18/07/2026
MENGENAL GEREJA KATOLIK UNIVERSAL YANG SATU, KUDUS, KATOLIK DAN APOSTOLIK,
Kesatuan Iman dalam Keberagaman 24 Gereja Sui Iuris
Pendahuluan
Setiap hari Minggu dan hari raya, umat Katolik di seluruh dunia mengikrarkan Syahadat Nikea-Konstantinopel:
"Aku percaya akan Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik."
Pengakuan iman ini bukan sekadar rumusan teologis, melainkan pengakuan akan identitas Gereja yang didirikan oleh Yesus Kristus sendiri.
Empat ciri tersebut—satu, kudus, katolik, dan apostolik (Notae Ecclesiae)—berasal dari Kitab Suci dan ditegaskan oleh Konsili Nikea (325) serta Konsili Konstantinopel I (381).
Sejak saat itu, pengakuan ini menjadi bagian dari iman Gereja yang tetap dihayati hingga sekarang.
Gereja Katolik memahami bahwa keempat ciri ini bukanlah cita-cita yang baru akan dicapai, melainkan anugerah yang telah diberikan Kristus kepada Gereja-Nya.
Meskipun para anggotanya adalah manusia yang lemah dan berdosa, Gereja tetap dipelihara oleh Roh Kudus agar setia kepada Injil sampai akhir zaman (Mat. 28:20).
Salah satu tanda paling nyata dari sifat katolik (universal) adalah keberadaan 24 Gereja Katolik sui iuris.
Masing-masing memiliki sejarah, bahasa liturgi, spiritualitas, dan tradisi yang berbeda, tetapi semuanya mengakui iman yang sama, merayakan sakramen yang sama, memiliki suksesi apostolik yang sah, dan berada dalam persekutuan penuh dengan Uskup Roma (Paus).
1. Gereja yang Satu
Kesatuan Gereja bersumber dari Allah Tritunggal sendiri.
Sebagaimana Bapa, Putra, dan Roh Kudus adalah satu, demikian p**a Gereja dipanggil untuk hidup dalam kesatuan.
Yesus berdoa:
"Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau." (Yohanes 17:21)
Rasul Paulus juga menegaskan:
"Satu tubuh dan satu Roh... satu Tuhan, satu iman, satu baptisan." (Efesus 4:4–5)
Kesatuan Gereja diwujudkan dalam:
- satu iman yang diwariskan para rasul;
- satu baptisan;
- satu Ekaristi;
- satu pengakuan iman;
- satu persekutuan para uskup;
- satu kepemimpinan apostolik yang
berpusat pada Uskup Roma sebagai
penerus Santo Petrus.
Kesatuan ini bukan berarti keseragaman.
Sejak Gereja Perdana telah ada berbagai bahasa, budaya, dan tradisi liturgi. Namun semuanya tetap berada dalam satu iman kepada Kristus.
2. Gereja yang Kudus
Gereja disebut kudus karena Kristus adalah Kepala Gereja (Ef. 5:25–27), sedangkan Roh Kudus adalah jiwa yang menghidupinya.
Kekudusan Gereja tidak berasal dari kesempurnaan para anggotanya, melainkan dari Allah sendiri.
Karena itu, walaupun sepanjang sejarah terdapat anggota Gereja—bahkan pemimpin Gereja—yang jatuh ke dalam dosa, kelemahan manusia tidak menghapus kekudusan Gereja.
Gereja tetap kudus karena:
- Sabda Allah tetap diajarkan;
- sakramen tetap dirayakan secara
sah;
- Roh Kudus tetap berkarya;
- Kristus tetap menjadi Kepala Gereja.
Melalui doa, sakramen, pewartaan Injil, dan karya kasih, Gereja terus menguduskan umat hingga mencapai kepenuhan hidup dalam Kerajaan Allah.
3. Gereja yang Katolik (Universal)
Kata katolik berasal dari bahasa Yunani katholikos, yang berarti menyeluruh, universal, atau menurut keseluruhan.
Maknanya bukan hanya tersebar ke seluruh dunia, tetapi juga memiliki kepenuhan sarana keselamatan, yakni: - pewartaan Sabda Allah,
- sakramen-sakramen,
- kehidupan liturgi,
- dan pelayanan apostolik.
Keuniversalan Gereja tampak dalam tiga hal:
- diutus kepada semua bangsa (Mat.
28:19);
- mengajarkan seluruh iman para rasul;
- merangkul segala bangsa dan
budaya tanpa kehilangan kesatuan i
man.
Gereja Katolik bukan hanya Gereja Latin
Sering kali orang mengira Gereja Katolik identik dengan Gereja Latin atau Ritus Roma.
Kenyataannya, Gereja Katolik adalah persekutuan 24 Gereja sui iuris, masing-masing memiliki otonomi menurut hukum Gereja, tetapi tetap bersatu dalam iman dan persekutuan dengan Paus.
A. Gereja Latin
Gereja Latin
Pusat: Vatikan (Roma, Italia)
Gereja Latin merupakan Gereja Katolik terbesar dan mencakup sekitar 98% umat Katolik di dunia.
B. Tradisi Aleksandria
Gereja Katolik Koptik
Pusat: Kairo, Mesir
Gereja Katolik Etiopia
Pusat: Addis Ababa, Etiopia
Gereja Katolik Eritrea
Pusat: Asmara, Eritrea
C. Tradisi Antiokhia (Siria Barat)
Gereja Maronit
Pusat: Bkerké, Lebanon
Gereja Katolik Siria
Pusat: Beirut, Lebanon
Gereja Katolik Siro-Malankara
Pusat: Thiruvananthapuram, India
D. Tradisi Armenia
Gereja Katolik Armenia
Pusat: Bzoummar, Lebanon
E. Tradisi Kasdea (Siria Timur)
Gereja Katolik Kaldea/Kasdim
Puasat: Baghdad, Irak
Gereja Katolik Siro-Malabar
Pusat: Ernakulam-Angamaly, India
F. Tradisi Bizantium
Gereja Katolik Albania
Pusat: Tirana, Albania
Gereja Katolik Belarusia
Pusat: Minsk, Belarus
Gereja Katolik Bulgaria
Pusat: Sofia, Bulgaria
Gereja Katolik Yunani Kroasia dan Serbia
Pusat: Križevci, Kroasia
Gereja Katolik Yunani Hungaria
Pusat: Debrecen, Hungaria
Gereja Katolik Italo-Albania
Pusat: Lungro dan Piana degli Albanesi, Italia
Gereja Katolik Yunani Makedonia
Pusat: Strumica, Makedonia Utara
Gereja Katolik Melkit
Pusat: Damaskus, Suriah
Gereja Katolik Rumania
Pusat: Blaj, Rumania
Gereja Katolik Rusia
Belum memiliki tahta tetap
Gereja Katolik Ruthenia
Pusat: Pittsburgh, Amerika Serikat (pusat Metropolitan)
Gereja Katolik Slowakia
Pusat: Prešov, Slowakia
Gereja Katolik Ukraina
Pusat: Kyiv, Ukraina
Gereja Katolik Yunani Yunani
Pusat: Athena, Yunani
Walaupun memiliki ritus, bahasa liturgi, kalender, musik, disiplin kanonik, dan spiritualitas yang berbeda, seluruh Gereja tersebut:
- mengimani Syahadat yang sama;
- merayakan tujuh sakramen yang
sama;
- memiliki suksesi apostolik yang sah;
- mengakui primat Uskup Roma;
- membentuk satu Gereja Katolik yang
universal.
Dengan demikian, keberagaman ritus bukanlah perpecahan, melainkan kekayaan yang memperlihatkan keluasan Gereja Kristus.
4. Gereja yang Apostolik
Gereja disebut apostolik karena didirikan "di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru" (Ef. 2:20).
Sifat apostolik diwujudkan dalam tiga dimensi:
Apostolik dalam asal-usul, karena didirikan oleh Kristus melalui para rasul.
Apostolik dalam ajaran, karena tetap setia memelihara iman yang diwariskan para rasul.
Apostolik dalam suksesi, karena para uskup menerima tahbisan melalui rantai penumpangan tangan yang tidak terputus sejak zaman para rasul (suksesi apostolik).
Kesinambungan ini menjaga agar pewartaan Injil dan perayaan sakramen tetap autentik sepanjang sejarah.
Dasar Kitab Suci
- Matius 16:18–19
- Matius 28:18–20
- Yohanes 17:20–23
- Kisah Para Rasul 2:42
- Efesus 2:19–22
- Efesus 4:4–6
- 1 Timotius 3:15
Kesaksian Gereja Perdana
Sekitar tahun 107 M, Santo Ignatius dari Antiokhia menulis dalam suratnya kepada jemaat di Smirna:
"Di mana Yesus Kristus berada, di situ ada Gereja Katolik."
Ini merupakan penggunaan tertua yang masih terlestarikan atas istilah "Gereja Katolik", menunjukkan bahwa sebutan tersebut telah digunakan sejak awal abad kedua, jauh sebelum Konsili Nikea maupun berbagai perpecahan dalam sejarah Kekristenan.
Selain itu, para Bapa Gereja seperti Santo Ireneus dari Lyon juga menegaskan pentingnya kesinambungan suksesi para uskup dari para rasul sebagai tolok ukur keaslian ajaran Gereja.
Penutup
Gereja Katolik adalah persekutuan universal yang didirikan oleh Yesus Kristus dan dipelihara oleh Roh Kudus sepanjang zaman.
Kesatuannya tidak lahir dari keseragaman budaya atau bahasa, melainkan dari kesatuan iman, sakramen, dan suksesi apostolik.
Keberadaan 24 Gereja Katolik sui iuris memperlihatkan bahwa Gereja mampu mempersatukan Timur dan Barat, berbagai ritus, bahasa, dan tradisi dalam satu Tubuh Kristus.
Keberagaman tersebut bukanlah tanda perpecahan, melainkan cerminan dari universalitas Gereja yang merangkul seluruh bangsa tanpa kehilangan identitas imannya.
Karena itu, ketika umat mengucapkan:
"Aku percaya akan Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik,"
mereka mengakui:
- Gereja yang didirikan oleh Kristus,
- dibangun di atas dasar para rasul,
- dipersatukan dalam iman yang sama,
- dikuduskan oleh Roh Kudus,
- diutus kepada seluruh bangsa,
- dan tetap hidup dalam
kesinambungan apostolik hingga
kini.
Inilah Gereja Katolik yang universal:
- satu dalam iman,
- kaya dalam tradisi,
- dan tetap setia kepada Kristus
sepanjang zaman.