22/07/2026
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik Sudaryati Deyang resmi mengundurkan diri dari jabatannya, Rabu (22/7/2026). Ia menyampaikan keputusan itu lewat akun Facebook pribadinya, dengan alasan kesehatan yang mengharuskannya menjalani pengobatan jantung ke luar negeri.
"Saya sampaikan ke presiden juga dengan beribu maaf sepertinya saya harus mundur sebagai Kepala BGN, demi kesehatan saya," tulis Nanik.
Yang membuat pengunduran diri ini menarik disorot secara kritis adalah durasinya. Nanik baru dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai Kepala BGN pada 8 Juni 2026 — artinya ia hanya menjabat sekitar satu setengah bulan sebelum memilih mundur. Ia ditunjuk menggantikan Dadan Hindayana yang saat itu tersandung kasus korupsi, sebuah posisi yang otomatis membebaninya dengan ekspektasi pembenahan tata kelola Badan Gizi Nasional secara cepat.
Dalam waktu singkat itu, Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Kebijakan Dirgayuza Setiawan menyebut Nanik sempat membongkar sejumlah persoalan internal dan meletakkan fondasi reformasi, di antaranya mengevaluasi hampir 28.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), mengklasifikasikan 3.000 dapur berdasarkan standar mutu, serta menghentikan ekspansi dapur di wilayah yang dinilai sudah jenuh.
Ada juga rentetan peristiwa yang patut dicatat sebelum pengunduran dirinya. Pada Jumat (17/7/2026), Nanik absen dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi IX DPR RI yang membahas laporan keuangan BGN tahun anggaran 2025, dengan alasan sakit. Beberapa hari sebelumnya, ia bahkan masih tercatat melakukan audiensi ke KPK untuk membahas pengawasan dan pencegahan korupsi program Makan Bergizi Gratis (MBG) — menunjukkan kondisi kesehatannya kemungkinan memburuk secara mendadak di tengah kesibukan kerja.
Presiden Prabowo dikabarkan menyetujui pengunduran diri Nanik, namun tetap memintanya ikut mengawasi jalannya BGN ke depan. Nanik sendiri menyinggung kemungkinan dirinya akan ditunjuk sebagai ketua dewan pengawas, asalkan perannya tidak lagi bersentuhan langsung dengan pengelolaan anggaran — sebuah pernyataan yang secara tidak langsung menyiratkan trauma dari posisi sebelumnya yang sarat isu korupsi.
Di sisi lain, Nanik turut menepis anggapan bahwa program MBG memiliki muatan politis, dengan alasan mayoritas penerima manfaat saat ini adalah balita hingga anak SD yang baru bisa memberikan hak suara pada Pemilu 2029 mendatang.
Hingga kini, belum ada pengumuman resmi soal siapa yang akan menggantikan posisi Kepala BGN, di tengah program MBG yang masih terus menjadi sorotan publik terkait tata kelola anggarannya.