08/10/2026
BAB 199
Keinginan Levin untuk mempercepat pernikahan, membuat kedua orang tuanya terheran-heran. Mereka tentunya bertanya-tanya apa yang membuat Levin berpikir demikian.
"Apa Mama akan segera punya cucu?"
tanya Sara dengan polosnya yang membuat suami serta anaknya terkejut bukan main. Wanita ini berpikir kalau anaknya ingin segera menikahi Aileen, karena gadis itu sedang hamil.
"A-apa maksud mama? Aku dan Aileen belum melakukan itu!" seru Levin menyanggah.
'Sebenarnya mama akan punya cucu, tapi bukan dari Aileen' kata Levin dalam hatinya. Mengingat ini, Levin ingin menghapus semuanya. Tapi sayangnya, tak bisa.
"Astaga sayang, bagaimana bisa kau berpikir begitu? Putra kita itu sangat menghargai wanita, dia pasti akan menjaga Aileen. Begitu pun dengan Aileen, dia adalah anak yang baik dan tidak akan berbuat seperti itu sampai mereka menikah!" kata Marco dengan tegas dan penuh keyakinan.
Namun, mendengar apa yang dikatakan oleh ayahnya, membuat hati Levin tersentil. Sebab, ia tidak merasa menghargai wanita seperti apa yang mereka pikirkan. Dia bahkan mengabaikan Laura yang sedang hamil anaknya dan fokus pada hubungannya dan Aileen, dia manusia egois dan semua kebaikannya selama ini, tenggelam dalam keegoisannya.
"Kau benar juga sayang. Astaga, apa yang aku pikirkan? Ya, aku pikir calon menantu kita sedang hamil, makanya Levin ingin mempercepat pernikahan," tutur Sara seraya tersenyum pada suaminya.
"Kau ini ada-ada saja ckckck." Marco berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, karena pikiran polos istrinya.
"Tapi Levin, kenapa kau ingin mempercepat pernikahan nak?"
"Aku hanya tidak sabar ingin memiliki Aileen, Ma," jawab Levin jujur. Tapi tidak sepenuhnya jujur, karena sebenarnya dia lebih takut dengan kakaknya yang p**ang dari perjalanan bisnisnya dan mengatakan semua kebenarannya. Meskipun dia lupa, ada dua orang lagi yang akan membongkar semuanya.
"Nak, maafkan mama dan papa.Kami tidak mengabulkan permintaanmu.
Pertama, undangan sudah disebar, cathering, make up dan dekorasi gedung, sudah dipesan sesuai tanggal yang sudah ditetapkan. Kita tidak bisa begitu saja memajukan tanggal dan mengacaukan jadwal mereka. Jadi, mama harap kau bersabar ya. Hanya tinggal 9 hari lagi kok, " tutur Sara seraya mengusap bahu putranya itu. Dia meminta kepada Levin untuk bersabar sampai hari itu tiba, tapi Levin masih gelisah dan tidak sabar.
Tiba-tiba saja terlintas ide di kepalanya. " Ma, begini saja. Mama, Papa, bibi Ivana dan Paman Edgar tidak perlu memajukan tanggal resepsi atau mengacaukan acara yang sudah tersusun. Sedangkan aku dan Aileen, kami akan menikah lusa...acara privat untuk meresmikannya terlebih dahulu, lalu untuk resepsinya bisa diadakan setelah 9 hari kemudian.
Bagaimana?"
Marco dan Sara saling berpandangan, mereka berdua merasa ada yang ditutupi oleh Levin. Ada hal lain yang membuat putranya memajukan pernikahan. Namun, mereka kembali berpikir positif bahwa Levin bersikap seperti ini karena dia sangat mencintai Aileen.
"Hem, Levin...apa kau sudah bicara dengan Aileen tentang hal ini?" tanya Marco.
"Belum, Pa."
"Kalian saja belum berdiskusi, jadi kami tidak bisa memutuskan begitu saja.
Baiklah, besok malam kita bertemu dengan keluarga Aileen, dan bicarakan ini.
"Saran dari Sara untuk kebaikan semua pihak.
"Iya Ma."
*****
Tibalah keesokan harinya, malam itu keluarga Aileen dan Levin mengadakan pertemuan untuk membahas pernikahan. Tentu saja Aileen dan Levin juga ada disana. Terlihat Levin diam-diam memandangi ponselnya, dan melihat beberapa pesan masuk disana.
[Levin, perutku sakit. Tolong aku Levin]
[Levin, kumohon. Aku perlu bantuanmu, sepertinya terjadi sesuatu pada bayi kita]
Pesan itu adalah pesan dari Laura, tapi Levin memilih mengabaikannya, karena ia sudah tetapkan dalam hatinya bahwa prioritasnya adalah Aileen.
"Kak, ini minumnya!" suara Aileen seketika membuat Levin terkejut, sontak saja dia menyimpan ponselnya ke dalam saku sebelum Aileen melihat pesan di ponselnya.
"Terimakasih sayang." Levin tersenyum, sambil mengambil minuman yang disodorkan oleh Aileen.
"Jadi, maksud kami mengadakan pertemuan ini adalah untuk Levin. Levin meminta kepada kami untuk mempercepat pernikahan Levin dan Aileen," kata Marco yang mewakili putra bungsunya untuk bicara.
Ivana dan Edgar, begitu juga dengan Aileen terperangah mendengar ucapan Marco.
Sementara itu di malam yang sama, Richard sedang bersama dengan Laura di apartemen Laura. Hari ini Laura tidak datang ke pameran dan hal itu membuat Richard sebagai sahabat Laura dari SMA merasa khawatir. Saat tahu Laura sakit, Richard langsung menemaninya dan membuat Laura senyaman mungkin.
"Terimakasih Rich, kau sudah datang untukku." Laura merebahkan tubuhnya diatas sofa, setelah perutnya merasa mendingan. Dalam hati, ia dongkol pada Levin yang tidak datang ketika dia sedang seperti ini.
'Padahal ini anaknya, tapi dia sama sekali tidak peduli. Oh jadi begitu, aku harus menggunakan cara keras untukmu Levin' kata gadis itu dalam hatinya.
"Ini sudah keterlaluan Laura, aku tidak bisa tinggal diam. Aku akan menemui Aileen dan keluarganya, aku akan memberitahukan hal ini!"
"Tidak Richard, jangan. Aku tidak mau mengganggu kebahagiaan Levin. Anak ini adalah kesalahan," ucap Laura sambil terisak dan memegang perutnya. Richard tidak tega melihat keadaan Laura yang seperti ini.
"Kali ini kau tidak bisa mencegahku Laura! Aku akan pergi!" Richard berkata dengan menggebu, dia tidak tahan lagi melihat Laura yang dimatanya sangat tersiksa seorang diri dengan kehamilannya. Sedangkan Levin, lepas tangan tidak mau peduli.
"Richard! Jangan!" sergah Laura melarang, tapi dalam hatinya dia ingin Richard pergi. Setidaknya dengan Richard yang tau dan memberitahu, dia tidak akan disalahkan.
"Kau terlalu baik Laura. Aku akan membantumu," ucap Richard yang lalu beranjak pergi dari apartemen Laura. Laura menyusulnya dari belakang, dia ingin memastikan bahwa Richard memberitahu semuanya pada Aileen juga keluarganya.
Richard langsung mendatangi kediaman Denvier, bersama dengan Laura. Wanita itu terlihat seperti menahan Richard, padahal sebenarnya dia tidak melarang.
"Maaf tuan, tapi tuan Denvier sekeluarga sedang tidak ada di rumah. Yang ada dirumah hanya ada tuan Arion dan nona Emily. Apa perlu saya panggilkan mereka? "kata seorang pelayan dirumah itu.
"Tidak perlu. Saya hanya ada perlu dengan Aileen. Kalau boleh saya tau, kemana mereka?" tanya Richard kepada si pelayan itu.
"Mereka pergi makan malam bersama dengan keluarga Abraham."
Emosi Richard naik, rahangnya mengeras mendengar Aileen dan Levin sedang makan malam bersama. Sedangkan Laura menderita disini.
"Sialan! Brengsek! Dia malah makan malam bersama dengan calon istrinya, sedangkan kau-"
"Rich, sudah!" seru Laura.
Setelah itu, Richard dan Laura pergi menuju ke restoran tempat Aileen dan Levin bertemu. Sementara Aileen dan Levin, keduanya tersenyum bahagia setelah Ivana dan Edgar setuju untuk mempercepat akad pernikahan. Sedangkan untuk resepsi pernikahan tetap ditanggal yang seharusnya.
"Baiklah, jadi besok Aileen dan Levin harus mencoba gaun dan tuxedo pernikahan mereka," kata Ivana sambil tersenyum senang.
"Tentu saja, apalagi mereka akan menikah lusa."
"Pernikahan ini tidak boleh terjadi!" sentak seorang pria yang tiba-tiba datang disana dan membuat Aileen, Levin dan keluarga mereka terkejut dengan kehadirannya. Apalagi kehadiran seorang wanita berwajah pucat dibelakangnya.
*****
BERSAMBUNG BAB 200