04/09/2026
"Dihormati Dunia, Dikecilkan Bangsa Sendiri: Sebuah Refleksi tentang Kedewasaan Berpolitik Kita"Ada sebuah pemandangan kontras yang kerap menggelitik logika kita.
Di panggung internasional, di hadapan para pemimpin negara-negara besar Eropa, Presiden Prabowo Subianto diterima dengan karpet merah, dihormati sebagai representasi kekuatan besar Asia Tenggara, dan disegani karena diplomasi strategisnya. Namun, begitu layar gawai kita buka di dalam negeri, ruang digital kita justru riuh oleh olok-olok, nyinyiran, dan cemoohan yang sering kali menyerang personal, bukan kebijakan.
Fenomena ini memicu pertanyaan besar: Apakah kita, sebagai bangsa, sedang mengalami krisis kedewasaan?Kenyataannya, ini adalah alarm keras bagi literasi digital dan kualitas SDM kita dalam berdemokrasi.
Di luar negeri, beliau dilihat sebagai simbol kedaulatan sebuah negara besar bernama Indonesia. Sementara di dalam negeri, sebagian dari kita masih terjebak dalam ego kelompok, polarisasi sisa-sisa pemilu, dan budaya jempol yang lebih cepat bergerak daripada pikiran sehat.
Menghina pemimpin sendiri di ruang publik digital tidak membuat kita terlihat kritis, melainkan justru memperlihatkan kepada dunia betapa rendahnya tingkat kesantunan dan kedewasaan politik bangsa kita.
Ingatlah wahai seluruh masyarakat Indonesia:Kritik adalah hak, bahkan kewajiban dalam negara demokrasi.Pemerintah membutuhkan kontrol, pengawasan, dan masukan yang tajam agar tidak salah arah.
Namun, ada batas tegas yang memisahkan antara kritik yang membangun (substantif) dengan hinaan yang menjatuhkan (destruktif). Ketika kita merendahkan kepala negara kita sendiri di mata publik, secara tidak sadar kita sedang merendahkan martabat bangsa kita sendiri di hadapan dunia.Mari kita naikkan kelas SDM kita.
Mari kita salurkan energi kritis kita menjadi argumen yang cerdas, berbasis data, dan mendidik. Menghormati pemimpin bukan berarti tunduk buta, melainkan menjaga marwah bangsa agar Indonesia tetap tegak dan disegani, baik di dalam maupun di luar negeri.