24/08/2026
Barangkali, kekecewaan tidak selalu lahir dari kegagalan ikhtiar; terkadang ia lahir ketika manusia mengira bahwa sempurnanya sebab telah menjadikannya berhak atas hasil.
Akal dapat mengenali sesuatu yang ممكن، kehendak dapat memilih arah, dan ikhtiar dapat menyempurnakan sebab. Dalam kebiasaan yang berjalan, sebab yang sempurna memang lazim mengantarkan kepada hasil yang sepadan. Namun kelaziman bukanlah kepastian.
Sebab ada sesuatu yang sering terlupakan: manusia hanya dituntut menyempurnakan apa yang berada dalam ranahnya, bukan memastikan apa yang berada di luar kuasanya.
Maka berusahalah sebaik mungkin, bukan karena setiap usaha pasti berujung sebagaimana kehendak, melainkan karena ikhtiar adalah bagian yang memang harus ditunaikan.
Adapun hasil, biarlah tetap berada pada tempatnya.
Sebab ketika manusia mencampurkan ranah ikhtiarnya dengan ranah hasil, di sanalah harapan mudah berubah menjadi tuntutan, dan tuntutan yang tak terpenuhi sering menjelma menjadi kekecewaan.
Tawakal bukan meninggalkan sebab, sebagaimana ikhtiar bukan memiliki hasil. Keduanya hanya mengajarkan manusia untuk mengenali batas: mana yang harus diperjuangkan, dan mana yang harus diserahkan.
Barangkali, kedewasaan bukan tentang berhenti menginginkan sesuatu; melainkan tentang tetap mampu memperjuangkannya tanpa merasa berhak memilikinya.
Sebab manusia dituntut menyempurnakan langkah, bukan memastikan ujung jalannya.