02/04/2026
Renungan Kamis Putih
[Pilihan Renungan dan Praktik Kesaksian Iman]
Pada 2014 di Sierra Leone, saat wabah Ebola melanda, seorang dokter bernama Dr. Martin Salia tetap melayani pasien meskipun risiko sangat tinggi. Ia bekerja di rumah sakit sederhana dengan perlengkapan terbatas, merawat banyak orang yang ditolak karena ketakutan akan penularan. Setiap hari ia mengenakan alat pelindung seadanya dan berhadapan langsung dengan penderitaan serta kematian. Akhirnya, ia sendiri tertular virus tersebut setelah berbulan-bulan melayani tanpa henti. Ia sempat dievakuasi ke Amerika Serikat untuk perawatan, namun wafat pada November 2014. Kisahnya menjadi nyata tentang kasih yang total: bukan hanya kata-kata, tetapi keberanian untuk tetap memberi diri sampai akhir, demi menyelamatkan sesama di tengah bahaya besar.
Saudara-saudari terkasih, pada perayaan Kamis Putih, Gereja mengajak kita memasuki awal misteri Paskah, yang menjadi kunci untuk memahami makna salib dan kebangkitan Kristus. Bacaan Kitab Keluaran mengingatkan kita akan Paskah Yahudi, saat Allah membebaskan Israel dari perbudakan melalui darah anak domba, yang menjadi tanda keselamatan. Peristiwa ini menemukan kepenuhannya dalam diri Yesus, Sang Anak Domba sejati. Dalam Perjamuan Terakhir, Yesus memberi makna baru pada roti dan anggur sebagai Tubuh dan Darah-Nya, tanda bahwa Ia menyerahkan diri demi keselamatan manusia. Apa yang dirayakan secara sakramental pada Kamis Putih digenapi secara nyata dalam pengorbanan-Nya di salib pada Jumat Agung, sehingga Ekaristi dan salib merupakan satu kesatuan misteri kasih. Injil Yohanes menegaskan hal ini melalui tindakan pembasuhan kaki, di mana Yesus menunjukkan bahwa kasih sejati selalu hadir dalam kerendahan hati dan pelayanan. Dari Kamis Putih hingga Minggu Paskah, kita melihat perjalanan kasih yang total: dari pemberian diri, penderitaan, keheningan harapan, hingga kemenangan kehidupan. Perayaan ini bukan sekadar kenangan, melainkan kehadiran nyata Kristus yang terus hidup dalam Gereja melalui Ekaristi. Oleh karena itu, setiap orang yang ambil bagian di dalamnya dipanggil untuk meneladan Kristus: hidup dalam kasih, pengampunan, dan pelayanan. Dengan demikian, kita diingatkan bahwa kasih yang rela berkorban adalah kasih yang membawa kehidupan baru bagi dunia.
Bagaimana denganku selama ini? Mari kita renungkan apakah aku berani tetap mengasihi dan melayani sesama dengan tulus, bahkan ketika itu menuntut pengorbanan dan kenyamanan diriku?
Tuhan memberkati.