Hiburan Warga Konoha

Hiburan Warga Konoha Buat Yg Sudah Follow, Like, Dan Komen, Semoga Rezekinya Lancar & Sehat selalu.

05/10/2026

GAGAL SARAPAN PAGI 😭






05/10/2026

DI USIR TUKANG BAKSO 😭






01/10/2026

MAAFKAN BAPAK 😭






30/09/2026

AKAD YANG BATAL DI DETIK TERAKHIR






BAB 61"Aku mau ke toko. Kau mau pesan sesuatu?" Tanya Tristan sambil membawa tas kecil yang ia ambil dari dalam tas besa...
02/09/2026

BAB 61

"Aku mau ke toko. Kau mau pesan sesuatu?" Tanya Tristan sambil membawa tas kecil yang ia ambil dari dalam tas besarnya.

"Mau mencari apa ke toko?" Aruna ingin tau. Tristan yang hampir melangkahkan kakinya itu tertunda. Ia duduk di dekat perempuan itu dan bayinya yang masih terlelap. Ia harus memastikan, segera kembali sebelum bayi itu kembali bangun dan meraung kehausan.

"Ingin membelikan susu formula untuk anakmu."

"Kenapa?" Tanya Aruna lagi dengan kening mengernyit.

"Sambil menunggu asimu lancar dan keadaanmu membaik. Tidak apa-apa diberikan susu formula sementara," Jawabnya.

Hal itu, tentu saja membuat Aruna membelalak tak percaya. Kali ini, yang ia pikirkan bukan mengenai asi yang harus diganti susu formula. Namun, sikap Tristan yang tiba-tiba peduli padanya.

"Kenapa, kau tidak setuju?" Tanyanya, karena melihat raut wajah Aruna yang sedikit berubah.

"Tidak. Bukan begitu, Juragan. Silahkan jika mau ke toko."

"Jadi, kau tidak pesan sesuatu?"

"Tidak usah. Terimakasih."

Aruna menggiring kepergian pria itu hingga menghilang di balik pintu ruangan. Selanjutnya, helaan nafas besar ia keluarkan. Sebenarnya, ada kebutuhan penting yang tidak boleh ditinggalkan untuk perempuan setelah melahirkan.

Mengingat kembali kejadian saat masih menjadi pengantin baru, ia tak memiliki pembalut sama sekali. Haruskah Hal itu kembali terulang saat ini. Hendak memesannya, tapi tak enak hati. Karena hari ini telah terlalu banyak merepotkan Tristan.

Mungkin saja pria itu terlihat baik diluarnya, sementara di dalam hatinya siapa yang tau. Mungkin saja Tristan terpaksa melakukan semuanya, bisa jadi. Begitulah yang ada di dalam kepala Aruna. Ia yakin, pria itu pasti hanya terpaksa.

Ia melirik Tristan yang keluar ruangan meninggalkannya dengan cepat. Semakin menambah rasa tak enaknya pada pria itu, karena dirinya, pria angkuh itu harus repot kesana-kemari.

Ada niat dalam hati untuk mengganti uang yang telah dikeluarkan Tristan. Namun, uang darimana. Ia bahkan tidak pernah berfikir jika harus menginap di puskesmas seperti ini, yang pasti biayanya akan mengalami pembengkakan banyak.

Pria itu tiba keluar gedung dan masuk mobil dengan tergesa-gesa, mengingat malam yang hampir menuju pada jam ke sembilan. Maka ia harus memacu kendaraannya dengan sangat cepat.

Di toko, Tristan cepat-cepat masuk, khawatir segera tutup karena waktu yang memang semakin malam. Tiba di dalam, ia kebingungan hendak memilih susu yang mana. Deretan susu dengan kemasan besar dan kecil itu, baginya sama semua. Hanya merknya saja yang berbeda.

Dilihatnya dengan seksama, tetapi yang ia perhatikan hanya harga dan nama merk saja, bukan yang lain. Semakin lama ia perhatikan semakin membuat kepala pusing. Tristan menggeleng dengan menggaruk kepala yang tan gatal, di liriknya kanan dan kiri. Tak ada satupun pelayan di sana.

Ia mendengus frustasi, tau keadannya seperti ini ia tidak akan sok baik pada perempuan itu. Yang akhirnya hanya merepotkan dirinya saja, hingga Kantor pun terpaksa ditinggalkan.

Ia memutar badan, membelakangi deretan kardus susu tadi dengan menengadahkan wajah. Benaknya bertanya, sebenarnya demi apa ia lakukan semua itu?

Apakah demi Aruna, sementara perempuan itu sudah menjadi perempuan lain di hatinya. Beberapa bulan yang lalu, memang benar, ia adalah suaminya. Namun, kini semuanya telah berubah.

"Ada yang bisa dibantu, juragan?" Tanya seorang pelayan yang kebetulan lewat di dekatnya. Tristan menoleh.

"Ini, Mbak. Saya mau cari susu formula. Masih bingung mau cari yang mana," Jawabnya.

"Untuk usia berapa, Juragan?"

"Bayi baru lahir."

"Oh. Kalau begitu yang seperti ini, juragan. Tinggal memilih apa merknya saja."

Pelayan itu menunjukkan kemasan susu yang untuk bayi baru lahir, Tristan mengamatinya lagi. Ternyata merknya pun banyak dan cukup membuatnya pusing.

Akhirnya ia mengambil kesimp**an, bahwa semakin mahal harganya, maka akan semakin baik kualitasnya.

"Kalau begitu, carikan sekalian botol susunya, Mbak," Pinta Tristan yang langsung dikerjakan oleh si pelayan tadi.

"Ini Juragan, apa lagi?"

"Sekalian kebutuhan bayi dan Ibunya, aku kurang paham." Tristan malah mengambil kursi plastik yang biasa digunakan salah satu pelayan untuk melepas lelah.

"Baik, Juragan." Pelayan itu memanggil salah satu temannya dan berbicara sebentar, lalu mengambil keranjang dan berkeliling di antara rak barang.

Cukup lama Tristan menunggu di tempatnya, sampai-sampai merasakan perih di perut karena baru terisi kopi panas dan beberapa gorengan saja tadi sore.

Hendak keluar sebentar untuk makan di warung, tetapi teringat makanan yang ia bawa dari rumah sore tadi masih banyak. Ia mengurungkan niatnya. Lebih baik menunggu pelayan tadi, kembali membawakan barang yang dipesan sambil bermain gawai.

Hampir satu jam, dua pelayan tadi baru datang dengan dua keranjang penuh.

"Sudah, juragan. Ada lagi yang mau dibeli?" Tanya salah satu. Tristan pun berdiri, mengamati barang-barang dalam keranjang itu, ia sama sekali tak memahami nama dan kegunaannya.

"Tidak. Langsung ke kasir saja."

Ia berjalan mendahului kedua pelayan menuju kasir dan menunggunya di sana. Di depan kasir itu, ada beberapa pembeli yang antri, menatap aneh pada keranjang penuh yang diantarkan dua pelayan tadi.

Jika dilihat, Orang-orang itu mungkin mendengar beritanya bersama Aruna. Yang bercerai ketika Aruna hamil, dan kini sudah melahirkan, tetapi kenapa ia masih mengurusi semuanya. Mungkin begitu yang ada dalam benak mereka, dan tidak ada yang berani untuk mengungkapkannya.

la masih mengamati dua orang terakhir, ketika meninggalkan kasir masih berbisik-bisik mencurigakan. Bisa dipastikan, mereka sedang membicarakannya.

"Sudah, Juragan," Suara petugas kasir membuyarkan lamunannya. Ia segera membayar dan mengangkut semua barangnya ke dalam mobil.

Sambil mengemudi, pikirannya masih melayang. Sikap yang ia ambil ini mungkin penuh resiko, apalagi di mata sebagian orang yang telah mengetahui kisah perceraiannya. Jika mereka belum tau, mungkin akan biasa saja, seperti bidan tadi contohnya.

Yang ia tahu, Tristan dan Aruna masih hidup bersama, hingga mereka akhirnya dikaruniai anak lelaki yang rupawan.

Ia mendengus kesal, dipacunya mobil dengan kencang hingga beberapa menit kemudian tiba di depan puskesmas.

Keadaan telah sepi, pun dengan warung di seberang jalan, hanya ada segelintir orang saja yang masih di sana.

Jam sepuluh malam, ia baru masuk ruangan tempat Aruna dan bayinya berada.

Di sana, ibu dan bayi baru lahir itu sama-sama terlelap, tak menyadari kedatangannya sama sekali. Setelah meletakkan hasil belanjaannya dari toko tadi, ia duduk di dekat Aruna.

Memperhatikan bagaimana raut wajah penuh lelah itu. Terlelap damai sekali. Dalam keadaan tertidur seperti itu, wajah perempuan itu terlihat tenang dan meneduhkan.

Tanpa disadari, ia sudah beberapa menit menatap lekat wajah terlelap itu. Lalu berakhir dengan nafas tercekat, ada rasa membuncah yang membuatnya bingung.

Ia melanjutkan ke arah bayi mungil yang juga terlelap di sebelah ibunya. Yang ia heran adalah, setiap kali menatap wajah mungil itu hatinya bergetar aneh. Seperti ada sinyal tak kasat mata, yang membuatnya merasakan dekat sekali dengan sang bayi.

Seperti ada ikatan batin aneh, yang ia sendiri masih heran memikirkannya.

Ikatan batin apa memangnya, padahal tidak ada ikatan apapun antara dia dengan bayi itu. Tristan menghibur dirinya sendiri, agar tidak melulu memikirkan tentang rasa aneh yang menguasai hati.

Ia beranjak, membuka kotak nasi yang masih utuh dengan makanan. Meski dingin, Tristan tetap memakannya. Ternyata, makan tempat seperti ini tidak begitu nikmat meskipun menggunakan lauk lezat.

Apalagi baru beberapa suap, ia harus mendongak saat mendengar suara Aruna terbangun.

"Juragan?" Suara pertama yang keluar dari mulut perempuan itu. Tristan terpaksa menghentikan makanannya, ia berjalan ke arah mereka dan duduk di sana.

"Ini masih malam. Kenapa kau bangun?"

Tanyanya datar.

"Juragan baru makan malam?"

"Iya. Baru sempat."

"Ini pasti karena saya," Lirih Aruna dengan wajah bersalah. Ia berusaha menegakkan badannya yang masih lemas.

Memang sudah tidak selemas tadi sore, susah payah ia mengangkat badan agar bisa duduk.

"Maafkan saya, Juragan," Lirihnya lagi, kini Aruna telah bisa duduk meski kondisinya masih terlihat lemas.

Tristan sebenarnya ingin mencegah, tetapi jika perempuan itu bisa bangun, artinya akan segera sembuh dan bisa p**ang lebih cepat. Itu lebih baik, itu akan segera membuatnya bebas dari semua ini. Bisik Tristan pada dirinya sendiri.

"Maaf untuk apa?"

"Untuk semuanya. Karena hari ini saya telah membuat anda kerepotan dan mengorbankan pekerjaan, serta waktu untuk istirahat," Jelas Aruna. Sekilas, ia melihat ada dua plastik besar di sudut ruangan. Ia yakin, itu pasti barang-barang ia Tristan beli tadi.

Kenapa banyak sekali, tanya Aruna dalam hatinya.

Tiba-tiba si bayi menggeliat dan mulai menangis, membuat mereka berdua kembali disergap rasa bingung.

Tristan segera melakukan seperti saran bu bidan tadi, meracik susu untuk si bayi. Dengan cepat-cepat agar bayi itu tidak semakin kencang suaranya, sebotol kecil ia bawa mendekati Aruna dan bayinya.

Ia dengan sigap mengangkat bayi dan meletakkan dipangkuan ibunya, lalu memberikan botol kecil itu ke dalam mulut bayi. Seketika, suara tangisnya mereda.

Aruna dan Tristan yang awalnya panik, kini bisa menghembuskan nafas lega. Keduanya saling memperhatikan bagaimana bayi itu dengan lahap meminum susu dari botolnya.

*****

BERSAMBUNG - BAB 62

BAB 181Entah apa yang dipikirkan Leon, pria itu tiba-tiba melakukan hal yang berada diluar nalarnya, yang selama ini sel...
01/09/2026

BAB 181

Entah apa yang dipikirkan Leon, pria itu tiba-tiba melakukan hal yang berada diluar nalarnya, yang selama ini selalu berpegang teguh pada logika. Kali ini bukan logikanya yang sedang berjalan, tapi hatinya. Hatinya tergerak untuk mengikuti Aileen ke toilet wanita, memeluk dan menciumnya seperti ini.

Aileen tidak tidak berdaya didepan kungkungan tubuh kekar pria itu, bahkan kedua tangannya digenggam erat oleh Leon diatas kepalanya sendiri. Mau bicara pun susah, karena bibir gadis itu dibungkam oleh ciuman brutalnya. Jika ciuman Levin terkesan lembut dan hati-hati, maka ciuman Leon terkesan agresif dan kasar. Tapi anehnya, Aileen malah menyukai ciuman yang agresif dan menggebu-gebu ini.

Sial! Bisa-bisanya dia menikmati ciuman dari calon kakak iparnya sendiri?

Bukankah seharusnya dia menghindar. Ya, isi kepala gadis itu ingin menghindar, tapi tidak terealisasikan. Rasa takut akan ada orang yang tiba-tiba datang, seakan sirna karena suasana yang semakin lama semakin panas ini.

"Eungh-"

Beberapa kali lenguhan gadis itu terdengar, kala bibir Leon aktif mengeksplorasi bibir Aileen dengan intens dan bergairah. Aileen sendiri masih merasa ini seperti mimpi, dimana Leon si kulkas 21 pintu itu menciumnya. Rasanya mustahil!

Pria yang bahkan tidak pernah meliriknya setelah menghabiskan usaha selama 20 tahun. Sekarang pria ini sedang menciumnya, seolah-olah pria ini memiliki perasaan padanya.

'Kak Leon menciumku? Mana mungkin?

Apa ini mimpi lagi seperti waktu itu?'

tanyanya dalam hati.

Tangan Leon bergerak mengusap-usap tengkuk Aileen lalu menekannya guna memperdalam ciuman mereka. Ketika ciuman mereka semakin dalam, suara seseorang diluar toilet, membuat kesadaran Aileen kembali.

"Ai! Apa kau didalam? Apa kau baik-baik saja?" tanya Levin.

'Kak Levin!' pekik Aileen kaget, didalam hatinya.

Gadis itu berusaha melepaskan tangannya dari tangan Leon sekuat tenaga. Namun, tenaga Leon tidak sebanding dengan tenaganya. Pria itu terlalu kuat untuk dilawan, bahkan satu tangannya saja bisa mengunci kedua tangan Aileen.

"Sepertinya dia sudah keluar. Tapi kemana?" gumam Levin bingung, dia pikir tidak ada orang didalam toilet wanita. Akhirnya pria itu melangkah pergi, untuk mencari Aileen ditempat lain.

Mmphh...mmphhh

Dia berusaha melepaskan pagutan bibirnya dari Leon, sehingga dia pun memakai cara yang tak terduga. Dimana kakinya menendang bagian privasi milik Leon.

Bugh!

"Akk!"

Aileen meraup oksigen sebanyak-banyaknya, begitu pagutan bibir mereka terlepas, gadis itu juga mengusap bibirnya yang basah oleh saliva.

Plak!

Tangan Aileen melayang, tepat dipipi Leon dengan keras. Dadanya bergemuruh, wajahnya memerah, dia menatap tajam pada Leon. Wajah Leon terhuyung kesamping, setelah mendapatkan tamparan dari Aileen.

"Kau! Apa yang kau lakukan? Beraninya kau menciumku! Apa kau sudah gila?" sentak Aileen emosi.

"Kau juga menikmatinya kan?" tanya Leon, seakan hal barusan bukan apa-apa baginya dan bukankah kekurang ajarannya.

"Apa?" Aileen terperangah, dia tidak percaya bahwa Leon akan bertindak seperti seseorang tak bersalah.

"Kau menikmatinya, kau bahkan tidak menolak saat kita berciuman. Kita selingkuh dari Levin, ah... tidak. Kau yang selingkuh dari Levin."

Dada Aileen terasa berdebar, napasnya tercekat mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Leon. Pria yang biasanya irit bicara itu, malah bicara banyak.

"Selingkuh? Aku tidak, kau yang duluan menciumku!" seru Aileen kesal. "Dan kau sangat aneh, kenapa kau tiba-tiba melakukan ini?" tanya Aileen lagi dengan bingung.

Leon terdiam ditanya seperti itu, egonya melarang ia untuk bicara tentang apa yang ada didalam hatinya.

"Aku sedang bertanya padamu, kenapa-"

"Aku hanya iseng. Aku menciummu karena itu." Jawaban itu, hanya kata itu yang lolos dari bibir Leon begitu saja. Entah kenapa dia bicara demikian dan tanpa sadar, kata-katanya itu malah semakin menyakiti Aileen.

Kedua mata Aileen sontak terbuka lebar, setelah mendengar jawaban dari Leon.

Amarahnya semakin memuncak, dia mendekati Leon dengan sorot mata yang menyalang tajam.

"Iseng? Kau menciumku karena iseng? Kukira kau hanya brengsek, ternyata kau juga bajingan," desis Aileen. Belum pernah dia semarah ini pada seseorang, hanya pada Leon, dia bisa merasakan cinta yang berubah menjadi benci. Sekarang, mungkin dia akan membenci pria itu.

"Apa kau menganggapku wanita murahan? Begitu?"

Pria itu hanya diam seperti batu, tangannya terkepal kuat. Lidahnya ingin bicara, tapi logikanya berkata jangan. Diamnya Leon, semakin membuat Aileen sakit hati.

"Lain kali, lakukan keisengan ini dengan kekasihmu. Hanya karena aku pernah menyukaimu, bukan berarti kau bisa berbuat seenaknya kepadaku. Kau benar-benar keterlaluan! Aku membencimu! Aku benci!" seru Aileen marah, perlahan-lahan air matanya jatuh membasahi wajah. Lalu gadis itu pun berlari keluar dari toilet wanita, meninggalkan Leon sendiri disana.

"Apa yang sudah kulakukan? Kenapa aku-

Pria itu sadar dengan apa yang dilakukannya, kemudian dia keluar untuk mengejar Aileen yang pergi. Jantungnya berdegup kencang, Leon takut Aileen akan benar-benar membencinya.

Rasa yang tidak dapat dijelaskan ini, membuat Leon bertindak tidak sesuai logikanya. Dia cemburu, dia bertindak atas dasar kata cemburu itu.

Setelah kejadian itu, Leon dan Aileen tak pernah bertemu lagi. Kecuali pada hari ini, hari pertunangan Aileen dan Leon yang akan diadakan disebuah villa mewah milik keluarga Levin.

******

BERSAMBUNG 182

31/08/2026

THE TARNISHED CROWN




31/08/2026

GUNDIK SILUMAN ULAR PUTIH




BAB 60"Biar saya sendiri saja." Aruna hendak mengambil kotak nasi dari tangan Tristan, tetapi hendak menegakkan kepala s...
30/08/2026

BAB 60

"Biar saya sendiri saja." Aruna hendak mengambil kotak nasi dari tangan Tristan, tetapi hendak menegakkan kepala saja belum bisa.

Kepala yang akan ia tegakkan kembali terhempas ke atas bantal. Ia mendesah. Pasrah.

"Sudah. Jangan dipaksakan lagi." Suara datar Tristan terdengar, bersamaan dengan satu sendok nasi terangsur ke depan wajah Aruna.

Ia tak percaya. Masih menatap sendok itu dengan wajah tertegun.

"Buka mulutmu," Pinta Tristan, membuat Aruna tersadar. Ia akhirnya mau membuka mulut, menerima suapan pertama dari seorang Tristan.

Pria yang selama ini selalu bersikap kurang baik kepadanya. Hari ini, entah dengan alasan apa, mendadak pria itu berubah. Meski Aruna paham, Tristan tidak akan bisa selembut Edwin dalam memperlakukannya.

Sayang sekali, disaat seperti ini sekretaris itu sedang p**ang ke kota. Padahal Aruna sudah merasa sangat nyaman bersama pria romantis itu.

Satu suapan. Dua suapan. Hingga nasi dalam kotak yang dibawa Tristan hampir habis. Dan Aruna menolak untuk suapan yang kesekian kalinya.

Ketika Tristan mengembalikan kotak nasi itu, bayi merah di sebelah Aruna memekik lantang. Suara tangisannya mengisi seluruh ruangan kecil itu, memecah malam yang sepi.

Keduanya kaget, tak tau apa yang harus dilakukan. Sementara Aruna untuk memiringkan badannya saja masih berat.

"Bayimu menangis. Kenapa dia?" Tanya Tristan yang baru saja meletakkan kotak makanan di atas tasnya tadi.

"Aku juga tidak tau, mungkin kehausan," Jawab Aruna, wajahnya mendadak panik.

Tristan kembali mendekati Aruna, kebingungan sendiri. Karena baru kali ini berada dalam situasi yang begitu rumit.

Beberapa tahun dihadapkan dengan sulitnya masalah di perusahaan, tetapi semua tidak serumit saat ini. Meskipun hanya menghadapi seorang perempuan dan bayinya yang baru lahir. Ternyata lebih merepotkan dari pada apapun.

Terlebih lagi, keduanya harus canggung saat keadaan memaksa mereka untuk berdekatan satu sama lain.

"Kehausan? Lalu, lalu bagaimana ini?" Tanya Tristan lagi, wajahnya semakin bingung.

Hendak mengangkat bayi itu belum berpengalaman sama sekali. Sementara tangisnya semakin lama semakin memekakkan telinga.

Beruntung, tak lama bu bidan masuk dan segera mengambil alih sang bayi.

"Dia kehausan. Mari Mbak Runa, susui bayi anda," Pinta Bu Bidan dengan mendekatkan bayi itu ke atas dada Aruna.

Hal itu membuat Aruna dan Tristan gelagapan tak percaya.

"Apa saya harus menyusui di sini, bu?" Tanya Aruna konyol. Bu Bidan pun tersenyum dibuatnya.

"Tentu saja, Mbak runa. Memang mau di mana lagi, lagi p**a Mbak kan belum terlalu sehat. Memang kenapa, sih?"

"Eh, e, tidak. Tidak apa-apa," Perempuan itu menjawab kikuk.

"Ya sudah kalau begitu, lekas susui bayinya."

Tristan memilih keluar saja dari tempat yang membuatnya selalu terjebak dalam keanehan itu. Yang benar saja? Gumamnya dalam hati.

Apalagi, ini adalah awal dari semuanya. Belum lagi nanti malam, dan besok jika perempuan itu ternyata masih belum diijinkan p**ang.

Hanya satu yang Tristan harapkan saat ini. Besok pagi, Aruna dan anaknya sudah bisa p**ang, dan ia bisa bebas dari itu semua.

Ia memilih duduk di teras puskesmas. Gedung ini, memang terletak di pinggir jalan raya desa. Di depan sana cukup ramai oleh warung kopi bawah tenda.

Ada beberapa anak muda sedang nongkrong di sana.

Tristan berdiri, mengamati deretan warung yang buka setiap sore hingga malam itu. Sepertinya, bergabung di sana akan lebih baik, daripada hanya dibuat pusing oleh suara tangisan bayi itu.

Akhirnya ia berjalan ke seberang jalan, masuk pada salah satu warung tenda, dan bergabung bersama orang-orang di sana.

Sementara itu, di dalam ruangan. Aruna masih menikmati proses menyusui bayi untuk pertama kalinya. Ada rasa membuncah yang tidak dapat dijelaskan dengan apapun, setiap kali melihat wajah anaknya itu, juga melihat bagaimana lahapnya saat meminum asi.

Hal itu tidak berlangsung lama, karena si bayi kembali meraung. Membuat Aruna mengerjap heran.

"Kenapa menangis lagi, Bu?" Tanyanya.

"Sepertinya ASI Mbak Runa masih belum lancar."

"Lalu, harus bagaimana?"

"Tidak apa-apa, Mbak. Semakin sering Mbak Runa memberikan asi, maka asi pun akan semakin bertambah. Jadi tidak perlu khawatir, yang penting adalah asupan makanan mbak saja yang harus dijaga."

Aruna mengangguk paham. Ia merasakan masih belum begitu kuat untuk mengangkat kepalanya. Memori hari-hari kemarin yang begitu menguras otak berlarian dalam benaknya. Ia memang sering tidur hingga tengah malam, demi menyelesaikan tugas menjahit agar para pelanggan tidak kecewa padanya.

"Mbak Runa, saya ke depan dulu, ya. Sekalian mau membahas masalah asi Mbak tadi yang belum lancar, sama Juragan muda."

Belum juga Aruna menjawab, Bu Bidan telah pergi dan menutup pintunya rapat-rapat. Ia kembali di ruangan itu seorang diri, Bu Bidan pergi setelah bayi tadi mau tenang dan tertidur.

Ia tak bisa membayangkan bagaimana akan melewati malam ini di puskesmas, bersama dengan Tristan dan bayi mungil yang baru saja terlahir ke dunia. Mengingat saat ini, pria itu memilih keluar daripada menemaninya di sini, bisa dipastikan nanti malam pun sama.

Di luar, Tristan masih asyik bersama beberapa orang di warung kopi beratap tenda. Berderet di pinggir jalan depan gedung puskesmas ini.

Bu bidan sampai celingukan di teras sana, mencari-cari keberadaan Juragan muda. Yang bersangkutan pun diberitahu oleh seseorang, pria itu segera kembali setelah membayar makanannya. Juga dua bungkus gorengan hangat ia bawa keluar dari warung.

"Bu Bidan mencari saya?" Sapa Tristan ketika tiba di depan teras, yang dipanggil pun segera menoleh.

"Juragan dari mana? Mbak Aruna tadi mencari anda," Katanya sambil terkekeh menutup mulut.

Tristan pun mendengus kesal, "aku kira ada apa!" Geramnya.

"Haha, bisa kita bicara sebentar, Juragan?"

"Tentu saja. Ada apa?" Tanya Tristan ketika di duduk di depan bu bidan di ruang depan, tempat biasanya pasien mengeluhkan sakitnya.

"Begini, Juragan. Asi istri anda itu belum lancar, ia keadaannya masih belum stabil. Butuh waktu beberapa hari agar asinya banyak. Tentunya dengan ditunjang dengan makanan yang tepat."

Tristan menyimak malas. Hatinya kembali menggerutu, istri anda kata bidan tadi? Dan, ucapan Bidan itu, seolah-olah ialah orang paling bertanggung jawab atas Aruna dan bayinya. Sial!

"Lalu?" Ia menyahut tak semangat. Bu Bidan tersenyum, sama sekali tak menaruh rasa curiga pada gelagat Tristan yang tak seperti suami pada umumnya, kepada istrinya yang baru saja melahirkan.

"Jadi, bayi anda di beri susu formula dulu apa bagaimana? sambil menunggu Mbak Runa pulih kondisinya," Bu Bidan memberikan pertimbangan.

"Susu formula dulu tidak apa-apa," Tristan menjawab tampa pertimbangan apapun.

"Baik. Kalau begitu, juragan harus mencarikan susu dan alatnya dulu karena kami tidak menyediakan. Dan juga, nanti malam, juragan yang harus lebih sigap dalam meracik susu formula itu, tiap kali bayi anda bangun dan menangis. Karena anda tau sendiri kan, mbak runa kondisinya masih seperti itu," Terang Bu Bidan panjang lebar.

Tristan membulatkan mata, tak percaya dengan penjelasan tadi. Rupanya, jawaban yang ia berikan pada Bu Bidan tadi malah menjadi bumerang baginya.

Sial!

Lagi-lagi ia menggerutu, menyesal telah memberikan keputusan untuk susu formula tadi. Yang ujung-ujungnya, ia sendiri yang akan kerepotan.

"Jadi bagaimana, Juragan. Masih ada yang ditanyakan lagi?"

"Sementara tidak. Aku akan ke toko mencari semua keperluan itu. Oh iya, ini untuk Bu Bidan." Salah satu bungkusan yang ia bawa dari warung tadi disodorkan ke depan Bu Bidan.

"Terimakasih, Juragan. Seharusnya tidak perlu serepot ini."

"Tidak masalah."

Sebelum bidan tadi kembali menjawab, ia cepat-cepat membuka pintu dan masuk ke ruangan Aruna.

Perempuan yang masih berbaring itu tersenyum indah sekali ketika melihatnya masuk. Sampai-sampai Tristan salah tingkah dibuatnya, karena baru menyadari perempuan itu memang cantik.

"Aku mau ke toko. Kau mau pesan sesuatu?"

*****


BERSAMBUNG - BAB 61

BAB 180Setelah mendengar dari bibir Aileen sendiri, bahwa gadis itu sudah menyetujui pernikahannya dan Levin. Perasaan L...
30/08/2026

BAB 180

Setelah mendengar dari bibir Aileen sendiri, bahwa gadis itu sudah menyetujui pernikahannya dan Levin. Perasaan Leon menjadi tidak karuan, sepanjang hari dia uring-uringan dan dihari yang dingin ini, dia memutuskan untuk memanaskan tubuhnya dengan minuman keras. Ya, siapa tau minuman keras bisa menjadi obat untuk menyembuhkan perasaannya yang tidak karuan ini.

Nyatanya, meski sudah menghabiskan 2 botol minuman keras, dada Leon masih terasa sesak. Pembicaraan Aileen dengan temannya tentang pernikahan, membuat hati Leon panas. Terlebih lagi, Aileen mengatakan dia sudah berciuman dengan Levin. Sejauh apa hubungan mereka? Apa sudah sampai tidur bersama? Pikiran Leon jadi melanglang buana kemana-mana.

Berpikir Levin dan Aileen sejauh itu, rasanya menyakitkan untuk Leon.

"Bukankah wajar saja kalau mereka sampai melakukan itu? Mereka kan sepasang kekasih!" gerutu Leon sambil meneguk kembali alkohol itu dari gelasnya dan langsung habis sekali tenggak.

"Pak, sebenarnya apa yang sedang bapak bicarakan? Siapa mereka?" tanya Evan bingung. Pria ini tidak banyak minum, karena dia harus menjaga bosnya yang sudah mabuk dan buktinya sekarang dia meracau tidak jelas.

"Dia tidak tahu saja, akulah ciuman pertamanya. Aku...aku juga cinta pertamanya!" Leon sudah mulai melantur, matanya tampak sayu. Sepertinya, sebentar lagi pria ini akan benar-benar kehilangan kesadarannya.

"Apa pak Leon sedang membicarakan nona Aileen?" gumam Evan pelan, dia bertanya pada dirinya sendiri. Menebak, apakah Leon seperti ini karena Aileen. Setahu Evan, orang yang menganggap Leon cinta pertamanya adalah Aileen. Gadis yang selalu mengikutinya kemanapun juga, seperti permen karet yang terus menempel meski sudah diinjak -injak. Tapi, sekarang gadis itu sudah menjalin hubungan dengan Levin.

"Pak, apa ini soal nona Aileen?" tanya Evan.

"Aileen? Gadis menyebalkan itu, dia bilang...dia akan menikah, haha," tawa Leon lepas setelah mengatakannya. Namun tawanya terdengar seperti tawa yang menyakitkan.

Evan terkejut mendengar ucapan Leon. " Apa? Menikah? Apa bapak tidak salah? Mereka kan baru saja menjadi pasangan kekasih. Apa mereka melakukan hal-"

"Sstt! Kau ini berpikir apa hah? Gadis keras kepala itu tidak akan mungkin melakukannya," ujar Leon sambil bersandar disofa ruangan itu. Kakinya selonjoran di atasnya.

"Tidak mungkin bagaimana Pak? Mereka kan pasangan kekasih," ucap Evan yang semakin membuat Leon panas hati.

"Kubilang tidak, ya tidak!" sentak Leon emosi. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.

Evan menahan tawanya, melihat sikap Leon yang berubah seperti orang lain saat sedang mabuk. Dia jadi banyak bicara dan lebih berekspresi, tidak seperti Leon yang biasanya dingin, datar. Tidak heran kalau Aileen mengatakan dia sebagai kulkas 21 pintu.

"Lalu Pak, bagaimana perasaan bapak pada nona Aileen? Apa bapak menyukainya?" tanya Evan yang ingin memastikan sesuatu.

Leon terdiam mendengar pertanyaan dari Evan, dia bahkan terlihat seperti sedang berpikir. "Perasaanku padanya?"

"Tidak tahu."

Evan mendesah kecewa mendengarnya, sampai menepuk jidatnya sendiri. Padahal dia yakin bahwa bosnya ini menyimpan perasaan pada Aileen. "Bahkan saat sedang mabuk saja, anda masih saja gengsian pak!" decak Evan pelan.

"Tapi aku merasa sakit, disini. Aku sakit, mendengarnya akan menikahi adikku. harusnya aku senang kan?. Tapi kenapa aku seperti ini Evan? Apa yang terjadi padaku?"

Dalam keadaan setengah sadar, Leon masih bisa mengenali Evan yang ada dihadapannya. Bahkan dia mengatakan isi hatinya, kalau dia sakit hati mendengar tentang pernikahan Levin dan Aileen.

Evan tersenyum mendengar ucapan Leon yang secara langsung menyiratkan dirinya menyukai Aileen. "Itu artinya cinta, Pak. Cinta. Anda merasakan cemburu dan sebagian dari rasa cinta adalah rasa cemburu," jelas Evan.

"Cinta? Cemburu? Aku? Mana mungkin,"

ucap Leon tertawa getir, seakan ucapan Evan hanyalah bualan. Tak lama setelah itu, Leon langsung tertidur diatas sofa.

Benar-benar p**as dan inilah kebiasaan Leon saat mabuk berat, dia tidur p**as dan tidak akan ada yang bisa menganggunya.

"Apa sudah terlambat untukku membantu pak Leon? Ah... ini salah bapak sendiri, kenapa bapak begitu gengsian? Jadi sekarang nona Aileen bersama dengan pak Levin," gumam Evan sambil melihat bosnya itu. Evan pun memapah Leon yang tidur, dibantu oleh salah seorang staff di kelab itu untuk dibawa pergi dari sana. Evan akan membawa bosnya ke apartemen milik Leon, karena tidak mungkin Evan membawa p**ang Leon ke rumah orang tuanya dalam keadaan seperti ini.

*******

Hari berganti pagi, dikediaman Abraham. Wajah Levin terlihat cerah, secerah hatinya, karena dia akan mengatakan pagi ini kepada kedua orang tuanya untuk melakukan niat baik dengan melamar Aileen. Dan seperti apa yang sudah dia duga, kedua orang tuanya setuju dengan hal ini.

"Kau serius nak? Apa Aileen sudah setuju?

"tanya Sara yang terlihat sangat senang mendengarnya.

"Ya, dia sudah setuju. Tapi, sepertinya Arion yang akan menikah lebih dulu."

"Arion akan menikah? Woah...kabar yang benar-benar baik," ucap Marco yang juga senang mendengarnya. Apalagi putranya yang sudah meluruskan niat untuk menikahi Aileen.

"Baiklah, kalau begitu bagaimana kalau kau dan Aileen bertunangan dulu?" usul Sara.

"Itu ide bagus. Mari kita bicarakan ini dengan Pak Edgar dan Ivana," kata Marco yang langsung mendapatkan persetujuan dari anak dan istrinya.

"Oh ya, kita harus beritahu Leon juga!" ujar Sara.

"Ngomong-ngomong, kenapa Leon tidak kelihatan dari kemarin? Apa dia tidak p**ang?" tanya Marco yang heran tidak melihat putranya berada di sana.

"Leon memang tidak p**ang. Aku tidak tahu dia kemana, semalam telponnya tidak aktif," ucap Sara khawatir.

"Kau sudah coba telpon sektretarisnya? Atau asistennya?" tanya Marco.

"Ah iya, aku akan coba menghubunginya sekarang. Kenapa aku baru kepikiran!" seru Sara.

*****

Satu minggu, sebelum pernikahan Arion dan Emily. Keluarga Levin mendatangi keluarga Aileen, untuk membicarakan masalah pertunangan Aileen dan Levin.

Dalam acara itu, mereka melakukan makan malam bersama di sebuah restoran ternama. Aileen tampak cantik dengan gaun berwarna ungu, dan hiasan mutiara di kepalanya yang menawan. Levin juga terlihat tampan dengan setelan jas hitamnya.

Semua orang yang ada dimeja itu, tersenyum bahagia kecuali Leon yang tampak datar dan tidak nyaman dengan situasi ini. Melihat kebahagiaan Levin dan Aileen, membuatnya kesal.

"Jadi, kita sudah sepakat ya? Kalau pertunangannya akan dilakukan 2 hari lagi," kata Sara sambil tersenyum.

"Iya, masalah konsepnya. Biar aku saja dan kak Sara yang mengaturnya!" seru Ivana yang terlihat bahagia.

"Semuanya, aku pamit ke toilet dulu ya!" pamit Aileen pada semuanya. Mereka menganggukkan kepala dengan kompak.

"Apa perlu aku antar, Sayang?" tanya Levin lembut. Kata sayang yang terdengar oleh rungu Leon membuatnya kesal.

"Hanya ke toilet saja, tidak perlu kau antar."

Aileen beranjak dari tempat duduknya, kemudian dia melangkah pergi menuju ke toilet. Sedangkan Levin, sedang melanjutkan pembicaraannya dengan kedua orang tua di sana.

Tanpa mereka sadari, Leon mengikutinya dari belakang. Setelah beberapa saat Aileen di dalam toilet, gadis itu hendak keluar dari sana. Namun seseorang tiba-tiba saja menarik pergelangan tangannya dengan erat dan membawanya masuk ke dalam toilet. Sepasang matanya yang berwarna abu-abu itu terbelalak manakala dia melihat siapa orang yang sudah menariknya.

"Kak Leon? Kenapa kau menarikku-hmphh-"

Aileen terkesiap begitu dia merasakan benda kenyal menyumpal, lalu melumat bibirnya dan satu tangan besar yang memegang kedua tangannya dengan erat, mengunci dirinya.

Tangannya dibawa ke atas kepalanya dan tubuh Aileen disandarkan ke tembok oleh pemuda itu. Tubuhnya dikunci oleh tubuh kekar pria itu.

******

BERSAMBUNG 181

Address

Jln. KH Hasyim Asy'ari No 6
Central Jakarta

Telephone

+6287654309877

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Hiburan Warga Konoha posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Hiburan Warga Konoha:

Shortcuts

Share

Category