03/06/2026
Nadiem: "Apakah negara sekejam ini kepada abdinya?"
Sebuah kalimat tanya yang menyayat hati keluar dari mulut Mantan Mendikbudristek, Nadiem Makarim, saat membacakan nota pembelaan (pleidoi) di Pengadilan Tipikor Jakarta hari ini (2/6/2026).
Nadiem mengaku sangat terpukul. Ia menyinggung sebuah ironi besar yang kini harus ia telan bulat-bulat:
"Bayangkan betapa hancurnya hati saya. Setelah mendapatkan penghormatan tertinggi negara, Bintang Mahaputera Adipradana, 'hadiah' yang saya dapatkan dari negara adalah jeruji besi."
➡️ Menyesal Tinggalkan Gojek?
Sejak kasus hukum ini bergulir, banyak netizen dan publik yang berkomentar: “Salah Nadiem cuma satu, mau jadi menteri padahal sudah nyaman dan kaya di Gojek.”
Menanggapi hal itu, Nadiem justru melempar pertanyaan balik yang tampar realita kita semua:
Bukan Soal Uang: Nadiem menegaskan ia sudah mapan secara finansial sebelum masuk kabinet. Justru karena sudah berkecukupan, ia merasa punya tanggung jawab moral yang besar untuk mengabdi.
Taruhan Nyata: Demi negara, ia mempertaruhkan segalanya—mulai dari keuangan, reputasi, hingga ketenangan hati anak dan istrinya.
Kesempatan Langka: Bagi Nadiem, mencari uang bisa kapan saja. Namun, kesempatan melakukan lompatan besar untuk generasi penerus bangsa lewat dunia pendidikan hanya datang sekali seumur hidup.
"Kalau semua orang berprestasi menolak amanah untuk mengabdi karena sudah nyaman, apa jadinya masa depan negara kita?" ujarnya.
➡️ "Hadiah" yang Menyakitkan
Tak hanya ancaman kurungan, Nadiem juga menyoroti tuntutan perampasan aset miliknya. Ia merasa terluka karena aset yang disita adalah hasil keringatnya selama 10 tahun membangun perusahaan (Gojek) yang telah membuka jutaan lapangan kerja di Indonesia.
Di akhir kalimatnya, Nadiem menyelipkan pesan menyentuh untuk buah hatinya:
"Saya harap di kemudian hari anak-anak saya akan menonton pleidoi ini dan meyakini bahwa ayahnya tidak pernah menyesal mengabdi kepada negara."
Sc: Diolah dari Liputan6
Sebuah dilema besar bagi para profesional yang ingin masuk pemerintahan. Apakah kasus ini akan membuat orang-orang pintar dan sukses di luar sana jadi "takut" dan kapok untuk mengabdi pada negara?