03/03/2026
Namanya Arga. Sejak kecil ia jatuh cinta pada kata-kata. Di sudut kamarnya yang sederhana, ditemani secangkir kopi dan buku catatan usang, ia menulis tentang hidup, tentang luka, tentang harapan.
Bertahun-tahun ia menyusun naskah pertamanya. Ia kirimkan ke beberapa penerbit. Ia menunggu dengan degup jantung penuh doa.
Namun jawaban yang datang terasa seperti hujan di musim kemarau—dingin dan menyakitkan.
“Maaf, naskah Anda belum sesuai.”
“Tema seperti ini kurang menarik pasar.”
“Coba buat yang lebih komersial.”
Kalimat-kalimat itu sederhana, tapi bagi Arga, rasanya seperti menampar mimpinya sendiri. Suatu malam, ia menutup laptopnya pelan. Matanya basah. Untuk pertama kalinya, ia berpikir untuk berhenti menulis.
“Apa mungkin mereka benar? Mungkin tulisanku memang tidak berarti,” bisiknya.
Beberapa hari ia tak menyentuh naskahnya. Buku catatan yang biasanya penuh coretan kini terdiam di meja. Rumah terasa lebih sunyi dari biasanya.
Sampai suatu sore, ibunya masuk ke kamar dan duduk di sampingnya. Tanpa banyak kata, ibunya menyerahkan sebuah map berisi kertas-kertas lama—cerita-cerita Arga sejak SMP.
“Kamu ingat ini?” tanya ibunya lembut.
“Dulu kamu menulis bukan untuk diterima siapa-siapa. Kamu menulis karena kamu bahagia.”
Tak lama, adiknya ikut menyela, “Aku s**a ceritamu, Bang. Teman-temanku juga. Jangan berhenti cuma karena orang lain belum mengerti.”
Saat itu Arga sadar, mungkin bukan mimpinya yang salah—hanya belum menemukan tempat yang tepat.
Dengan hati yang masih rapuh tapi mulai hangat, ia membuka kembali naskahnya. Ia revisi. Ia perbaiki. Ia kirim lagi—kali ini ke penerbit yang memang dikenal mendampingi dan menghargai penulis, bukan sekadar mengejar tren.
Beberapa minggu kemudian, sebuah email masuk.
Naskahnya diterima.
Bukan hanya diterima, tapi juga diapresiasi. Ia diajak berdiskusi, dibimbing, dan dihargai sebagai penulis, bukan sekadar angka penjualan.
Arga menangis lagi. Tapi kali ini bukan karena putus asa—melainkan karena haru. Ia memeluk ibunya, tersenyum pada adiknya, dan berbisik, “Terima kasih sudah tidak membiarkanku menyerah.”
Karena setiap mimpi pantas diberi ruang untuk tumbuh.
Jika kamu juga punya naskah yang pernah diremehkan, jangan buru-buru menyerah. Bisa jadi kamu hanya belum bertemu rumah yang tepat untuk karyamu.