleh sedih, kamu boleh marah. Tapi ingat, Ibu bangga padamu, apa pun hasilnya. Dunia ini luas, Nak. Ibu akan bantu kamu mencari jalan lain."
Kalimat itu, yang diucapkan tanpa tekanan atau tuntutan, berhasil meluluhkan hatiku yang beku. Aku membuka pintu, melihatnya duduk di lantai dengan wajah lelah tapi penuh kasih. Sejak saat itu, aku mulai melihatnya—bukan sebagai pengganti, tapi sebagai malaikat yang dikirimkan Tuhan.
Surat di Bawah Bantal
Hubungan kami tumbuh, melampaui ikatan darah. Rani adalah orang pertama yang kutemui saat aku senang, dan orang pertama yang kupeluk saat aku rapuh. Ia menambal lubang yang ditinggalkan ibuku dengan kesabaran dan cinta murni.
Beberapa hari yang lalu, Rani jatuh sakit. Demamnya tinggi sekali, dan ia menolak pergi ke rumah sakit.
"Hanya flu biasa, Wati. Jangan khawatir," katanya dengan suara parau.
Namun, di hari ulang tahunku ini, ia bangun hanya untuk membuatkanku sarapan. Setelah sarapan, Rani memaksaku untuk pergi ke kampus karena ada kelas penting. Sebelum pergi, ia memelukku lama sekali.
"Ibu sayang kamu, Nak. Sangat sayang," bisiknya, mencium keningku. Pelukan itu terasa terlalu kuat, terlalu hangat, seolah ia sedang menyimpan memori terakhir.
Aku kembali sore hari dan menemukan rumah sepi. Ayah belum pulang kerja. Aku masuk ke kamar Rani. Ia tertidur pulas, wajahnya pucat. Aku merapikan selimutnya, dan di bawah bantalnya, aku menemukan sebuah amplop cokelat tebal bertuliskan namaku.
Tanganku gemetar saat membukanya. Itu adalah surat dari Rani, ditulis dengan tulisan tangan yang agak goyah.
Wati-ku tersayang,
Jika kamu membaca ini, mungkin Ibu sedang tertidur, atau mungkin Ibu sedang... di tempat yang Ibu kandungmu ada.
Ibu tahu, Ibu tidak punya banyak waktu. Penyakit ini, yang Ibu sembunyikan selama setahun... sudah mencapai batasnya. Jangan salahkan Ayahmu. Ibu yang memintanya merahasiakan ini, karena Ibu tidak mau melihat kesedihan di mata kalian.
Delapan tahun yang lalu, saat Ibu masuk ke rumah ini, Ibu tidak mengharapkan cintamu. Ibu hanya ingin melihatmu tumbuh. Kata-kata kasarmu dulu, yang kau kira menyakiti Ibu, justru yang membuat Ibu bertahan. Karena Ibu tahu, di balik kemarahan itu ada hati kecil yang terluka dan butuh diperbaiki.
Wati, kamu adalah kado terbaik dalam hidup Ibu. Kamu mengajari Ibu arti menjadi seorang Ibu sejati, bahkan tanpa melahirkanmu. Jaga dirimu, Nak. Gapai mimpimu. Dan jangan pernah merasa sendiri.
Gelang manik-manik yang selalu kamu pakai itu, yang kamu kira Ayahmu yang membelikannya? Itu hadiah dari Ibu, yang Ibu beli di pasar loak saat kamu SMP. Ibu tidak berani memberikannya langsung, takut kamu buang. Ibu hanya menitipkannya diam-diam di tasmu.
Tersenyumlah, Nak. Ibu pergi dengan tenang, karena Ibu tahu, Ibu sudah pernah merasakan cinta seorang anak.
Peluk hangat terakhir dari ibumu, Rani.
Kesunyian yang Abadi
Kertas itu terlepas dari tanganku. Aku melihat Rani yang terbaring, pucat, tak bergerak. Aku memegang pergelangan tangannya yang dingin. Ia telah pergi. Ia telah merencanakan semuanya, termasuk hari ulang tahunku, memastikan aku merayakan hari itu dengan senyuman, sementara ia menahan rasa sakitnya sendirian.
Aku menjerit, memeluk tubuhnya yang kaku. Aku menangis, bukan lagi air mata seorang anak yang kehilangan ibu kandung, tetapi air mata seorang anak yang kehilangan satu-satunya orang yang berjuang keras untuk mendapatkan hak disebut 'Ibu' di hatinya.
"Ibu! Kenapa Ibu tidak bilang?" raungku. "Aku tidak butuh ulang tahun ini, aku butuh Ibu!"
Aku melihat gelang manik-manik di pergelangan tanganku, warisan diam-diam yang ia berikan tanpa pernah mengharap ucapan terima kasih. Rani, ibu tiriku, telah membuktikan bahwa cinta sejati seorang ibu tidak diukur dari darah yang mengalir, tetapi dari hati yang tulus memberi, bahkan di ambang kematiannya. Kesedihan itu begitu mendalam, karena aku baru menyadari, di hari kepergiannya, aku telah kehilangan dua ibu dalam hidupku.