04/01/2026
“Alkitab adalah Firman Tuhan. Ia bukan buku biasa yang bisa diartikan menurut selera, emosi, atau kepentingan pribadi. Firman harus dibaca dengan rendah hati, bukan dengan sikap merasa paling tahu.”
Banyak orang melompat pada kesimpulan cepat,
menafsirkan ayat tanpa konteks,
atau memakai Firman hanya untuk membenarkan pendapat.
“Alkitab adalah buku Tuhan yang tidak bisa dipahami dengan kesombongan manusia.”
Mengapa?
Karena Alkitab bukan sekadar kumpulan pengetahuan, tetapi wahyu Allah.
Ia tidak dibuka oleh kecerdasan semata, melainkan oleh kerendahan hati.
Padahal Alkitab sendiri mengingatkan:
“Firman-Mu adalah kebenaran.” — Yohanes 17:17
Artinya, bukan kita yang menentukan kebenarannya—Firmanlah yang menilai kita.
Dan untuk sahabat lintas iman, pesannya tetap sama:
Menghormati Firman berarti menghargai konteksnya.
Setiap kitab suci punya kedalaman, sejarah, dan makna yang tidak boleh dipotong seenaknya.
Kerendahan hati membuka pengertian.
Kesombongan menutup pintu pewahyuan.
“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” (Mazmur 119:105)
Pelita hanya berguna bagi orang yang mau berjalan, bukan bagi mereka yang hanya ingin merasa paling tahu.
Coba renungkan ini pelan-pelan:
👉 Saat membaca Alkitab, apa yang lebih sering kita bawa—hati yang mau diajar, atau pikiran yang ingin membenarkan diri?
Nebukadnezar baru mengerti kebenaran setelah kesombongannya dihancurkan.
Demikian juga kita: Firman Tuhan menjadi jelas saat ego diturunkan.
🔑 Ringkasan Pengingat
Firman Tuhan bukan untuk diperdebatkan, tapi ditaati
Kesombongan menutup pengertian
Kerendahan hati membuka pewahyuan