13/07/2026
Gara-gara punya h u t a n g dua ju t a aku di s i k s a suamiku, di pu kul bagai hewan. Hingga, akhirnya aku memilih pergi.
Tiga tahun setelahnya aku bertemu lagi saat dia akan menikah. Membuat dia seakan mau p i n g s a n saat melihat aku tenyata ...
====
Part. 1
[Assalamualaikum. Saya dengan Tari. Maaf, apa benar ini n o m o r hp suaminya Ibu Shanum?]
[Iya. Ada apa? Dapat n o m o r saya darimana? Shanum nggak pegang hp sekarang, hp-nya saya s i t a.]
[Maaf, saya nggak bermaksud ik*t campur. Saya cuma mau na gih h u t a ng.]
[Berapa h u t a n g nya? H u t a ng apaan?]
[Dua ju ta, Pak. Bu Shanum b e l i sembako di warung saya. H u t a n g nya sudah lama. Biasanya Bu Shanum nyi cil. Tapi, sekarang nggak. Malah hp-nya nggak aktif.]
[Nanti saya sampaikan, biar dia cari jalan untuk menyelesaikan.]
[Maaf, kalau bisa jangan hanya disampaikan, Pak. Sekalian minta solusinya.]
•••
Pov. Shanum
"Assalamualaikum ...," ucapku dengan wajah penuh keringat sambil menenteng dua kantong kresek berisi sayuran.
Hening. Tidak ada jawaban. Perasaanku seketika tidak enak saat melihat suamiku yang duduk di sofa dengan tatapan seakan ingin menelanku.
"Mas Rangga, sudah bangun?" tanyaku dengan perasaan t a k*t. Mencoba memberanikan diri menatap ke suamiku yang duduk di sofa yang ada di ruang tamu. "Maaf, tadi aku nggak pamit lagi. Belanja buru-buru, tak*t Ferdy bangun. Aku mau masak sarapan. Di kulkas stok sayur dan lauk pada habis."
Suamiku tidak menjawab. Hanya garis rahangnya yang bergerak—mengunci, mengeras, seolah menahan sesuatu l i a r yang sejak tadi menggeram di d a danya.
Aku berdiri k a ku di ambang pintu. Keringatku menetes dari pelipis, jatuh ke kerudung hitam yang sudah kusut. Kresek di tanganku bergoyang sedikit karena t u buhku seketika g e metar. Aku tahu. Aura itu, hening yang t a j a m, sunyi yang me nye ram kan. Selalu menjadi pertanda b u r u k bagiku.
"Mas…" suaraku pecah. "Aku masak dulu, ya--"
"Bentar!"
Mas Rangga bangkit perlahan, namun langkahnya berat, seperti setiap gerak adalah upaya menahan diri. Tanpa menoleh ke arahku. Ia melangkah ke dapur, membuka kulkas, lalu mem b a n ting pintunya begitu k e r a s sampai magnet tempelan berjatuhan ke lantai.
"Astaghfirullahaladzim," gumamku yang semakin tak*t.
Ia kembali ke ruang tamu. Tatapannya menyapuku seperti badai.
"Masukkan dulu motornya ke teras." Suaranya serak, namun rendah dan terkontrol. Itu yang justru menak*tkan bagiku.
"I--iya, Mas."
Aku buru-buru memutar b a dan, menurunkan kresek di meja kecil, lalu keluar. Motor matic itu kudorong pelan agar tidak terlalu berisik.
Saat aku kembali masuk, Mas Rangga sudah berdiri menungguku. Tegap. Dingin. Seperti sedang menahan a m a rah yang bisa m e le dak kapan saja.
"Taruh." Mas Rangga menunjuk dua kresek tadi.
Aku menelan ludah dan meletakkan lagi kresek itu perlahan.
"Aku mau tanya satu hal." Mas Rangga bicara sambil menatap lurus, tanpa kedip. "Jawab yang j u jur!"
Aku menautkan jari-jariku di depan p e r u t. "I-iya, Mas…"
"Berapa banyak u t a ng kamu di warung Bu Tari?"
"Hu--h u tang?" Aku mem b e l a lak dengan jantung seakan mau terlepas. "Du--dua ju.ta, Mas." suaraku nyaris tak terdengar.
"Sekarang totalnya?" Mas Rangga mendekat satu langkah. "Selama ini."
Aku memejam. Nafasku mengembus cepat. "Nggak ada lagi, Mas. Cuma… itu aja yang belum kebayar. Yang kemarin-kemarin udah l u nas semua."
"Yang kemarin-kemarin? Berarti kamu sudah biasa ber h u t a n g, B a b i! Yang kemarin kamu b a y a r pakai apa, hah!"
"Astaghfirullahaladzim, Mas. Ngomongnya kok k a sar banget," ucapku dengan buliran bening seketika menetes.
"Jawab, Shanum Yumairah!"
"A-a… dari u a n g belanja." Suaraku retak. "Aku sisihin sedikit-sedikit…"
"Sedikit?" Mas Rangga tertawa. "Nggak w a ras kamu, Num! Bikin malu Kamu!"
Aku menunduk makin dalam, aku benar-benar t a k u t.
"Satu ju ta, Num." Mas Rangga menunjuk lantai seolah angka itu tertulis di sana. "U a n g segitu aku jatahi setiap bulan. Lalu, buat apa sampai kamu harus n g u t a n g lagi? Apa u a n g nya Kamu kirim ke Ibumu yang j a n d a mis kin itu!"
Aku mengangkat w a jah ku, ma ta ku terasa kabur. "Nggak, Mas. Aku berani sumpah tidak pernah kirim ke Ibuku. U a n g seju.ta itu untuk b a y a r listrik, u a n g keamanan, sabun, beras dan lauk. Harga sembako banyak yang naik--"
"Diam! Kenapa nggak bilang kalau kurang, bukan malah diam-diam n g u t a n g!" suara Mas Rangga meninggi setengah oktaf. "Kenapa selalu begini?"
"A--aku sudah bilang, Mas…" Aku meng g i g i t b i b i r mengurangi rasa ta k*tku. "Aku sudah sering bilang u a n g nya kurang. Tapi, Mas Rangga--"
"Sering?" Mas Rangga tertawa s i n i s lagi. "Sering itu kapan?"
Aku menghapus air m a t a dengan punggung ta ngan. T u b u h nya goyah. "Maafin aku, Mas .... "
"Coba kamu pikir, mereka bilang apa? ‘Istrinya Rangga n g u t a n g beras’? ‘Istrinya Rangga n g u t a n g minyak? Kamu tahu itu bikin aku keliatan apa?"
Aku meng g i git b i birku sendiri agar tidak menangis lagi.
"Aku cuma pengen masak makanan layak buat a n a k kita, Mas. Aku bisa tahan cuma makan pakai sayur. Tapi, nggak untuk Ferdy--"
"Terus kamu nggak kepikiran buat atur ulang? Beli yang perlu aja? Jangan yang aneh-aneh!"
Aku menggeleng cepat. "Aku nggak beli yang aneh-aneh, Mas. Beli bedak pun juga nggak. Sayuran, beras, telur. Har ga telur juga naik. Aku—"
"Selalu naik!" Mas Rangga me m o tong. "Semua selalu naik kalau kamu yang ngomong. Perempuan pem b o hong!"
Mas Rangga mendekat. Mengangkat w a j ahku yang menunduk. "Kamu tahu yang bikin aku m a r a h apa? Dan, kamu tahu konsekuensi apa yang akan kamu dapat setelah ini?"
Aku menggeleng dengan air m a t a yang semakin deras menghambur di wajah ku. "Mas, tolong .... "
Baca Selengkapnya di Aplikasi: KBM App
Judul: Mertuaku Ternyata Mantan Istriku
Penulis: Liana1