08/09/2026
Puasa Ramadan pertama di Madinah (tahun ke-2 H) kerap diidentikkan dengan kisah kesederhanaan Rasulullah ﷺ yang sahur dan berbuka hanya dengan kurma serta air putih hingga membuat para sahabat meneteskan air mata. Namun secara historis, adegan spesifik sahabat menangis melihat momen tersebut lebih dominan sebagai narasi populer dan tidak memiliki dasar riwayat yang tsabit (terverifikasi).
Meskipun demikian, fakta kesederhanaan hidup beliau adalah hal yang sahih. Aisyah radhiyallahu 'anha meriwayatkan bahwa keluarga Nabi ﷺ pernah melewati dua bulan tanpa menyalakan dapur dan hanya mengonsumsi al-aswadān (kurma dan air). Kebiasaan berbuka dengan kurma basah (ruthab) pun merupakan petunjuk sunnah yang diajarkan beliau, bukan sekadar bentuk keterpaksaan materi.
Tahun / Estimasi Waktu: Tahun ke-2 Hijriah / 624 M
Keterkaitan Peristiwa: Diwajibkannya puasa Ramadan dan bertepatan dengan Perang Badar
Tingkat Kesahihan & Keterangan Riwayat:
Narasi Sahabat Menangis: Tidak terbukti sahih secara sanad (tidak ditemukan dalam kitab hadis standar maupun sirah mu'tabar).
Fakta Kesederhanaan Nabi ﷺ: Sahih (HR. Bukhari no. 2567 & HR. Muslim no. 2970).
Sunnah Berbuka dengan Kurma: Sahih (HR. Abu Dawud no. 2358, dinilai sahih oleh Al-Albani).
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ
“Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ biasa berbuka puasa dengan beberapa ruthab (kurma basah) sebelum menunaikan shalat.” (HR. Abu Dawud)