08/06/2026
Belakangan ini, media sosial diramaikan oleh perdebatan mengenai pengakuan Melaney Ricardo yang tidak memberikan bayaran kepada seorang tamu korban penipuan wedding organizer (WO) yang hadir dalam podcastnya.
Dari sini muncul pertanyaan yang menarik: apakah seorang podcaster memang wajib membayar narasumber, atau kehadiran tamu dalam podcast sebenarnya merupakan bentuk kerja sama yang saling menguntungkan?
Menurut penjelasan Melaney, hubungan antara podcaster dan narasumber bersifat timbal balik.
Di satu sisi, podcaster membutuhkan cerita dan sudut pandang dari narasumber untuk menghasilkan konten yang menarik. Di sisi lain, narasumber juga mendapatkan ruang untuk menyampaikan pengalaman, klarifikasi, atau informasi kepada publik melalui platform yang memiliki jangkauan luas.
Melaney juga menjelaskan bahwa urusan teknis seperti honor atau uang transportasi biasanya ditangani oleh timnya. Jika sejak awal narasumber meminta kompensasi, maka akan ada proses negosiasi. Ia bahkan mencontohkan pengalaman dengan tamu lain, yaitu Arya Khan, yang menerima uang transportasi setelah adanya kesepakatan antara kedua pihak. Karena dalam kasus korban penipuan WO tersebut tidak ada permintaan kompensasi sejak awal, maka tidak ada pembayaran yang diberikan.
Namun, penjelasan itu ternyata tidak sepenuhnya diterima publik. Banyak netizen berpendapat bahwa podcast berbeda dengan wawancara biasa atau proses interview kerja. Alasannya, podcast saat ini bukan sekadar media berbagi cerita, melainkan juga produk bisnis yang dapat menghasilkan keuntungan melalui sponsor, iklan, endorsement, hingga product placement.
Dengan kata lain, ketika sebuah episode tayang dan menghasilkan pendapatan, sebagian orang menilai kontribusi narasumber juga memiliki nilai ekonomi yang layak dihargai.
Perdebatan semakin ramai ketika food vlogger Farida Nurhan memberikan komentar yang memuji kenyamanan saat menjadi tamu di podcast Deddy Corbuzier.
Meskipun tidak secara langsung menyebut Melaney, banyak netizen menganggap komentar tersebut sebagai sindiran halus terhadap polemik yang sedang berlangsung.
Di sisi lain, ada p**a yang melihat persoalan ini dari sudut pandang etika. Mereka berpendapat bahwa ketika pihak pengundang memiliki kemampuan finansial yang jauh lebih baik, sementara narasumber sedang mengalami kesulitan ekonomi akibat masalah yang sedang dihadapi, memberikan kompensasi atau setidaknya bantuan transportasi bisa menjadi bentuk penghargaan dan empati.
Pada akhirnya, polemik ini tampaknya bukan semata-mata soal ada atau tidaknya bayaran. Akar masalahnya justru terletak pada ekspektasi yang tidak dibicarakan secara jelas sejak awal. Ketika satu pihak menganggap kehadiran dalam podcast sebagai kolaborasi sukarela, sementara pihak lain berharap ada bentuk kompensasi tertentu, potensi kekecewaan menjadi sangat besar.
Cuma, jujur aja ya menurutku
kalau podcast-nya bisa cuan dari adsense, kenapa narasumbernya harus ikhlas 0 rupiah? Apalagi kalau dia korban. Profesionalisme itu soal kontrak, tapi etika itu soal nurani. Dan nurani bilang: kalau kamu untung dari penderitaan orang, bagi dikit lah. Nggak harus gede. Itu bukan bayaran. Itu bentuk peduli.