Khutbah Jum'at Bahasa Indonesia

Khutbah Jum'at Bahasa Indonesia Group WA tersedia file pdf nya . klik saja https://chat.whatsapp.com/KbvijFNKqo46HvAn5jLbrt?mode=ems_copy_t

24/12/2025

Nomor : 12
Jumat Ke 04, Desember 2025
SADAR WAKTU TERUS BERJALAN, UMUR SEMAKIN HABIS

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ يَحْشُرُنَا فِي الْمَحْشَرِ . أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْجَبَّارُ وَ أَشْهَدُ اَنَّ حَبِيْبَنَا وَ نَبِيَّنّا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْاِنْسِ وَالْبَشَرِ . اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى اٰلِهِ وَ اَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ . اَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ . اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَ لَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَ أَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ . أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ : وَ الْعَصْرِۙ . اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ . اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَ تَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ۙ وَ تَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
Hadirin Ahli Shalat Jumat, Rahimakumullah
Kita harus menyadari dan menerima bahwa waktu terus berlalu tanpa henti dan tidak akan kembali. Pada saat yang sama, umur kita sebenarnya semakin berkurang. Oleh karena itu, sangat penting untuk memanfaatkan waktu kita sebaik-baiknya, terutama tidak menyia-nyiakannya kecuali untuk memperkuat iman dan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Iman dan ketakwaan adalah bekal terbaik di dunia ini sebelum kita harus kembali kepada Pencipta kita, Allah Ta'ala. Kita semua tahu dan menyadari bahwa, "Hari-hari (waktu) yang telah berlalu tidak akan kembali." Ini adalah pengingat bagi kita semua, terutama untuk memanfaatkan waktu kita sebaik-baiknya. Waktu terus mengalir, dan umur terus berkurang. Menghabiskannya dengan sia-sia selamanya tidak akan memuaskan.
Menyadari bahwa waktu tidak akan kembali, tidak ada pilihan lain selain mengisinya dengan segala hal yang bermanfaat. Hidup ini sebenarnya hanya menunggu waktu, sementara kita tidak tahu kapan waktu itu akan tiba. Tentu saja, umur kita terus berkurang, tergeser oleh waktu. Oleh karena itu, di sisa tahun hidup yang telah Allah berikan kepada kita, marilah kita manfaatkan sebaik-baiknya dengan melakukan amal kebaikan. Kematian tidak pernah memihak atau berkompromi dengan usia. Baik muda, tua, atau muda, ketika waktunya tiba, kita tidak dapat berbuat apa-apa. Nabi Muhammad SAW bersabda
خَيْرُ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَ حَسُنَ عَمَلُهُ وَ شَرُّ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَ سَاءَ عَمَلُهُ
Artinya: “Sebaik-baiknya manusia adalah orang-orang yang berumur panjang dan baik amalnya. Dan sejelek-jelek manusia adalah orang-orang yang berumur panjang dan jelek amalnya” {MUKHTARUL AHADITH, Halaman 74}.
Dari hadits ini, dapat dipahami bahwa umur panjang bukan hanya nikmat dari Allah SWT, tetapi juga yang menentukan baik dan buruknya seseorang. Orang-orang yang diberi umur panjang, kemudian menggunakannya untuk kebaikan, meningkatkan ibadah dan amal kebaikan, dan tetap teguh dalam ketaatan, termasuk orang-orang sebaik-baiknya. Ini karena mereka telah diberi umur panjang dan telah berhasil menggunakannya untuk kebaikan. Sebaliknya, orang-orang yang diberi umur panjang oleh Allah tetapi tidak menambah kebaikan dalam hidup mereka, tetapi malah terus berbuat jahat, berbuat dosa, melanggar perintah Allah, dan tidak pernah memenuhi kewajiban-Nya, maka orang-orang ini termasuk orang-orang jahat, sesat, dan rusak. Oleh karena itu, marilah kita jadikan setiap saat dari setiap waktu yang berlalu sebagai waktu untuk mengingat esensi kehidupan yang telah diberikan oleh Allah SWT.
Hadirin, Rahimakumullah !.
Syekh Ibnu `Atoilah As-Sakandari berkata:
رُبَّ عُمْرٍ اِتَّسَعَتْ آمَادُهُ وَ قَلَّتْ اَمْدَادُهُ وَ رُبَّ عُمْرٍ قَلِيْلَةٍ آمَادُهُ كَثِيْرَةٍ اَمْدَادُهُ Artinya: “Banyak yang berumur panjang tetapi sedikit manfaatnya, dan banyak yang berumur pendek tetapi banyak manfaatnya.” {Syarah Hikam II, halaman 77}.
Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam telah mengajarkan kita untuk selalu berdoa kepada Allah, memohon kepada-Nya agar menjadikan kehidupan di dunia ini sebagai kesempatan untuk terus meningkatkan kebaikan kita
اَللَّهُمَّ اَصْلِحْ لِيْ دِيْنِيْ الَّذِیْ هُوَ عِصْمَةُ اَمْرِيْ وَ اَصْلِحْ لِيْ دُنْيَايَ الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشِيْ وَ اَصْلِحْ لِيْ آخِرَتِيْ الَّتِيْ فِيْهَا مَعَادِيْ وَ اجْعَلِ الْحَياةَ زِيَادَةً لِيْ فِيْ كُلِّ خَيْرٍ وَ اجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِيْ مِنْ كُلِّ شَرٍّ
Artinya: “Ya Allah, sempurnakanlah agamaku, yang merupakan dasar urusanku, sempurnakanlah kehidupan duniaku, yang merupakan penghidupanku, sempurnakanlah akhiratku, yang merupakan tempat kembaliku, jadikanlah kehidupan ini sebagai peningkatan amal kebaikan dan jadikanlah kematian sebagai penghentian segala perbuatan jahat dariku.” {Al-Adzkar, halaman 347-348
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ
Khutbah Ka II
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَالْاِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ. وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ. أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ اْلأَمْوَاتِ . اَللَّهُمَّ اَصْلِحْ وُلَاةَ اُمُوْرِنَا . اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَ صَلَاحُ الْإِسْلَامِ وَ الْمُسْلِمِيْنَ . اَللَّهُمَّ اَعِنْهُمْ عَلَى الِقِيَامِ بِمَهَامِهِمْ كَمَا اَمَرْتَهُمْ . اَللَّهُمَّ اَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَ الْمُفْسِدِيْنَ وَ قَرِّبْ اِلَيْهِمْ اَهْلَ الْخَيْرِ وَ النَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ . اَللَّهُمَّ اَصْلِحْ وُلَاةَ اُمُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ فِى كُلِّ مَكَانٍ . رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَ اَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَاحِمِيْنَ وَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

18/12/2025

Nomor : 11
Jumat Ke 03, Desember 2025
Z U H U D

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الْوَدُوْدِ . اَشْهَدُ اَنْ لَّا اِلَهَ اِلَّا اللهُ الْأَحَدُ الصَّمَدُ وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُه‘ وَ رَسُوْلُهُ النَّبِيُّ الزَّاهِدُ . اَللّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَاحِبِ الْكَرَمِ وَ الْجُوْدِ وَ عَلَى آلِهِ وَ اَصْحَابِهِ صَلاَةً وَّ سَلاَمًا دَائِمَيْنِ مُتَلاَزِمَيْنِ اِلَى يَوْمِ الْمَوْعُوْدِ . اَمَّا بَعْدُ فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَ لَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَ اَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ لَعَلَّكُمْ تَفْلَحُوْنَ فِيْ دَارِ الْخُلُوْدِ . اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ : لَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ اِلٰى مَا مَتَّعْنَا بِهِ اَزْوَاجًا مِّنْهُمْ وَ لَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَ اخْفِضْ جَنَا حَكَ لِلْمُؤْمِنِيْنَ
Artinya : " Dan Jangan sekali-kali Engkau (Muhammad) tujukan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang kafir), dan jangan Engkau bersedih hati terhadap mereka dan berendah hatilah engkau terhadap orang yang beriman".
(QS. Al-Hijr 15: Ayat 88).
Hadirin Ahli Jumat, Rahimakumullah!
Zuhud adalah salah satu cabang keimanan yang ke 71 dari cabang-cabang keimanan yang berjumlah 77. (Syu`abul Iman, halaman 24). Setiap Muslim harus memiliki hati yang zuhud. Nabi Muhammad SAW bersabda:
اَلزَّهَادَةُ فِى الدُّنْيَا لَيْسَتْ بِتَحْرِيْمِ الْحَلاَلِ وَ لاَ اِضَاعَةِ الْمَالِ وَ لَكِنِ الزَّهَادَةُ فِى الدُّنْيَا اَنْ لَّا تَكُوْنَ بِمَا فِى يَدَيْكَ أَوْثَقَ مِمَّا فِى يَدِ اللهِ
Artinya: "Zuhud di dunia bukan berarti mengharamkan hal-hal yang halal, dan tidak p**a membuat harta benda menjadi tidak berharga, tetapi zuhud di dunia itu jika tidak terbukti bahwa apa yang ada di tanganmu lebih dapat diandalkan daripada apa yang ada dalam kekuasaan Allah." {HR. Ahmad - Terjemahan Hadits Qudsi, halaman 288}. Beliau juga besabda:
اَلزُّهْدُ فِى الدُّنْيَا رَاحَةُ الْقَلْبِ وَ الْبَدَنِ وَ الرَّغْبَةُ فِى الدُّنْيَا تُطِيْلُ الْهَمَّ وَ الْحَزَنَ وَ مَاقَصَرَ عَبْدٌ فِيْ طَاعَةٍ اللهِ اِلَّا ابْتَلَاهُ اللهُ بِالْهَمِّ. وَ الزُّهْدُ هُوَ فَقْدُ عَلَاقَةِ الْقَلْبِ بِالْمَالِ وَ لَيْسَ الزُّهْدُ هُوَ فَقْدُ الْمَالِ فَلَا تَظُنُّ اَنَّ نَبِيَّ اللهِ سُلَيْمَانَ عَلَيْهِ وَ عَلَی نَبِيِّنَا الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ لَمْ يَكُنِ زَاهِدًا فِی الدُّنْيَا بَلْ هُوَ اَزْهَدُ الزَّاهِدِيْنَ
Artinya: “ Zuhud di dunia mendatangkan kedamaian bagi hati dan badan, sedangkan kecintaan terhadap dunia memperpanjang kecemasan dan kesedihan. Tidak ada seorang hamba pun yang lalai taat kepada Allah kecuali Allah akan membuatnya cemas. Zuhud itu tidak terikatnya hati pada harta benda, bukan tidak memiliki harta benda. Janganlah kamu mengira bahwa Nabi Allah, Sulaiman, bukan seorang yang zuhud. Bahkan, beliau adalah orang yang paling zuhud diantara orang-orang yang zuhud. (Kifayatul atqiya, halaman 21).
Hadirin, Rahimakumullah !.
Manfaat dari hati zuhud adalah untuk menjaga diri, hati merasa tenang, selalu menyebarkan kebaikan, khusyu` dalam beribadah, dan memiliki motivasi yang baik dalam menjalani hidup. Dengan zuhud, seseorang dapat mencapai kecintaan kepada Allah SWT dan kecintaan manusia. Zuhud dari kehidupan duniawi akan menjauhkan diri dari kecintaan yang berlebihan terhadap harta benda. Zuhud adalah kunci untuk menjalani hidup menuju akhirat tanpa terikat oleh kesenangan dunia. Dengan menjaga zuhud, seseorang akan mencapai kedamaian batin, memperkuat ibadah, dan meningkatkan kesadaran sosial. Orang-orang yang zuhud akan lebih sabar ketika menghadapi kesulitan, menyadari bahwa semua nikmat yang mereka terima di dunia ini berasal dari Allah SWT.
Orang zuhud yang memiliki banyak kekayaan tentu tidak akan kikir dalam membelanjakan sebagian kekayaan mereka, baik untuk zakat, infaq, atau sedekah jariyah, dan mereka juga tidak akan boros dan berlebihan dalam membelanjakannya. Orang zuhud tidak akan sombong dan memamerkan kekayaan mereka. Lebih jauh lagi, orang zuhud akan tidak merasa rendah diri karena kekurangnya kekayaan, tidak akan iri hati terhadap orang lain, dan tidak akan tamak, tidak mengharapkan pemberian dari orang lain. Orang zuhud selalu berusaha tetap istiqomah dzikir kepada Allah Tuhan. Apa pun situasinya, apakah ada orang yang mengejek, memuji, naik atau turun jabatan, memiliki banyak uang atau sedikit, itu tidak memengaruhi keteguhan dalam hati mereka, karena mereka yakin dan merasa bahwa segala sesuatu di dunia ini sepenuhnya milik Allah, dan bahwa apa yang ada di dalam diri mereka hanya berupa titipan sementara. Bagi orang-orang zuhud, semua amal baik dan ibadah mereka pasti akan berbobot dan bermanfaat bagi diri mereka sendiri, keluarga dan kaum Muslimin, karena ibadah mereka tidak ada tujuan lain selain kepada Allah Yang SWT.
Semoga Allah Ta`ala menganugerahkan kepada kita semua hati yang zuhud, setidaknya ketika melaksanakan salat, sehingga salat kita menjadi ikhlas, khusyu`, tenang, mampu melaksanakan seluruh ketentuan shalat.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KA II

اَلْحَمْدُ للهِ تَفَرَّدَ بِالْعِزِّ وَ الْجَلاَلِ . اَشْهَدُ اَنْ لَّا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَه‘ لَا شَرِيْكَ لَه‘ تَوَحَّدَ بِالْكِبْرِيَاءِ وَ الْكَمَالِ وَ اَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُه‘ وَ رَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلَى اَشْرَفِ الْخِصَالِ . اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَّعَلَى آلِهِ وَاَصْحَابِهِ ذَوِى الْعُلُوْمِ وَ اْلإِفْضَالِ . اَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ فِي جَمِيْعِ الشُّئُوْنِ وَ اْلأَحْوَالِ . اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ وَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ اْلأَمْوَاتِ . اَللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْ الدُّنْيَا اَكْبَرَ هَمِّنَا وَ لاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا. اَللَّهُمَّ اجْعَلِ الدُّنْيَا فِى اَيْدِيْنَا وَ لاَ تَجْعَلْهَا فِيْ قُلُوْبِنَا . اَللَّهُمَّ اِنَّا نَسْئَلُكَ رِضَاكَ وَ الْجَنَّةَ وَ نَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَ النَّارِ . رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّ فِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَّ قِنَا عَذَابَ النَارِ وَ اَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَاحِمِيْنَ وَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

10/12/2025

Nomor : 11
Jumat Ke 02, Desember 2025
SIFAT BASHOR BAGI ALLAH TA`ALA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ اَمَرَنَا بِالتَّقْوَى لِنَيْلِ رِضَاهُ . اَشْهَدُ اَنْ لَّا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَ اَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ . اَلَّذِي لَا نَبِيَ بَعْدَهُ . اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى ءَالِهِ وَ اَصْحَابِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ . اَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ بِامْتِثَالِ اَوَامِرِهِ وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيْهِ . اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ : مَا خَلْقُكُمْ وَ لَا بَعْثُكُمْ اِلَّا كَنَفْسٍ وَّاحِدَةٍ ۗ اِنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌۢ بَصِيْرٌ . ( لقمان : 28 )
Hadirin, Ahli Jum'at, Rahimakumullah!.
Wajib aqli dalam haqnya Allah Ta`ala memiliki sifat Bashor, artinya Allah Maha Melihat. Bashor Allah tidak berawal dan tidak berakhir, dan tetap berada dalam Zat Allah. Bashor Allah tidak bergantung pada adanya yang mempercayai, sekalipun tidak ada makhluk yang beriman{percaya}, Allah tetap bersifat melihat (bashor). Bashor Allah bersifat kekal, karena tidak pernah didahului oleh kebutaan, tidak akan berakhir dengan tidak melihat atau terputus oleh tidak melihat. Bashor Allah Ta'ala berbeda dengan penglihatan makhluk, karena Bashor Allah bersifat kekal dan abadi. Basyur Allah bukan dengan mata, melainkan langsung melalui sifat-Nya yang Maha Melihat. Bashor Allah melihat kepada semua makhluk yang ada, tanpa ada perbedaan antara gelap dan terang, jauh dan dekat, dan sebagainya semua sifat yang selalu ada pada makhluk.
Mengitikadkan sifat Bashor kepada Allah harus sampai ma'rivat, sedangkan ma'rivat harus mempunyai dalilnya, maka wajib bagi setiap mengitikadkan sifat Allah harus memiliki dalilnya. Dalil sifat naqli bagi Bashor Allah sama dengan dalil sifat naqli yang sama`, di antaranya adalah firman Allah Ta'ala dalam Al-Qur'an, Surah Luqman ayat 28
اِنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌۢ بَصِيْرٌ
Artinya: “Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Melihat”.
Syariat mewajibkan semua orang beriman untuk meyakini bahwa Allah wajib aqli memiliki sifat bashor, dengan jaminan bahwa mereka akan mendapatkan pahala dengan mengitikadkannya dan sah imannya. Sebaliknya, bagi mereka yang tidak beriman {tidak mengitikadkan}, mereka akan mendapatkan siksa dan iman mereka batal. Syariat (Allah dan Rasul-Nya) telah membenarkan dan telah mendahului menetapkan bahwa Allah memiliki sifat bashor, dengan firman Allah sebelumnya (QS. Luqman, Ayat 28).
Hadirin sekalian, Rahimakumullah!
Untuk kesempurnaan iman, Syariat menganjurkan kepada semua orang beriman:
1. Untuk menjiwakan sifat bashor Allah, sehingga selamanya merasa dilihat oleh Allah, hal ini menempatkan diri pada maqom Muroqobah dan meningkatkan posisi iman Ilmul Yaqin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَنْ تَعْيُدَ اللهَ كَاَنَّكَ تَرَاهُ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
Artinya: "Kamu menyembah Allah seolah-olah kamu melihat-Nya. Dan jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihatmu." (Al-Majalis As-Saniyyah, halaman 8).
2. Ketika berada di tengah keramaian atau sendirian, selalu merasa ditemani oleh Dzat Raqibul Bashor, yang senantiasa menyertai dan melihat. Allah berfirman dalam Surah Al-Mujadilah ayat 7:
اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِى الْاَ رْضِ ۗ مَا يَكُوْنُ مِنْ نَّجْوٰى ثَلٰثَةٍ اِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَ لَا خَمْسَةٍ اِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَ لَاۤ اَدْنٰى مِنْ ذٰلِكَ وَ لَاۤ اَكْثَرَ اِلَّا هُوَ مَعَهُمْ اَيْنَ مَا كَا نُوْا ۚ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ
Artinya: " Tidakkah engkau perhatikan, bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi ? Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya. Dan tidak ada lima orang, melainkan Dialah yang keenamnya. Dan tidak ada yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia pasti ada bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari Kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu". (QS. Al-Mujadilah, Ayat 7).
Ketika kumpul bertiga, hati tidak hanya merasakan tiga, tetapi ingat dan merasakan bahwa ada Allah yang keempat. Ketika lima, merasakan Allah yang keenam, dan ketika kurang dari tiga atau lebih dari enam, merasakan ada Allah tambahnya.
Manfaat iman yang disertai rasa disertai Allah dan merasa dilihat oleh Allah selamanya akan senantiasa taat kepada Allah. Menghindar dari berbuat dosa terhadap Allah. Mata tidak akan digunakan untuk melihat hal-hal yang terlarang dan akan mendapat pertolongan serta ijabah do`a
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kadua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ اَمَرَنَا بِأَدَاءِ الطاَّعَاتِ . اَشْهَدُ اَنْ لَّا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ اَفْضَلُ الْمَخْلُوْقَاتِ . اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَاحِبِ الشّفَاعَاتِ وَ عَلَى ءَالِهِ وَ اَصْحَابِهِ ذَوِى الْكَرَامَاتِ صَلاَةً وَّ سَلاَمًا دَائِمَيْنِ مُتَلاَزِمَيْنِ مَادَامَتِ الْمَخْلُوْقَاتُ . اَمَّا بَعْدُ : فَيَا اَ يُّهَا النَّاسُ اُوْصِيْكُمْ وَ اِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَالطَّاعَاتِ . اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُؤْمِنَاتِ وَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ اْلأَمْوَاتِ . للَّهُمَّ اَصْلِحْ وُلَاةَ اُمُوْرِنَا . اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَ صَلَاحُ الْإِسْلَامِ وَ الْمُسْلِمِيْنَ . اَللَّهُمَّ اَعِنْهُمْ عَلَى الِقِيَامِ بِمَهَامِهِمْ كَمَا اَمَرْتَهُمْ . اَللَّهُمَّ اَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَ الْمُفْسِدِيْنَ وَ قَرِّبْ اِلَيْهِمْ اَهْلَ الْخَيْرِ وَ النَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ . اَللَّهُمَّ اَصْلِحْ وُلَاةَ اُمُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ فِى كُلِّ مَكَانٍ . اَللَّهُمَّ اِنَّا نَسْئَلُكَ رِضَاكَ وَ الْجَنَّةَ وَ نَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَ النَّارِ . رَبَّنَا ءَاتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّ فِى الْأَاخِرَةِ حَسَنَةً وَّ قِنَا عَذَابَ النَارِ وَ اَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَاحِمِيْنَ وَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

03/12/2025

Nomor : 10
Jumat Ke 01, Desember 2025
IKHLAS DALAM IBADAH DAN AMAL SOLEH

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ كَمَا يَحْمَدُهُ الشَّاكِرُوْنَ وَ يُؤْمِنُ بِهِ الْمُوْقِنُوْنَ و يُقِرُّ بِوَحْدَانِيَّتِهِ الصَّادِقُوْنَ . اَشْهَدُ أنْ لَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَ اَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ . اللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى نَبِيِّهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ . أَمَّا بَعْدُ . فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَ اِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ مُخْالِصًا لَهُ الدِّيْنَ . فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ الْمُخْلِصُوْنَ . اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ : اِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِـوَجْهِ اللّٰهِ لَا نُرِيْدُ مِنْكُمْ جَزَآءً وَّ لَا شُكُوْرًا
Artinya: "{sambil nerkata}: ' Sesungguhnya kami memberi makanann kepadamu sekalian hanyalah karena mengharapkan keridoan Allah, kami tidak menghendaki balasan dan terima kasih dari kamu sekalian”. (QS. Al-Insan, Ayat 9).
Hadirin Ahli Jumat, Rahimakumullah!
Ikhlas dalam beribadah ibarat ruh di dalam jasad. Jasad tanpa ruh ibarat mayat yang harus segera diurus dan dikebumikan.
اَلْإِخْلَاصُ وَ هُوَ اَلرُّكْنُ الْأَعْظَمُ مِنْ أَعْمَالِ الْقَلْبِ اَلَّذِىْ عَلَيْهِ مِدَارُ الْعِبَادَاتِ كُلِّهَا
Artinya: “ Ikhlas adalah pilar yang paling utama dari perbuatan hati, di mana semua ibadah didasarkan pada keikhlasan”. {Kifayatul Atqiya, halaman 32}.
Ibadah yang tidak disertai keikhlasan hati, maka ibadah tersebut cenderung diabaikan oleh Allah SWT. Dalam Surah Al-Bayyinah ayat 5, Allah SWT berfirman
وَ مَا أُمِرُوَا إِلَّا لِيَعْبُدُواْ اللَّهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ
Artinya: “ Padahal Mereka tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah, dengan ikhlas mentaati-Nya karena{menjalankan}dalam agama”,
Rasulullah SAW bersabda: “ Ikhlaslah dalam agamamu, karena sesungguhnya amal sedikit{disertai kaikhlasan} akan mencukupi bagimu.” Beliau juga bersabda
لَا يَقْبَلُ اللهُ مِنَ الْأَعْمَالِ إِلَّا مَا كَانَ خَالِصًا لَهُ وَ ابْتَغِى بِهَا وَجْهَهُ
Artinya: "Allah tidak akan menerima suatu amal kecuali dari yang ikhlas kepada-Nya dan mencari keridhaan-Nya." Beliau juga bersabda, yang artinya: "Barangsiapa yang ikhlas kepada Allah selama empat puluh hari, Allah akan menurunkan kepadanya sumber-sumber hikmah dari hatinya terhadap lisannya." Dalam sebuah hadis Qudsi, Allah berfirman:
اْلإِخْلَاصُ سِرٌّ مِنْ سِرِّي اِسْتَوْدَعْتُهُ قَلْبَ مَنْ أَحْبَبْتُ مِنْ عِبَادِيْ
Artinya: “ Ikhlas merupakan salah satu rahasia Kami yang Kami tanamkan di dalam hati hambaKu yang Aku cinta”. Makna keikhlasan adalah niat seseorang dalam segala ketaatan dan perbuatannya semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan menginginkan kedekatan dan rido-Nya, tanpa tujuan lain seperti menyenangkan manusia, mencari pujian, atau mengharapkan sesuatu dari mereka. {Kifayatul Atqiya, halaman 32}
وَ اِخْلَاصُ كُلِّ عَبْدٍ فِی اَعْمَالِهِ عَلَی حَسَبِ مَرْتَبَتِهِ وَ مَقَامِهِ
Artinya: “Keikhlasan setiap hamba dalam beramal itu menurut ukuran pangkat dan kedudukannya.” (Riyad Badi'ah, hlm. 91).
Keikhlasan itu adalah bahwa dengan ketaatan kepada Allah itu engkau tidak mengharap kecuali untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan inilah makna keikhlasan tertinggi dari tiga tingkatan keikhlasan. Tingkatan keikhlasan kedua adalah beramal dengan mengharap pahala dan keselamatan dari siksa. Tingkatan keikhlasan ketiga adalah beramal dengan mengharap Allah menjadikan dirinya mandiri di dunia, misalnya dengan membaca Surah Al-Waqi'ah untuk tujuan rezeki. Orang-orang yang melakukan hal ini tetap tergolong ikhlas. {Kifayatul Atqiya, hlm. 32-33}.
Hadirin, Rahimakumullah!
Keikhlasan tidak hanya terbatas dalam ibadah yang langsung ditujukan semata-mata kepada Allah SWT, tetapi juga harus hadir dalam setiap aktivitas atau pekerjaan sephari-hari. Dalam konteks ini, keikhlasan berkaitan erat dengan niat yang tulus dan benar. Misalnya, seorang ibu rumah tangga yang menghabiskan hari-harinya mengurus pekerjaan rumah tangga seperti mencuci, memasak, dan mengurus keluarga akan mendapatkan pahala yang besar dari Allah SWT jika dalam mengerjakan pekerjaan itu diiringi dengan niat untuk menaati suami dan menyayangi anak-anaknya, sebagai wujud menjalankan perintah Allah. Demikian p**a, seseorang yang bekerja sebagai pedagang mencari keuntungan lalu menggunakan hasilnya untuk menghidupi istri dan anak-anaknya, atau memiliki niat menggunakan keuntungan tersebut untuk bekal ibadah kepada Allah SWT, maka pekerjaannya menjadi wujud ikhlas. Demikian p**a dalam kehidupan sosial, misalnya, ada orang yang membantu orang tua menyeberang jalan dengan tujuan menjaga keselamatannya, atau sekadar memindahkan duri di tengah jalan untuk melindungi orang lain dari kecelakaan. Tindakan-tindakan tersebut merupakan wujud keikhlasan dalam konteks sosial. Prinsip ini disebutkan oleh az-Zarnuji dalam kitab Ta'lim al-Muta'allim, halaman 10. Ia menegaskan bahwa:
كَمْ مِنْ عَمَلٍ يَتَصَوَّرُ بِصُوْرَةِ اَعْمَالِ الدُّنْيَا وَ يَصِيْرُ بِحُسْنِ النِّيَّةِ مِنَ أَعْمَالِ اْلآخِرَةِ
Artinya: “ Berapa banyak amal berbentuk dunia, kemudian menjadi amal akhirat karena niyat yang baik”
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kadua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِىْ هَدَانَا لِهَاذَا وَ مَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْ لَا اَنْ هَدَانَا اللهُ . اَشْهَدُ اَنْ لَّا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ الَّذِىْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ . اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى سَيّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَ اَصْحَابِهِ وَ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِ التَّابِعِيْنَ اِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ . اَمَّا بَعْدُ فَيَا اَ يُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوْا اللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَ انْتَهُوْا عَمَّا نَهَى عَنْهُ وَ زَجَرَ . اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُؤْمِنَاتِ وَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ اْلأَمْوَاتِ اَللَّهُمَّ اجْعَلْ سَرِيْرَتَنَا خَيْرًا مِنْ عَلَانِيَتِنَا وَ اجْعَلْ عَلَانِيَتَنَا صَالِحَةً اَللَّهُمَّ اِنَّا نَسْئَلُكَ رِضَاكَ وَ الْجَنَّةَ وَ نَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَ النَّارِ . رَبَّنَا ءَاتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّ فِى الْأَاخِرَةِ حَسَنَةً وَّ قِنَا عَذَابَ النَارِ وَ اَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَاحِمِيْنَ وَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

19/11/2025

Nomor : 08
Jumat Ke 03, Nopember 2025
JANGAN TERLENA KEHIDUPAN DUNIA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِن سَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَ أَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ . اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن . أَمَّا بَعْدُ فَيَا اَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ، اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَجِيْمِ : أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ ، حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ ، كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ ، ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ ، كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ ، لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ ، ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ ، ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ
Hadirin Ahli Jum`ah, Rahimakumullah !.
Sebagaimana ayat yang dikemukakan dalam muqaddimah di atas, Allah telah menunjukkan sifat umum manusia, Yaitu lalai terhadap perintah Allah, lalai bersyukur kepada Allah, lalai menjauhi perintah Allah, lalai terhadap peringatan Allah. Mereka justru sibuk dengan perkara dunia dan lupa akan urusan akhirat. Mereka sibuk bermegah-megahan. Mereka sibuk mengumpul-ngumpul harta hingga lupa kepada hisabn akhirat. Tak heran jika mereka lupa apakah harta yang dikumpulkannya halal atau tidak. Baru mereka tersadar setelah kematian menghampiri mereka. Sebagaimana yang ditegaskan dalam ayat:
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ . حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ
Artinya: “Bermegah-megahan teleh melalaikan kamu sekalian. Sampai kalian masuk ke dalam kubur,” (QS. at-Takatsur, Ayat 1-2).
Melalui ayat ini, Allah mengingatkan kita untuk tidak lengah dan terlalu sibuk dengan urusan duniawi hingga melupakan urusan akhirat. Sebab, kematian pasti akan datang dan kita harus mempertanggungjawabkannya kepada Sang Pemberi keberkahan di akhirat esok hari. Jangan tunggu esok hari baru menyesal karena kita kini terbebani oleh kehidupan yang sementara. Kita terlalu sibuk mengejar dunia fana, melupakan kehidupan abadi di akhirat. Kita tidak dilarang mencari dunia, tetapi kita harus mencarinya dengan cara yang diizinkan Allah SWT. Kita tidak dilarang mencari keberkahan, tetapi ingatlah soal keberkahan di akhirat. Sebab, sekecil apa pun nikmat yang kita terima, esok hari kita akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Sang Pemberi keberkahan. Allah SWT berfirman
ثُمَّ لَتُسْئَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيْمِ
Hartosna: “ Kemudian kamu sekalian benar-benarakan ditanyapada hari itu tentang kenikmatan{yang megah di dunia itu}”. Ni`mat waktu senggang, keamanan, makanan, minuman, dan sebagainya.
Kita tidak mengharap penyesalan hari esok karena terlalu sibuk, terlena dengan urusan duniawi, hingga lupa halal dan haram, lupa perhitungan di akhirat. Jangan sampai kita terlena dengan kenikmatan dunia yang sesaat, karena masih ada kenikmatan akhirat yang lebih baik dan abadi yang harus kita perjuangkan. Ingatlah, waktu kita di dunia ini sangat singkat, bukan panjang. Hidup ini ada batasnya, yaitu kematian. Sedangkan kematian adalah awal pertanggungjawaban di hadapan Allah. Selagi masih diberi kesempatan oleh Allah, marilah kita manfaatkan sisa hidup kita untuk memperbaiki akhlak dan amal shaleh, serta beribadah kepada Allah. Karena, kita yakin hanya ibadah dan amal shalehlah yang akan mengantarkan kita kepada ridha Allah.
Hadirin Rahimakumullah
Sebagai orang beriman, kita tak boleh berhenti memikirkan apa yang telah kita perbuat untuk pertanggungjawaban esok hari di akhirat. Marilah kita bersiap mulai sekarang. Jangan menunggu sampai esok atau lusa. Karena tak seorang pun tahu kapan hidup akan berakhir. Jangan tunda taubat, jangan tunda perbaikan diri. Sebelum terlambat, lakukanlah sekarang. Selagi muda, selagi sehat, selagi terjaga, lakukanlah sekarang. Tentu saja, kita semua tidak ingin terjerumus dalam kesengsaraan dan penderitaan yang mendalam di alam kubur (barzakh) yang merupakan lautan penderitaan bagi para penghuninya.
اَلْقَبْرُ بَحْرُ النَّدَامَاتِ اَیْ اَلْبَرْزَخُ اَلْفَاصِلُ بَيْنَ الدُّنْيَا وَ الْآخِرَةِ جَامِعٌ لِأَنْوَاعِ الْغُمُوْمِ الَّتِیْ يَتَمَنَّی صَاحِبُهَا أَنَّهَا لَا تَقَعُ
Artinya: “ Kuburan (barzakh, pemisah antara dunia dan akhirat) adalah lautan kesedihan yang mengumpulkan segala macam kebingungan yang tidak diharapkan oleh mereka yang memasukinya.” (Nashoil 'Ibad, halaman 22).
Semoga Allah Ta'ala senantiasa memberikan taufiq dan hidayah kepada kita semua untuk bisa menjalani hidup sesuai dengan ketentuan Allah SWT. Aamiin, Yaa Robbal `Aalamiin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اِنّه‘ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kadua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ . أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ َلَا شَرِيْكَ لَهُ إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَ إِيَّاُهُ نَسْتَعِيْنُ. وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ . اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ . اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ . اَمَّا بَعْدُ فَيَا اَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوْا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ . اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُؤْمِنَاتِ وَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ . اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ الْاَمْوَاتِ . اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ . اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَ الْحَزَنِ وَ نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَ نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَ الْبُخْلِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَ قَهْرِ الرِّجَالِ . رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَ تُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ . رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّ فِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَّ قِنَا عَذَابَ النَّارِ . وَ اَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَاحِمِيْنَ وَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Address

Jatinagara
Ciamis
46273

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Khutbah Jum'at Bahasa Indonesia posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share