Iwan ora wani

Iwan ora wani motivasi" dan hiburan

21/01/2026
28/12/2025

cara goyang masing masing daerah pasti berbeda-beda
Nb. orang timur pu goyangan deng bapak2 TNI

27/12/2025

ngak mood makan

20/12/2025

Tentara đź’‚đź’‚đź’‚
Memang ngeri tentara kita kalo memberi interuksi

19/12/2025

18/12/2025

kawanan genk motor langsung kecilin gass nya setelah aparat melewatinya

wkwkwk

16/12/2025

kecil penuh impian dewasa penuh renungan

15/12/2025

12/12/2025

jurus buat benteng diri

09/12/2025

APA YANG SEBENARNYA TERJADI DI TOMPobulu?
Malam hujan di Parang-parang Tulau berubah jadi panggung yang tak pernah dibayangkan siapa pun. Di tengah gelap dan riuh teriakan, warga menemukan seorang pria bernama Ali—sosok yang selama ini hanya muncul sebagai desas-desus: residivis pencurian, pelaku pemerkosaan belasan tahun lalu, dan sumber keresahan yang tak pernah benar-benar hilang.

Tubuhnya tergeletak, rusak, hampir tak dikenali. Tapi yang membuat banyak orang terdiam bukan hanya kondisinya… melainkan apa yang terjadi setelahnya. Warga mengikat jasad itu, mengaraknya dengan motor, dan menyeretnya keliling kampung. Detik-detik itu direkam, diunggah, dan seketika meledak di media sosial.

Netizen terbelah:
“Ini penyiksaan.”
“Ini penghakiman.”
Tapi tidak ada yang benar-benar tahu bagaimana semuanya bermula.

Bagi warga Tompobulu, nama Ali bukan sekadar kenangan buruk—ia adalah luka lama yang tidak pernah sembuh. Pelaku pelecehan terhadap adik tirinya 15 tahun silam. Kabur. Lalu bertahun-tahun kemudian keluar-masuk penjara karena pencurian, termasuk kasus Rp80 juta di Cikoro yang membuatnya mendekam dua tahun.

“Keluar, berulah lagi,” kata Enal, warga setempat, seakan mengucap sesuatu yang sudah lama menekan dada mereka. “Meresahkan… sudah sering dipenjara.”

Camat Tompobulu, Muhammad Akbar Tola, menegaskan seluruh rekam jejak itu. Pendek, padat, dan seolah enggan menyebut lebih banyak: “Iya, itu semua benar.” Ia mengaku melihat kondisi tubuh Ali. Satu kalimatnya menggantung panjang, lebih gelap daripada malam itu sendiri:
“Dicabik-cabik… bahkan kemaluannya dipotong.”

Dari pihak kepolisian, muncul satu pemicu yang membuat semuanya meledak: dugaan pemerkosaan yang kembali menyeret nama Ali. Warga tak menunggu laporan, tak menunggu proses, tak menunggu negara.

Dan di titik itu, pertanyaan besar menghantam siapa pun yang menonton video kejadian:
Ketika warga merasa negara tak hadir, bolehkah mereka mengambil alih peran hukum?

Di media sosial, sebagian menyebutnya balasan yang “setimpal.” Sebagian lain menilai ini bentuk “anarki yang lahir dari trauma bersama.” Tetapi di kampung itu sendiri, kesaksian warga dan pejabat lokal mengarah pada satu hal:

ketakutan bertahun-tahun yang akhirnya pecah menjadi amuk.

Polisi kemudian datang. Ipda Muhammad Alfian menyebut peristiwa bermula dari laporan pemerkosaan, tetapi kronologi lengkapnya masih ditelusuri. Hukum mulai bergerak… setelah semuanya terlanjur melewati batas yang tidak bisa ditarik kembali.

Di Tompobulu, hari itu, keadilan tidak jatuh dari palu hakim.
Keadilan lahir dari jalanan kampung—dari tambang plastik, motor yang meraung, dan kemarahan yang begitu lama dibiarkan mengendap.

Dan hingga kini, satu pertanyaan masih menggantung:
Apakah ini bentuk pembelaan diri suatu kampung… atau tanda bahwa hukum sudah kehilangan kepercayaan?

Address

Bojonegoro

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Iwan ora wani posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Iwan ora wani:

Share

Category