13/07/2024
Ke Belakang
Saat itu pukul 6 kurang (pastinya agak diragukan). Matahari sudah terbit. Kami sudah sampai di apa yang orang bilang โletter Eโ. Beberapa meter terberat sebelum akhirnya sampai di puncak. Medan pasir campur kerikil dengan kemiringan 30-45ยฐ, dengan angin kencang dari sisi kiri yang sangat dingin. Semua terdiam, hanya suara angin menerpa lereng, tebing dan jaket-jaket kita yang bersuara. Seperti suara siulan di film-film koboi lama. Sholat subuh juga harus menahan terpaan angin dingin. Selain dingin, kami juga harus menahan kantuk dan lelah karena kami sudah harus mendaki dari jam 1. Tetapi yah, jikalau sudah sampai di titik ini, jangan lihat ke depan karena mungkin akan terasa sangat jauh yang membuat kita ingin menyerah. Jangan juga lihat ke belakang karena kita sudah terlanjur jauh. Lihat lah ke bawah untuk menentukan bagian mana yang lebih enak dipijak supaya tidak merosot kembali ke bawah. Atau lihat lah ke samping kiri, betapa indahnya matahari terbit โ awas kelilipan debu akibat angin. Memang lelah, tapi ini pengalaman sekali (mungkin dua kali ๐
) seumur hidup.