TienzStory

Directions Website

TienzStory Akun utama Mamah Ndon
Cerbung (Cerita bersambung)

19/10/2026

"GUNDIK AYAHKU DATANG KE ULANG TAHUN NENEK DENGAN MEMBAWA ANAKNYA... LALU MEMAKSA AKU TURUN DARI KURSI PEWARIS KELUARGA. TAPI BEBERAPA MENIT KEMUDIAN, SELURUH RUANGAN LANGSUNG GEMPAR."

***
BAB 4

"Maksud Ibu apa?" Suara Maya terdengar lebih keras dari sebelumnya.

Tatapannya berpindah dari Nenek kepada Pak Harun. Lalu kepada amplop yang masih berada di tangan pengacara tua itu. Aku melihat ketakutan yang benar-benar tidak bisa disembunyikan dari wajahnya.

Pak Harun melangkah maju. Beliau membuka amplop tersebut. Kemudian mengeluarkan beberapa lembar dokumen.

Ruangan kembali sunyi. Tidak ada yang berani berbicara. Semua orang menunggu. Termasuk Maya. Termasuk Ayah.

"Nyonya Maya Santoso."

Pak Harun menyebut nama lengkapnya. Maya langsung menegang.

"Sebelum menjalin hubungan dengan Pak Dimas, Ibu Maya pernah menikah sebanyak dua kali."

Beberapa tamu langsung saling berpandangan. Bisik-bisik mulai terdengar. Aku melihat wajah para paman dan bibi berubah. Bukan karena Maya pernah menikah. Melainkan karena selama ini Maya selalu memperkenalkan dirinya dengan cerita yang berbeda.

"Saya tidak mengerti kenapa itu harus dibahas." Maya mencoba memotong.

Namun Pak Harun tetap melanjutkan.

"Karena selama setahun terakhir, Ibu Maya menyampaikan kepada banyak orang bahwa kedua pernikahan tersebut berakhir karena ditinggalkan suami."

Wajah Maya semakin pucat.

Pak Harun mengangkat salah satu dokumen.

"Namun dokumen pengadilan menunjukkan hal yang berbeda."

Ruangan mendadak lebih hening.

Aku bahkan bisa mendengar suara pendingin ruangan di sudut langit-langit. Pak Harun membaca isi dokumen itu dengan tenang.

"Pernikahan pertama berakhir setelah gugatan cerai diajukan oleh suami pertama."

Maya langsung bersuara. "Itu urusan pribadi saya!"

"Benar."

Pak Harun mengangguk. "Tetapi Ibu sendiri yang menjadikannya bahan cerita ketika memperkenalkan diri kepada keluarga ini."

Maya terdiam. Tidak mampu membalas.

Pak Harun melanjutkan.

"Dalam berkas tersebut disebutkan adanya hubungan dengan pria lain selama pernikahan berlangsung."

Suara bisik-bisik langsung membesar. Beberapa tamu terlihat terkejut. Paman Arman menggeleng pelan. Sedangkan Bibi Rina menatap Maya tanpa berkedip.

"Itu bohong."

Maya berkata cepat. "Itu hanya tuduhan."

Pak Harun tidak terpancing. Beliau mengambil dokumen berikutnya.

"Pernikahan kedua berakhir dua tahun kemudian."

Jantungku berdetak lebih cepat. Karena aku mulai mengerti ke mana arah pembicaraan ini. Dan ternyata dugaanku benar.

"Gugatan kembali diajukan oleh pihak suami."

Pak Harun menatap dokumen itu sejenak.

"Lagi-lagi disertai bukti hubungan dengan pria lain."

Suasana ruangan langsung berubah. Kalau tadi orang-orang hanya penasaran. Kini mereka benar-benar terkejut. Maya yang selama ini selalu tampil sebagai wanita lemah yang disakiti kehidupan... Ternyata tidak sepenuhnya seperti cerita yang ia bangun sendiri.

"Itu fitnah!"

Maya berteriak. "Semuanya fitnah!"

Pak Harun menurunkan dokumen.

"Dokumen ini berasal dari arsip pengadilan."

"Tetap saja fitnah!" Maya melangkah maju. Wajahnya merah. Matanya mulai berkaca-kaca.

"Apa keluarga ini sengaja ingin mempermalukan saya?"

Tidak ada yang menjawab. Karena kenyataannya, dokumen itu tidak dibuat oleh keluarga kami. Dokumen itu sudah ada jauh sebelum Maya mengenal Ayah.

"Maya." Nenek akhirnya berbicara. Suaranya tetap tenang.

"Saya hanya ingin mengetahui siapa perempuan yang akan masuk ke keluarga saya."

"Itu tidak memberi Ibu hak untuk mengadili saya!" Maya membalas. Nada suaranya penuh kemarahan.

"Apa semua orang di sini sempurna?"

"Tidak." Nenek menjawab singkat. "Termasuk saya."

Maya terdiam sesaat. Namun kemarahannya belum hilang.

"Kalau begitu kenapa saya diperlakukan seperti penjahat?"

Paman Surya langsung berdiri. "Karena kamu datang ke sini sambil berbohong."

"Itu bukan kebohongan!"

"Itu kebohongan."

Paman Arman menyahut. "Kamu bilang ditinggalkan. Padahal ceritanya jauh lebih rumit."

Maya menggigit bibirnya.

Aku bisa melihat dadanya naik turun. Dia berusaha keras mengendalikan dirinya. Namun semuanya sudah terlambat. Rahasia itu sudah terungkap. Dan tidak mungkin dimasukkan kembali.

"Mama..." Suara Celine terdengar pelan.

Gadis itu memegang tangan ibunya. Wajahnya terlihat cemas. Tetapi Maya bahkan tidak menoleh. Perhatiannya hanya tertuju pada satu orang.

Ayah.

Pria yang sejak tadi lebih banyak diam. Pria yang seharusnya menjadi orang pertama membelanya.

"Apa kamu juga percaya mereka?" Maya bertanya.

Semua mata langsung beralih kepada Ayah. Ruangan kembali hening. Karena semua orang ingin mendengar jawabannya. Ayah menatap Maya cukup lama. Kemudian menarik napas pelan.

"Aku tahu."

Hanya kata sederhana. Namun dampaknya langsung terasa. Maya membeku. Para paman membeku. Para bibi membeku. Aku pun ikut terkejut.

"Kamu... tahu?" Suara Maya terdengar lirih.

Ayah mengangguk.

"Aku tahu semuanya."

Ruangan seakan berhenti bergerak. Paman Surya langsung menatap Ayah.

"Kamu tahu tentang dua pernikahannya?"

"Iya."

"Kamu tahu alasan perceraian itu?"

"Iya."

"Kamu tahu semuanya?"

Ayah kembali mengangguk.

"Iya."

Suara bisik-bisik kembali memenuhi ruangan. Kali ini bukan tentang Maya. Melainkan tentang Ayah. Karena ternyata bukan hanya Maya yang menyembunyikan sesuatu.

Ayah juga melakukannya. Beliau mengetahui seluruh masa lalu Maya. Tetapi tidak pernah memberitahukan kepada keluarga.

"Dimas."

Bibi Rina menatapnya tidak percaya. "Kamu tetap memilihnya setelah mengetahui semua itu?"

Ayah terdiam sesaat. Lalu menjawab. "Iya."

Maya langsung menoleh. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Di depan mataku, aku melihat wajahnya melemah. Bukan karena marah. Melainkan karena terkejut. Mungkin bahkan dia tidak menyangka Ayah akan mengakuinya di depan semua orang.

"Aku tidak peduli masa lalunya."

Ayah melanjutkan. "Aku memilih Maya karena siapa dirinya sekarang."

Ruangan kembali riuh. Beberapa orang menggeleng. Beberapa lainnya menghela napas panjang. Sedangkan Maya mulai menangis. Namun tangisan itu tidak membuat siapa pun berubah pikiran. Karena masalahnya bukan hanya masa lalu. Masalahnya adalah kebohongan yang terus disembunyikan.

"Aku tidak percaya."

Paman Arman berkata pelan. "Kamu mempertaruhkan keluarga demi perempuan yang bahkan belum jujur sejak awal."

Ayah tidak menjawab.

Beliau hanya berdiri di samping Maya. Seolah sudah memutuskan akan tetap berada di sana apa pun yang terjadi.

Aku melirik Nenek.

Beliau terlihat semakin tenang. Terlalu tenang. Dan itu selalu menjadi pertanda buruk. Karena biasanya setelah itu akan muncul sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang belum diketahui siapa pun.

Tepat saat aku memikirkan hal itu, suara kursi bergeser terdengar.

Celine berdiri.

Wajah gadis itu merah karena menahan emosi. Air mata masih membasahi pipinya. Namun sorot matanya berubah. Bukan lagi ketakutan. Melainkan kemarahan.

"Kalian jahat!"

Semua orang menoleh kepadanya.

"Kalian terus menyerang Mama!"

"Celine..." Maya mencoba menenangkannya.

Namun gadis itu tidak mau diam.

"Mama memang punya masa lalu!"

Suaranya menggema di seluruh ruangan.

"Tapi keluarga kalian juga tidak sesempurna itu!"

Kalimat itu membuat seluruh ruangan membeku. Aku melihat wajah para paman berubah. Bibi Rina langsung menatap tajam ke arah Celine. Sedangkan Ayah terlihat terkejut. Seolah tidak mengira gadis itu akan mengatakan sesuatu seperti itu.

Dan yang paling mengejutkan... Sudut bibir Nenek perlahan menghilang dari ketenangannya.

Seolah Celine baru saja menyentuh rahasia yang selama ini tidak boleh dibicarakan oleh siapa pun.

Lanjut?

Lengkap full di KBM

Penulis Muhamadirata

Judul Satu Nama Terakhir

19/10/2026

Istriku dengan santai menyodorkan surat cerai di ulang tahun pernikahan kami yang kelima, setelah aku membuat pesta penyambutan mantanku yang kembali dari luar negri, dan aku yang menyesal sekarang.

Bab 1

Di dalam ruangan pesta ini, semua orang juga tahu, kalau Agata adalah istri yang diabaikan suaminya. Mendapat cap teman p3ngkhianat yang menikahi kekasih sahabatnya sendiri. Wanita mata duit4n, yang menikah hanya karena u4ng dan h4rta suaminya.

Dia mendapat c3moohan, huj4tan dan sindiran dari teman-teman suaminya.

Hari ini pun tidak ada yang berbeda. Dia sudah disindir-sindir, sudah dihin4 dan dibanding-bandingkan dengan sang tokoh utama pesta.

Tokoh utama pesta hari ini adalah sahabatnya. Cerrilia, Cerril, gadis cantik bak mawar memikat yang sedang sibuk berceloteh karena ditanya ini dan itu. Bagaimana kehidupannya selama lima tahun ini di luar negri.

Dia seorang chef professional, diakui dunia, bahkan dia kembali ke dalam negri, karena ditawari acara di salah satu stasiun televisi.

Mas Danar, suami Agata seperti biasa, duduk dengan ekspresi wajah datar. Tapi Agata tahu, suaminya pasti sedang bahagia sekarang. Karena wanita yang dia cintai sudah kembali. Bersatunya cinta mereka hanya tinggal menunggu waktu.

“Cerril apa kau tidak membenci Aga, dia kan sudah m3ncuri Danar dari mu. Kau masih berteman dengannya?”

Pertanyaan yang sangat blak-blakan.

Kalau dulu, Agata akan menunjukkan raut wajah sedih dan c3mburu. Tapi sekarang, mendengar pertanyaan itu, Agata malah meraih gelas di depannya dan meneguknya. Tampak menikmati jus yang baru dia teguk.

Orang-orang semakin k3sal karena berfikir dia tidak tahu malu.

Suaminya juga menatapnya sekilas, dan pasti berfikir ada apa dengan mu. Kenapa reaksi mu begitu. Hari ini ada apa denganmu?

Ya, aku tahu, hari ini pasti aku aneh di mata mu.

Biasanya, airmata sudah menetes di ujung mata Aga.

Tapi hari ini, mendengar pertanyaan memojokkan itu, Agata malah tersenyum. Membuat semua orang di ruangan itu mu4k dan semakin b3nci padanya.

Cerril, mawar cantik itu tertawa dan mencairkan suasana. Dia mengulurkan tangannya pada Agata, karena Agata ada di sebelah suaminya, maka tangan gadis itu menyebrang, menempel di tubuh Mas Danar. Laki-laki itu tetap tenang.

Padahal biasanya dia tidak s**a bersentuhan dengan perempuan.

“Aga, maafkan kata-kata mereka ya. Kita tetap berteman kan?” ujarnya dengan ceria. Dagunya menempel di lengan Mas Danar. “Berhentilah memojokkan Agata. Kalian ini.” Lalu m3mukul lengan Mas Danar. “Mas, kok kamu diam saja si, Aga dikata-katai sama mereka. Agata kan istri mu Mas.”

Terkesan Cerril seperti perduli pada Agata, padahal dia hanya semakin mempertegas, bahwa Agata adalah istri yang diabaikan. Reaksi dingin Mas Danar sudah biasa, yang berbeda adalah senyum Agata ketika pandangan mereka bertemu.

Setelahnya, mereka sudah melupakan keberadaan Agata, cerita seru Mawar cantik itu berlanjut, Agata meraih tas tangannya. Lalu dia bangun dari duduk.

“Mau kemana?” ujar Mas Danar.

Hah? Dia bertanya padaku? Tumben.

“Ke toilet Mas.”

“Cepat kembali,” ujarnya tanpa melihat ke arah Agata.

Kalau dulu, gadis itu akan menunjukkan bola mata berbinar karena mendapat perhatian. Tapi sekarang dia hanya menganggukkan kepala.

Bersenang-senanglah Mas dengan wanita yang kau cintai. Sudah lima tahun kau merindukannya kan?

Agata menghilang, dan tidak kembali ke ruangan pesta. Suaminya pun tidak mencarinya. Hanya sekali menoleh ke samping di mana tadi Agata duduk. Setelahnya meladeni Cerril yang mengajaknya bicara.

***

Malam sudah larut, ketika Danar sampai di rumahnya. Pelayan yang membukakan pintu.

“Dimana dia?”

“Mbak Aga sudah p**ang dari tadi Mas, tadi katanya langsung mau tidur.”

“Apa dia menangis?”

“Hah?” Pelayan terlihat bingung.

“Pergilah! Anggap aku tidak bertanya.”

Padahal aku sudah menyuruhnya kembali, beraninya dia malah langsung p**ang. Apa dia sedang merajuk karena c3mburu. Kekanak-kanakan sekali, kau pikir aku akan perduli. Danar merasa j3ngkel dan k3sal sendiri.

Hari ini sikap Agata istrinya aneh sekali, tidak seperti dirinya.

“Apa-apaan ini?”

Keheningan malam menyambur Danar ketika membuka handle pintu. Seperti tidak ada energi kehidupan.

Hah! Kau benar-benar sedang merajuk?

Biasanya, walaupun Danar mengacuhkan istrinya saat dia berkumpul bersama teman-temannya. Saat p**ang dan kembali ke rumah, Agata akan tersenyum seperti tidak terjadi apa-apa. Dia akan melayani Danar sepenuh hati. Memakai pakaian tidur s3ksi dan menunggunya di tepi tempat tidur. Mereka akan b3rcinta dengan penuh gair4h, setelahnya jatuh tertidur tanpa bicara apa-apa.

“Kemana dia?”

Danar mau keluar dan mencari Agata, tapi harga diri menahannya.

Memang siapa yang perduli, kau sedang memakai trik apa lagi untuk mencari perhatianku.

Danar memilih masuk ke kamar mandi, membersihkan diri, dan tidur diselimuti kesendirian. Beberapa kali dia menarik selimut, lalu menatap sisi tempat tidur yang kosong. Si4lan gumamnya.

***

Pagi hari telah menyapa. Danar sudah keluar dari kamar, dengan setelan jas yang sudah ada di ruang ganti. Agata sudah menyiapkan semuanya.

Tapi batang hidung wanita itu tidak terlihat.

Dan saat Danar masuk ke ruang makan, wanita itu sedang menyajikan sarapan di meja makan. Dia menepuk bahu bibi, dan pelayan itu pergi.

Danar menunggu Agata menyapanya, tapi wanita itu tidak bereaksi selain hanya menarik kursinya lalu duduk. Danar tergelak, sambil menyeringai, karena berfikir istrinya masih memakai trik merajuk mencari perhatiannya.

“Tidur dimana kau semalam?” tanya Danar acuh sambil meraih piringnya.

“Di kamar sebelah Mas,” jawab Agata.

Nyam.. nyam… keduanya sibuk dengan makanan masing-masing.

“Kenapa? Kau marah? Sedang merajuk?”

Agata menggeleng lalu tersenyum. Apa-apaan dia, kenapa malah tersenyum. Ujar Danar dalam hati.

Hari ini sikap Agata masih aneh, biasanya saat sarapan dia akan bicara apapun untuk meghidupkan suasana. Walaupun terkadang Danar hanya diam saja, tapi dia tidak berhenti mengoceh dengan tidak tahu malu. Tapi kenapa, dari kemarin kau aneh sekali.

Setelah selesai sarapan dan Danar meletakkan sendoknya.

“Ada apa dengan mu? Kau m4rah karena aku membuat pesta untuk Cerril? Sekarang kau sedang memakai trik apa lagi untuk mencari perhatian ku?”

Apa-apaan sikap kur4ng ajar ini. Biasanya kalau Danar marah seperti ini, Agata akan menunjukkan raut wajah sedih, sambil menangis akan merajuk dengan suara imut. Tapi sekarang, wajah gadis itu bergeming.

Agata meraih sesuatu dari kursi di sampingnya.

Apalagi itu gumam Danar.

“Hari jumat kemarin, ulangtahun pernikahan kita yang kelima Mas.”

Danar tersentak, dia sama sekali tidak ingat.

“Apa? Kenapa kau nggak bilang, jadi kau marah karena aku melupakan ulang tahun pernikahan kita? Aga, kau benar-benar kekanak-kanakan.”

“Tidak Mas, aku memang tidak merayakannya. Mas kan nggak s**a.”

Walaupun aku tidak s**a, setiap tahun kau tetap merayakannya kan, gelak slnis Danar muncul.

Agata meraih amplop coklat yang sedari tadi dia genggam. Lalu dia mengeluarkan isinya.

“Sudah lima tahun kita menikah Mas, sekarang c3raikan aku seperti yang pernah Mas Danar katakan, lima tahun lalu ketika kita membuat p3rjanjian pernikahan.”

Seperti ada petir yang langsung menyambar di kepala Danar. Laki-laki itu meng3brak meja, sampai gelas tumpah mengenai hp miliknya.

Hanya ada di KBM

Judul : Akhiri Saja Sandiwara Cinta ini Mas

Penulis : LaSheira_Dewi

Like, komen and share ya,,

19/10/2026

“Selamat, Mas Akbar. Selamat, Ratu.” Suaranya tenang, tapi jelas. "Akhirnya keinginan kalian terwujud dan kalian tidak perlu lagi melakukan dosa."

Ratu men atapnya lama, bi birnya melengkung sin is. “Apa maksudmu? Jangan bikin kekacauan di pestaku!"

Akbar terb atuk kecil dan mencoba mencairkan ketegangan di san. “Terima kasih sudah datang, Anita.”

“Ya. Semoga kalian benar-benar bahagia,” jawab Anita pendek.

Ratu berdi ri, senyumnya pa lsu tapi suaranya la ntang, cukup membuat tamu-tamu di sekitar menoleh.

Tanpa diduga siapapun, Ratu berjalan ke arah MC dan merebut penge ras suara yang dipegang Mc itu.

“Semua orang, lihat siapa yang datang! Mantan istri suamiku! Wah, jarang-jarang ada yang seberani ini!”

Padahal nyatanya mereka berdua yang mengundang Anita untuk datang. Tapi, kalimat Ratu tadi tampak ambigu dan seolah-olah memberitahu jika Anita datang tanpa diundang.

Beberapa tamu terta wa cangg ung. Anita tetap berdi ri teg ak. “Aku nggak datang buat cari perhatian. Aku cuma mau ngucapin selamat, itu aja. Dan bukankah kalian yang mengundangku?”

“Oh tentu, tentu.” Ratu men epuk ba hunya dengan nada meng ejek. “Lucu aja, sih. Lihat kamu berdiri di sini pakai gaun sewaan, berpura-pura bahagia buat orang yang ningg alin kamu.”

Ema menatap ta jam. “Kamu jaga mu lutmu, Ratu!”

Ratu terta wa kecil. “Aku cuma jujur. Semua orang juga tahu kenapa pernikahan kamu dan Akbar gagal, kan?”

Anita menga ngkat dagu, mencoba tetap tenang. “Kalau kamu mau bahagia, nikmatilah. Aku nggak akan ganggu.”

“Tapi kasihan juga, ya, tamu-tamu jadi salah paham,” lanjut Ratu pura-pura lembut. “Biar aku jelaskan.”

Ia menoleh ke arah tamu yang menatap penasaran. Kembali, Ratu bicara dengan penge ras suara.

“Anita ini, dulu istri Akbar. Tapi ya begitulah. Dia perempuan yang nggak bisa jadi istri yang baik, nggak bisa ngurus suami, dan—” suaranya ditekankan, “man dul.”

Tawa kecil pec ah di beberapa sudut ruangan.
Ema menahan nap as, m atanya membulat.

“Cukup, Ratu!”

Namun Anita tetap diam. Kep alanya menu nduk sebentar, lalu perlahan mendon gak. Mat anya tak lagi redup tapi din gin dan ta jam.

“Sudah puas?” suara Anita datar tapi mengg igit.

Ratu terse ntak kecil, tapi mencoba tertawa. “Eh? Kok ma rah? Aku, kan, cuma bilang kenyataan.”

“Kalau kamu memang bahagia, kamu nggak perlu ngeren dahin orang lain buat buktiin itu,” balas Anita tenang.

“Kalau kamu yakin menang, kenapa kamu masih butuh aku jadi bahan tontonan? Apa karena kamu merasa rend ah di ri dan m alu sudah jadi pel ak or?”

Suasana berubah. Beberapa tamu saling pandang. Ratu mengep alkan tan gan. Ma tanya panas dan emosinya kembali tinggi.

“Kamu ngomong seolah kamu s uci. Padahal kamu cuma si sa masa lalu.”

“Lebih baik jadi masa lalu yang berha rga,” Anita mena tapnya ta jam, “daripada masa depan yang didapat dengan cara ko tor.”

Sorak kecil terdengar dari arah tamu wanita di belakang. Ratu langsung men atap ta jam ke arah mereka, lalu kembali ke Anita dengan wa jah memerah.

“Kamu!” serunya setengah teriak. Ia melangkah cepat dan mengan gkat tan gan, siap mena mpar.

Bersambung ...

❤️❤️❤️

Baca selengkapnya hanya di KBM App

Judul : Pesta Mewah Mantan Suami
Penulis : coretan flam_boyan

Like, komen and share ya,,

19/10/2026

“Mbak, kenapa nggak bilang kalau kamu kerja di kantorku juga? Gimana kalau orang-orang tahu kakakku cuma cleaning service?!”

Lara menghardik tajam malam ini. Adikku marah besar setelah tahu aku bekerja di perusahaan yang sama dengannya.

“Nggak mau tau! Pokoknya kamu harus resign. Besok!”

Aku diam sejenak, lalu bertanya pelan, “Jadi kamu malu punya kakak seperti aku?”

“Ya, aku malu!” serunya. “Aku capek jaga image, Mbak. Aku dihormati di kantor. Tapi kalau mereka tahu kamu cuma cleaning service, habis sudah semuanya!”

Mataku panas. Tak percaya kata-kata itu keluar dari mulut adikku sendiri. Aku kerja siang malam, membiayai kuliahnya, rela mengubur mimpi sendiri sejak Bapak sakit. Tapi sekarang, begini balasannya?

Ibu datang menghampiri. “Ada apa ini ribut-ribut?”

Lara cepat mengadu. “Mbak Mawar kerja di kantor aku, Bu. Aku minta dia resign. Malu kalau sampai temen-temenku tahu kakakku cuma cleaning service, Bu.”

Ibu menatapku tajam. “Kamu sengaja mau bikin malu adikmu? Besok resign. Ibu nggak mau tau.”

Aku terdiam. Merasakan kecewa lagi untuk yang kesekian kali malam ini. Dari kecil, aku selalu diminta mengalah untuk Lara. Kukira setelah semua pengorbananku, aku akan dianggap. Tapi nyatanya, tetap tidak.

Aku melangkah pergi ke kamar, tapi Lara membentak lagi.

“Mbak, pokoknya aku nggak mau tau! Besok harus resign!”

Aku menoleh. “Aku nggak akan resign. Tapi tenang, teman-temanmu nggak akan pernah tahu kalau kita saudara.”

“Hm, baguslah,” ucap Lara, tapi tak kupedulikan.

Aku lelah. Aku perlu beristirahat karena harus kerja besok pagi.

Hampir pukul sebelas malam, mataku begitu sulit terpejam. Aku menatap ponsel di atas meja kecil samping ranjang. Sudah berhari-hari, Mas Gilang—pria yang selama ini mengaku cinta padaku, mengabaikan pesan yang kukirimkan. Membuatku bertanya-tanya, akan dibawa kemana sebenarnya hubungan kami. Namun, alih-alih mempertanyakan keseriusannya, aku memilih diam dan mengabaikan perasaan tak nyaman ini.

Anggap saja Mas Gilang sedang sibuk dengan tuntutan kerja setelah naik jabatan sebulan lalu.

Dan paginya ….

“Mas, kapan kamu mutusin Mbak Mawar dan nikahin aku?”

Aku yang sedang mengepel di lobi dekat pintu masuk, tersentak kaget ketika suara yang begitu familiar di telinga tiba-tiba memenuhi rongga pendengaranku.

Aku menoleh, dan di sana, tampak Lara, adikku. Gadis 23 tahun itu tampak begitu mesra menggandeng pria berpakaian rapi di sampingnya ketika mereka berjalan memasuki pintu utama.

Di antara puluhan karyawan dengan parfum berkelas yang sedang lalu lalang sebelum menaiki lift kantor, pemandangan di seberang sana adalah yang paling menyita perhatianku. Bagaimana tidak, pria berjas abu-abu yang digandeng mesra adikku, tak lain dan tak bukan adalah laki-laki yang selama lima tahun ini bilang tulus mencintaiku dan berujar menerimaku apa adanya.

Mas Gilang.

Pria itu bilang cinta padaku tanpa memandang apa pekerjaanku, dan berjanji akan meminangku ketika dirinya sudah mapan nanti. Dan sialnya … aku percaya dengan kata-katanya.

“Sabar ...,” jawab Mas Gilang sambil mengusap lembut rambut panjang Lara. Wanita yang terlihat elegan dengan blouse dan rok pensil yang melekat di tubuhnya itu, menatap manja pria yang selama lima tahun ini kuanggap seperti mentari di tengah hidupku yang gelap dan suram.

Melihat pemandangan itu mataku mendadak panas. Hatiku perih.

Sejak kapan mereka menjalin kedekatan? Apa selain malu teman-temannya tahu kakaknya seorang cleaning service, alasan Lara melarangku bekerja di sini karena ini? Karena diam-diam dia sudah menjalin hubungan dengan kekasih kakaknya sendiri?

“Kapan, Mas? Kamu udah naik jabatan loh, bulan kemarin. Nungguin apa lagi?” ucap Lara manja.

“Oke, bulan depan aku datang ke rumah, ya. Buat ngelamar kamu,” ucap Mas Gilang kembali mematahkan hatiku.

Lima tahun kami menjalin kasih, dan saat akhirnya memutuskan menikah, dia memilih menikahi adikku?

Gagang pel di tanganku jatuh, membuat Mas Gilang menoleh. Pria itu tampak terkejut sedangkan Lara terlihat puas sekali. Dengan angkuh, gadis itu berjalan mendekatiku.

“Kamu udah denger sendiri, kan, Mbak? Mas Gilang bakal ngelamar aku bulan depan. Jadi please, kubur mimpimu dalam-dalam, karena jelas Mas Gilang lebih milih aku daripada kamu yang cuma cleaning service nggak berguna ini.”

Aku membeku. Dunia seakan berhenti berputar saat pandangan Mas Gilang dan aku saling bertemu. Tatapan panik di matanya hanya membuat luka di hatiku semakin dalam. Dia tak berkata apa pun, bahkan tak berusaha menjelaskan. Seolah semuanya memang benar. Seolah aku memang tak berarti baginya sejak awal.

“Lagian siapa juga yang mau nikahin kamu, kalau bukan tukang becak atau sesama cleaning service. Nggak ada, Mbak! Nggak ada!” ucap Lara dengan pandangan meremehkan saat menatapku.

“Siapa bilang nggak ada yang mau sama dia? Aku mau, kok sama dia. Minggu depan aku akan melamar kakakmu.”

Kami semua kompak menoleh saat mendengar suara penuh ketegasan itu dari arah pintu utama. Tampak disana, berdiri seorang pria berjas hitam elegan dengan rambut klimis dan wajah serius yang memancarkan wibawa luar biasa.

Lara dan Mas Gilang bahkan sampai membuka mulut lebar-lebar ketika melihat siapa yang datang.

Bagaimana tidak, pria yang katanya siap melamarku minggu depan itu adalah ….

***

Baca kisah lengkapnya di KBM app.

Judul : Mawar untuk Tuan Muda

Penulis : Askana Sakhi

"GUNDIK AYAHKU DATANG KE ULANG TAHUN NENEK DENGAN MEMBAWA ANAKNYA... LALU MEMAKSA AKU TURUN DARI KURSI PEWARIS KELUARGA....
18/10/2026

"GUNDIK AYAHKU DATANG KE ULANG TAHUN NENEK DENGAN MEMBAWA ANAKNYA... LALU MEMAKSA AKU TURUN DARI KURSI PEWARIS KELUARGA. TAPI BEBERAPA MENIT KEMUDIAN, SELURUH RUANGAN LANGSUNG GEMPAR."

***
BAB 3

"Apa alasan yang perlu dijelaskan lagi?" Suara Maya memecah keheningan.

Semua orang menoleh kepadanya.

Wanita itu berdiri perlahan dari kursinya. Wajahnya masih pucat, tetapi kesombongan yang tadi sempat hilang mulai kembali terlihat.

Dia melangkah mendekati Ayah. Lalu berdiri di sampingnya. Seolah ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa mereka berada di pihak yang sama.

"Kalau Dimas memberikan liontin itu kepada saya, berarti itu urusan kami berdua."

Paman Surya langsung berdiri. "Urusan kalian berdua?"

Nada suaranya penuh ketidakpercayaan.

"Itu aset keluarga."

"Itu milik Ibu."

"Bukan milik Dimas pribadi."

Maya mengangkat dagunya.

"Tapi Dimas adalah anak Bu Ratna."

"Nanti juga semua ini akan menjadi milik keluarga kami."

Ruangan kembali riuh. Aku bahkan mendengar beberapa tamu yang bukan anggota keluarga mulai berbisik-bisik. Mereka datang untuk merayakan ulang tahun Nenek. Bukan untuk menyaksikan pertengkaran keluarga. Namun kini tidak ada seorang pun yang berniat p**ang. Karena semua orang tahu sesuatu yang besar sedang terjadi.

"Aku tidak mengerti." Bibi Rina akhirnya bersuara. Wanita yang sejak tadi lebih banyak diam itu menatap Maya tanpa berkedip.

"Kamu datang ke acara keluarga tanpa undangan. Kamu mencoba mengambil kursi cucu tertua. Kamu memakai perhiasan keluarga tanpa izin. Lalu sekarang kamu berbicara seolah kamu sudah menjadi bagian keluarga kami."

Maya tersenyum tipis.

"Saya memang akan menjadi bagian keluarga ini."

"Kata siapa?"

Paman Arman langsung menyahut.

"Kata Dimas." Maya menoleh kepada Ayah.

Tatapannya penuh keyakinan. Seolah meminta dukungan. Seolah percaya Ayah akan selalu berdiri di belakangnya. Dan untuk pertama kalinya sejak Pak Harun datang, Ayah mengangkat kepalanya.

"Cukup."

Suara Ayah membuat ruangan kembali sunyi. Beliau menatap para paman dan bibi satu per satu. Lalu berkata pelan.

"Maya tidak perlu diperlakukan seperti ini."

Aku langsung mengernyit. Setelah semua yang terjadi, Ayah masih membelanya?

Paman Surya tertawa pendek. "Kamu serius?"

"Dimas, kamu yang membuka brankas keluarga. Kamu yang memberikan liontin itu. Kamu p**a yang membawa perempuan ini masuk ke tengah keluarga."

Ayah tidak menjawab. Namun diamnya sudah cukup menjadi jawaban.

"Dimas." Kini Pak Harun yang berbicara.

"Apakah hubungan kalian sudah sedekat itu sampai kamu berani mengambil keputusan tanpa izin ibumu?"

Ayah menatap Maya. Lalu menatap Nenek. Wajahnya terlihat tegang. Seolah sedang mempertimbangkan sesuatu. Maya lebih dulu memegang lengannya.

"Dimas."

"Katakan kepada mereka. Katakan yang sebenarnya."

Ayah menutup mata sesaat. Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya. Tetapi ketika beliau kembali membuka mata, aku langsung merasa firasat buruk. Karena wajah itu menunjukkan tekad. Tekad yang tidak pernah kulihat sebelumnya.

"Aku memang berencana menikahi Maya." Kalimat itu membuat seluruh ruangan meledak.

"Apa?"

"Kamu sudah gila?"

"Kapan?"

"Kamu bahkan belum pernah membicarakannya!"

Suara para paman dan bibi saling bersahutan. Bahkan beberapa tamu sampai berdiri dari kursinya. Celine yang tadi menangis langsung menghapus air matanya. Wajahnya berubah cerah. Sedangkan Maya tersenyum puas. Seolah akhirnya memenangkan pertarungan yang sejak tadi berlangsung.

Aku sendiri membeku di tempat.

Menikah?

Jadi semua ini memang bukan sekadar hubungan biasa?

Paman Arman melangkah maju.

"Kamu serius ingin menikahinya?"

"Iya."

"Kapan?"

"Dalam waktu dekat."

"Dan Ibu tahu soal ini?"

Ayah terdiam. Jawaban itu sudah cukup. Karena semua orang langsung memahami. Nenek tidak pernah diberi tahu. Nenek tidak pernah dimintai pendapat.

Dan yang paling buruk... Semuanya dilakukan diam-diam. Bibi Rina menggeleng pelan.

"Aku tidak percaya."

"Dimas, kamu berubah."

Maya langsung menyela.

"Saya tidak melihat ada yang salah."

"Kami saling mencintai."

"Apakah itu kejahatan?"

"Jangan bicara soal cinta di sini." Paman Surya memotong tajam.

"Kami tidak sedang membahas itu. Kami sedang membahas bagaimana kamu tiba-tiba masuk ke keluarga ini dan mulai mencampuri urusan keluarga."

Maya menatap satu per satu anggota keluarga. Tatapannya keras. Berbeda dengan tadi saat terpojok.

"Saya tidak mencampuri apa pun."

"Saya hanya mempertahankan hak saya."

"Hak?" Bibi Rina hampir tertawa. "Kamu bahkan belum menjadi apa-apa di keluarga ini."

Kalimat itu membuat wajah Maya menegang. "Apa maksudnya?"

"Maksudnya jelas." Paman Arman maju selangkah.

"Kamu bukan istri Dimas."

"Bukan menantu keluarga ini. Bukan ahli waris. Bukan siapa-siapa."

Ucapan itu membuat Maya memerah. Mendengar itu, dia benar-benar terlihat terluka. Namun bukannya mundur, dia justru melawan.

"Saya akan menjadi istrinya."

"Belum."

Paman Surya menjawab dingin. "Itu belum terjadi. Dan sebelum itu terjadi, jangan bertingkah seolah seluruh keluarga harus menerimamu."

Celine langsung berdiri.

"Kenapa kalian jahat sekali?"

Semua mata beralih kepadanya.

"Mama tidak melakukan apa-apa."

"Mama hanya mencintai Om Dimas."

Tidak ada yang menjawab. Karena tidak seorang pun ingin berdebat dengan gadis yang usianya bahkan belum seberapa. Namun suasana tetap tegang. Sangat tegang.

Aku melirik Nenek. Beliau masih diam. Terlalu diam. Padahal sejak tadi semua orang berbicara. Semua orang berdebat. Semua orang saling menyerang. Tetapi Nenek belum mengucapkan satu kalimat pun. Dan justru itu yang membuatku khawatir. Karena aku mengenal beliau.

Saat Nenek diam terlalu lama, biasanya beliau sedang mengambil keputusan besar. Maya rupanya berpikir hal yang berbeda. Karena wanita itu tiba-tiba melangkah maju. Lalu menatap Nenek.

"Bu."

Nenek perlahan mengangkat wajah.

"Saya tahu Ibu tidak menyukai saya."

"Tapi saya mencintai Dimas."

"Saya juga tahu keluarga ini tidak menerima saya."

"Namun cepat atau lambat saya akan menjadi bagian dari keluarga ini."

Ayah terlihat ingin menghentikannya. Tetapi Maya sudah terlanjur bicara.

"Saya berharap Ibu bisa menghormati keputusan kami."

Ruangan kembali sunyi. Hening yang panjang. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar. Aku melihat para paman. Para bibi. Pak Harun. Ayah.

Semua menunggu.

Lalu akhirnya Nenek berdiri. Perlahan. Tenang. Namun seluruh ruangan langsung diam total. Tidak ada yang berani memotong. Tidak ada yang berani bergerak. Nenek menatap Maya cukup lama.

Lalu menatap Ayah. Dan ketika beliau berbicara, suaranya terdengar sangat dingin.

"Kalau begitu..."

Beliau berhenti sejenak. Tatapan matanya membuat wajah Maya perlahan berubah. Malam itu, keyakinan di wajah wanita itu mulai goyah.

"Kalau begitu, sebelum pernikahan terjadi..."

Nenek menoleh kepada Pak Harun. "Semua orang harus tahu siapa Maya sebenarnya."

Pak Harun langsung mengangkat amplop lain yang sejak tadi berada di tangannya. Amplop yang belum pernah dibuka. Amplop yang bahkan tidak diketahui isinya oleh siapa pun di ruangan itu.

Dan saat Maya melihat amplop tersebut... Wajahnya mendadak pucat. Jauh lebih pucat dibanding saat liontin itu dipersoalkan.

Seolah isi amplop itu... Adalah sesuatu yang selama ini mati-matian ia sembunyikan.

Lanjut?

Lengkap full di KBM

Penulis Muhamadirata

Judul Satu Nama Terakhir

Like, komen and share,,,

Address

Ciamis

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when TienzStory posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share