Taufik Abinawa

Taufik Abinawa Halaman ini untuk berbagi video konten, novel dan juga cerita serta nasihat-nasihat kehidupan

“Pokoknya kamu harus nikah dengan umar”, perintah ibu tegasSuara tuanya terdengar bergetar namun penuh penekanan“Tapi di...
10/09/2024

“Pokoknya kamu harus nikah dengan umar”, perintah ibu tegas
Suara tuanya terdengar bergetar namun penuh penekanan
“Tapi dia adikku bu”, jawab Asih sambil terisak mencoba membantah
Asih yang terbiasa menjadi anak penurut kali ini nalurinya tidak bisa lagi menerima, harus menikah dan hidup bersama sebagai suami istri dengan adiknya sendiri membayangkannya saja rasanya tidak sanggup
“Bagaimana mungkin aku bisa menikah dengan adikku sendiri bu”, Asih masih berusaha menolak keinginan ibunya, sejenak dia melirik umar yang duduk dikursi sampinya hanya diam tidak mengeluarkan sepatah katapun untuk menolak perintah ibu menikah dengannya
“Kenapa umar diam saja?”
“Apa dia mau menerima dan mau menikah denganku?”, batin Asih menduga-duga
https://s.shopee.co.id/6AS7vd9OFz

“Sudah kamu jalani saja dulu”, ucap ibu tak terbantahkan kemudian berdiri dengan kaki tuanya berjalan pelan menuju kamar meninggalkan Asih dan umar yang terdiam hanyut dalam perasaan mereka masing-masing
“Kamu mau menerima perjodohan ini”, tanya Asih membuyarkan lamunan umar, pertanyaan yang begitu terasa sangat mengintimidasi
Sebagai lelaki walaupun usia Asih 2 tahun lebih tua darinya namun dimata umar Asih memang terlihat menawan, balutan jilbab yang senantiasa menghiasi wajahnya begitu anggun dan meneduhkan, sifat keibuannya membuat nyaman siapa saja yang berada disampingnya
https://s.shopee.co.id/2VYpYzGBKq

Tapi walau seperti itu bukan berarti umar bisa menerima perjodohan ini begitu saja, bagaimapun Asih dan umar sejak kecil sudah hidup bersama saling melindungi satu sama lain sebagai adik kakak
“Aku ngga bisa membantah ibu mbak”, umar tidak punya kata-kata lain untuk menjawab pertanyaan kakaknya yang begitu mengintimidasinya
Asih kesal mendengar jawaban umar yang seperti tidak punya pendirian sama sekali, sebagai lelaki ia terlihat sangat lemah karena menerima perjodohan yang sangat diluar nalar logika ini begitu saja
“Kamu itu laki-laki umar, harusnya kamu lebih berani bersikap tidak hanya diam saja seperti ini”, Asih mulai agak meninggikan suaranya kesal
“Aku memang menyayangimu tapi bukan sebagai suami melainkan sebagai adik”, lanjut Asih mempertegas sikapnya tidak setuju dengan perjodohan ini
Asih berharap dengan sikapnya ini umar bisa lebih tegas untuk menolak perjodohannya dengan Asih dan tidak menerima begitu saja perjodohan yang dilakukan oleh ibunya
https://s.shopee.co.id/8pSt6gzFs7

Beli [COD] Parfum laundry murah - wanginya tahan lama - pelicin dan pengharum baju anti apek anti jamur Terbaru Harga Murah di Shopee. Ada Gratis Ongkir, Promo COD, & Cashback. Cek Review Produk Terlengkap

Walau pesantrennya secepat kilat yang hanya sesaat menyilaukan mata ditengah gelapnya mendung dan hujan yang mengguyur d...
16/04/2023

Walau pesantrennya secepat kilat yang hanya sesaat menyilaukan mata ditengah gelapnya mendung dan hujan yang mengguyur daratan,
Namun gemuruhnya akan terus menggelegar menggulung hingga ke ujung dunia

10/04/2023

"TERPAKSA MENIKAH DENGAN ADIKKU"

“Pokoknya kamu harus nikah dengan umar”, perintah ibu tegas
Suara tuanya terdengar bergetar namun penuh penekanan
“Tapi dia adikku bu”, jawab Asih sambil terisak mencoba membantah
Asih yang terbiasa menjadi anak penurut kali ini nalurinya tidak bisa lagi menerima, harus menikah dan hidup bersama sebagai suami istri dengan adiknya sendiri membayangkannya saja rasanya tidak sanggup
“Bagaimana mungkin aku bisa menikah dengan adikku sendiri bu”, Asih masih berusaha menolak keinginan ibunya, sejenak dia melirik umar yang duduk dikursi sampinya hanya diam tidak mengeluarkan sepatah katapun untuk menolak perintah ibu menikah dengannya
“Kenapa umar diam saja?”
“Apa dia mau menerima dan mau menikah denganku?”, batin Asih menduga-duga
“Sudah kamu jalani saja dulu”, ucap ibu tak terbantahkan kemudian berdiri dengan kaki tuanya berjalan pelan menuju kamar meninggalkan Asih dan umar yang terdiam hanyut dalam perasaan mereka masing-masing
“Kamu mau menerima perjodohan ini”, tanya Asih membuyarkan lamunan umar, pertanyaan yang begitu terasa sangat mengintimidasi
Sebagai lelaki walaupun usia Asih 2 tahun lebih tua darinya namun dimata umar Asih memang terlihat menawan, balutan jilbab yang senantiasa menghiasi wajahnya begitu anggun dan meneduhkan, sifat keibuannya membuat nyaman siapa saja yang berada disampingnya
Tapi walau seperti itu bukan berarti umar bisa menerima perjodohan ini begitu saja, bagaimapun Asih dan umar sejak kecil sudah hidup bersama saling melindungi satu sama lain sebagai adik kakak
“Aku ngga bisa membantah ibu mbak”, umar tidak punya kata-kata lain untuk menjawab pertanyaan kakaknya yang begitu mengintimidasinya
Asih kesal mendengar jawaban umar yang seperti tidak punya pendirian sama sekali, sebagai lelaki ia terlihat sangat lemah karena menerima perjodohan yang sangat diluar nalar logika ini begitu saja
“Kamu itu laki-laki umar, harusnya kamu lebih berani bersikap tidak hanya diam saja seperti ini”, Asih mulai agak meninggikan suaranya kesal
“Aku memang menyayangimu tapi bukan sebagai suami melainkan sebagai adik”, lanjut Asih mempertegas sikapnya tidak setuju dengan perjodohan ini
Asih berharap dengan sikapnya ini umar bisa lebih tegas untuk menolak perjodohannya dengan Asih dan tidak menerima begitu saja perjodohan yang dilakukan oleh ibunya
Dalam hati kecil sebenarnya Asih khawatir dengan kondisi kesehatan ibu yang semakin hari terlihat semakin memburuk, namun sekarang ia tidak lagi punya pilihan baginya lebih baik menikah dengan orang yang tidak ia kenal sama sekali sebelumnya daripada harus menikah dengan umar adiknya sendiri
“Aku ngga punya pilihan mbak, aku juga sebenarnya tidak mau dijodohkan seperti ini tapi aku ngga bisa menolak permintaan ibu yang sudah sangat berjasa dalam hidupku”, sergah umar membuat Asih semakin kesal kepadanya
“Tetap saja kamu harus tegas jangan menggantung seperti ini”, hardik Asih tegas kemudian masuk kekamarnya meninggalkan umar sendiri diruang tengah
Di dalam kamar Asih mencoba memejamkan mata berharap pikirannya yang ruwet bisa sedikit terurai, belum sempat matanya terpejam terdengar suara orang mengetuk pintu dari luar dan mengucapkan salam
Suara yang tidak asing ditelinganya, dengan malas Asih bangkit dari tempat tidur dan benar saja santi tetangga depan rumah yang datang, sementara Umar sudah tidak lagi terlihat diruang tengah
“Kamu kenapa sih mukamu kok kusut gitu”, tanya santi langsung setelah melihat wajah Asih yang tidak seperti biasanya begitu ceria dan murah senyum kepada siapa saja
Asih yang terlihat malas memaksakan diri tersenyum demi menghargai teman karibnya itu, “Ngga apa-apa lagi ngga enak badan saja”
“Ada apa kamu kesini”, tanya Asih langsung tanpa basa-basi karena malam ini pikirannya benar-benar kalut dan butuh waktu untuk sendiri
Santi yang biasanya menjadi tempatnya berbagi cerita mencurahkan segala isi hatinya kali ini rasanya berbeda Asih merasa benar-benar ingin sendiri
“Kamu ini, tamu ngga disuruh duduk malah langsung ditanya”, sergah santi kesal dan langsung duduk sendiri dikursi tamu
Asih hanya menghela nafas panjang mencoba mengurangi kepenatan pikirannya, iapun duduk disamping santi yang sudah mulai ngomong ngga jelas, suasana hati Asih yang sedang tidak mood tidak tertarik sama sekali dengan cerita santi
“Besok aku sudah harus berangkat”
Degh,
Kata terakhir dari santi berhasil mengganggu pikirannya, “berangkat kemana”, tanya Asih bingung karena tadi dia sibuk melamun dan tidak mendengarkan cerita santi
“Kamu ini”, santi mendengus kesal
“Besok aku harus ke Jakarta untuk mengurus persyaratan kerja ke luar negeri”
“Kerja ke luar negeri?”, batin Asih semakin tak karuan karena teman yang biasa menjadi tempatnya mencurahkan isi hati dan keluh kesah sekarang juga harus pergi jauh darinya
“Bagaimana kalau aku ikut kamu saja”, ucap Asih membuat santi kebingungan, dari awal dia datang dia sudah menduga ada yang tidak beres dengan diri Asih namun dia belum tahu apa penyebabnya karena Asih sendiri belum menceritakan kepadanya
“Ikut kemana?”, tanya santi memperjelas maksud ucapan Asih
“Kerja keluar negeri”, jawab Asih pelan namun terdapat banyak arti didalamnya, antara rasa gamang tidak yakin dengan niatnya namun seakan tidak ada lagi pilihan lain, ia seakan berada diujung jalan buntu
“Haah”
Jawaban Asih cukup mengagetkan santi, ia tidak habis pikir untuk apa Asih ikut kerja ke luar negeri sementara usaha jasa jahitnya dirumah juga sudah cukup maju dengan langganan hampir sebagian besar penduduk kampung
“Kamu jangan bercanda Sih, buat apa kamu ikut kerja keluar negeri? Kalau aku memang ngga punya pilihan lain suamiku kamu tahu sendiri kerjanya serabutan ngga jelas kalau aku ngga kerja ke luar negeri bagaimana masa depanku nanti”, santi masih tidak yakin dengan keputusan Asih ikut kerja keluar negeri, ia khawatir Asih akan menyesal dikemudian hari
“Sudah kamu ngga usah banyak tanya, pokoknya besok saya ikut kamu”, ucap Asih walau pelan namun terlihat seakan tidak ada keraguan lagi dalam diri Asih
“Kamu yakin sih?”, santi masih mencoba meyakinkan Asih, ia benar-benar khawatir dengan kondisi Asih, puluhan tahun mengenalnya santi bisa tahu kalau Asih sekarang sedang tidak baik-baik saja
Asih menganggukan kepalanya memberi tanda kalau ia sudah yakin dengan keputusannya ini, kepalanya masih tertunduk menghadap kebawah ia sudah tidak lagi punya semangat untuk menjalani hari-harinya kedepan
“Ya sudah kalau gitu saya pulang dulu besok jam 7 pagi kita berangkat ke terminal bareng”, santi pamit pulang dengan membawa banyak pertanyaan tentang Asih, ia berharap sahabatnya itu akan baik-baik saja
Setelah santi pulang Asih langsung masuk ke kamar dan memasukan pakaiannya kedalam koper, pikirnya yang terpenting sekarang dia harus pergi dari rumah ini, ia tidak mungkin sanggup menikah dengan umar apapun alasannya dan walau ibunya sendiri yang memintanya

ROMANCE
by: Taufik Abinawa

Address

Dk. Temukerep RT 05 RW 08 Larangan
Brebes
52262

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Taufik Abinawa posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share