27/02/2026
Banjir Datang Setiap Tahun, Kebijakan Selalu Baru
Air kembali naik.
Seperti biasa.
Setiap awal tahun, pemandangan yang sama terulang. Permukiman tergenang, jalan terputus, aktivitas lumpuh. Yang berubah hanya tanggalnya. Selebihnya tetap.
Banjir sering diperlakukan sebagai kejadian alam. Padahal, dalam banyak kasus, ia adalah hasil keputusan manusia yang menumpuk dari tahun ke tahun. Lahan basah berubah fungsi. Sawah dipadatkan beton. Aliran air dipersempit. Semua terjadi perlahan, sah, dan berizin.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan luas lahan sawah di wilayah penyangga perkotaan sekitar Jakarta terus menyusut dalam satu dekade terakhir. Pada saat yang sama, jumlah perumahan tumbuh pesat di kawasan yang seharusnya menjadi daerah resapan. Ketika hujan ekstrem datang, air hanya mencari jalannya sendiri. Dan jalannya sering berakhir di rumah warga.
Yang menarik, setiap kali banjir terjadi, respons kebijakan selalu terdengar baru. Ada evaluasi. Ada rapat. Ada janji penataan ulang. Namun peta ruang jarang benar-benar dibongkar dari akarnya. Larangan sering hadir setelah bangunan berdiri. Penertiban datang saat kerugian sudah terjadi.
Banjir bukan soal kurangnya proyek. Banyak tanggul sudah diperkuat. Sungai sudah dikeruk. Danau sudah direncanakan. Tapi tanpa keberanian menghentikan izin di lahan yang salah, semua itu hanya menunda masalah.
Di lapangan, warga sebenarnya tahu. Mereka bisa menunjuk titik-titik yang dulu menyerap air, kini berubah menjadi bangunan. Mereka tahu kapan genangan mulai rutin terjadi. Pengetahuan lokal ini sering datang lebih cepat daripada laporan resmi.
Apakah kebijakan akan terus berlari mengejar banjir, atau mulai berjalan mendahuluinya?
Selama air selalu datang lebih cepat daripada perubahan tata ruang, banjir akan tetap menjadi berita tahunan. Dan warga, lagi-lagi, hanya diminta bersabar.
Sabar sabar sabar. 😢
© Syafaq Ahmar | All Right Reserved
*Photo Ilustration by AI*