02/12/2025
Dari Pekerja Migran ke Buronan Kelas Dunia: Kisah Kelam Dewi Astutik Berakhir di Kamboja
PONOROGO — Perjalanan hidup Dewi Astutik (43) akhirnya berhenti di tangan aparat internasional. Perempuan asal Ponorogo yang dulu hanya dikenal sebagai seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI), kini menjadi pusat perhatian dunia setelah ditangkap BNN bekerja sama dengan Interpol serta BAIS di Kamboja.
Kasus Dewi bukan sekadar soal penangkapan bandar narkoba. Di balik itu, terdapat kisah metamorfosis seorang perempuan perantau yang terjerumus dalam jaringan narkoba kelas kakap.
Dari Tenaga Migran ke Sindikat Internasional
Jejak masa lalu Dewi memperlihatkan kehidupan yang jauh dari dunia kejahatan. Ia pernah bekerja sebagai TKW di Hongkong, Taiwan, hingga Kamboja—negara-negara yang ia datangi untuk mengejar nasib lebih baik.
Namun dari perjalanan itu p**a, ia justru mengenal lingkaran kriminal transnasional. Dugaan kuat, jejaring yang ia temui saat merantau menjadikannya bagian penting dari sindikat narkoba Golden Triangle dan jaringan kriminal Afrika.
Siapa sangka seorang mantan PMI kemudian menjadi otak penyelundupan sabu 2 ton senilai Rp 5 triliun?
Pelarian yang Berakhir
Dewi dikenal licin. Ia kerap berganti penampilan dan memakai identitas palsu termasuk KTP adiknya untuk menghilangkan jejak. Berulang kali lolos, hingga akhirnya upaya pengejaran panjang itu terbayar di Kamboja.
Kini langkah Dewi tak lagi bebas. Ia dalam proses pemulangan ke Indonesia untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Sorotan bagi Fenomena Perantau Rentan Kriminal
Kasus Dewi memberi catatan penting: tidak sedikit pekerja migran terjerat jaringan kriminal internasional akibat kondisi kerja rentan, pergaulan, dan tekanan ekonomi. Perubahan drastis seorang PMI menjadi buronan Interpol menjadi ironi yang kini diperbincangkan publik.
Pelarian Dewi telah berakhir. Namun pertanyaan besar masih menggantung: Bagaimana seorang perempuan perantau bisa menjelma menjadi “Ratu Narkoba” paling diburu dari Ponorogo?