Remix Video Lucu

Remix Video Lucu Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Remix Video Lucu, Video Creator, Jalan Rajawali No 67, Central Jakarta.

Perfect is ordinary…
Errors are what make things extraordinary 🤯🤣
A collection of the most absurd AI videos that will make you laugh!
__________

Yang sempurna itu biasa…
Yang error justru luar biasa 🤯🤣
Kump**an video AI paling absurd & bikin ketawa!

BAB 199Keinginan Levin untuk mempercepat pernikahan, membuat kedua orang tuanya terheran-heran. Mereka tentunya bertanya...
08/10/2026

BAB 199

Keinginan Levin untuk mempercepat pernikahan, membuat kedua orang tuanya terheran-heran. Mereka tentunya bertanya-tanya apa yang membuat Levin berpikir demikian.

"Apa Mama akan segera punya cucu?"

tanya Sara dengan polosnya yang membuat suami serta anaknya terkejut bukan main. Wanita ini berpikir kalau anaknya ingin segera menikahi Aileen, karena gadis itu sedang hamil.

"A-apa maksud mama? Aku dan Aileen belum melakukan itu!" seru Levin menyanggah.

'Sebenarnya mama akan punya cucu, tapi bukan dari Aileen' kata Levin dalam hatinya. Mengingat ini, Levin ingin menghapus semuanya. Tapi sayangnya, tak bisa.

"Astaga sayang, bagaimana bisa kau berpikir begitu? Putra kita itu sangat menghargai wanita, dia pasti akan menjaga Aileen. Begitu pun dengan Aileen, dia adalah anak yang baik dan tidak akan berbuat seperti itu sampai mereka menikah!" kata Marco dengan tegas dan penuh keyakinan.

Namun, mendengar apa yang dikatakan oleh ayahnya, membuat hati Levin tersentil. Sebab, ia tidak merasa menghargai wanita seperti apa yang mereka pikirkan. Dia bahkan mengabaikan Laura yang sedang hamil anaknya dan fokus pada hubungannya dan Aileen, dia manusia egois dan semua kebaikannya selama ini, tenggelam dalam keegoisannya.

"Kau benar juga sayang. Astaga, apa yang aku pikirkan? Ya, aku pikir calon menantu kita sedang hamil, makanya Levin ingin mempercepat pernikahan," tutur Sara seraya tersenyum pada suaminya.

"Kau ini ada-ada saja ckckck." Marco berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, karena pikiran polos istrinya.

"Tapi Levin, kenapa kau ingin mempercepat pernikahan nak?"

"Aku hanya tidak sabar ingin memiliki Aileen, Ma," jawab Levin jujur. Tapi tidak sepenuhnya jujur, karena sebenarnya dia lebih takut dengan kakaknya yang p**ang dari perjalanan bisnisnya dan mengatakan semua kebenarannya. Meskipun dia lupa, ada dua orang lagi yang akan membongkar semuanya.

"Nak, maafkan mama dan papa.Kami tidak mengabulkan permintaanmu.

Pertama, undangan sudah disebar, cathering, make up dan dekorasi gedung, sudah dipesan sesuai tanggal yang sudah ditetapkan. Kita tidak bisa begitu saja memajukan tanggal dan mengacaukan jadwal mereka. Jadi, mama harap kau bersabar ya. Hanya tinggal 9 hari lagi kok, " tutur Sara seraya mengusap bahu putranya itu. Dia meminta kepada Levin untuk bersabar sampai hari itu tiba, tapi Levin masih gelisah dan tidak sabar.

Tiba-tiba saja terlintas ide di kepalanya. " Ma, begini saja. Mama, Papa, bibi Ivana dan Paman Edgar tidak perlu memajukan tanggal resepsi atau mengacaukan acara yang sudah tersusun. Sedangkan aku dan Aileen, kami akan menikah lusa...acara privat untuk meresmikannya terlebih dahulu, lalu untuk resepsinya bisa diadakan setelah 9 hari kemudian.

Bagaimana?"

Marco dan Sara saling berpandangan, mereka berdua merasa ada yang ditutupi oleh Levin. Ada hal lain yang membuat putranya memajukan pernikahan. Namun, mereka kembali berpikir positif bahwa Levin bersikap seperti ini karena dia sangat mencintai Aileen.

"Hem, Levin...apa kau sudah bicara dengan Aileen tentang hal ini?" tanya Marco.

"Belum, Pa."

"Kalian saja belum berdiskusi, jadi kami tidak bisa memutuskan begitu saja.

Baiklah, besok malam kita bertemu dengan keluarga Aileen, dan bicarakan ini.

"Saran dari Sara untuk kebaikan semua pihak.

"Iya Ma."

*****

Tibalah keesokan harinya, malam itu keluarga Aileen dan Levin mengadakan pertemuan untuk membahas pernikahan. Tentu saja Aileen dan Levin juga ada disana. Terlihat Levin diam-diam memandangi ponselnya, dan melihat beberapa pesan masuk disana.

[Levin, perutku sakit. Tolong aku Levin]

[Levin, kumohon. Aku perlu bantuanmu, sepertinya terjadi sesuatu pada bayi kita]

Pesan itu adalah pesan dari Laura, tapi Levin memilih mengabaikannya, karena ia sudah tetapkan dalam hatinya bahwa prioritasnya adalah Aileen.

"Kak, ini minumnya!" suara Aileen seketika membuat Levin terkejut, sontak saja dia menyimpan ponselnya ke dalam saku sebelum Aileen melihat pesan di ponselnya.

"Terimakasih sayang." Levin tersenyum, sambil mengambil minuman yang disodorkan oleh Aileen.

"Jadi, maksud kami mengadakan pertemuan ini adalah untuk Levin. Levin meminta kepada kami untuk mempercepat pernikahan Levin dan Aileen," kata Marco yang mewakili putra bungsunya untuk bicara.

Ivana dan Edgar, begitu juga dengan Aileen terperangah mendengar ucapan Marco.

Sementara itu di malam yang sama, Richard sedang bersama dengan Laura di apartemen Laura. Hari ini Laura tidak datang ke pameran dan hal itu membuat Richard sebagai sahabat Laura dari SMA merasa khawatir. Saat tahu Laura sakit, Richard langsung menemaninya dan membuat Laura senyaman mungkin.

"Terimakasih Rich, kau sudah datang untukku." Laura merebahkan tubuhnya diatas sofa, setelah perutnya merasa mendingan. Dalam hati, ia dongkol pada Levin yang tidak datang ketika dia sedang seperti ini.

'Padahal ini anaknya, tapi dia sama sekali tidak peduli. Oh jadi begitu, aku harus menggunakan cara keras untukmu Levin' kata gadis itu dalam hatinya.

"Ini sudah keterlaluan Laura, aku tidak bisa tinggal diam. Aku akan menemui Aileen dan keluarganya, aku akan memberitahukan hal ini!"

"Tidak Richard, jangan. Aku tidak mau mengganggu kebahagiaan Levin. Anak ini adalah kesalahan," ucap Laura sambil terisak dan memegang perutnya. Richard tidak tega melihat keadaan Laura yang seperti ini.

"Kali ini kau tidak bisa mencegahku Laura! Aku akan pergi!" Richard berkata dengan menggebu, dia tidak tahan lagi melihat Laura yang dimatanya sangat tersiksa seorang diri dengan kehamilannya. Sedangkan Levin, lepas tangan tidak mau peduli.

"Richard! Jangan!" sergah Laura melarang, tapi dalam hatinya dia ingin Richard pergi. Setidaknya dengan Richard yang tau dan memberitahu, dia tidak akan disalahkan.

"Kau terlalu baik Laura. Aku akan membantumu," ucap Richard yang lalu beranjak pergi dari apartemen Laura. Laura menyusulnya dari belakang, dia ingin memastikan bahwa Richard memberitahu semuanya pada Aileen juga keluarganya.

Richard langsung mendatangi kediaman Denvier, bersama dengan Laura. Wanita itu terlihat seperti menahan Richard, padahal sebenarnya dia tidak melarang.

"Maaf tuan, tapi tuan Denvier sekeluarga sedang tidak ada di rumah. Yang ada dirumah hanya ada tuan Arion dan nona Emily. Apa perlu saya panggilkan mereka? "kata seorang pelayan dirumah itu.

"Tidak perlu. Saya hanya ada perlu dengan Aileen. Kalau boleh saya tau, kemana mereka?" tanya Richard kepada si pelayan itu.

"Mereka pergi makan malam bersama dengan keluarga Abraham."

Emosi Richard naik, rahangnya mengeras mendengar Aileen dan Levin sedang makan malam bersama. Sedangkan Laura menderita disini.

"Sialan! Brengsek! Dia malah makan malam bersama dengan calon istrinya, sedangkan kau-"

"Rich, sudah!" seru Laura.

Setelah itu, Richard dan Laura pergi menuju ke restoran tempat Aileen dan Levin bertemu. Sementara Aileen dan Levin, keduanya tersenyum bahagia setelah Ivana dan Edgar setuju untuk mempercepat akad pernikahan. Sedangkan untuk resepsi pernikahan tetap ditanggal yang seharusnya.

"Baiklah, jadi besok Aileen dan Levin harus mencoba gaun dan tuxedo pernikahan mereka," kata Ivana sambil tersenyum senang.

"Tentu saja, apalagi mereka akan menikah lusa."

"Pernikahan ini tidak boleh terjadi!" sentak seorang pria yang tiba-tiba datang disana dan membuat Aileen, Levin dan keluarga mereka terkejut dengan kehadirannya. Apalagi kehadiran seorang wanita berwajah pucat dibelakangnya.

*****

BERSAMBUNG BAB 200

08/10/2026

KETIKA AKU MAKAN BARENG BESTIKU






08/10/2026

CALON MENANTU YANG TIDAK MENGINGINKAN AKU






BAB 77"Aruna. Kau kenapa malah marah begitu? Aku kan cuma memberikan saran saja," Suara Edwin sengaja dibuat pelan, agar...
07/10/2026

BAB 77

"Aruna. Kau kenapa malah marah begitu? Aku kan cuma memberikan saran saja," Suara Edwin sengaja dibuat pelan, agar terkesan seperti orang sabar.

Karena tak ada sahutan dari dalam kamar, pria itu mengedikkan baju sambil merapikan rambut dengan jemari. Menyisirnya hingga sisa-sisa air menetes di ujung rambutnya yang lurus.

Edwin pikir, Aruna tak akan lama di dalam kamarnya, ternyata hingga menit ke tiga puluh, tetap saja wanita itu betah di sana. Ia menggeleng heran, jaman sekarang, kenapa masih ada perempuan yang jual mahal begitu. Pikirnya bertanya-tanya.

Karena yang ia pahami selama ini, baik perempuan maupun laki-laki semua sama. Tak peduli pasangan sah atau bukan, jika hasrat memenuhi kepala maka hilang sudah akal sehat.

Namun, hal itu tidak berlaku pada wanita yang sudah lama ia incar. Hingga saat ini bahkan ia belum berhasil menyentuh sedikit saja salah satu bagian tubuh indahnya.

"Runa, kenapa lama sekali?" Suara Edwin mulai kesal, sudah beberapa kali ia bertukar pesan dengan teman di dunia maya, Aruna belum juga menampakkan batang hidungnya.

Tak ada jawaban juga, karena kesal ia pun beranjak mendekati kamar itu. Sambil berjalan, diliriknya keadaan luar yang telah gelap. Hari mulai malam.

Tok tok tok!

"Na?" Panggilnya sambil mengetuk pintu berbahan triplek. Jika ada orang jahat yang tega memanfaatkan kesempatan, daun pintu itu akan jebol seketika saat didobrak.

Belum lagi dinding bambu yang mengelilingi ruangan di rumah itu.

Karena tak kunjung ada Jawaban, ia mendorong pintu itu perlahan. Di sana, ternyata Aruna sedang menyusui anaknya sambil berbaring. Terlihat Gavin telah memejamkan mata, dan ibunya sesekali ikut memejamkan mata p**a.

Edwin tertegun melihat pemandangan itu, ia mendesah lirih. Baru menyadari, mungkin sepanjang hari wanita itu memang kelelahan. Menjadi seorang ibu, sekaligus ayah bagi anaknya.

Nuraninya bergerak. Namun, tak lama. Ketika sudut matanya beralih ke arah benda yang menjadi sebab Gavin bisa diam hingga tertidur.

Tanpa sadar, Edwin sudah menikmati pemandangan itu. Hingga ia tak berkedip sambil beberapa kali menelan saliva.

"Rupanya kau tertidur, ya?" Gumamnya, tak menyadari suaranya itu telah mengusik Aruna hingga wanita itu membuka mata.

"Mas?" Lirih Aruna dengan cepat-cepat menjauhkan diri dari anaknya, kerepotan menutup krah baju yang memang rendah.

Aruna memang lebih s**a menggunakan baju dengan bagian leher rendah ketika di rumah. Bukan asa maksud apapun, hanya supaya memudahkannya ketika Gavin meraung meminta ASI.

Wanita itu agak kaget, ia bangun dengan mata memicing melihat Edwin masih mematung di depan pintu kamarnya.

"Kau terbangun karena aku kemari?" Tanya Edwin mendadak kikuk, penyebabnya adalah tubuh Aruna yang berjalan mendekat ke arahnya.

"Kenapa kau masuk kemari?" Aruna ikut bertanya. Mata indahnya mengerjap perlahan, sesekali melirik Edwin. Entah memahami apa yang terjadi pada pria itu saat ini atau tidak.

"Aku tadi sudah menunggumu setengah jam lamanya, dan kau tidak juga keluar,"

Jawabnya sambil berjalan mendekati Aruna yang juga semakin mendekat ke arahnya.

Kedua orang itu berhenti dengan tatapan saling mengunci. Aruna hanya menatap heran. Sedang Edwin tatapannya penuh hasrat menggebu, kedua tangannya lantas bergerak memegang bahu wanita yang hanya mengerjap. Membuat jantung Edwin berdetak tak menentu.

"Makanya aku menyusul kemari, ternyata kau malah tertidur." Seperti biasa, dengan kedua tangan yang memegangi bahu Aruna itu, Edwin hendak mendekatkan dirinya lagi.

Namun, Aruna ternyata menghalanginya. Ia malah menjauhkan dirinya dari jangkauan Edwin dan melewatinya keluar kamar.

"Hey, Aruna. Sayang?" Panggil Edwin menyusulnya, rupanya wanita itu menuju dapur dan hendak menyalakan tungkunya.

"Aruna?" Suara Edwin lagi, kali ini lebih mirip seperti anak kecil yang merengek meminta sesuatu pada ibunya.

Sedang Aruna hanya meliriknya sebentar dan kembali mengambil ranting kayu kering yang sudah disediakan di dekat tungku. Tak lama, api pun menyala, memenuhi ruangan kecil dalam tungku.

Aruna menjejalkan beberapa kayu lagi dengan lebih kasar dari biasanya. Hal itu membuat Edwin merasa ada yang aneh. Ia segera bertindak.

"Na, maaf jika ucapanku tadi keliru, ya. aku cuma menyarankan, selanjutnya kau yang memutuskannya. Jadi, jika usulanku tadi tidak diterima, ya tidak masalah," Ucapnya panjang lebar. Diacuhkan oleh perempuan secantik itu membuatnya bingung sendiri.

Aruna tak lantas menjawab, ia mendesah lirih. Wajahnya terarah pada nyala api, hingga tergambar jelas dalam matanya yang bening.

"Bukan seperti itu, Mas. Aku ini hidup sendiri. Kehadiran Gavin sangat membuatku bahagia, aku tidak akan pernah menyerahkannya pada juragan muda. Tidak akan. Gavin adalah satu-satunya yang membuatku lebih semangat dalam menjalani hari," Terang Aruna.

Edwin pun paham, ia mengangguk pelan. Menyadari dalam hati, wanita itu cukup dewasa kali ini. Aruna tidak seperti dirinya yang hanya memikirkan kesenangan sesaat.

Ia segera paham, setelah ini pasti tidak bisa lagi seperti sebelumnya. Apalagi setelah mendengar pengakuan Aruna tadi.

"Iya, maafkan aku," Lirih Edwin, wajahnya dibuat seperti orang menyesal. Entah dari hati atau tidak, atau hanya ingin mengambil simpati dari wanita itu.

Namun, Aruna tak menanggapi. Ia malah mengambil panci dan meletakannya di atas tungku. Lalu mengambil sayur kuning dengan beberapa potongan daging yang dibawakan oleh Edwin tadi.

"Sudahlah. Tidak perlu di bahas lagi. Lebih baik kita segera makan malam saja," Ucap Aruna dengan menuangkan sayur itu ke dalam panci di atas tungku.

Edwin tak menanggapi. Ia malah sibuk mengamati tubuh wanita itu, yang hanya mengenakan daster selutut. Kainnya tipis, membuat naluri lelakinya tak bisa diajak berkompromi.

Sial. Menyiksa saja!

Rutuknya dalam hati. Apalagi melihat tiap kali wanita itu membungkuk dan memperlihatkan sebagian dadanya.

"Minumlah." Sebuah gelas berisi cairan pekat tiba-tiba terangsur ke depan wajah Edwin.

Ia mendongak, baru sadar dari pikiran liarnya. Wanita itu tersenyum tipis. "Minuman ini bisa menghilangkan pikiran kotormu," Katanya.

Edwin menerimanya dengan air muka berubah. Bagaimana tidak, niatnya mulai disadari oleh Aruna. Dan wanita itu dengan jelas telah memperingatkannya, harusnya ia malu.

"Pikiran kotor, katamu?" Gumam Edwin sambil menyesap minuman manis yang masih banyak diselimuti asap.

"Iya, kan? Pikiranmu itu terlalu kotor, jadi harus dibersihkan dengan air panas agar hilang."

"Kau ini!" Dengus Edwin merasa khawatir.

Namun, Aruna tergelak. Membuat harapannya kembali membumbung, ia pun ikut tersenyum meski sangat dipaksakan.

"Aku cuma ingin lebih dekat denganmu. Apa itu tidak boleh?" Edwin kembali membuka pertanyaan.

Aruna sudah berdiri lagi, wanita itu mendekati rak dan mengambil piring serta sendok. Lalu menatanya di atas meja. Ia kembali dengan membawa mangkuk dan memindahkan sayur dalam panci yang sudah mendidih.

Wanita itu, seperti tak ingin membalas pertanyaan Edwin tadi, malah duduk di depan meja kecilnya.

Edwin yang kesal pun menyusul, "kenapa cuma diam?" Tanyanya, menatap lekat wanita cantik itu.

"Memang aku harus menjawab apalagi, Mas? Akupun ingin lebih dekat denganmu, tapi tidak dengan cara seperti ini," Jawab Aruna, wajahnya terlihat serius.

"Lalu?" Edwin tak mengerti.

"Daripada seperti ini, yang akan membuat malu jika dilihat orang. Apa tidak lebih baik meresmikan hubungan saja? Hubungan yang sah, pasti tidak akan ada orang yang berani berkomentar, Mas."

"Jadi, kau ingin kita menikah. Begitu?"

"Apa lagi memangnya? Kita ini sama-sama dewasa, kan? Kau juga sudah mapan secara ekonomi. Lalu apa lagi yang ditunggu?" Kalimat yang menohok hati Edwin.

Mendadak hatinya memanas usai mendengar kalimat Aruna tadi. Dalam hatinya geram, kenapa perempuan itu tidak bisa mengerti dengan keadaannya.

"Aku sudah pernah bilang, kan? Aku belum siap untuk itu!"

"Apanya yang belum siap?"

"Sudahlah. Kau tidak akan pernah paham. Lebih baik aku p**ang saja."

"Mas!"

*****

BERSAMBUNG BAB 78

07/10/2026

MISTERI SEBUAH FOTO






06/10/2026

TERIMA KASIH TUHAN HARI INI AKU MASIH BISA MAKAN






BAB 198Leon terus menuntut jawaban dari Levin, tidak peduli adiknya dia membisu dan terluka karena pukulannya itu. Karen...
06/10/2026

BAB 198

Leon terus menuntut jawaban dari Levin, tidak peduli adiknya dia membisu dan terluka karena pukulannya itu. Karena dia menginginkan sebuah jawaban dari Levin, konfirmasi atas bukti-bukti yang dia terima.

"LEVINSON ABRAHAM!" bentak Leon tepat didepan wajah adiknya itu.

"Kau... sejak kapan kau ada main dengan wanita itu dibelakang Aileen? Jawab aku," kata Leon tegas dan penuh penekanan. Wajahnya memerah, karena kemarahan dan kecewa pada Levin. Dia tidak menyangka bahwa adiknya akan berselingkuh dari Aileen.

"Ini bukan urusan kakak, jadi lebih baik kakak jangan ikut campur. Karena semua itu tidak seperti yang kakak pikirkan, aku tidak pernah berselingkuh!"

Levin mengelak, dia merasa bahwa dirinya tidak mencurangi tunangannya, Aileen. Karena baginya, apa yang terjadi diantara dirinya dan Laura bukan perselingkuhan melainkan kesalahan.

Leon terbahak sinis, perlahan tangannya melepaskan kemeja Levin yang tadi dia pegang erat itu. Dia mengusak rambutnya ke belakang, lalu terdengar tawa sinisnya semakin keras.

"Haaha.. kau lucu sekali Levin. Jelas-jelas kau berselingkuh, masih tidak mau mengaku juga. Kau masih bisa mengelak ketika sudah ada semua buktinya!" seru Leon seraya mengambil salah satu foto yang memperlihatkan adegan ciuman Levin dan Laura saat berada didepan kamar kelab malam itu. Levin bahkan tak sanggup untuk melihat gambarnya, dia memalingkan wajah.

"Levin, lihat foto ini baik-baik!" Leon menampar p**i Levin dengan foto itu, tapi hati Levin lah yang sebenarnya lebih tertampar oleh fakta tersebut.

"Disini kau berciuman dengan wanita lain, difoto ini...wanita itu bukan calon istrimu. Tapi orang lain," ujar Leon yang kembali menegaskan untuk kesekian kalinya kesalahan Levin.

"Cukup kak! Kakak tidak berhak ikut campur dengan urusanku dan Aileen. Dan tidak seharusnya Kakak menyelidiki ku seperti ini!" sentak Levin, tak mau disalahkan oleh fakta itu.

"Kalau aku tidak menemukan kejanggalan pada dirimu, aku tidak akan menyelidikimu seperti ini. Dan aku tidak mau kau menyakiti Aileen," kata Leon lugas.

Kali ini giliran Levin yang terbahak oleh perkataan Leon barusan. "Kau tidak mau aku menyakiti Aileen? Lalu apa kabar dengan dirimu yang selama 20 tahun ini memperlakukannya dengan dingin? Kau pikir itu tidak menyakitinya? Dan-sekarang kau malah berlagak seperti orang yang peduli pada perasaannya. Kau tidak lebih baik dariku, kak!"

"Kau yakin, bahwa aku tidak lebih baik darimu? Setidaknya aku tidak berbohong kepada kekasihnya demi selingkuhannya dan aku TIDAK selingkuh. Aku...tidak mau ngobrol janji, tapi tak bisa menepati!"

Leon tersenyum sinis, kata-katanya menusuk ke dalam hati Levin. Bagaikan pedang yang menghunus dan menancap dihatinya. Sebab, ia tau bahwa yang dikatakan oleh Leon tidak sepenuhnya salah. Dia memang lebih buruk dari Leon.

"Aku tidak selingkuh," sanggahnya lagi dengan kepala menunduk dan mata berkaca-kaca.

"Jangan menyangkal lagi Levin!" ujar Leon seraya memegang bahu adiknya dengan erat. "Sekarang, katakan padaku... sudah sejauh apa kau dengannya? Apa kau sudah tidur dengannya?" pertanyaan Leon yang terlontar bagaikan bom yang menyerang Levin lagi dan lagi. Fakta yang tidak ingin dia akui adalah ini dan lebih parahnya lagi, Laura hamil.

Mata Levin berair, bibirnya gemetar dan kelu saat akan memberikan kakaknya sebuah jawaban. Rasanya berat mengatakan ini. Tapi Leon langsung paham jawaban Levin, dari raut wajahnya yang kentara.

"Jadi, kau sudah tidur dengannya? Kau bahkan tidur lagi dengannya saat Aileen menunggumu direstoran," desah pria itu kecewa pada adiknya.

"Itu tidak benar! Kami...hanya melakukannya sekali."

Akhirnya Levin mengakuinya pada sang kakak.

"Lalu kenapa kau masih bertemu dengannya?"

Deg!

Levin tidak mampu memberikan alasan untuk pertanyaan ini, dia tidak mau kakaknya tau kalau Laura hamil. Atau, kakaknya mungkin akan mendesak dia untuk bertanggungjawab pada Laura dengan menikahinya. Keadaan pun menjadi rumit.

"Baiklah, aku tidak akan ikut campur lebih dalam. Tapi Levin, aku kecewa padamu...sangat. Kau sangat mencintai Aileen, tapi dengan mudahnya kau berpaling darinya," tutur Leon dengan senyuman sedihnya. Betapa dia kecewa pada Levin, dan dia membayangkan jika Aileen tau semua ini.

"Aku tidak sengaja tidur dengannya kak. Aku tidak berpaling dari wanita lain, aku hanya mencintai Aileen."

Terdengar suara Levin yang penuh kesungguhan, sehingga Leon bisa merasakan ketulusan dan kejujuran dari ucapannya. Tapi, hal itu tidak membuat fakta berubah.

"Aku tau, tapi kau harus mengatakan fakta ini kepada Aileen. Jika kau menyembunyikannya dan dia tau dari orang lain, itu akan sangat menyakiti hatinya Levin," ucap Leon berusaha tenang, walaupun sekarang dia emosi ingin memukul Levin lagi. Tapi dia menahan diri, dia berusaha untuk menasehati Levin dan memberikannya saran yang baik sebagai seorang kakak.

"Aku tidak akan mengatakannya, kakak juga jangan katakan apapun padanya. Aku mohon kak!" seru Levin memohon kepada kakaknya.

"Kau tau seperti apa aku, Levin. Aku tidak akan menutup mata ketika aku mengetahui sebuah kebenaran."

"Ba-baiklah, aku akan memberitahukannya pada Aileen. Aku akan jujur padanya, tapi... tolong berikan aku waktu kak. Tolong juga kakak rahasiakan ini untuk sementara waktu," ucap Levin memohon.

"Levin..."

"Kumohon kak, aku pasti akan mengatakannya. Aku hanya perlu waktu. Bisakah kakak merahasiakan ini?" kata Levin dengan mata berkaca-kaca.

Leon menghela napas panjang. "Waktumu 4 hari, kalau dalam waktu itu kau tidak jujur pada Aileen. Aku yang akan memberitahunya," kata Leon dengan tegas. Mengapa Leon memberikan waktu 4 hari? Itu karena Leon akan pergi perjalanan bisnis ke California selama kurang lebih 4 hari dengan perjalanannya.

Levin pun mengusap air matanya, kemudian ia tersenyum.

"Terimakasih karena kakak sudah memberikanku kesempatan," kata Levin sambil tersenyum.

"Obati lukamu." Leon beranjak pergi dari sana, dia menghela napas kasar. Pria itu masuk ke dalam kamarnya, untuk menenangkan diri. Dia meninggalkan Levin seorang diri disana.

Raut wajah Levin yang tadi lembut dan tenang, kini kembali tegang. Otaknya berputar, bagaimana caranya agar menutupi semua ini dan membuat kakaknya tutup mulut. Bukan hanya Leon saja yang tau, tapi Richard teman baiknya juga tau semua ini.

"Tuhan, aku harus bagaimana? Aku seperti berada dijalan buntu. Aku tidak mau menikahi Laura dan kehilangan Aileen," gumam pria itu dengan tangan terkepal dibawah tangannya.

*****

Malam itu, Leon pamit kepada kedua orang tuanya karena dia akan berangkat ke California untuk urusan bisnis.

"Ma, Pa, aku berangkat dulu ya."

"Baiklah Leon. Selalu berhati-hati di manapun kau berada, jaga dirimu!" kata Sara seraya memeluk putra sulungnya itu.

"Iya Ma."

Leon membalas pelukan ibunya, tak berselang lama kemudian dia melepaskannya. Lantas, atensinya tertuju pada Levin yang berada dibelakang Sara.

"Levin, jangan lupa. 4 hari."

Levin menganggukkan kepalanya pelan, tapi tidak menunjukkan ekspresi apa-apa.

Namun hatinya berdebar kencang. Setelah
kakaknya pergi, barulah Levin mengatakan rencananya kepada kedua orang tuanya.

"Pa, Ma, ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian."

"Ya Levin?"

"Sebelumnya, ada yang ingin aku tanyakan pada mama dulu. Persiapan pernikahan aku dan Aileen sudah sampai mana?" tanya Levin seraya menatap ibunya. Sara dan Ivana memang mengurus persiapan pernikahan Aileen dan Levin.

"Semuanya sudah 99%, dari mulai gedung, dekorasi, hiburan, cathering, mua, undangan dan mas kawin juga sudah disiapkan. Hanya tinggal fitting gaun pengantin. Karena gaun Aileen agak kebesaran. Memangnya kenapa nak?"

Levin tersenyum mendengar penjelasan îbunya tentang persiapan pernikahan yang sudah hampir selesai itu.

"Ma, Pa, jika persiapannya sudah hampir selesai. Berarti aku bisa menikah dengan Aileen besok lusa kan? Tidak perlu menunggu 9 hari lagi?"

Pertanyaan Levin, sontak saja membuat Marco dan Sara terheran-heran, mengapa putranya tiba-tiba bertanya demikian?

Memajukan pernikahannya?

*****

BERSAMBUNG BAB 199

BAB 76Aruna tak peduli dengan mobil yang dikendarai dua orang pria tadi, ia sibuk menenangkan Gavin yang masih menangis....
04/10/2026

BAB 76

Aruna tak peduli dengan mobil yang dikendarai dua orang pria tadi, ia sibuk menenangkan Gavin yang masih menangis. Beberapa saat setelah anak itu tenang, ia cepat-cepat memutar sepeda dan mulai mengayuhnya.

Di dalam mobil, Tristan masih bisa melihat wanita malang itu kepayahan mengayuh sepeda. Apalagi dengan membawa barang tak sedikit, ditambah lagi menggendong anak.

Tak jarang anaknya itu memejamkan mata, mungkin silau dengan panasnya siang ini. Melihat bagaimana kondisi wajah anak kecil itu, Tristan sebenarnya tak tega. Namun, juga tak banyak yang ia lakukan.

Sementara mereka kembali dalam ruangannya, Aruna pun tiba di rumah. Kedua tangannya membawa barang belanjaan, masuk ke dalam rumahnya.

Yang pertama ia lakukan adalah membawa anaknya ke kamar, menyusuinya di sana dan Gavin kembali terlelap.

"Maafkan ibu ya, nak," Lirih Aruna sambil membelai wajah kecil itu.

Diperhatikan dengan seksama, wajah kecil itu pasti lelah setelah melakukan perjalanan ke pasar tadi. Panas dan pengap. Namun, ia harus apa. Aruna terpaksa karena tak ada siapapun yang bisa dimintai tolong untuk menjaga anaknya.

"Karena ibu, kau harus panas-panasan begini. Tidur yang nyenyak, ya. Anak ibu." Wanita itu mengecup kening sang anak sebelum meninggalkannya di kamar.

Ia lantas menuju ruang depan untuk menara barang belanjaannya tadi. Rasanya, ucapan Edwin tadi masih saja terngiang dalam benak.

Pria tadi berkata, bahwa nanti sore akan kembali datang. Dan, Aruna diminta untuk bersikap seperti biasanya. Memang sikap apa, yang bagaimana.

Ia menggeleng kecil, menepis pikiran buruk yang sering datang tiba-tiba, tiap kali teringat akan Edwin.

"Kau tidak boleh berfikiran buruk tentang dia. Kau harus kasihan dengannya, bimbing dia agar bisa meninggalkan masa lalunya yang kelam itu," Lirihnya pada diri sendiri.

Ia menata pernak-pernik yang dibutuhkan saat menjahit membuat pakaian. Siang malam menjahit, runa sampai lupa dengan Gavin.

Anak itu belum pernah dibuatkan pakaian satu pun. Padahal dalam hati ingin sekali membuat pakaian yang sama dengannya. Sepertinya lucu. Ia tersenyum sendiri lantas duduk di kursi kerjanya. Memainkan mesin jahit hingga hari menjelang sore.

Sore pun tiba dan Aruna telah rapi dengan anak lelakinya. Mereka bersantai di ruangan depan. Sesekali terdengar tawa dari wanita itu, saat melihat anaknya yang mulai merangkak.

Ternyata, bermain dengan Gavin mampu menghilangkan rasa lelah dan penat. Sungguh, jika memungkinkan ia hanya ingin menjalani hidup yang seperti ini saja. Lebih menyenangkan dan jauh dari pertengkaran tentang hati.

Suara mobil di depan rumah membuatnya terkesiap, lantas beranjak dari tempat duduk. Tanpa disadari, bibirnya telah membentuk senyuman lebar. Wanita itu, sebenarnya membutuhkan sosok pelindung. Hanya saja, entah siapa.

"Aruna," Sapa Edwin melangkah melewati pintu dengan sedikit merunduk.

Pria itu mengulurkan tangan yang memegang kantong plastik ke depan wajah Aruna yang mendadak berbinar.

"Apa ini?" Tanya Aruna tak mengerti. Juga tak bisa menahan untuk tidak tersenyum.

Meski kadang ia merasa aneh dengan sikap Edwin yang terkesan seperti hanya ingin menginginkan sesuatu darinya. Namun, jika pria itu sedikit saja bersikap lembut padanya seperti ini, perasaan anehnya pun menghilang tak berbekas.

"Untuk makan malam kita nanti," Jawab Edwin. Tatapan pun masih lekat seperti biasanya. "Bawa ke belakang, ya. Aku mau mandi."

Aruna menurut, ia meninggalkan Gavin yang masih asyik dengan mainannya. Seakan lupa dengan sikap Edwin tadi. Setiap kali datang, pria itu tak pernah menyapa anaknya. Jangankan menyapa, melirik saja enggan.

Aruna menyiapkan makan malam di atas meja kecil, matanya membulat ketika tiba-tiba Edwin datang dan memeluknya dari belakang.

Badan pria itu masih basah dan hanya mengenakan handuk saja, aroma sabun dan sampo menguar memenuhi indera penciuman. Menimbulkan getaran aneh yang membuat Aruna mendadak gelisah.

"Mas. Pakai baju dulu sana," Usirnya dengan suara lembut. Suara itu, bagi Edwin cukup mengundang hasrat.

Itulah yang selalu membuatnya datang kemari, masih penasaran dengan badan seksi milik Aruna. Kenapa wanita itu sulit sekali ditaklukkan.

"Aku menyayangimu," Bisik Edwin di depan telinga Aruna hingga membuatnya bergidik, sejenak menghentikan aktifitas dan berbalik arah.

Ia menatap Edwin yang juga menatap intens padanya. Tatapan itu, ia bingung mengartikannya. Jika benar-benar tatapan cinta, mengapa hanya kadang-kadang saja.

Tiba-tiba saja ia merasakan benda dingin menempel cepat di bibirnya. Entah apa yang dilakukan Edwin tadi, Aruna mengerjap tak mengerti.

Membuat pria di depannya itu tersenyum tipis dengan pandangan sayu. Belum sempat Aruna menyadari, Edwin kembali menemukan lengkung bibir indah milik wanita itu.

Menahannya beberapa saat, ingin melihat bagaimana reaksi Aruna setelahnya. Ternyata wanita itu diam saja, seperti memberikan lampu hijau untuk melakukan yang lebih lagi.

Maka Edwin menurutkan nalurinya, tak lama, dan Aruna sepertinya tersadar dengan apa yang dilakukan. Wanita itu mendorong dada Edwin menggunakan kedua tangan, ia pun menjauhkan diri darinya.

"Jangan, Mas," Lirihnya dengan wajah menunduk dan memerah.

Ujung jemarinya mengusap sudut bibir yang semakin terlihat indah saat seperti itu. Edwin yakin, perlakuannya tadi telah mengundang gejolaknya sebagai wanita normal.

"Kenapa?" Tanya Edwin berusaha mendekati lagi, tetapi kedua tangan Aruna menahannya. Ia menurut.

"Aku mohon, jangan begini." Aruna menarik nafas panjang, terlihat sekali dada wanita itu bergerak naik turun. Pasti sedang menetralkan rasa tadi, agar segera hilang dalam ingatan.

"Memangnya kenapa?" Belum mendapatkan jawaban, mereka mendengar suara Gavin mulai merengek di ruang depan.

Aruna merasa ada yang menyelamatkannya dari kungkungan hasrat tak jelas. Ia melangkah cepat meninggalkan Edwin di dapur yang masih bertelanjang dada.

Di ruang depan itu, Aruna merengkuh kuat-kuat Gavin yang telah duduk entah sejak kapan. Di saat seperti ini, sebenarnya ada rasa sesal mengganjal dalam dada.

Ia merasa tak mendampingi perkembangan Gavin dengan baik. Ia tak bisa fokus dengan anaknya itu, karena siang malam harus berkutat dengan pekerjaan. Seringkali Gavin dibiarkan bermain sendiri di rumah depan itu.

Dan saat seperti tadi, apakah ia terlalu egois. Mementingkan kesenangannya saja, tanpa peduli dengan Gavin.

"Kenapa anakmu?" Tanya Edwin yang ternyata telah berpakaian dan duduk tak jauh darinya.

Selama ini Aruna belum pernah mendegar Edwin menyebutkan nama Gavin untuk anaknya. Sepertinya pria itu kurang s**a dengan anak kecil tak berdosa itu.

"Gavin haus," Jawab Aruna.

"Kau yakin akan membesarkan anak itu seorang diri?" Pertanyaan Edwin tiba-tiba membuat Aruna menoleh, matanya memicing seperti membutuhkan penjelasan lanjutan.

"Maksudku, jika kau tak mampu. Kenapa tidak diserahkan kepada ayahnya?"

"Apa?" Tanya Aruna tak percaya, semakin menambah rasa anehnya dengan pria itu. Kenapa begitu benci dengan Gavin, apa karena anak itu keturunan dari Tristan.

Mendengar Aruna yang spontan memberikan respon kaget, Edwin menyadari ada yang salah dengan ucapannya.

"Bukan itu maksudnya, tapi, maksudku, berikan saja Gavin itu pada Tristan. Dan kau akan bebas menjalani hidup lagi seperti dulu."

"Tidak!"

"Apa usulanku salah?" Tanya Edwin membeliak. Apalagi setelah wanita itu menjawab, "tentu saja!" Dengan mata menyorot tajam. Baru kali ini Aruna terlihat semarah itu.

"Tapi, kan, dari pada kau kerepotan mengurusnya seorang diri seperti ini. Aku sangat kasihan melihatmu, Aruna. Aku tidak ingin melihatmu terlalu lelah dan banyak pikiran begini," Ungkap Edwin membuat Aruna mendengus sambil memalingkan wajahnya.

Dalam hatinya masih bertanya, jika memang Edwin kasihan melihatnya berjuang seorang diri, kenapa tidak lantas membantu dengan mengajak menikah.

"Kau tidak tau bagaimana rasanya!" Teriak Aruna tertahan, wanita itu lantas membawa anaknya masuk ke kamar. Meninggalkan Edwin tercengang di ruang tamu.

*****

BERSAMBUNG BAB 77

Address

Jalan Rajawali No 67
Central Jakarta

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Remix Video Lucu posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category