Suara Dakwah

Suara Dakwah Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Suara Dakwah, Media/News Company, Jln. Raya Pakishaji Rt. 4 Rw. 4 Kaligiri, Sirampog, Brebes.

dulu sahabat dekat berjuang bersama dengan visi yang tidak berbeda, lalu siapa yang menginginkan persahabatan mereka han...
19/10/2016

dulu sahabat dekat berjuang bersama dengan visi yang tidak berbeda, lalu siapa yang menginginkan persahabatan mereka hanya tinggal sejarah?

Suara Muhammadiyah,- Hampir tiga bulan berlalu pasca kudeta, bukti fisik mauupun data keterlibatan Fethullah Gulen sebagai dalang kudeta 15 Juli silam belum juga didapatkan. Dengan demikian, maka tuduhan terhadap Gulen sebagai dalang kudeta diragukan. Namun

“Corak Islam di Kerajaan Demak”Sebelum Demak muncul sebagai kerajaan bercorak Islam, daerah itu merupakan vasal Majapahi...
29/09/2016

“Corak Islam di Kerajaan Demak”
Sebelum Demak muncul sebagai kerajaan bercorak Islam, daerah itu merupakan vasal Majapahit yang semula bernama Bintoro yang diberikan oleh Raja Majapahit kepada Raden Patah. Demak saat itu menjadi Kerajaan yang disegani di tanah Jawa sebagai kelanjutan dari Kekaisaran Majapahit.
Para penguasa yang memerintah kerajaan Demak memiliki loyalitas yang tinggi terhadap agama Islam. Pengganti Raden Patah sebagai raja Demak kedua menurut Babat tanah Jawi ialah pangeran sabrang lor. Nama dan gelar ini mengingatkan kita kepada tokoh yang pernah menyerang portugis di Malaka pada tahun 1511 M. Tahun pemerintahan Raden Patah dan pangeran sebrang lor agak sulit dipastikan, tetapi penggantinya yakni Trenggono.
Trenggono adalah penakluk yang hebat dan seorang penguasa yang baik, penaklukannya menandai awal penyebaran Islam sebagian besar wilayah Jawa. Demak merupakan kerajaan yang kuat militernya, selain itu Demak memiliki zona ekonomi strategis yang dapat menunjang penyebaran Islam.
Perdagangan yang semakin berkembang pesat, membuat Demak menjadi kerajaan yang memiliki wilayah kekuasaan dari Jawa Barat sampai Jawa Timur, bahkan hingga pedalaman. Sebagai kerajaan Islam, Demak menjalankan perekonomian yang maju. Masyarakat Demak selama melakukan aktivitas ekonominya selalu berdasarkan pada ajaran agama dan budaya Islam, sehingga Demak disebut pusat penyebaran Islam di Pulau Jawa.
Sebagaimana dilansir koran Republika Selasa (26/9), walisongo juga berperan penting dalam masa perkembangan Kerajaan Demak, bahkan para wali menjadi penasihat raja Demak, sehingga bisa tercipta kebersamaan antar sesama. Dengan demikian, terjalin hubungan yang erat atara raja, bangsawan, wali bahkan dengan rakyat(RR).

"Keruntuhan raksasa Jawa Disebabkan Islam?"Salah satu kerajaan Hindu-Budha terbesar di Jawa bahkan Indonesia yang pernah...
27/09/2016

"Keruntuhan raksasa Jawa Disebabkan Islam?"

Salah satu kerajaan Hindu-Budha terbesar di Jawa bahkan Indonesia yang pernah ada yaitu kerajaan Majapahit. Dengan pengaruh dan wilayahnya yang meliputi Nusantara hingga Semenanjung Melayu, kerajaan ini pantas untuk dijuluki raksasa Jawa.

Kerajaan yang berdiri pada tahun 1293 hingga 1500 M ini didirikan oleh Raden Wijaya (1293 M). Sebagaimana sejarah kerajaan lainnya, kerajaan majapahit juga mencapai puncak kejayaan, yaitu pada masa kekuasaan Hayam Wuruk (1350-1389 M) yang didampingi oleh Patih Gadjah Mada (1331-1364 M).

Namun, sepeninggal Patih Gadjah Mada, kerajaan ini mengalami kemunduran sedikit demi sedikit. Hubungan antara pemerintah daerah dan pusat mulai kendur. Kerajaan-kerajaan di Sumatera yang sebelumnya tunduk pada Majapahit mulai melepaskan diri dari jajahannya. Kerajaan Sriwijaya pecah menjadi tiga, yaitu Palembang, Dharmaraya, dan Pagaruyung (Minangkabau). Hubungan Tanjung Pura (Kalimantan) dengan Majapahit putus.

Negara-negara jajahan yang letaknya jauh dari pusat pemerintahan mulai tidak terurus. Hal ini juga disebabkan adanya perebutan kekuasaan antara anggota keluarga Raja.

Kekuasaan Majapahit berangsur-angsur melemah, terutama ketika terjadinya perang saudara (perang paregreg) pada tahun 1405-1406 M. pada tahun 1450-an juga terjadi penobatan raja yang kemudian diperdebatkan dan pemberontak besar pada tahun 1468 M.

Ketika pengaruh sang raksasa Jawa ini mulai menurun, disaat yang bersamaan muncul kerajaan perdagangan yang berdasarkan Islam, yaitu Kesultanan Malaka.

Pertumbuhan umat Islam di Majapahit sendiri tumbuh pesat di daerah pelabuhan-pelabuhan. Lewat jalur perdagangan di pesisir tersebut Islam dengan mudah mulai disebarkan secara damai. Baru kemudian menyebar di kalangan elite pemerintahan.

Jika menilik dari sejarah tersebut, bukanlah Islam yang menghancurkan sang raksasa besar Majapahit, tetapi karena kerapuhan di dalam kerajaan itu sendiri. Islam kemudian menjadi kekuatan besar setelah runtuhnya Majapahit karena Islam mulai tersebar dan diterima dengan baik di seluruh Nusantara. (Bela)

Sumber: Republika (25/9/2016)

“Pengabdian Tanpa Batas untuk Muhammadiyah”Sedekah itu bukan hanya perkara materi, tetapi setiap kebaikan juga merupakan...
26/09/2016

“Pengabdian Tanpa Batas untuk Muhammadiyah”

Sedekah itu bukan hanya perkara materi, tetapi setiap kebaikan juga merupakan sedekah. Tidak perlu menunggu sampai kaya untuk menjadi dermawan di lingkungan. Asalkan ada niat tulus untuk mengabdikan diri di lingkungan sekitar, kebaikan yang membawa hidup lebih bermanfaat, maka itu juga merupakan sedekah.
Ananto, sosok satu ini yang akrab dipanggil Mas Ant tulus mengabdikan diri baik untuk masyarakat di lingkungan sekitar maupun di organisasi tempatnya berjuang. Seperti di Majelis Pendidikan Kader (MPK) Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bantul, Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kasihan, Staf di Majlis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Pengabdiannya tidak hanya itu, ia juga menajdi penggagas Semout Outbond Center sekaligus menjadi trainer Outbond sampai sekarang. Semout Outbond Center yang mengusung misi ‘Spirit Matahari’ itu memiliki dua belas (12) anggota inti. Anggota Semout Outbond Center ini adalah para aktivis Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) seperti KOKAM, Pemuda Muhammadiyah, dan lain-lain.
Selain itu, sebagai pengabdian di lingkungan masyarakat tempatnya tinggal, Bapak dengan dua orang anak ini juga memanfaatkan posisinya sebagai Ketua Takmir Masjid untuk menciptakan budaya baru yang bermanfaat, yaitu sedekah sampah. Salah satu alasan dari gagasan sedekah sampah adalah sebagai upaya membantu warga yang kurang mampu tetapi memiliki niat kuat untuk selalu bersedekah.
Pengabdiannya tidak berhenti sampai di situ. Bersama istrinya yang juga menjabat sebagai wakil ketuaPimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Kasihan, ia pun merintis Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dengan nama Kelompok Bermain (KB) Aisyiyah Surya Melati di rumah kecil mereka yang juga menjadi sekretariat Semout Outbond Center dan sedekah sampah.
Tidak ada biaya besar yang harus dipungut dari wali murid. Karena fasilitas belajar dan bermain bisa didapat dari pemanfaatan barang bekas. Misalnya kertas bekas hasil sedekah sampah yang masih kosong sisi belakangnya, bisa digunakan anak-anak untuk menggambar. Hal tersebut justru mampu menggugah kreativitas anak-anak KB Aisyiyah Surya Melati yang memiliki lebih dari 40 murid ini.
Di tengah profesinya sebagai trainer outbond yang sering medapatkan undangan untuk mengisi outbond di berbagai tempat dan kesibukannya sebagai aktivis muhammadiyah, Mas Ant selalu menyempatkan waktunya mengajak murid-murid KB Aisyiyah Surya Melati untuk outbond bersama setiap satu bulan sekali.
Pasangan suami istri yang menikah tahun 2002 ini berharap semua inisiasi yang susah payah dibangun seperti, Semout Outbond Center, sedekah sampah, dan KB Aisyiyah Surya Melati, bisa terus berjalan semakin maju dan mendapat kepercayaan dari masyarakat, serta berharap bisa terus menebar semangat kebaikan kepada siapa pun(Rosma).

Pondok Pesantren Tempat Tinggal Korban Penyalahgunaan NAPZANarkoba adalah singkatan dari narkotika dan obat/bahan berbah...
22/09/2016

Pondok Pesantren Tempat Tinggal Korban Penyalahgunaan NAPZA

Narkoba adalah singkatan dari narkotika dan obat/bahan berbahaya. Selain “narkoba”, istilah lain yang diperkenalkan khususnya oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia adalah NAPZA yang merupakan singakatan dari Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif. Narkotika merupakan obat atau bahan yang bermanfaat di bidang pengobatan. Apabila narkoba dikonsumsi secara berlebihan tidak sesuai dengan takaran/dosis yang dianjurkan, maka dapat menimbulkan ketergantungan pada pengguna itu sendiri.
Mereka akan memiliki keinginan yang kuat bersifat psikologis untuk menggunakan obat-obatan tersebut. Oleh karena itu diperlukan penanggulangan secara fisik dan mental bagi para pengguna narkoba. Maka KH RHA Anas Priharsaya seorang muallaf yang berasal dari keluarga yang beragama Katolik Khusuk, ia berencana untuk mendirikan pondok pesantren bagi pengguna NAPZA. Alasan Anas mendirikan pondok pesantren pada awalnya adalah pihak keluarga yang tidak setuju Anas masuk Islam dan memaksa untuk kembali beragama Katolik.
Alasan yang lain adalah, melihat kondisi mental para pengguna narkotika di Yogyakarta yang sangat memprihatinkan dan tidak adanya tempat pemberdayaan mental bagi pengguna narkotika. Akhirnya pada tahun 1984 Anas memutuskan untuk mendirikan Pondok Pesantren Al-Islamy. Pondok pesantren yang letaknya di daerah Kulonprogo tepatnya di Dukuh Padaan Kulon Desa Banjarharjo Kecamatan Kalibawang Kabupaten Kulonprogo Daerah Istimewa Yogyakarta 55672.
Santri yang dibina adalah pecandu yang secara fisik sudah tidak tergantung dengan narkoba, sehingga perawatan yang dilakukan adalah memperbaiki moral dan mental santri. Cara pengobatan terhadap santri di pondok pensantren ini adalah dengan pendekatan agama dan medis. Dimana metode agama yang dilalukan adalah dengan menggunakan metode dzikir bersama setiap pagi, siang, sore dan malam tanpa adanya pemaksaan bagi santri. Dengan menciptakan lingkungan yang religius maka mereka dengan sendirinya akan berdzikir.
Dimana menurut pemaparan dari pemilik pondok ialah, mayoritas penyebab awal santri terjerumus narkoba adalah faktor dari lingkungan. Kemudian adanya shalat berjamaah di masjid pondok pesantren. Menuntun santri ke jalan yang benar ialah ajaran agama Islam. Serta memberikan penyuluhan terhadap kondisi psikologis keagamaan santri. Sementara pendekatan secara medis adalah dengan memberikan perawatan, minum obat dan minum susu secara rutin serta memeriksa perkembangan setiap santri secara berkala.
Pondok pesantren ini juga memiliki lima Kiai sebagai pengasuh pasien atau santri mantan pecandu narkotika. Mereka melakukan penyembuhan dengan metode pendekatan religi melalui kondisi psikologis keagamaan para santri. Selain diasuh oleh lima Kiai, mereka juga dibina oleh empat dokter yang tidak lain adalah anak dari pengelola pondok pesantren yang sekarang. Adanya empat dokter pengasuh mengingat adanya metode pendekatan medis yang melengkapi metode pendekatan religi (Lina).

Pasti pernah denger kisah ini.
20/09/2016

Pasti pernah denger kisah ini.

20/09/2016

Peranan Ulama di Kerajaan Mataram

Pada artikel sebelumnya telah dibahas mengenai apa itu sejarah serta strategi membangun peradaban Islam dengan cara al-Ghazali. Kali ini akan membahas peranan para ulama di negara Indonesia lebih tepatnya di Kerajaan Mataram. Sebagaimana dengan kerajaan Islam lain yang ada di Indonesia pada zaman dahulu. Ulama di kerajaan yang dibangun di atas puing-puing peradaban Hindu ini juga memperoleh posisi terhormat.
Hal ini dikarenakan partisipasi para ulama dalam memujudkan stabilitas kerajaan yang tidak bisa dibilang sedikit, terutama di bidang kerohanian dan mental spiritual. Dimana raja-raja Mataram memandang atau mengangkat wali-wali Kadilangu (dekat Demak) sebagai penasehat dan pembimbing. Dan apabila dicermati, gerak ulama di kerajaan Mataram lebih sempit lingkupnya dibanding dengan Aceh.
Dimana kalau di Aceh, ulama bisa berperan di berbagai aspek kehidupan termasuk juga sebagai aparat pemerintah atau memimpin pertempuran melawan penetrasi Barat, maka di Mataram bisa ditemukan bahwa peran ulama tidak lebih sebagai kaum rohaniawan atau penasihat di Istana di bidang mental spiritual. Hal ini dapat difahami karena keberadaan Mataram itu sendiri terletak di atas puing-puing budaya Hindu yang sudah mendarah daging, otomatis terjadi benturan budaya, termasuk dalam menentukan klasifikasi sistem sosial.
Posisi ulama (agamawan) dalam ajaran agama Hindu menduduki strata sosial (kasta Brahmana), dilihat dari situ barangkali kedudukan ulama di sini disejajarkan dengan tingkatan kaum elite kerajaan yang tidak banyak perlu berkiprah dalam persoalan-persoalan yang tidak benyak berkiprah dalam persoalan yang tidak ada hubungannya dengan bimbingan massa terutama soal keagamaan. Adapun tugas lainnya diserahkan kepada kaum bangsawan atau ksatria.
Atau bisa juga pada saat itu para ulama pada saat itu sedang konsentrasi menggarap soal Islamisasi terhadap budaya-budaya yang masih lekat di hati masyarakat Mataram. Saat itu Sunan Kalijaga dianggap sebagai ulama beken Istana yang selalu berusaha keras supaya ajaran agama Islam mudah diterima masyarakat yang sudah kuat nilai kepercayaan terhadap ajaran dan doktrin budaya sebelum Islam. Berbagai cara telah ditempuh termasuk melalui karya seni yang telah melekat di masyarakat pada saat itu.
Dengan pindahnya pusat pemerintahan dari pesisir utara Jawa ke daerah pedalaman yang agraris serta telah dipengaruhi oleh budaya pra Islam, sehingga menimbulkan warna baru bagi Islam yang kemudian disebut dengan Islam sinkritisme (percampuran ajaran Islam dengan budaya pra-Islam), seperti: kepercayaan Grebeg Sekaten, labuhan di segara kidul pada bulan Suro, penggelaran benda-benda keramat dan lain sebagainya.
Itulah keadaan Islam sejak berpusat di Mataram, adanya campur tangan budaya setempat yang kemudian terkenal dengan Islam Kejawen, Sehingga peranan para ulama menjadi tergeser semenjak Mataram dikuasai oleh Amangkurat 1. Pada saat itu terjadi de-Islamisasi, dimana banyak dari ulama yang dibunuh, sehingga kehidupan keagamaan saat itu merosot. Sementara dekandensi moral menghiasi keruntuhan pamor Mataram akibat dari campur tangan budaya asing yang kian mencoret dan makin hari makin kuat. (Lina)

“Humor Khodja sebagai Bagunan Prinsip Sosial”UNESCO pada tahun 1996 mengapresiasi karya–karya Nasruddin Khodja sebagai N...
20/09/2016

“Humor Khodja sebagai Bagunan Prinsip Sosial”

UNESCO pada tahun 1996 mengapresiasi karya–karya Nasruddin Khodja sebagai Nasreddin Hoca Year. Humor Khodja yang populer pada masa Kesultanan Turki Ustmani itu kian berkembang menjadi bagian dari karya sastra bahkan menjadi kisah rujukan untuk membangunan prinsip sosial yang baik di masyarakat.

Karena dakwah tidak harus ceramah. Apa saja bakat yang dimiliki bisa dijadikan ladang dakwah. Baik dakwah dengan teman sebaya maupun dengan masyarakat dilingkungan sekitar. Seperti dongeng Abu Nawas yang syarat akan dakwah yang diimplementasi ke dalam kehidupan sehari-hari sehingga mudah dicerna oleh para pendengar atau pembacanya.

Dongeng Abu Nawas menjadi cerita fiktif yang mendunia. Siapa yang tidak kenal dengan dongeng Abu Nawas yang syarat akan humor dan kisah teladan dari Timur Tengah ini. Ceritanya yang lucu diramu dengan nilai-nilai dakwah menjadi daya tarik orang untuk membaca kisah penuh syair ini.

Tetapi dalam riwayatnya, Abu Nawas adalah penyair yang kurang taat beragama. Sebelum bertaubat dimasa tua, Abu Nawas menghabiskan masa mudanya dengan mabuk-mabukan dan berfoya-foya. Selain Abu Nawas, tokoh lain yang memas**an nilai dakwah dalam kisah humornya adalah Nasruddin Khodja.

Nama Nasruddin Khodja sama mendunianya dengan Abu Nawas. Tetapi, humor Nasruddin Khodja lebih inspiratif dari kisah Abu Nawas. Khodja adalah seorang ulama, guru agama dan hakim yang sederhana bahkan hidup dalam kemiskinan. Cerita humor Khodja meluas keberbagai negara.

Khodja merupakan cendekiawan yang sangat dikenal diberbagai kalangan, dari anak-anak sampai orang dewasa, dari masyarakat Muslim sampai nonmuslim. Menurut beberapa sumber sejarah, Nasruddin Khodja hidup pada abad ke-13 di Anatolia, Turki. Salahsatu karya Khodja yang sangat terkenal di wilayah Timur Tengah itu dapat dilihat pada naskah yang ditulis abad ke -15 (1480).

Lewat cerita humor dan kisah inspiratif ia memas**an nilai-nilai dakwah sehingga lebih menyenangkan dan mudah dipahami dalam kehidupan sehari-hari. Cerita humor Khodja yang terkenal sampai berbagai belahan dunia ini bukan sekedar kisah inspiratif, lebih dari itu kisahnya juga mengandung filosofis yang memaksa orang berpikir untuk memperoleh makna soal prinsip hidup.

Meskipun banyak masyarakat yang s**a dengan kisah humor Khodja yang mengandung makna psikologi sosial, namun pemerintah Mesir di bawah tekanan asing pernah melarang salahsatu pertunjukan drama kisah Nasruddin Khodja karena kerap mengandung satire untuk pemerintah saat itu dan dinilai menjadi ancaman.

Di masa kontemporer, humor Khodja yang mengandung satire tidak lagi dianggap sebagai pelanggaran. Justru kini kisah humor karya Khodja menjadi referensi lewat makna yang tersirant sebagai rujukan membangun kepribadian dalam hidup dengan prinsip yang baik(Rosmania).

Peranan Ulama di Kerajaan MataramPada artikel sebelumnya telah dibahas mengenai apa itu sejarah serta strategi membangun...
19/09/2016

Peranan Ulama di Kerajaan Mataram

Pada artikel sebelumnya telah dibahas mengenai apa itu sejarah serta strategi membangun peradaban Islam dengan cara al-Ghazali. Kali ini akan membahas peranan para ulama di negara Indonesia lebih tepatnya di Kerajaan Mataram. Sebagaimana dengan kerajaan Islam lain yang ada di Indonesia pada zaman dahulu. Ulama di kerajaan yang dibangun di atas puing-puing peradaban Hindu ini juga memperoleh posisi terhormat.
Hal ini dikarenakan partisipasi para ulama dalam memujudkan stabilitas kerajaan yang tidak bisa dibilang sedikit, terutama di bidang kerohanian dan mental spiritual. Dimana raja-raja Mataram memandang atau mengangkat wali-wali Kadilangu (dekat Demak) sebagai penasehat dan pembimbing. Dan apabila dicermati, gerak ulama di kerajaan Mataram lebih sempit lingkupnya dibanding dengan Aceh.
Dimana kalau di Aceh, ulama bisa berperan di berbagai aspek kehidupan termasuk juga sebagai aparat pemerintah atau memimpin pertempuran melawan penetrasi Barat, maka di Mataram bisa ditemukan bahwa peran ulama tidak lebih sebagai kaum rohaniawan atau penasihat di Istana di bidang mental spiritual. Hal ini dapat difahami karena keberadaan Mataram itu sendiri terletak di atas puing-puing budaya Hindu yang sudah mendarah daging, otomatis terjadi benturan budaya, termasuk dalam menentukan klasifikasi sistem sosial.
Posisi ulama (agamawan) dalam ajaran agama Hindu menduduki strata sosial (kasta Brahmana), dilihat dari situ barangkali kedudukan ulama di sini disejajarkan dengan tingkatan kaum elite kerajaan yang tidak banyak perlu berkiprah dalam persoalan-persoalan yang tidak benyak berkiprah dalam persoalan yang tidak ada hubungannya dengan bimbingan massa terutama soal keagamaan. Adapun tugas lainnya diserahkan kepada kaum bangsawan atau ksatria.
Atau bisa juga pada saat itu para ulama pada saat itu sedang konsentrasi menggarap soal Islamisasi terhadap budaya-budaya yang masih lekat di hati masyarakat Mataram. Saat itu Sunan Kalijaga dianggap sebagai ulama beken Istana yang selalu berusaha keras supaya ajaran agama Islam mudah diterima masyarakat yang sudah kuat nilai kepercayaan terhadap ajaran dan doktrin budaya sebelum Islam. Berbagai cara telah ditempuh termasuk melalui karya seni yang telah melekat di masyarakat pada saat itu.
Dengan pindahnya pusat pemerintahan dari pesisir utara Jawa ke daerah pedalaman yang agraris serta telah dipengaruhi oleh budaya pra Islam, sehingga menimbulkan warna baru bagi Islam yang kemudian disebut dengan Islam sinkritisme (percampuran ajaran Islam dengan budaya pra-Islam), seperti: kepercayaan Grebeg Sekaten, labuhan di segara kidul pada bulan Suro, penggelaran benda-benda keramat dan lain sebagainya.
Itulah keadaan Islam sejak berpusat di Mataram, adanya campur tangan budaya setempat yang kemudian terkenal dengan Islam Kejawen, Sehingga peranan para ulama menjadi tergeser semenjak Mataram dikuasai oleh Amangkurat 1. Pada saat itu terjadi de-Islamisasi, dimana banyak dari ulama yang dibunuh, sehingga kehidupan keagamaan saat itu merosot. Sementara dekandensi moral menghiasi keruntuhan pamor Mataram akibat dari campur tangan budaya asing yang kian mencoret dan makin hari makin kuat. (Lina)

19/09/2016

Strategi Membangun Peradaban Islam

Sejarah berasal dari bahasa Arab dari kata “Syajarotun” yang berarti pohon. Kalau kita perhatikan secara sistematis sejarah hampir sama dengan pohon dimana sama-sama memiliki cabang dan ranting, bermula dari bibit, kemudian tunbuh dan berkembang, lalu lama kelamaan layu dan tumbang. Seirama dengan kata sejarah adalah kata silsilah, kisah, hikayat yang berasal dari bahasa Arab. Oleh karena itu sebagai umat Islam pada zaman sekarang setidaknya harus tahu tentang sejarah dalam Islam.
Sejarah dalam Islam sangatlah banyak dan luas, salah satunya adalah sejarah tentang bagaimana kaum Muslimin mampu bangkit dari keterpurukan selama 50 tahun. Dimana titik balik Perang Salib terjadi dengan kejatuhan Edessa di tangan Muslim pada 539/1144, di bawah komandan Imam al-Din Zanki. Perang Salib dimulai pada tahun 1095 dan pada tahun 1099 Jerussalem jatuh ke tangan pas**an Salib. Meski saat itu telah memiliki negara dan pemimpin (khalifah), umat Islam berada dalam kondisi yang sangat terpuruk.
Sekitar 88 tahun kemudian muncullah pahlawan Islam yang terkenal yaitu Shalahuddin al-Ayyubi. Dia berhasil membebaskan kembali al-Aqsha dari kekuasaan pas**an Salib, pada tahun 1187. Akan tetapi bukan hanya Shalahuddin pemain tunggal dalam kejadian itu, tetapi ada generasi baru yang telah dipersiapkan para ulama hebat. Dimana ulama hebat yang mempersiapkan generasi baru adalah Imam al-Ghazali dan Abdul Qadir al-Jilani. Dalam melakukan upaya perubahan umat yang mendasar, al-Ghazali lebih memfokuskan pada upaya mengatasi masalah masalah kondisi umat yang menerima kekalahan.
Al-Ghazali membuat strategi membangun peradaban Islam, strategi adalah pertama, melalui jalur politik dengan melakukan dua pendekatan; pertama menggunakan senjata pemikiran dan penyebaran aqidah yang luas, kedua mendirikan berbagai institusi sebagai implementasi aqidah dalam kehidupan nyata. Kedua, berusaha memproduksi generasi ulama baru. Melihat realita masyarakat pada masa itu, lalu mendiagnosa penyakit-penyakitnya, maka dengan mudah dan jelas dapat disimpulkan bahwa penyakit kronisnya adalah krisis ketiadaan dokter atau ulama yang mampu menghadapi masyarakat muslim dunia yang kondisinya sedang kritis.
Al-Ghazzali menjelaskan beberapa syarat dan sifat ulama dalam menjalankan pengobatan terhadap manusia yang mengidap penyakit, ialah, ulama tidak boleh menjadikan dunia sebagai tujuan ilmunya. Fokus ulama adalah menguasai ilmu yang bermanfaat untuk akhirat dan mendorong ketaatan di dunia. Ulama tidak boleh cenderung pada kemewahan. Ulama harus menjaga jarak dengan penguasa dan bersikap hati-hati ketika bergaul dengan mereka. Tidak tergesa-gesa mengeluarkan fatwa melainkan harus sangat berhati-hati dan menghindari sedapat mungkin.
Ulama harus memberi perhatian yang sangat besar terhadap taubat yang benar. Menjadikan sebagian besar bidang kajiannya tentang ilmu-ilmu yang bersifat praktis dan tentang faktor-faktor yang merusaknya. Ketiga, melahirkan sistem baru dalam pendidikan dan pengajaran. Keempat, menghidupkan misi amar ma’ruf nahi mungkar, misi dakwah amar ma’ruf nahi mungkar sangatlah penting sebagai ujung tombak dalam dakwah. Bukan hanya pada masa itu saja, tetapi pada zaman sekarang pun menjadi misi yang terpenting dalam dakwah. Karena saat ini juga masih banyak kemungkaran yang merajalela.
Kelima, mengkritik penguasa dzalim, bisa dikatakan bahwa Al-Ghazali adalah ulama yang pada masa itu berani membantah berbagai kebijakan ekonomi yang tidak adil yang dikeluarkan oleh Sultan dan pemerintah. Al-Ghazali menilai para Sultan dan penguasa masa itu dzalim dan menyimpang dari aturan-aturan Allah. Pada zaman sekarang juga banyak para penguasa yang dzalim terhadap negara, seperti korupsi, tidak bisa menegakan keadilan dan masih banyak lagi contoh kedzaliman para penguasa negara.
Keenam, memberantas materialis dan praktek agama negatif serta meluruskan persepsi umat. Ketujuh, menyeru pada keadilan sosia, di dalam harta ada hak selain zakat. Untuk itu, jika orang kaya mendapati orang miskin yang terdesak suatu kebutuhan, maka ia harus membebaskannya dari tekanan kebutuhan itu. Serta memberantas praktik monopoli dan menimbun, karena monopli adalah suatu kedzaliman dalam muamalah.
Terakhir adalah, memberantas aliran pemikiran sesat, dalam memberantas aliran pemikiran sesat pada masa itu Al-Ghazali menggunakan metode berdasarkan penelitian yang jauh lebih unggul dari yang telah dilakukan oleh tokoh-tokohnya sendiri. Strategi-strategi di atas apabila diterapkan di zaman sekarang tetap cocok dan sesuai, dilihat dari segi fenomena saat ini. Sebagai contoh dalam berpolitik dan mengkritisi penguasa yang dzalim. Melahirkan sistem baru dalam pendidikan dan pengajaran, nmapaknya sudah sebagian kalangan merealisasikannya.(Lina)

Address

Jln. Raya Pakishaji Rt. 4 Rw. 4 Kaligiri, Sirampog
Brebes
52272

Telephone

+6285311311025

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Suara Dakwah posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Suara Dakwah:

Share