National Geographic Magazine Indonesia

National Geographic Magazine Indonesia Halaman Facebook resmi National Geographic Indonesia. Untuk informasi editorial: [email protected]
(1040)

Selamat membaca majalah National Geographic Indonesia edisi Januari 2025Ingin terus mengikuti penjelajahan kami?Sahabat,...
05/01/2026

Selamat membaca majalah National Geographic Indonesia edisi Januari 2025

Ingin terus mengikuti penjelajahan kami?

Sahabat, Anda bisa berlangganan majalah National Geographic Indonesia dengan klik pranala di bio.

Setelah lebih dari 130 tahun berkelana sejak ditemukan di Jawa Timur, salah satu fosil paling berpengaruh dalam sejarah ...
04/01/2026

Setelah lebih dari 130 tahun berkelana sejak ditemukan di Jawa Timur, salah satu fosil paling berpengaruh dalam sejarah peradaban manusia akhirnya kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Spesimen legendaris yang dikenal sebagai Java Man (Manusia Jawa) ini telah mengubah cara dunia memahami asal-usul spesies kita.

Tepat pada 17 Desember, melalui kesepakatan repatriasi antara Belanda dan Indonesia, fosil tersebut menuntaskan perjalanan panjangnya menuju Museum Nasional di Jakarta.

Sebagaimana dikutip dari artikel karya Dyna Rochmyaningsih di Nationalgeographic.com, momen ini merupakan akhir dari penantian panjang.

"Selama lebih dari satu abad, bagian penting dari masa lalu kita berada di luar jangkauan masyarakat Indonesia. Para sarjana mendiskusikannya, museum memamerkannya, dan narasi global dibentuk di sekitarnya, namun rakyat Indonesia, khususnya generasi muda, tidak bisa melihatnya di rumah sendiri. Era itu berakhir hari ini," tegas Fadli Zon, Menteri Kebudayaan Indonesia, dalam pidatonya.

Ekskavasi yang dilakukan pada tahun 1891 oleh paleontolog Belanda, Eugene Dubois, berhasil mengidentifikasi Manusia Jawa sebagai anggota spesies manusia purba Homo erectus. Selama puluhan tahun, koleksi ini tersimpan di Naturalis Biodiversity Center di Leiden, Belanda.

Marcel Beukeboom, Direktur Naturalis, mencatat bahwa jika Manusia Jawa sempat menghebohkan dunia pada abad ke-19, kini ia kembali menjadi sorotan utama melalui kepulangannya.

Fosil kerangka manusia kuno ini hanyalah satu bagian dari 28.000 fosil yang ditemukan Dubois di Indonesia antara tahun 1895 hingga 1920. Pemerintah Belanda telah berkomitmen untuk mengembalikan seluruh koleksi tersebut—sebuah langkah yang disebut Fadli Zon sebagai "proyek repatriasi terbesar di dunia."

Selengkapnya: https://nationalgeographic.grid.id/read/134337875/kembalinya-manusia-jawa-akankah-mengubah-narasi-sejarah-indonesia

Di dunia Romawi kuno, gladiator memegang tempat unik dalam masyarakat. Dikenal karena keberanian dan keterampilan bertar...
04/01/2026

Di dunia Romawi kuno, gladiator memegang tempat unik dalam masyarakat. Dikenal karena keberanian dan keterampilan bertarungnya, para petarung kuno berjuang untuk kejayaan dan kelangsungan hidup di arena.

Meskipun banyak yang tidak pernah hidup sampai pensiun, beberapa yang luar biasa mendapatkan kebebasan setelah memenuhi kontrak mereka. Gladiator juga bisa “dibebaskan” setelah membuat sponsor terkesan dengan kehebatan mereka.

Dalam setiap pertandingan, gladiator Romawi kuno menghadapi kenyataan pahit tentang potensi kematian. Namun mereka yang berhasil meninggalkan arena harus menavigasi dunia di mana pilihan mereka terbatas karena stigma sosial.

Jadi, bagaimana kehidupan para gladiator Romawi kuno setelah mereka pensiun?

Selengkapnya: https://nationalgeographic.grid.id/read/134337547/bagaimana-kehidupan-gladiator-romawi-kuno-setelah-mereka-pensiun

Genangan air kecokelatan yang menyapu permukiman di Aceh, Sumatra Utara, hingga Sumatra Barat pada akhir November 2025 m...
04/01/2026

Genangan air kecokelatan yang menyapu permukiman di Aceh, Sumatra Utara, hingga Sumatra Barat pada akhir November 2025 menjadi monumen kelam bagi sejarah kebencanaan Indonesia.

Banjir bandang dan tanah longsor yang menghantam wilayah seperti Aceh Tamiang, Agam, Sibolga, hingga seantero Tapanuli bukan sekadar fenomena alam biasa. Meski dipicu curah hujan ekstrem, para ahli sepakat bahwa degradasi hutan di wilayah hulu menjadi katalisator utama yang melipatgandakan daya hancur air.

Tercatat sedikitnya 1.140 nyawa melayang dan 163 orang dinyatakan hilang, dengan titik kematian tertinggi berada di Kabupaten Aceh Utara yang merenggut 205 jiwa. Angka-angka ini menempatkan tragedi Sumatra 2025 sebagai bencana paling mematikan di tanah air sejak peristiwa gempa dan tsunami Sulawesi 2018 yang menelan 4.340 korban jiwa.

Tragedi ini mengonfirmasi bahwa kerentanan ekologis selalu berbanding lurus dengan penderitaan masyarakat di garis depan. Saat jutaan orang kehilangan tempat tinggal dan kerugian materiil membengkak, pertanyaan mendasar mengenai akuntabilitas operasional industri di wilayah hulu sering kali tenggelam dalam narasi "musibah tak terelakkan."

Bagaimana mungkin sebuah sistem hukum yang dirancang untuk keteraturan justru membiarkan korporasi mengeksploitasi bentang alam secara destruktif tanpa beban pertanggungjawaban yang setimpal?

Mengapa kelompok masyarakat paling rentan selalu menjadi pihak yang menanggung beban eksternalitas dari keuntungan yang dinikmati segelintir pemegang saham di kota-kota besar? Apakah hukum perusahaan modern memang sengaja didesain untuk melegalisasi kerusakan alam atas nama efisiensi ekonomi?

Selengkapnya: https://nationalgeographic.grid.id/read/134337111/bagaimana-struktur-hukum-membantu-korporasi-merusak-lingkungan

Dunia kita adalah rumah bagi sekitar 8,7 juta spesies yang mendiami bentang alam luar biasa, mulai dari gersangnya gurun...
04/01/2026

Dunia kita adalah rumah bagi sekitar 8,7 juta spesies yang mendiami bentang alam luar biasa, mulai dari gersangnya gurun hingga rimbunnya hutan hujan.

Namun, menjaga harmoni antara jutaan makhluk hidup ini bukanlah perkara instan. Hingga penghujung tahun 2025, kolaborasi global antara peneliti dan organisasi lingkungan terus berpacu dengan waktu untuk menstabilkan alam.

Salah satu sorotan utama muncul dari pesisir Alicante, Spanyol, yang kini menjadi mercusuar bagi pemulihan ekosistem laut dunia melalui restorasi padang lamun Posidonia oceanica.

Langkah ambisius di Spanyol ini tidak berdiri sendiri dalam panggung konservasi global tahun ini. Di belahan bumi lain, Nepal berhasil mencatat 397 ekor macan tutul salju (Snow Leopard), sebuah data stabil pertama yang mematahkan keraguan metode survei jejak kaki konvensional.

Sementara itu, Kenya sukses mencapai angka nol perburuan badak di Ol Pejeta dan Solio berkat teknologi AI, dan Inggris menyelamatkan 150 spesies dari kepunahan, termasuk kembalinya belalang raksasa ke Norfolk Broads setelah 85 tahun absen. Di tengah berbagai kesuksesan besar seperti rewilding 480.000 hektar di Alpen Prancis hingga ekspansi wilayah tupai merah di Skotlandia, muncul sebuah pertanyaan krusial.

Mengapa restorasi rumput laut di Alicante dianggap sebagai strategi ketahanan iklim yang begitu vital? Bagaimana sebenarnya mekanisme teknologi dan hukum di Spanyol mampu menjamin keberlanjutan ekosistem bawah laut ini bagi generasi mendatang?

Selengkapnya: https://nationalgeographic.grid.id/read/134337015/masuk-daftar-konservasi-paling-berdampak-2025-sebagus-apa-restorasi-lamun-di-spanyol

Berbicara soal dinosaurus Tyrannosaurus rex selalu menarik. Ukuran hingga bagian-bagian tubuh hewan yang telah punah itu...
04/01/2026

Berbicara soal dinosaurus Tyrannosaurus rex selalu menarik. Ukuran hingga bagian-bagian tubuh hewan yang telah punah itu membuat banyak orang terkesima. Para peneliti pun tak pernah berhenti untuk mengungkap hal-hal baru tentang T. rex. Salah satunya mengenai indra penciuman T. rex yang luar biasa.

Seperti diketahui bahwa DNA dinosaurus T. rex telah lama hilang. Lantas, bagaimana para peneliti mengungkap bahwa T. rex memiliki indra penciuman yang luar biasa?

Menurut sebuah studi tahun 2019, dinosaurus predator ikonik Tyrannosaurus rex dan kerabatnya memiliki indra penciuman yang sangat tajam di antara semua dinosaurus yang telah punah.

Penelitian yang diterbitkan di Proceedings of the Royal Society B ini mencoba untuk secara kasar mengukur berapa banyak gen yang terlibat dalam kemampuan mengendus T. rex, puluhan juta tahun setelah jejak DNA-nya telah hilang.

Selengkapnya: https://nationalgeographic.grid.id/read/134337648/dna-dinosaurus-telah-hilang-bagaimana-cara-peneliti-mengetahui-indra-penciuman-t-rex-tajam

Ceratosaurus merupakan dinosaurus yang hidup pada Periode Jura Akhir, sekitar 153 hingga 148 juta tahun lalu. Keberadaan...
04/01/2026

Ceratosaurus merupakan dinosaurus yang hidup pada Periode Jura Akhir, sekitar 153 hingga 148 juta tahun lalu. Keberadaannya menjadi perhatian besar para ilmuwan karena fosil dinosaurus dengan kondisi hampir lengkap jarang ditemukan.

Karena itu, penemuan Ceratosaurus pada tahun 1884 menjadi momen penting dalam dunia paleontologi. Saat ahli paleontologi Othniel Charles Marsh menemukan fosilnya di Garden Park, Colorado, para peneliti langsung memperoleh gambaran jelas tentang salah satu karnivora paling unik dari era Jura Akhir.

Ceratosaurus merupakan genus dinosaurus theropoda, dengan spesies paling dikenal bernama Ceratosaurus nasicornus. Nama Ceratosaurus sendiri berarti “kadal bertanduk”, merujuk pada ciri khasnya berupa tanduk tulang yang menonjol di atas moncong. Ia termasuk dalam keluarga Ceratosauridae, kelompok theropoda yang dikenal bertubuh ramping, bertaring tajam, dan berjalan dengan dua kaki.

Dari segi ukuran, Ceratosaurus tergolong dinosaurus karnivora berukuran sedang. Panjang tubuhnya berkisar antara 17 hingga 25 kaki, dengan berat diperkirakan mencapai 1.000 hingga 2.000 pon.

Spesimen pertama yang ditemukan relatif kecil, sehingga diduga berasal dari Ceratosaurus muda. Penemuan fosil yang lebih besar kemudian memperkuat gambaran ukuran dewasanya.

Ceratosaurus berjalan dengan dua kaki belakang yang besar dan kuat, sementara lengan depannya jauh lebih kecil dan tidak digunakan untuk menopang tubuh. Posturnya condong ke depan, dengan ekor panjang berfungsi sebagai penyeimbang.

Kepala Ceratosaurus tampak besar jika dibandingkan dengan tubuhnya, dilengkapi rahang dalam dan gigi panjang yang dirancang untuk merobek daging. Tanduk tulang di moncongnya menjadi ciri paling mencolok, sekaligus pembeda utama dari theropoda lain seperti Allosaurus.

Struktur tulangnya menunjukkan beberapa kemiripan dengan burung modern. Tulang panggul dan sebagian tulang kaki Ceratosaurus menyatu, serta terdapat deretan tulang seperti perisai di sepanjang punggungnya.

Fosil tengkorak juga menunjukkan bahwa dinosaurus ini memiliki indra penciuman yang cukup baik, meskipun tidak setajam Tyrannosaurus rex yang hidup jauh setelahnya.

Sebagai karnivora sejati, Ceratosaurus hanya memakan daging. Giginya yang panjang dan tajam menunjukkan bahwa ia mampu menangani berbagai jenis mangsa. Dibandingkan Allosaurus yang hidup di wilayah dan periode yang sama, gigi Ceratosaurus lebih ramping dan panjang.

Selengkapnya: https://nationalgeographic.grid.id/read/134335244/ceratosaurus-dinosaurus-predator-bertanduk-yang-hidup-di-zaman-jura

Kisah pembalasan dendam 47 Ronin adalah salah satu legenda kesetiaan paling abadi dalam sejarah Jepang, sebuah episode d...
04/01/2026

Kisah pembalasan dendam 47 Ronin adalah salah satu legenda kesetiaan paling abadi dalam sejarah Jepang, sebuah episode dramatis yang terjadi pada awal abad ke-18. Inti dari peristiwa ini adalah janji darah para samurai setia dari klan Akō yang kehilangan tuan mereka secara tragis.

Peristiwa yang dikenal juga sebagai insiden Genroku ini bukan sekadar cerita balas dendam, melainkan sebuah pertaruhan moral dan kepahlawanan yang menentang kekuasaan sh**un.

Semua bermula dari tragedi yang menimpa Asano Naganori, penguasa domain Akō. Pada tahun 1701, Asano mendapat kehormatan untuk menjabat perwakilan sh**un menyambut utusan kaisar di Edo (Tokyo). Untuk menunaikan tugasnya, ia wajib belajar tata krama dari Kira Yoshinaka, pejabat petinggi istana yang terkenal serakah dan sombong.

Karena Asano (atau kepala pelayannya) lalai memberikan "hadiah" yang pantas, Kira terus-menerus mencemooh Asano yang minim pengalaman. Puncaknya, pada 21 April 1701, di balai audiensi istana sh**un, amarah Asano meledak. Ia menyerang Kira dengan belati kecil, melanggar etiket istana paling fatal.

Meskipun Kira hanya terluka ringan, sh**un Tokugawa Tsunayoshi murka dan langsung memerintahkan Asano melakukan seppuku (ritual bunuh diri) pada hari yang sama. Domainnya disita, dan 300 samurainya dipecat, menjadi rōnin—samurai tanpa tuan. Sementara Kira, si pembuat ulah, lolos tanpa hukuman.

Ōishi Yoshio, kepala pengikut Asano, kemudian merencanakan aksi balas dendam yang terperinci. Di dalamnya, termasuk dirinya yang rela menyamar jadi pria bejat.

Berikut ini kisah lengkapnya: https://nationalgeographic.grid.id/read/134315081/oishi-yoshio-pentolan-47-ronin-yang-rela-menyamar-jadi-manusia-bejat

Seorang penjelajah Prancis bernama Paul de La Gironière, telah menerbitkan bukunya yang fenomenal di awal abad ke-19. Se...
04/01/2026

Seorang penjelajah Prancis bernama Paul de La Gironière, telah menerbitkan bukunya yang fenomenal di awal abad ke-19. Sebuah fakta yang mengungkap kengerian dari masyarakat awal Filipina.

Twenty Years In The Philippines (1819-1839) yang terbit pertama pada tahun 1853, mengisahkan kedatangannya pertama kali di Filipina pada tahun 1819.

Di Filipina, ia mulai mendirikan kota Jala Jala di provinsi Rizal saat ini. Ia mengelolanya selama hampir 20 tahun hingga kematian istri dan putranya. Bersama Alila, asistennya, ia berhenti di suatu tempat dalam ekspedisinya di Jala Jala.

Mereka berhenti di wilayah Tinguians of Abra, kawasan di mana suku Tinguian tinggal selama berabad-abad lamanya. Kelompok etnis itu dikenal sangat ramah kepada kedua penjelajah Prancis itu.

Menurut bukunya, Gironière dan asistennya mendapati kelompok etnis itu lebih baik dari yang mereka duga. Saking ramahnya, mereka ditawari oleh pemimpin suku untuk turut dalam perayaan ritus mereka.

Dari sana, mereka mendapatkan undangan kehormatan sebagai pengunjung dan orang asing yang diterima dengan baik oleh suku pedalaman Filipina. Datanglah mereka menemui jamuan suku Tinguian. Betapa terkejutnya mereka ketika datang dalam undangan.

Ternyata, Gironière dan Alila diundang untuk ambil bagian dalam "brain party" atau pesta otak—sebuah perayaan tradisional yang diadakan setiap kali kelompok tersebut memenangkan pertempuran melawan suku saingan.

Kisah selengkapnya: https://nationalgeographic.grid.id/read/133403417/layaknya-zombie-suku-filipina-kuno-pesta-makan-otak-manusia

Nama Pablo Escobar identik dengan kekayaan terlarang, kekerasan, dan Kartel Medellín. Dijuluki "Raja Kokain," Escobar me...
04/01/2026

Nama Pablo Escobar identik dengan kekayaan terlarang, kekerasan, dan Kartel Medellín. Dijuluki "Raja Kokain," Escobar memang adalah figur utama yang karismatik dan tak segan menggunakan kekerasan, yang menarik perhatian dunia hingga menginspirasi acara TV, film, dan buku.
Namun, di balik pimpinan yang eksplosif ini, terdapat sosok yang jauh lebih tenang, namun lebih brilian dalam mengurus keuangan dan logistik, yang sering disebut sebagai otak sejati di balik kekaisaran narkotika tersebut. Dia adalah Gustavo de Jesús Gaviria Rivero, sepupu dan "tangan kanan" yang sangat dipercayai oleh Escobar.
Gustavo Gaviria, yang juga dijuluki "Singa dari Medellín," lahir pada Hari Natal, 25 Desember 1946, tiga tahun lebih tua dari Escobar. Sejak Pablo lahir pada 1 Desember 1949, kehidupan kedua anak laki-laki itu telah terjalin erat, tumbuh bersama di kota Envigado, Kolombia.
Meskipun orang tua mereka tergolong berpendidikan dan berasal dari kalangan menengah, kedua sepupu ini membuat keputusan "disengaja dan agak mengejutkan" untuk meninggalkan sekolah demi mengejar kehidupan kriminal, menurut Mark Bowden, penulis Killing Pablo: The Hunt for the World’s Greatest Outlaw.
Lalu, bagaimana perjalanan mereka dari kejahatan kecil yang aneh bisa melambungkan mereka pada kekayaan internasional, dan seberapa penting peran Gustavo Gaviria dalam mengubah bisnis haram ini menjadi kekaisaran global yang memasok 80% kokain ke Amerika Serikat?
Selengkapnya: https://nationalgeographic.grid.id/read/134308269/gustavo-gaviria-otak-sejati-bisnis-haram-pablo-escobar-dengan-kejahatan-awal-yang-aneh

Pada tahun 1871, dunia seorang pendekar pedang legendaris bernama Kawakami Gensai berakhir secara tragis. Ia dihukum mat...
04/01/2026

Pada tahun 1871, dunia seorang pendekar pedang legendaris bernama Kawakami Gensai berakhir secara tragis. Ia dihukum mati dengan tuduhan palsu, sebuah keputusan yang menandai berakhirnya utilitasnya bagi pemerintah Meiji yang baru.

Dikenal sebagai Hitokiri—"pembunuh manusia"—Gensai adalah produk dari era yang kacau: akhir Kesh**unan Tokugawa yang membuka jalan bagi Restorasi Meiji.

Sejarah mengenalnya sebagai salah satu dari empat hitokiri yang paling ditakuti, seorang prajurit yang perawakannya kecil namun keahliannya dalam berpedang tiada duanya.

Ia bukan hanya seorang samurai, melainkan simbol dari perjuangan pahit Jepang untuk beralih dari feodalisme ke modernitas, dari isolasi ke keterbukaan global.

Transformasi Jepang, seperti dilansir Executed Today, adalah sebuah keniscayaan sejarah, namun prosesnya diwarnai konflik internal yang sengit. Setelah berabad-abad mengisolasi diri, Kesh**unan Tokugawa dipaksa membuka diri oleh kekuatan Barat yang lebih unggul.

Guncangan ekonomi dan budaya yang terjadi akibat perjanjian dagang yang didiktekan ini memicu gelombang dukungan terhadap kubu kekaisaran yang telah lama pasif. Perebutan kekuasaan yang terjadi menjadikan Jepang sebagai medan perang, dan Gensai memilih sisi kekaisaran.

Karakter Himura Kenshin dari seri manga dan anime populer, Rurouni Kenshin, secara longgar didasarkan pada sosoknya yang melegenda. Namun, seperti karakter yang terinspirasi darinya, kehidupan Gensai dipenuhi dengan kehormatan dan pengorbanan.

Lalu, apakah akhir dari kisah nyata sang samurai seindah cerita fiksi yang mengabadikannya? Simak kisah lengkapnya di: https://nationalgeographic.grid.id/read/134300278/kawakami-gensai-sosok-samurai-yang-menginspirasi-rurouni-kenshin-hidupnya-tragis

Jan Pieterszoon Coen, yang namanya diabadikan sebagai pendiri kota Batavia, bukanlah sosok tanpa cela. Di balik keberhas...
04/01/2026

Jan Pieterszoon Coen, yang namanya diabadikan sebagai pendiri kota Batavia, bukanlah sosok tanpa cela. Di balik keberhasilannya membangun fondasi kekuasaan VOC di Nusantara, tersimpan kisah-kisah kelam yang jarang diungkap. Ia dikenal sebagai pemimpin yang ambisius dan kejam, tak segan menggunakan kekerasan demi mencapai tujuannya.
Deretan artikel ini akan mengajak Anda menyelisik lebih dalam sisi lain dari J.P. Coen. Mulai dari siasatnya mencari "rahim Belanda" untuk prajurit VOC, pembantaian massal di Banda yang menewaskan ribuan penduduk asli, hingga kolusi yang dilakukan di Batavia.
Sejarah tak selalu indah, dan melalui kumpulan kisah ini, kita akan melihat bagaimana kekuasaan dan ambisi dapat mengarah pada tindakan yang brutal.
1. https://nationalgeographic.grid.id/read/134224575/jan-pieterszoon-coen-di-balik-sejarah-kelam-pulau-banda-1621
2. https://nationalgeographic.grid.id/read/132887479/jp-coen-bersiasat-mencari-rahim-belanda-untuk-prajurit-voc
3. https://nationalgeographic.grid.id/read/133293048/kala-jp-coen-berkolusi-dengan-bengkong-di-batavia-hingga-voc-bangkrut
4. https://nationalgeographic.grid.id/read/132887780/coen-geram-ada-pelanggaran-seksual-di-kantor-voc-batavia
5. https://nationalgeographic.grid.id/read/133277228/sindiran-buat-si-jangkung-jp-coen-dan-wak-wak-gung-untuk-jepang
6. https://nationalgeographic.grid.id/read/132887111/jp-coen-memuji-warga-tionghoa-namun-mengapa-voc-membantai-mereka
7. https://nationalgeographic.grid.id/read/133277104/agar-pasukannya-betah-di-batavia-jan-pieterszoon-coen-impor-gadis
8. https://nationalgeographic.grid.id/read/133277104/agar-pasukannya-betah-di-batavia-jan-pieterszoon-coen-impor-gadis

Address

Gedung Grid Network Perkantoran Kompas Gramedia Jalan Gelora VII RT. 2/RW. 2 Kelurahan Gelora Kecamatan Tanah Abang Jakarta Pusat
Central Jakarta

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when National Geographic Magazine Indonesia posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to National Geographic Magazine Indonesia:

Share