nahda

nahda bismillah

BAU PARFUM SIAPA DI BAJU MAS AMIR?Selama perjalanan p**ang kembali ke pabrik, pikiran Naomi tidak tenang, dia terus saja...
17/11/2024

BAU PARFUM SIAPA DI BAJU MAS AMIR?

Selama perjalanan p**ang kembali ke pabrik, pikiran Naomi tidak tenang, dia terus saja bertanya-tanya dalam hati kemana perginya sang suami di jam makan siang. Yang membuatnya tidak habis pikir kenapa juga harus berbohong, bukan hanya pada dirinya namun juga pada teman-temannya.

Hingga sore hari Naomi tidak bisa bekerja dengan baik, beruntung pekerjaan di dalam pabrik tidak terlalu banyak, sehingga dirinya tidak mendapatkan kesulitan apapun.

Seperti biasa Naomi akan p**ang usai mengambil Shakira di tempat mertuanya, sesampainya di rumah Naomi segera duduk di sofa untuk menghilangkan rasa lelahnya sejenak.

Pandangannya tertuju pada kemeja milik suaminya yang dipakai pagi tadi, kemeja itu tergeletak begitu saja di atas sofa di hadapan Naomi.

"Ini kan kemeja yang dipakai Mas Amir pagi tadi, apa Mas Amir sempat p**ang, untuk apa dia mengganti kemejanya?,"ucap Naomi bertanya pada diri sendiri.

Wanita itu beranjak dari tempatnya duduk, kemudian mengambil kemeja suaminya, Naomi memperhatikan dengan seksama kemeja Amir.

Dia melihat ada bagian yang sangat kusut di beberapa tempat, seperti bekas cengkeraman tangan yang begitu kuat.

Pikirannya kembali dipenuhi dengan banyak pertanyaan, namun tiba-tiba putrinya kembali mendekat.

"Bu, ayo mandi, Shakira sudah nggak betah lengket,"

Naomi segera menghadap ke arah Putri semata wayang, ditampilkannya senyuman manis seperti biasa. Bagaimanapun dia harus tetap tersenyum di hadapan putrinya, meskipun saat ini pikirannya sangat kacau.

"Iya sayang, ayo kita mandi,"

Naomi segera memandikan putrinya, setelah itu barulah dirinya mandi seperti biasa.

Amir p**ang saat Naomi sedang sibuk menyiapkan makan malam, kali ini dia datang terlambat.

"Maaf sayang, aku lembur, tadi nggak sempat kasih kabar,"ujar Amir yang langsung mendekat ke arah Naomi, kemudian memeluk istrinya dari belakang.

Hal itu membuat Naomi dapat mencium aroma tubuh suaminya, namun sayangnya hidungnya justru mendapati bau parfum yang sangat asing.

"Mas, kok parfum kamu baunya lain?,"tanya Naomi.

"Lain apanya dek, jelas-jelas ini bau parfum mas,"ucap Amir.

Pria itu segera menjauhkan tubuhnya dari sang istri, kemudian menghirup aroma tubuhnya sendiri.

Merasa apa yang dikatakan oleh Naomi benar, Amir segera menghindar dan pergi ke arah kamar.

Naomi kembali dibuat kecewa, jelas-jelas dia mencium aroma parfum lain pada tubuh suaminya. Namun Amir justru mengelak, membuatnya semakin curiga.

Tidak ingin kembali bertengkar dengan suaminya, Naomi memilih mengabaikan perasaan curiganya.

Seperti biasa dia akan melayani suaminya dengan baik, baik itu di atas ranjang, ataupun di meja makan.

Pagi harinya Naomi memilih pergi ke pasar, hari ini adalah hari libur.

Naomi ingin berbelanja kebutuhan dapur yang sudah habis, dan memilih pergi ke pasar tradisional.

"Loh, mbak Naomi ke pasar juga?,"tanya seseorang tiba-tiba.

Naomi melihat ke arah seseorang yang bertanya, dan ternyata itu adalah Riana.

"Eh mbak Rania, Iya nih, stok bahan di rumah sudah habis, mumpung libur jadi, ya ke pasar aja,"sahut Naomi.

Rania tersenyum ramah, kemudian wanita itu berpamitan untuk kembali berbelanja.

Namun saat melewati Naomi, tanpa sengaja Naomi menghirup aroma parfum yang sama, yang pernah didapatinya dari tubuh Amir.

"Tidak, tidak mungkin dia, Mas Amir tidak mungkin...,"

Naomi menggelengkan kepalanya cepat, dia ingin mengusir segala pikiran buruk yang terdapat di dalam nya.

KEKASIHKU SUAMI ORANG Seperti biasa malam hari nya Surya menghubungi Safa sekedar menghilangkan rasa rindu, karena beber...
01/01/2024

KEKASIHKU SUAMI ORANG

Seperti biasa malam hari nya Surya
menghubungi Safa sekedar menghilangkan rasa rindu, karena beberapa hari ini mereka tidak bertemu.

"Dek. Mas nggak sabar pengen ketemu kamu, tapi ya gimana lagi dek, kerjaan mas banyak banget.mas pikir mending mas kerjain sekarang, daripada pas kita nikahan mas dikejar-kejar sama kerjaan"

Ucap Surya, mencurahkan isi hatinya kepada Safa.

"Ia, mas. Safa juga kangen sama mas Surya. tapi kita sabar aja dulu mas, kan tinggal tunggu beberapa hari lagi" ucapnya.

Dan masih banyak perbincangan lainnya, yang membuat mereka sedikit terlepas dari rasa rindu yang kian menggebu di hati mereka berdua.

*

Hari ini hari di mana seluruh keluarga sedang mempersiapkan diri. karena, besok adalah hari yang sakral bagi Safa dan juga Surya.

Sejak dua hari yang lalu, pria itu sulit sekali untuk dihubungi. Ponselnya sering tidak aktif, namun Safa memakluminya, karena Surya akhir-akhir ini begitu sibuk dengan pekerjaannya.

Para keluarga dari ayah dan ibunya semua sudah berada di rumah Shafa. layaknya orang dari satu daerah, mereka akan mengadakan pesta pernikahan di rumahnya sendiri, tanpa menyewa tempat ataupun gedung.

Rumah pak Irawan sudah dihias sedemikian rupa, tenda pun nampak begitu besar, untuk menampung para tamu undangan yang akan menghadiri pesta pernikahan putrinya besok.

Sedangkan Safa. saat ini sedang mendapatkan perawatan khusus dari tangan ahlinya.

Safa berada di dalam kamarnya bersama Hani, karena seseorang dari salon yang bertugas membuat perawat pada Safa , saat ini sedang memakaikan lulur, pada seluruh tubuh wanita itu.

" Harus banget ya, kalau mau nikah perawatan kayak gini? "Ucap Hani, sambil menatap Safa yang seluruh tubuhnya sudah menggenakan lulur.

Safa menanggapi ucapan Hani dengan kekehan, wanita itu sangat mengerti perasaan sahabatnya.

Hani bahkan tidak pernah memperlihatkan rambutnya, meskipun di hadapan Safa, wanita itu benar-benar menjaga dirinya dari pandangan orang-orang di sekitarnya, termasuk Safa.

"Terserah Bu ustadzah lah, mau kasih yang spesial buat calon suami, atau mau kasih yang biasa-biasa aja "jawab pegawai salon yang berjenis kelamin wanita itu, menanggapi ucapan Hani.

Mendengar perkataan pegawai dari salon itu, Hani pun mencebik.

Namun, saat mereka sedang asyik mengobrol dan bercanda, terdengar teriakan dari luar kamar.

"Ada apa ya? kok kayak ada yang manggil-manggil? "ucap Safa.

" Safa, Safa "

Benar saja, suara seseorang memanggil Safa terdengar semakin mendekat, ke arah kamarnya.

Kemudian pintu diketuk dari luar.

"Hani, tolong bukakan pintu"Safa meminta minta tolong kepada sahabatnya.

Hani pun mengangguk, kemudian wanita itu berjalan ke arah pintu dan segera membukanya.

"Safa ada seorang wanita datang untuk mencarimu, Dia bilang katanya ini sangat penting "

Tanpa menyapa Hani yang membukakan pintu,adik dari ayahnya Safa langsung masuk, dan berbicara kepada Safa.

Dahi Safa nampak berkerut, wanita itu sepertinya sedang berpikir keras. siapakah yang ingin bertemu dengannya, di saat dirinya sedang seperti ini.

"Maaf Tante, sepertinya aku tidak mungkin keluar, jika memang tamunya seorang wanita. bagaimana jika Aku meminta tolong pada Tante, untuk membawanya masuk ke sini saja"pinta Safa, pada tantenya.

"Oh. ya sudah "ucap tantenya Safa dengan nada ketus, kemudian wanita itu pergi meninggalkan kamar Safa.

"Kira-kira siapa ya, yang mau ketemu sama aku ? "ucap Safa,kepada Hani. saat ini Hani sudah duduk di samping Safa.

"Aku mana tahu Safa, kamu mungkin lupa sudah buat janji sama orang? "Ucap Hani mencoba mengingatkan Safa.

"Beneran Hani. Aku itu nggak bikin janji sama orang manapun, karena ini waktunya udah nggak memungkinkan, aku buat ketemu sama orang-orang dari luaran "jelas Safa pada Hani.

Menurut Hani cukup masuk akal, karena tidak mungkin Safa membuat janji di saat dirinya sudah merasa repot, dengan persiapan pernikahannya.

Terdengar langkah seseorang semakin mendekat ke arah kamar, dan tidak berselang lama pintu kamar kembali terbuka. Hani dan Safa terpaku,menatap siapa yang masuk ke dalam kamarnya.

"Anda?" Ucap Hani pada wanita itu.

Wanita itu melihat wajah Hani,lalu bergantian melihat Safa.

"Ia maaf.saya mengganggu waktu kalian "ucap wanita itu. suaranya terdengar begitu menyejukkan hati.

"Ah tidak masalah Mbak, silakan duduk. Apa mungkin kemarin waktu kami menabrak Anda, anak Anda atau Anda terluka? " Kali ini Safa yang berbicara.

"Tidak. Aku dan putraku baik baik saja, kedatangan Aku ke sini, hanya ingin berbicara dengan yang bernama shafaatun nisa" ucap wanita itu.

Safa dan Hani saling pandang, mereka berdua masih dalam kebingungan. mengapa tiba-tiba wanita ini ingin berbicara dengan Safa, itulah yang saat ini kedua wanita cantik itu pikirkan.

"Silakan duduk Mbak, saya adalah Safa "ucap Safa. sambil mengulurkan tangan, untuk memperkenalkan diri.

"Nama saya, indah"ucap wanita yang bernama indah, sambil membalas uluran tangan Safa.

"Bisa kita bicara, berdua saja ? " Ucap indah, meminta kepada Safa.

Safa semakin dibuat bingung. namun, dia tidak mungkin berbicara berdua saja, bersama dengan orang yang menurutnya asing bagi dirinya.

"Maaf mbak Indah. sepertinya tidak bisa, kalau Anda mau. biarkan teman saya di sini bersama kita "Safa keberatan, jika mereka hanya berbicara berdua. Karena wanita itu tidak tahu apa yang akan dibicarakan oleh indah nantinya.

Indah terlihat berpikir, kemudian wanita itu menatap seorang petugas dari salon, yang masih berdiri di sana.

Safa mengikuti arah pandang wanita itu, kemudian dia mengerti.

"Mbak, bisa tolong tinggalkan kami bertiga saja?" Pinta Safa pada pegawai salon itu.

"Tentu saja "setelah mengatakan itu petugas salon pun keluar dari kamar Safa, Hani berjalan ke arah pintu dan segera menutup pintu kamar Safa.

" Kita sudah bertiga. silakan apa yang ingin Anda bicarakan kepadaku? "Ucap Safa, mengawali perbincangan mereka.

Sejenak wanita yang bernama indah itu terdiam. seperti sedang mengumpulkan sebuah keberanian, untuk berbicara kepada Safa.

"Begini Safa, saya adalah istri dari Surya Pratama, pria yang akan menjadi suamimu nanti "ucap indah.

" duaaaarrrrr"

Bagai disambar petir, saat ini tubuh Safa seakan kaku tidak dapat digerakkan, saat mendengar perkataan wanita yang mengaku sebagai istri Surya.

29/12/2023

SUAMIKU TAK SEBAIK ITU

("sayang,hari ini aku lembur, jangan menunggu ku p**ang")

itu adalah hari ke sekian kalinya, mas Refan mengatakan lembur.

sudah dua tahun kami menikah, selama itu p**a tak pernah sekalipun mas Refan bekerja lembur hingga larut malam. namun, entah mengapa ahir ahir ini dia sering lembur, bahkan terkadang dia tidak p**ang dengan alasan tertidur di kantor.

bukan tidak percaya,hanya saja kemana uang yang dia bilang lembur itu, sedangkan aku selalu mendapat jatah bulanan yang sama,yakni dua juta. itupun hanya untuk kebutuhan dapur dan rumah, sedangkan untuk kebutuhan pribadi ku, aku harus mengunakan uang tabunganku sendiri.padahal dulu aku ingin tetap bekerja setelah menikah, tapi mas Refan selalu melarang, dengan dalih. wanita tidak perlu banting tulang, biar aku saja yang bekerja.

Kadang aku bingung,bukankah gaji mas Refan besar, kenapa aku hanya di beri jatah dua juta saja.

bukanya Aku tidak bersyukur, hanya saja kemana uangnya, sedangkan kami tidak punya cicilan dalam bentuk apapun.

Mobil yang di kendarai mas Refan,itu kami beli sewaktu masih pacaran,dan rumah yang kami tempati adalah, rumahku, rumah peninggalan orang tua ku.

"ya mas, jangan lupa makan"

itu adalah chat balasan yang aku kirim.

"Alena ibu mau pergi ke rumah sodara, kamu jaga rumah ya, jangan keluyuran inget, suami lagi kerja ngga usah banyak gaya" ucap ibu sari, membuyarkan lamunan Alena.

"ya Bu, lena ngerti kok" setelah kepergian mertuanya, Alena bergegas melanjutkan pekerjaan rumahnya yakni mencuci baju, menyetrika membersihkan lantai. namun, saat dirinya hendak mencuci baju.

tak sengaja tangannya menemukan sebuah struk belanja di dalam saku celana suaminya. seketika dahinya berkerut.

"apa ini? Dress, bra dan tas."

Alena semakin bingung di buat nya, dia berfikir ini tidak mungkin milik orang lain, sedangkan dia mendapatkan di saku celana suaminya. Otaknya perlahan mulai berfikir,apakah selama ini suaminya berbohong?.

"Aku akan simpan ini, dan mencari tau sendiri kebenarannya"

Alena bergumam sambil menyimpan struk ke dalam tas miliknya.

jam menunjukan pukul tiga sore, namun ibu mertuanya tak kunjung p**ang.

"apakah aku harus memastikan kecurigaan ku ini sekarang?"

Alena bertanya pada diri sendiri, setelah berfikir beberapa saat, akhirnya dia memutuskan menyusul suaminya ke kantor secara diam-diam, sebelum jam p**ang tiba.

Setelah tiga puluh menit berkendara dengan motor kesayangan nya, akhirnya sampailah dia di depan gedung perusahaan tempat suaminya bekerja.

dulu dia juga bekerja di tempat yang sama dengan Refan, Untuk itulah mengapa dia tau seberapa besar gaji suaminya.

namun,ketika dia bertanya Refan selalu bilang, kebutuhan pribadi dia dan ibunya lebih banyak ketimbang kebutuhan nya.kalau sudah begitu Alena hanya bisa menarik nafas panjang,enggan berdebat.

Lima belas menit dia menunggu, akhirnya jam kantor pun usai.

para karyawan satu persatu keluar dari dalam gedung, tak terkecuali Refan. Alena segera menjalankan motornya, setelah mobil milik suaminya keluar dari pelataran gedung. perlahan mobil yang di kemudikan Refan masuk ke sebuah cafe.

Membuat Alena bingung, namun tak membuat niatnya urung. Alena memilih duduk di kursi agak jauh dari Refan, pikirannya masih positif.

mungkin lembur, bertemu clayen di luar kantor.

Namun tak lama kemudian, ia melihat pemandangan yang sangat mengejutkan, suaminya berpelukan dengan seorang wanita yang belum pernah dia lihat.

seketika air mata mengalir tanpa bisa dicegah,hatinya hancur saat melihat wanita asing itu bergelayut manja pada tubuh suaminya.

dia tidak percaya apa yang sedang di lihatnya, suami yang selalu mengucapkan kata cinta bahkan setiap hari, selalu bersikap lembut penuh kasih sayang padanya, selalu membelanya jika sedang di marahi ibunya. Benarkah itu adalah dia, suaminya? dadanya tiba-tiba terasa sesak ,untuk sekedar bernafas.

Alena berkali kali mencoba meyakinkan diri,

bahwa itu bukan suaminya dan berharap hanyalah sebuah mimpi.

Masih terus mengikuti dua sejoli yang tidak halal itu pergi, tak lama mobil Refan berhenti di depan sebuah rumah. mereka turun berdua bak sepasang suami istri, Alena masih dapat mendengar pembicaraan merka

"makasih ya sayang kamu udah usahain buat nginep di rumah kita"

ucap wanita yang belum di ketahui namanya oleh Alena,sambil memeluk lengan refan dengan manja.

"ia sayang, apa sih yang nggak bisa buat istri tercinta ku"

lemas sudah tubuh Alena, saat mendengar kata rumah kita dan istriku. apakah selama ini uang suaminya di simpan untuk membeli rumah itu, atau mas Refan mencicilnya.

pantas saja, Dia selalu bilang kebutuhan miliknya banyak, lalu apa tadi istri?masih Banyak pertanyaan dalam benak Alena,namun, entah akan ia tanyakan kepada siapa. karena,tidak mungkin dia akan bertanya kepada suaminya.

perlahan Alena menghapus air matanya. dia berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan menangis untuk seorang yang sudah menyakitinya.

jam menunjukan pukul dua dini hari ketika Refan p**ang ke rumah istrinya.

pria itu berjalan sangat pelan, agar tak mengagu tidur sang istri.

Alena yang sebenarnya belum tidur memilih berpura-pura, dia sudah berjanji akan membalas perbuatan suaminya dengan cara yang paling cantik.

Pagi ini Alena tidak menyiapkan baju ganti untuk Refan, atau membuat kan sarapan untuk suami dan mertuanya.

dia memilih joging keliling komplek, saat dia baru saja masuk, tidak sengaja mendengar pembicaraan Refan dan ibunya.

"udah lah Refan, mendingan kamu ceraikan saja Alena, lagi p**a kamu sudah ada Ratih"

Ucap Bu Sari.

"Ngga bisa gitu d**g Bu, nanti ,sabar sedikit lagi ,setelah Alena memberikan surat rumah ini Bu,kan lumayan bisa kita jual buat lunasin rumah yang di tinggali Ratih."

Jawab Refan.

"Oh ternyata seperti ini wajah mas Refan yang sebenarnya, lihat saja mas apa yang akan aku lakukan padamu nanti"

ucap Alena dalam hatinya.

Alena sengaja menutup pintu agak keras, agar mereka menyadari kehadirannya dan mengembangkan senyum yang di buat semanis mungkin, agar ibu dan anak itu tidak curiga bahwa Alena sudah mendengar pembicaraan merka.

"Pagi mas, maaf aku tidak menyiapkan baju dan sarapan"

ucapnya sambil duduk di sebelah suaminya

" ah iya, tumben sekali. kamu kenapa, lupa?"

Refan bertanya, sambil menyentuh kepala istrinya yang tertutup oleh hijab,untuk mengalihkan persaan yang tiba tiba gugup, karena takut Alena mendengar pembicaraan merka.

Ibu Sari menatap sinis kepada Alena

"aku nggak lupa kok mas, hanya saja sedang tidak ingin"

jawaban Alena, membuat kedua orang itu menatap heran.

"ah, dasar pemalas.kerjaannya cuma ngabisin uang suaminya saja, ngurusin orangnya nggak mau"

29/12/2023

MALAM NAAS

“ lepaskan aku tuan, aku mohon, Aku tidak mengenal Anda, kenapa Anda melakukan ini padaku," ucap fira, dengan sisa tenaga yang ada, dia mencoba memberontak dari kukungan pria yang tidak dia kenal. Air matanya mengalir tanpa henti, tangan mungil itu tidak bisa berbuat banyak.Exel Feed. Pria yang saat ini sedang dalam pengaruh obat laknat, dia seakan tuli dengan tangisan fira yang tidak berhenti, pria itu terus saja melakukan aktivitas nya, seakan enggan sedikit pun untuk melepaskan wanita di bawah sana, hingga saat dia memasuki area sensitif fira, Exel terhenyak sesaat, saat merasakan wanita di bawahnya masih virgin, dia menghentikan aktivitas sesaat, ingin rasanya dia menyudahi semua itu, apalagi saat melihat wanita di bawahnya menangis. Tubuhnya di kuasai oleh obat dengan dosis tinggi, dia tidak bisa menahan gejolak yang sedang terjadi di dalam tubuhnya. Excel melanjutkan aktivitas nya, tubuhnya seakan menghianati hatinya, dalam hati merasa tidak tega melihat wajah fira yang memohon, hingga dia mencapai nirwana dan pada akhirnya dia tertidur p**as tanpa memperdulikan bagaimana keadaan Safira. “ Aoww. Aduh, ini sangat sakti,” ucap fira, saat merasakan organ intim nya terasa sangat sakti, dia mencoba untuk berjalan ke arah kamar mandi, langkah nya tertatih menuju tempat persegi itu. “ Vian, maaf kan aku, aku tidak pantas untuk mu,aku kotor,” fira menangis di tengah guyuran air shower, dia teringat akan kekasih hati nya. “ Tapi di mana Vian, biasanya bila ada pekerjaan yang berbahaya dia selalu menggantikan ku, apa dia baik-baik saja?,” Fira bertanya kepada dirinya sendiri. Setelah selesai membersihkan tubuhnya, fira bergegas keluar, sebelum dia pergi dia kembali melihat wajah pria tampan yang telah merenggut kesucian nya, dalam keadaan tidak sadar.

Fira berjalan menuju pintu keluar, dia tidak ingin menoleh lagi, saat membuka pintu, di luar ada dua orang bodyguard yang sedang berjaga, mereka melihat ke arah fira penuh selidik, seakan tau dengan tatapan keduanya, fira segera bersuara.

“ Aku sudah izin p**ang, kalau tidak percaya kalian bisa tanyakan sendiri pada Bos di dalam, tapi, dia bilang mau tidur dan tidak ingin di ganggu,” fira sedang mencoba memperdaya kedua pria berbadan kekar itu, fira tau mereka tidak mungkin berani masuk ke dalam di saat tuanya sedang tidur.

Kedua bodyguard itu membiarkan fira pergi.fira berjalan dengan langkah kaki yang masih menahan perih di area sensitif nya, dia berjalan menuju tempat di dia dan Vian Bekerja.

Jam menunjukkan pukul dua dini hari, dia bergegas ke arah beartender, di sana ada Miko, dia salah satu sahabat fira, pria itu tersenyum saat melihat fira mendekat.

“ kamu belum p**ang, ini udah mau pagi lho,?” Tanya Miko pada fira. Gadis itu Bu senyuman Miko, lalu menggeleng lemah.

“ Mik, kamu lihat Vian nggak, aku kok dari tadi sore nggak liat ya,?” Tanya nya pada Miko.

“ Oh, Alvian. malam ini dia of, dia ada di lantai dua, sepertinya dia sedang berpesta,” jelas Miko.fira sempat mengerutkan keningnya, dia terlihat kebingungan, dalam hati berkata, ‘ Apa ia, Alvian sedang berpesta, sehingga dia tidak melindungi dirinya',

“ Makasih ya Mik,” ucapnya. Miko kembali berkata" kamu yakin bakal nyusulin mereka,?" Tanya Miko, sedikit ragu saat pria itu melihat fira akan mencari Vian.fira semakin di buat bingung dengan pertanyaan Miko.

Miko mendekati salah satu teman sesama bartender, lalu dia berjalan mengejar fira.

“ aku akan mengantarmu, di sana sangat berbahaya,” jelas Miko. sebenarnya fira masih bingung, namun ada baiknya, dia menurut pada Miko, dia juga takut terjadi sesuatu pada Vian.

Fira dan Miko berjalan menuju lantai dua, di sana terdapat beberapa ruang VVIP, salah satunya yang di tunjuk oleh Miko.dan itu membuat rasa penasaran fira semakin membuncah, pesta apa yang sedang Vian hadiri.

Pintu terbuka, namun kaki fira seakan tidak mampu bergerak, dia melihat orang yang selama ini dia banggakan dan dia percaya, sedang bercumbu dengan seorang wanita sexi, bahkan wanita itu sedang memainkan kejantanan pria itu.

Perut fira merasa mual melihat pemandangan di depannya, dia merasa jijik, Miko yang faham dengan perasaan fira, pria itu segera mengajak dia pergi, mereka berjalan ke ruangan khusus staf, di sana mereka kembali di buat terkejut.

“ Ini nyonya Mira, saya sudah membayar lunas, gadis bernama Safira, dan tolong katakan pada Alvian, agar dia segera mencari wanita yang seperti fira,” ucap seorang pria yang di kenal sebagai seorang yang mencari wanita bayaran untuk para pria kaya.

“ Baiklah nanti saya sampaikan, terima kasih atas kerja samanya,” ucap wanita yang sering di panggil mami itu.

Aliran darah Safira seakan berhenti, tangannya mencengkram erat tangan Miko, dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.

Derap langkah kaki membuat,fira dan Miko bersebunyi, terlihat wajah Vian dari temaram lampu di lorong itu, Vian masuk ke ruangan mami, dia duduk dengan tenang, seakan sudah terbiasa memasuki ruangan itu.

“ Bagaimana, apa kamu sudah dapat uang nya?,” Tanya vian, pada mami.

“ Baru saja, dia bilang, agar kamu mencari wanita seperti fira lagi, dia akan membayar mahal untuk itu,” mendengar perkataan mami, dia menyeringai.

“ Ini bagian mu,” mami meletakkan beberapa gepok uang di atas meja. “ Apa yang akan kamu lakukan, pada fira selanjutnya?,” Tanya nya lagi.

Vian tersenyum penuh arti," Aku akan menerima dia apa adanya, bukankah kekasih yang baik harus seperti itu?," Setelah mengatakan itu, mereka berdua tertawa.

Di luar, fira mengepalkan tangannya kuat, dia ingin masuk dan melabrak keduanya, namun, Miko menahan gadis itu, lalu membawanya pergi dari sana, Miko membawa fira p**ang ke rumah menggunakan motornya, sepanjang perjalanan fira menangis, Vian pria yang sangat dia sayangi, ternyata dia yang menjual dirinya, rasanya sesak di dalam hati nya, mengingat kebersamaan mereka selama ini.

Motor yang di Kendari Miko, berhenti di depan rumah fira." Sudah cukup nangis nya, dia pria brengsek, rasanya tidak pantas jika terlalu lama di tangisi," ucap Miko, saat fira sudah turun dari motor miliknya.

“ Aku cuma nggk nyangka, kalau dia yang sudah menjual ku,” terangnya.

“ Ya udah, aku masuk ya, terima kasih buat semua,” ucap fira. Miko mengguk, dia melihat fira hilang di balik pintu, tidak lama, saat Miko baru saja akan pergi meninggalkan tempat itu.dia mendengar suara fira berteriak dari dalam rumah.

Miko bergegas masuk ke dalam rumah fira, Untung saja pintu tidak terkunci, dia merangsek masuk ke dalam, pemandangan yang di lihatnya membuat pria itu terkejut, fira sedang memeluk nenek nya dengan bersimbah darah.

Mobil ambulans berhenti di depan rumah sakit, Miko yang mengikuti menggunakan sepeda motor, segera menghampiri fira, brankar membawa tubuh nenek dengan cepat ke ruangan IGD, dokter segera memeriksa, keadaan nenek fira, setelah beberapa saat pintu ruangan itu terbuka, fira dan Miko menghampiri Dokter.

“ Bagaimana Dokter, apa nenek saya baik-baik saja,?” Tanya fira, pada Dokter yang menangani nenek nya.

“ Benturan nya cukup keras, pendarahan yang terjadi tidak hanya di luar, tapi juga di dalam, saya akan mengusahakan yang terbaik,” jelas Dokter pada fira.

Fira masuk ke dalam ruangan itu, terlihat neneknya yang selama ini bersama dirinya, terbaring dengan wajah pucat, air matanya kembali mengalir, kali ini dia menangis tanpa suara, fira mencium kening wanita senja itu, beberapa kali mengusap wajah keriput di makan usia.

27/12/2023

Langkah kaki Safa berhenti,saat Hani menanyakan dirinya yang hendak pergi ke mana. gadis itu kembali melihat ke arah sahabatnya, Hani menatap wajah Safa dengan kebingungan. karena, gadis itu tiba-tiba saja berjalan ke arah lift,sedangkan mereka akan berjalan ke arah skalator,untuk turun dan p**ang kembali ke kota A.

"Ada apa. kenapa kamu jalan ke arah lift? "Tanya Hani pada Safa.

Safa masih melihat ke arah kanan dan kiri, kemudian tatapannya masih tertuju pada lift, yang sudah mulai berjalan ke lantai lima pada bangunan itu.

"Aku sepertinya melihat mas Surya, tapi dia bersama seorang wanita dan dua orang anak kecil "ucap Safa berbicara kepada Hani.

Hani terlihat mengerutkan keningnya, wanita itu bingung dengan penjelasan Safa barusan.

"Mungkin saja dia kakaknya atau saudaranya" ucap Hani mencoba berpikir positif, sepertinya Hani melupakan sesuatu.

"Bukankah aku sudah pernah mengatakan kepadamu, jika mas Surya tidak memiliki keluarga. dia hidup sebatang kara, kamu ingat?" Safa mencoba kembali mengingatkan sahabatnya, karena Hani sudah mengetahui semua tentang Safa dan juga Surya.

Hani terlihat berpikir, kemudian wanita itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Benar juga ya. Safa, coba kamu hubungi ponselnya,kamu tanyakan saat ini mas Surya berada di mana ?"ucap Hani mencoba memberi ide kepada Safa.

Tanpa menunggu waktu, Safa langsung mengambil ponsel miliknya yang saat ini berada di dalam tas, setelah itu dia melakukan apa yang diperintahkan oleh Hani.dicarinya nama surya di dalam ponsel itu, kemudian Safa segera menghubungkannya.

" Kok, nggak diangkat sih ?"ucap Safa.

Wanita itu terlihat mencobanya beberapa kali,dan pada akhirnya panggilan pun diangkat setelah percobaan untuk yang kesekian kalinya.

" Ya halo, ada apa dek? "Ucap surya di seberang ponsel.

"Assalamualaikum mas "Safa mencoba mengingatkan Surya, untuk mengucapkan salam terlebih dahulu saat baru saja mengangkat sebuah panggilan.

"Ah,ya waalaikumsalam "suara Surya terdengar begitu gugup di telinga Safa, membuat wanita itu semakin dibuat penasaran, oleh calon suaminya itu.

"Kamu di mana mas? aku tadi lihat kamu di pusat perbelanjaan ### " Safa bertanya kepada Surya.

"Be,benarkah. Wah kenapa kamu nggak panggil mas, dek?"suara Surya masih terdengar terbata, di seberang ponsel.entah apa yang sedang dia lakukan di sebrang ponsel.membust Safa begitu penasaran.

"Itu mas, tadi sepertinya mas kelihatannya lagi sibuk"ucap Safa mencoba memancing Surya.

Beberapa saat hening, karena Surya tidak menjawab perkataan Safa.

"Mas, kamu masih di situ ? "Tanya Safa lagi,pada calon suaminya.

"Ia dek, mas masih di sini kok. oh ya, kamu masih di kota B? " Surya balik bertanya kepada Safa, mungkin pria itu ingin menghindari perkataan Safa.

Safa mengalah nafasnya perlahan, tanpa di sadari tangan wanita itu meremas ujung baju yang ia kenakan, padahal tadi dia ingin mendengar jawaban dari Surya

saat dirinya berkata, jika pria itu sedang sibuk.

"Aku masih di sini kok mas, apa mas mau balik lagi ke sini, nyamperin aku kan Nggak pernah juga kita jalan bareng kan mas? "Safa kembali lagi memancing calon suaminya, dia ingin tahu apakah Surya akan datang untuk menemui dirinya.

" Kamu di mana sekarang? "Tanya surya pada Safa, seperti sedang memastikan sesuatu.

" Aku masih berada di dalam pusat perbelanjaan mas "jawab Safa, wanita itu mengatakan yang sejujurnya tentang keberadaan dirinya saat ini. dia ingin tahu, apakah Surya akan meninggalkan wanita dan dua anak kecil itu, dan akan datang menemui dirinya seperti keinginan ya saat ini.

"Wah. sayang sekali dek. kan kamu lihat sendiri tadi, kalau mas lagi sibuk"ucap Surya penuh dusta.

Entah mengapa mendengar jawaban yang sudah dipastikan akan terjadi itu, hati Safa rasanya begitu sakit.

Padahal dia sudah yakin jika Surya tidak mungkin menemui dirinya di luar, apa lagi di tengah keramaian.

Namun apa yang bisa di perbuat Gadis itu, hatinya saat ini begitu menginginkan pertemuan dengan calon suaminya.

Apakah ada sangkut pautnya dengan wanita yang e bersama Surya sehingga pria itu tetap menolak meskipun mereka sudah dalam gedung yang sama.

Tapi siapa wanita dan kedua anak kecil itu, bukankah bisa jadi Surya hanya menolong mereka.

Atau mungkin juga itu anak dan istri dari rekan kerjanya? Safa mencoba berfikir positif namun, entah mengapa saat ini Safa benar-benar kebimbangan karena pemikiran nya sendiri.

"Oh. ya sudah mas, tidak apa-apa, lagi p**a aku juga sudah mau p**ang ke kota A" ucap Safa.

Safa berbicara kepada Surya ,seakan semuanya baik-baik saja padahal perasaannya saat ini begitu kacau.dia memikirkan banyak hal tentang Surya dan itu membuat dirinya tidak nyaman.

"Ya sudah. kalau mau p**ang, kamu hati-hati ya dek" ucap Surya lagi.

terdengar begitu manis, namun, entah mengapa kali ini Safa tidak merasakan kemanisan itu. justru perasaan ragu yang saat ini bersarang di hatinya, hingga membuat setiap ucapan Surya yang biasa terdengar manis, kali ini terasa begitu hampa .

"Ya sudah. kalau begitu aku p**ang sekarang mas, assalamualaikum "Safa pun sekalian berpamitan melalui sambungan ponsel kepada Surya. Dia sebenarnya ingin sekali mencari tahu, apa yang di lakukan Surya di lantai lima bersama perempuan dan kedua anak itu.

"Ya sudah kamu hati-hati,waalaikumsalam"jawab Surya.

kemudian ponsel pun dimatikan oleh Safa.

Lagi-lagi Safa menarik nafasnya begitu dalam, wanita itu seakan mencoba mengeluarkan beban yang begitu berat, yang saat ini bersarang pada dadanya.

Entah karena apa.padahal Surya belum tentu berbohong, namun mendengar perkataan surya yang sepertinya menghindari setiap pertanyaan darinya dan enggan menemui dirinya membuat Safa merasa sakit hati dan terabaikan.meskipun dia belum bisa membuktikan apa yang sebenarnya terjadi.

"Gimana. beneran mas Surya? "Tanya Hani pada Safa.

"Iya "hanya kata itu yang keluar dari bibir merah muda Safa, suaranya terdengar bergetar.

Hani seakan mengerti, apa yang tengah terjadi kepada sahabatnya, kemudian wanita itu membelai lembut punggung Safa, mencoba memberikan ketenangan pada wanita cantik itu.

"Ya sudah. apakah kita jadi p**ang?" Tanya Hani lagi.

"Ya.kita p**ang sekarang " jawab Safa, namun terdengar tidak bersemangat.

Akhirnya mereka berdua berjalan beriringan, meninggalkan pusat perbelanjaan itu.

Hani mengambil alih kemudi motor, wanita itu sangat mengerti perasaan sahabatnya, lagi p**a dia tidak akan membiarkan Safa membawa motor dalam keadaan, pikirannya yang sedang kacau.

Perjalanan yang mereka tempuh membutuhkan waktu dua jam, dan kini mereka sudah sampai di kota B, saat ini waktu menunjukkan pukul lima sore.

"Hani Aku ingin bicara padamu sebentar. bisa? " Ucap Safa. saat baru saja sampai di depan rumah Hani, Safa pun dengan enggan mulai menatap sahabatnya.

Hani mengangguk, dia mengerti apa yang sedang di rasakan Safa.

"Katakan apapun yang ingin kamu katakan. aku akan mendengarkannya dan hanya aku yang akan mengetahuinya "ucap Hani, wanita itu mencoba menggenggam tangan sahabatnya, berharap bisa membuat Safa lebih kuat, dalam menghadapi cobaan apapun sebelum hari pernikahan tiba.

Judul: kekasihku suami orang
Napen: mommy Ros
Pf: fizzo

Address

Bukit Situ Kaligiri Sirampog Brebes Legaran, Kaligiri, Kec. Sirampog, Kabupaten
Brebes

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when nahda posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share