02/09/2026
BAB 61
"Aku mau ke toko. Kau mau pesan sesuatu?" Tanya Tristan sambil membawa tas kecil yang ia ambil dari dalam tas besarnya.
"Mau mencari apa ke toko?" Aruna ingin tau. Tristan yang hampir melangkahkan kakinya itu tertunda. Ia duduk di dekat perempuan itu dan bayinya yang masih terlelap. Ia harus memastikan, segera kembali sebelum bayi itu kembali bangun dan meraung kehausan.
"Ingin membelikan susu formula untuk anakmu."
"Kenapa?" Tanya Aruna lagi dengan kening mengernyit.
"Sambil menunggu asimu lancar dan keadaanmu membaik. Tidak apa-apa diberikan susu formula sementara," Jawabnya.
Hal itu, tentu saja membuat Aruna membelalak tak percaya. Kali ini, yang ia pikirkan bukan mengenai asi yang harus diganti susu formula. Namun, sikap Tristan yang tiba-tiba peduli padanya.
"Kenapa, kau tidak setuju?" Tanyanya, karena melihat raut wajah Aruna yang sedikit berubah.
"Tidak. Bukan begitu, Juragan. Silahkan jika mau ke toko."
"Jadi, kau tidak pesan sesuatu?"
"Tidak usah. Terimakasih."
Aruna menggiring kepergian pria itu hingga menghilang di balik pintu ruangan. Selanjutnya, helaan nafas besar ia keluarkan. Sebenarnya, ada kebutuhan penting yang tidak boleh ditinggalkan untuk perempuan setelah melahirkan.
Mengingat kembali kejadian saat masih menjadi pengantin baru, ia tak memiliki pembalut sama sekali. Haruskah Hal itu kembali terulang saat ini. Hendak memesannya, tapi tak enak hati. Karena hari ini telah terlalu banyak merepotkan Tristan.
Mungkin saja pria itu terlihat baik diluarnya, sementara di dalam hatinya siapa yang tau. Mungkin saja Tristan terpaksa melakukan semuanya, bisa jadi. Begitulah yang ada di dalam kepala Aruna. Ia yakin, pria itu pasti hanya terpaksa.
Ia melirik Tristan yang keluar ruangan meninggalkannya dengan cepat. Semakin menambah rasa tak enaknya pada pria itu, karena dirinya, pria angkuh itu harus repot kesana-kemari.
Ada niat dalam hati untuk mengganti uang yang telah dikeluarkan Tristan. Namun, uang darimana. Ia bahkan tidak pernah berfikir jika harus menginap di puskesmas seperti ini, yang pasti biayanya akan mengalami pembengkakan banyak.
Pria itu tiba keluar gedung dan masuk mobil dengan tergesa-gesa, mengingat malam yang hampir menuju pada jam ke sembilan. Maka ia harus memacu kendaraannya dengan sangat cepat.
Di toko, Tristan cepat-cepat masuk, khawatir segera tutup karena waktu yang memang semakin malam. Tiba di dalam, ia kebingungan hendak memilih susu yang mana. Deretan susu dengan kemasan besar dan kecil itu, baginya sama semua. Hanya merknya saja yang berbeda.
Dilihatnya dengan seksama, tetapi yang ia perhatikan hanya harga dan nama merk saja, bukan yang lain. Semakin lama ia perhatikan semakin membuat kepala pusing. Tristan menggeleng dengan menggaruk kepala yang tan gatal, di liriknya kanan dan kiri. Tak ada satupun pelayan di sana.
Ia mendengus frustasi, tau keadannya seperti ini ia tidak akan sok baik pada perempuan itu. Yang akhirnya hanya merepotkan dirinya saja, hingga Kantor pun terpaksa ditinggalkan.
Ia memutar badan, membelakangi deretan kardus susu tadi dengan menengadahkan wajah. Benaknya bertanya, sebenarnya demi apa ia lakukan semua itu?
Apakah demi Aruna, sementara perempuan itu sudah menjadi perempuan lain di hatinya. Beberapa bulan yang lalu, memang benar, ia adalah suaminya. Namun, kini semuanya telah berubah.
"Ada yang bisa dibantu, juragan?" Tanya seorang pelayan yang kebetulan lewat di dekatnya. Tristan menoleh.
"Ini, Mbak. Saya mau cari susu formula. Masih bingung mau cari yang mana," Jawabnya.
"Untuk usia berapa, Juragan?"
"Bayi baru lahir."
"Oh. Kalau begitu yang seperti ini, juragan. Tinggal memilih apa merknya saja."
Pelayan itu menunjukkan kemasan susu yang untuk bayi baru lahir, Tristan mengamatinya lagi. Ternyata merknya pun banyak dan cukup membuatnya pusing.
Akhirnya ia mengambil kesimp**an, bahwa semakin mahal harganya, maka akan semakin baik kualitasnya.
"Kalau begitu, carikan sekalian botol susunya, Mbak," Pinta Tristan yang langsung dikerjakan oleh si pelayan tadi.
"Ini Juragan, apa lagi?"
"Sekalian kebutuhan bayi dan Ibunya, aku kurang paham." Tristan malah mengambil kursi plastik yang biasa digunakan salah satu pelayan untuk melepas lelah.
"Baik, Juragan." Pelayan itu memanggil salah satu temannya dan berbicara sebentar, lalu mengambil keranjang dan berkeliling di antara rak barang.
Cukup lama Tristan menunggu di tempatnya, sampai-sampai merasakan perih di perut karena baru terisi kopi panas dan beberapa gorengan saja tadi sore.
Hendak keluar sebentar untuk makan di warung, tetapi teringat makanan yang ia bawa dari rumah sore tadi masih banyak. Ia mengurungkan niatnya. Lebih baik menunggu pelayan tadi, kembali membawakan barang yang dipesan sambil bermain gawai.
Hampir satu jam, dua pelayan tadi baru datang dengan dua keranjang penuh.
"Sudah, juragan. Ada lagi yang mau dibeli?" Tanya salah satu. Tristan pun berdiri, mengamati barang-barang dalam keranjang itu, ia sama sekali tak memahami nama dan kegunaannya.
"Tidak. Langsung ke kasir saja."
Ia berjalan mendahului kedua pelayan menuju kasir dan menunggunya di sana. Di depan kasir itu, ada beberapa pembeli yang antri, menatap aneh pada keranjang penuh yang diantarkan dua pelayan tadi.
Jika dilihat, Orang-orang itu mungkin mendengar beritanya bersama Aruna. Yang bercerai ketika Aruna hamil, dan kini sudah melahirkan, tetapi kenapa ia masih mengurusi semuanya. Mungkin begitu yang ada dalam benak mereka, dan tidak ada yang berani untuk mengungkapkannya.
la masih mengamati dua orang terakhir, ketika meninggalkan kasir masih berbisik-bisik mencurigakan. Bisa dipastikan, mereka sedang membicarakannya.
"Sudah, Juragan," Suara petugas kasir membuyarkan lamunannya. Ia segera membayar dan mengangkut semua barangnya ke dalam mobil.
Sambil mengemudi, pikirannya masih melayang. Sikap yang ia ambil ini mungkin penuh resiko, apalagi di mata sebagian orang yang telah mengetahui kisah perceraiannya. Jika mereka belum tau, mungkin akan biasa saja, seperti bidan tadi contohnya.
Yang ia tahu, Tristan dan Aruna masih hidup bersama, hingga mereka akhirnya dikaruniai anak lelaki yang rupawan.
Ia mendengus kesal, dipacunya mobil dengan kencang hingga beberapa menit kemudian tiba di depan puskesmas.
Keadaan telah sepi, pun dengan warung di seberang jalan, hanya ada segelintir orang saja yang masih di sana.
Jam sepuluh malam, ia baru masuk ruangan tempat Aruna dan bayinya berada.
Di sana, ibu dan bayi baru lahir itu sama-sama terlelap, tak menyadari kedatangannya sama sekali. Setelah meletakkan hasil belanjaannya dari toko tadi, ia duduk di dekat Aruna.
Memperhatikan bagaimana raut wajah penuh lelah itu. Terlelap damai sekali. Dalam keadaan tertidur seperti itu, wajah perempuan itu terlihat tenang dan meneduhkan.
Tanpa disadari, ia sudah beberapa menit menatap lekat wajah terlelap itu. Lalu berakhir dengan nafas tercekat, ada rasa membuncah yang membuatnya bingung.
Ia melanjutkan ke arah bayi mungil yang juga terlelap di sebelah ibunya. Yang ia heran adalah, setiap kali menatap wajah mungil itu hatinya bergetar aneh. Seperti ada sinyal tak kasat mata, yang membuatnya merasakan dekat sekali dengan sang bayi.
Seperti ada ikatan batin aneh, yang ia sendiri masih heran memikirkannya.
Ikatan batin apa memangnya, padahal tidak ada ikatan apapun antara dia dengan bayi itu. Tristan menghibur dirinya sendiri, agar tidak melulu memikirkan tentang rasa aneh yang menguasai hati.
Ia beranjak, membuka kotak nasi yang masih utuh dengan makanan. Meski dingin, Tristan tetap memakannya. Ternyata, makan tempat seperti ini tidak begitu nikmat meskipun menggunakan lauk lezat.
Apalagi baru beberapa suap, ia harus mendongak saat mendengar suara Aruna terbangun.
"Juragan?" Suara pertama yang keluar dari mulut perempuan itu. Tristan terpaksa menghentikan makanannya, ia berjalan ke arah mereka dan duduk di sana.
"Ini masih malam. Kenapa kau bangun?"
Tanyanya datar.
"Juragan baru makan malam?"
"Iya. Baru sempat."
"Ini pasti karena saya," Lirih Aruna dengan wajah bersalah. Ia berusaha menegakkan badannya yang masih lemas.
Memang sudah tidak selemas tadi sore, susah payah ia mengangkat badan agar bisa duduk.
"Maafkan saya, Juragan," Lirihnya lagi, kini Aruna telah bisa duduk meski kondisinya masih terlihat lemas.
Tristan sebenarnya ingin mencegah, tetapi jika perempuan itu bisa bangun, artinya akan segera sembuh dan bisa p**ang lebih cepat. Itu lebih baik, itu akan segera membuatnya bebas dari semua ini. Bisik Tristan pada dirinya sendiri.
"Maaf untuk apa?"
"Untuk semuanya. Karena hari ini saya telah membuat anda kerepotan dan mengorbankan pekerjaan, serta waktu untuk istirahat," Jelas Aruna. Sekilas, ia melihat ada dua plastik besar di sudut ruangan. Ia yakin, itu pasti barang-barang ia Tristan beli tadi.
Kenapa banyak sekali, tanya Aruna dalam hatinya.
Tiba-tiba si bayi menggeliat dan mulai menangis, membuat mereka berdua kembali disergap rasa bingung.
Tristan segera melakukan seperti saran bu bidan tadi, meracik susu untuk si bayi. Dengan cepat-cepat agar bayi itu tidak semakin kencang suaranya, sebotol kecil ia bawa mendekati Aruna dan bayinya.
Ia dengan sigap mengangkat bayi dan meletakkan dipangkuan ibunya, lalu memberikan botol kecil itu ke dalam mulut bayi. Seketika, suara tangisnya mereda.
Aruna dan Tristan yang awalnya panik, kini bisa menghembuskan nafas lega. Keduanya saling memperhatikan bagaimana bayi itu dengan lahap meminum susu dari botolnya.
*****
BERSAMBUNG - BAB 62