TienzStory

TienzStory Akun utama Mamah Ndon
Cerbung (Cerita bersambung)
(1)

Gara-gara punya h u t a n g dua ju t a aku di s i k s a suamiku, di pu kul bagai hewan. Hingga, akhirnya aku memilih per...
13/07/2026

Gara-gara punya h u t a n g dua ju t a aku di s i k s a suamiku, di pu kul bagai hewan. Hingga, akhirnya aku memilih pergi.

Tiga tahun setelahnya aku bertemu lagi saat dia akan menikah. Membuat dia seakan mau p i n g s a n saat melihat aku tenyata ...

====

Part. 1

[Assalamualaikum. Saya dengan Tari. Maaf, apa benar ini n o m o r hp suaminya Ibu Shanum?]

[Iya. Ada apa? Dapat n o m o r saya darimana? Shanum nggak pegang hp sekarang, hp-nya saya s i t a.]

[Maaf, saya nggak bermaksud ik*t campur. Saya cuma mau na gih h u t a ng.]

[Berapa h u t a n g nya? H u t a ng apaan?]

[Dua ju ta, Pak. Bu Shanum b e l i sembako di warung saya. H u t a n g nya sudah lama. Biasanya Bu Shanum nyi cil. Tapi, sekarang nggak. Malah hp-nya nggak aktif.]

[Nanti saya sampaikan, biar dia cari jalan untuk menyelesaikan.]

[Maaf, kalau bisa jangan hanya disampaikan, Pak. Sekalian minta solusinya.]

•••

Pov. Shanum

"Assalamualaikum ...," ucapku dengan wajah penuh keringat sambil menenteng dua kantong kresek berisi sayuran.

Hening. Tidak ada jawaban. Perasaanku seketika tidak enak saat melihat suamiku yang duduk di sofa dengan tatapan seakan ingin menelanku.

"Mas Rangga, sudah bangun?" tanyaku dengan perasaan t a k*t. Mencoba memberanikan diri menatap ke suamiku yang duduk di sofa yang ada di ruang tamu. "Maaf, tadi aku nggak pamit lagi. Belanja buru-buru, tak*t Ferdy bangun. Aku mau masak sarapan. Di kulkas stok sayur dan lauk pada habis."

Suamiku tidak menjawab. Hanya garis rahangnya yang bergerak—mengunci, mengeras, seolah menahan sesuatu l i a r yang sejak tadi menggeram di d a danya.

Aku berdiri k a ku di ambang pintu. Keringatku menetes dari pelipis, jatuh ke kerudung hitam yang sudah kusut. Kresek di tanganku bergoyang sedikit karena t u buhku seketika g e metar. Aku tahu. Aura itu, hening yang t a j a m, sunyi yang me nye ram kan. Selalu menjadi pertanda b u r u k bagiku.

"Mas…" suaraku pecah. "Aku masak dulu, ya--"

"Bentar!"

Mas Rangga bangkit perlahan, namun langkahnya berat, seperti setiap gerak adalah upaya menahan diri. Tanpa menoleh ke arahku. Ia melangkah ke dapur, membuka kulkas, lalu mem b a n ting pintunya begitu k e r a s sampai magnet tempelan berjatuhan ke lantai.

"Astaghfirullahaladzim," gumamku yang semakin tak*t.

Ia kembali ke ruang tamu. Tatapannya menyapuku seperti badai.

"Masukkan dulu motornya ke teras." Suaranya serak, namun rendah dan terkontrol. Itu yang justru menak*tkan bagiku.

"I--iya, Mas."

Aku buru-buru memutar b a dan, menurunkan kresek di meja kecil, lalu keluar. Motor matic itu kudorong pelan agar tidak terlalu berisik.

Saat aku kembali masuk, Mas Rangga sudah berdiri menungguku. Tegap. Dingin. Seperti sedang menahan a m a rah yang bisa m e le dak kapan saja.

"Taruh." Mas Rangga menunjuk dua kresek tadi.

Aku menelan ludah dan meletakkan lagi kresek itu perlahan.

"Aku mau tanya satu hal." Mas Rangga bicara sambil menatap lurus, tanpa kedip. "Jawab yang j u jur!"

Aku menautkan jari-jariku di depan p e r u t. "I-iya, Mas…"

"Berapa banyak u t a ng kamu di warung Bu Tari?"

"Hu--h u tang?" Aku mem b e l a lak dengan jantung seakan mau terlepas. "Du--dua ju.ta, Mas." suaraku nyaris tak terdengar.

"Sekarang totalnya?" Mas Rangga mendekat satu langkah. "Selama ini."

Aku memejam. Nafasku mengembus cepat. "Nggak ada lagi, Mas. Cuma… itu aja yang belum kebayar. Yang kemarin-kemarin udah l u nas semua."

"Yang kemarin-kemarin? Berarti kamu sudah biasa ber h u t a n g, B a b i! Yang kemarin kamu b a y a r pakai apa, hah!"

"Astaghfirullahaladzim, Mas. Ngomongnya kok k a sar banget," ucapku dengan buliran bening seketika menetes.

"Jawab, Shanum Yumairah!"

"A-a… dari u a n g belanja." Suaraku retak. "Aku sisihin sedikit-sedikit…"

"Sedikit?" Mas Rangga tertawa. "Nggak w a ras kamu, Num! Bikin malu Kamu!"

Aku menunduk makin dalam, aku benar-benar t a k u t.

"Satu ju ta, Num." Mas Rangga menunjuk lantai seolah angka itu tertulis di sana. "U a n g segitu aku jatahi setiap bulan. Lalu, buat apa sampai kamu harus n g u t a n g lagi? Apa u a n g nya Kamu kirim ke Ibumu yang j a n d a mis kin itu!"

Aku mengangkat w a jah ku, ma ta ku terasa kabur. "Nggak, Mas. Aku berani sumpah tidak pernah kirim ke Ibuku. U a n g seju.ta itu untuk b a y a r listrik, u a n g keamanan, sabun, beras dan lauk. Harga sembako banyak yang naik--"

"Diam! Kenapa nggak bilang kalau kurang, bukan malah diam-diam n g u t a n g!" suara Mas Rangga meninggi setengah oktaf. "Kenapa selalu begini?"

"A--aku sudah bilang, Mas…" Aku meng g i g i t b i b i r mengurangi rasa ta k*tku. "Aku sudah sering bilang u a n g nya kurang. Tapi, Mas Rangga--"

"Sering?" Mas Rangga tertawa s i n i s lagi. "Sering itu kapan?"

Aku menghapus air m a t a dengan punggung ta ngan. T u b u h nya goyah. "Maafin aku, Mas .... "

"Coba kamu pikir, mereka bilang apa? ‘Istrinya Rangga n g u t a n g beras’? ‘Istrinya Rangga n g u t a n g minyak? Kamu tahu itu bikin aku keliatan apa?"

Aku meng g i git b i birku sendiri agar tidak menangis lagi.

"Aku cuma pengen masak makanan layak buat a n a k kita, Mas. Aku bisa tahan cuma makan pakai sayur. Tapi, nggak untuk Ferdy--"

"Terus kamu nggak kepikiran buat atur ulang? Beli yang perlu aja? Jangan yang aneh-aneh!"

Aku menggeleng cepat. "Aku nggak beli yang aneh-aneh, Mas. Beli bedak pun juga nggak. Sayuran, beras, telur. Har ga telur juga naik. Aku—"

"Selalu naik!" Mas Rangga me m o tong. "Semua selalu naik kalau kamu yang ngomong. Perempuan pem b o hong!"

Mas Rangga mendekat. Mengangkat w a j ahku yang menunduk. "Kamu tahu yang bikin aku m a r a h apa? Dan, kamu tahu konsekuensi apa yang akan kamu dapat setelah ini?"

Aku menggeleng dengan air m a t a yang semakin deras menghambur di wajah ku. "Mas, tolong .... "

Baca Selengkapnya di Aplikasi: KBM App

Judul: Mertuaku Ternyata Mantan Istriku
Penulis: Liana1

13/07/2026

***
#2

“Permisi... ini rumahnya Raras?”
Aku tersentak. Suara bariton itu datang dari luar pagar, terdengar sopan tapi tegas. Kupikir telingaku salah dengar.

Tapi ketika kudekatkan wajah ke jendela, sosok itu masih berdiri di sana, lelaki berjaket cokelat yang kulihat tadi.

Kupicingkan mata, mencoba memastikan..
Mungkin cuma kurir yang nyasar, pikirku. Paket COD akhir-akhir ini sering datang ke rumah tetangga. Aku bahkan hampir yakin dia salah alamat.

Tapi kemudian, suara itu kembali terdengar.
“Assalamu’alaikum ... Raras, kamu di rumah?”

Deg. Aku terpaku. Dia ... nyebut namaku?
Wajahku memanas. Aku celingukan, memastikan Ibu masih tertidur. Pelan-pelan, k*tarik pintu kayu yang berderit.

“Wa’alaikumsalam. I-iya, saya Raras. Ada apa, A? Nyari siapa ya?”

Pria itu menatapku dengan senyum kecil. Helm sudah dilepas, rambutnya agak basah kena sisa hujan. Wajahnya ... jujur 'lumayan ganteng' dan bawa bunga segala.

“Nama saya Bagas,” katanya sopan, masih di luar pagar. “Tadi saya kirim inbox di Facebook. Saya datang untuk melamar kamu.”

Aku spontan terbatuk.
“Hah ... apa?”
“Lamaran,” ulangnya tenang. “Saya serius, Raras.”

Otakku blank beberapa detik.
Lamaran? Jam segini? Malam-malam, cuma bawa motor dan mawar satu batang? Ini apa, reality show prank?

Aku melirik kanan-kiri, tak*t ada kamera tersembunyi. Tapi tak ada siapa pun di jalan. Hanya suara jangkrik dan angin yang menampar daun pisang di belakang rumah.

“A, ini malam-malam gini ngomong lamaran... nggak salah alamat?”

“Enggak,” jawabnya cepat, bibirnya menahan senyum. “Kamu Raras yang update status, kan? Katanya mau nerima siapa pun yang datang melamar detik itu juga.”

Ya Tuhan. Jadi dia beneran baca status itu? Aku cuma iseng! Aku memegang dada, jantung rasanya mau meledak.

“A ... itu cuma curhat, bukan pengumuman atuh!” kataku cepat, mulai panik.

Bagas mengangguk pelan. “Saya tahu. Tapi saya juga serius. Saya udah umur tiga puluh, Raras. Saya capek pacaran, capek main-main. Saya mau cari istri, bukan sekadar teman chatting.”

Aku menelan ludah. Ini orang beneran niat, atau baru selesai nonton film motivasi?
“Saya... saya belum bisa jawab apa-apa, A,” ujarku gugup. “Ayah saya juga belum pulang dari sawah.”

“Nggak apa-apa. Saya bisa nunggu.”
“Lho, enggak usah nunggu juga. Besok aja, kalau memang serius, bawa orang tua sekalian,” ujarku asal.

Aku cuma ingin menutup percakapan itu, supaya bisa bernapas. Kupikir, dengan bilang ‘besok’, dia bakal pulang dan nggak datang lagi.

Bagas mengangguk sopan. “Baik. Kalau begitu, besok saya datang. Sama orang tua.”
Aku tercekat. Aku bilang asal, dia jawab serius.

“Eh, iya... iya, A. Terserah,” kataku cepat, menutup pagar.
Dia tersenyum, menaiki motornya. “Sampai jumpa besok, Raras.”

Aku masih berdiri di depan pintu, menatap lampu belakang motornya yang makin menjauh. Sampai benar-benar hilang di tikungan, aku baru sadar, aku bahkan belum sempat bilang jangan datang.

Begitu masuk kamar, aku langsung merebah. Rasanya seperti baru pulang dari mimpi aneh.
Kupandangi langit-langit sambil tertawa kecil. “Ya Allah, ini dunia kenapa, sih?”

Kuambil ponsel di meja. Notifikasi Facebook masih ramai. Tapi satu unggahan baru langsung mencuri pandanganku.

Nama akun yaitu Mirna Ayu Prameswari.
Sahabatku. Dulu tempatku curhat tentang Fadil. Dulu yang sering bilang, “Tenang, Ras, dia cuma cinta sama kamu.”

Dan di layar, terpampang foto Mirna memakai kebaya merah muda, berdiri di samping Fadil yang mengenakan batik baru dan senyum lebar.

Keterangan fotonya. “Akhirnya, lamaran kami berjalan lancar. Doakan segera menyusul ke pernikahan ya!”
Tanganku bergetar. Nafasku tertahan.

Tiga tahun hubungan, berakhir begitu aja dan sekarang sahabatku sendiri yang menggantikan.
Aku menggulir komentar. Ada ratusan ucapan selamat. Beberapa bahkan men-tag aku, mungkin tanpa sadar menusuk.

“Wah, akhirnya ya, pasangan yang cocok!”
“Mirna cocok banget sama Fadil, serasi banget!”
Kupencet tombol mute ponsel dengan kasar.

“Serasi apanya,” gumamku geram. “Serasi dalam pengkhianatan kali.”
Air mataku tumpah begitu saja. Antara marah dan lelah.

Aku tarik selimut, menutup kepala, berusaha memejamkan mata. Tapi bayangan Fadil dan Mirna terus menari di kelopak mata.

Akhirnya, entah jam berapa, aku tertidur dengan wajah masih basah air mata.
***
Keesokan paginya, suara gedoran pintu membangunkanku.
“Teteh! Raras, bangun! Cepat bangun, Teh!”

Suara Ibu.
Aku menggeliat pelan, kepala berat, badan nyeri karena haid hari pertama. Aku melirik jam, setengah delapan. Masih cuti dua hari lagi, jadi aku tak buru-buru.

“Apa, Bu?” sahutku serak.
“Cepat bangun! Ada tamu di depan!”
“Siapa sih pagi-pagi gini?!” Aku meraih bantal, mencoba menutupi wajah.

“Tamu laki-laki. Katanya ... mau ketemu kamu.”
Aku mengerutkan dahi. Masih separuh sadar, kukira mungkin tetangga yang mau beli hasil panen Ayah.

“Ya bentar, Bu ... Aku lagi pusing.”
“Cepat, Teh! Ibu nggak enak. Dia datang sama orang tuanya!”

Aku berhenti. Orang tuanya?
Kepalaku langsung menoleh cepat.
Kupikir Ibu salah dengar. Tapi tatapannya serius.

“Iya, Teh. Katanya mau melamar kamu,” kata Ibu, suaranya setengah berbisik.

Aku membeku di tempat. Jantungku berdetak kencang. Langkahku kaku waktu berjalan ke ruang tamu, masih memakai kaus tidur dan celana training lusuh serta kerudung yang asal pakai saja.

Dan di sana. Di kursi ruang tamu, duduk seorang pria berjaket cokelat yang sangat kukenal dari semalam. Bagas.

Di sampingnya, dua orang berusia separuh baya, lelaki dan perempuan berwajah teduh tengah berbincang sopan dengan Ibu.

Di meja, sudah ada nampan berisi kue, teh, dan sekotak kecil yang dibungkus kertas batik.
Bagas menatapku begitu aku muncul dari kamar. Tatapannya tenang, tapi penuh keyakinan.

Sementara aku masih berdiri di ambang pintu dengan penampilan acak-acakan dan wajah bengkak bekas menangis.
“Selamat pagi, Raras,” ucap Bagas dengan senyum ramah. “Saya datang seperti janji semalam.”

Aku menelan ludah, nyaris tak bisa berkata apa-apa. Kupikir dia bercanda. Kupikir dia cuma iseng. Tapi pria itu benar-benar datang bersama orang tuanya.
Tanpa pikir panjang, aku segera berbalik dan masuk ke kamar. Ini bukan mimpi kan?

Selengkapnya baca di apli-kasi KBM app
Judul : Dibuang PNS, Dipinang Petani Sultan
Penulis: Queensunrise

Part 1“Aku gak gila!"Suara Haifa menggema di ruang keluarga yang mendadak sunyi. Napasnya memburu, dadanya naik turun me...
13/07/2026

Part 1

“Aku gak gila!"

Suara Haifa menggema di ruang keluarga yang mendadak sunyi. Napasnya memburu, dadanya naik turun menahan sesak yang sejak tadi seperti meremas jantungnya. Dengan tangan gemetar, ia menunjuk bayi laki-laki yang sedang terlelap di dalam gendongan perempuan yang selama ini diperkenalkan sebagai adik angkat suaminya.

"Itu ... itu anakku. Dia mirip kamu, Mas. Suaranya pun sama dengan yang kudengar saat dilahirkan."

Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirnya.

Ruangan yang semula dipenuhi percakapan hangat berubah hening. Semua mata tertuju kepadanya, seolah ia baru saja mengatakan sesuatu yang mustahil.

Lalu terdengar tawa kecil.

Tasya, adik kandung Revan, menutup bibirnya dengan telapak tangan, tetapi sorot matanya jelas memperlihatkan ejekan.

"Mas, Kak Haifa kambuh lagi. Semua bayi kan tangisannya sama," kekehnya.

Haifa menggeleng kuat-kuat. Air mata mulai menggenang, tetapi pandangannya tak pernah lepas dari bayi itu.

"Bukan ... aku gak mungkin salah. Lihat matanya. Lesung p**inya. Itu sama persis ...."

"Cukup, Haifa! Kamu mulai lagi!" bentak Revan.

Haifa sontak terdiam.

Lelaki yang selama ini menjadi sandaran hidupnya melangkah mendekat. Wajahnya tampak tenang, bahkan terlalu tenang. Dengan lembut, ia memegang kedua bahu Haifa seolah sedang menenangkan anak kecil yang sedang mengamuk.

Tatapan penuh iba itu begitu meyakinkan hingga siapa pun yang melihat pasti akan berpihak kepadanya.

"Sayang," ucap Revan lirih, "anak kita sudah meninggal empat hari lalu. Sesaat setleah kamu lahirkan."

Kalimat itu menusuk dada Haifa lebih tajam daripada ribuan pisau.

Air matanya jatuh tanpa mampu dibendung.

"Enggak ... aku mendengar tangisnya hari itu. Aku juga sempat melihat saat kamu mengangkatnya dengan senyuman."

"Benar, tapi setelah itu ... dia berhenti menangis selamanya," bisik Revan.

"Di masih hidup. Aku bisa merasakannya." Suara Haifa bergetar hebat.

"Aku lihat sendiri ... aku yang membantu persalinannya. Anak kita ... gak selamat."

Revan memejamkan mata sambil menarik napas panjang. Ekspresi wajahnya seolah menggambarkan seorang suami yang kelelahan menghadapi istrinya yang tak kunjung pulih dari duka.

"Mama," panggilnya pelan.

Ia menoleh kepada perempuan paruh baya yang sejak tadi duduk di sofa.

"Sepertinya Haifa sudah kena baby blues dan mendekati gila."

Ibu mertuanya segera bangkit.

Haifa sempat mengira perempuan itu akan memeluknya untuk memberi kekuatan.

Namun dugaannya salah.

Pelukan itu berubah menjadi belenggu. Kedua lengannya menahan tubuh Haifa agar tidak bergerak mendekati bayi tersebut.

"Sudah, Nak," bujuknya dengan suara lembut yang terdengar begitu tulus di telinga orang lain. "Allah sudah mengambil anakmu."

"Enggak!" Haifa meronta hingga tubuhnya hampir terlepas. "Itu anakku! Digendong adik angkatmu, Mas!"

Suasana kembali ricuh.

"Waktu aku sadar setelah operasi, aku dengar Mama bilang, 'Alhamdulillah, anaknya selamat.' Aku dengar sendiri!"

Kalimat itu membuat wajah ibu mertuanya berubah.

Hanya sesaat.

Namun cukup untuk menyalakan kembali harapan yang hampir padam di dalam hati Haifa.

"Aku gak mungkin salah dengar," lanjutnya sambil terisak. "Aku ingat ... Aku benar-benar ingat."

Tasya mendecak pelan.

"Lihat, Mas. Dia mulai mengarang lagi."

Haifa menoleh tajam. "Aku gak mengarang!"

Namun tak seorang pun memercayainya.

Semua orang justru memandangnya dengan tatapan iba. Tatapan yang selama beberapa bulan terakhir paling ia benci.

Tatapan kepada orang yang dianggap kehilangan kewarasan.

Perempuan yang menggendong bayi itu tampak gelisah. Ia memeluk bayi tersebut semakin erat, lalu berdiri dari duduknya.

"Mas ... aku pulang dulu."

Satu kata itu membuat Haifa membeku.

Mas.

Bukan Kak.

Bukankah selama ini perempuan itu selalu memanggil suaminya dengan sebutan Kak Revan?

Meskipun artinya sama, tapi kenapa terasa beda?

Haifa kembali mencoba mendekat ke arah Maira, tapi tubuh lemahnya malah tersungkur ke lantai.

Rasa nyeri menjalar dari p**i hingga bahunya, tetapi ia tak sempat mengeluh. Yang ia pikirkan hanya bayi itu.

Sebelum sempat bangkit, Revan sudah memeluk tubuhnya dari belakang.

Pelukan yang dulu selalu membuatnya merasa aman. Kini terasa seperti rantai yang mengikat.

"Maaf ...." Suara Revan bergetar. "Istriku belum bisa menerima kenyataan. Pergilah, Maira."

Haifa menangis sejadi-jadinya. Air matanya membasahi lengan suaminya.

"Revan ... tolong ...."

Ia mendongak dengan tatapan memohon.

"Kalau memang aku salah ... biar aku lihat wajah bayi itu sekali saja." Suaranya semakin lirih. "Aku cuma mau memastikan."

Revan menutup mata.

Sesaat kemudian ia menghela napas panjang, seolah mengambil keputusan yang paling berat dalam hidupnya.

"Kamu sudah benar-benar membuatku bingung, Haifa. Sudah kukatakan berulang kali, anak kita meninggal. Itu anaknya Maira." Revan mulai sedikit berteriak.

"Apa bawa saja ke rumah sakit jiwa?" tanya ibunya dengan tatapan kesal.

Revan terpaksa menarik Haifa ke kamarnya. Kemudian menutup pintunya dengan keras, mengurungnya di dalam kamar.

Haifa menangis, dan dia masih tak percaya anaknya meninggal.

Masih ingat dalam ingatannya, dia menjalani operasi padahal sudah kontraksi. Saat itu antara sadar dan tidak, dia mendengar tangis bayi yang dilahirkannya.

"Selamat, dok, lelaki." Suara itu terdengar dari bidan pendamping.

Namun, suster menyuntikkan obat ke infusnya, tubuhnya mendadak lemah, sehingga tak sempat melihat bayinya.

Antara sadar dan tidak, tirai terbuka oleh suster. Dan dia melihat, Revan menyerahkan bayi itu pada Maira yang tersenyum. Melihat bayi itu sekilas dan mendengar obrolan ibu mertuanya.

"Akhirnya ... aku jadi ibu," katanya dengan mencium bayi itu.

Semula, Haifa mengira itu hanya halusinasi, hanya efek obat. Namun, ketika dia sadar sepenuhnya, justru anaknya dikatakan sudah meninggal. Dia tak percaya, tapi seorang bayi dibawa dan sudah kaku diserahkan ke pelukannya.

"Ini bukan anakku!" jeritnya hari itu.

Hari ini, dia semakin yakin. Anaknya belumlah mati, hanya saja ... kenapa suaminya memberikannya pada adik angkatnya?

Kenapa harus dikatakan bahwa mati?

"Sebenarnya ada apa dengan rumah ini sekarang? Kenapa jadi aneh sekali?" gumamnya penuh keheranan.

Satu per satu kenangan hadir, dan dia mulai curiga ... bahwa dirinya hanya dimanfaatkan.

"Kalian boleh mempermainkan aku, tapi enggak boleh mempermainkan anakku. Aku seorang ibu, dan gak akan kubiarkan kalian memisahkan aku dan anakku," gumamnya sambil memegangi perutnya yang terasa kram.

Haifa merasa harus kuat, untuk membuktikan bahwa anak yang digendong oleh Maira adalah anak yang dilahirkannya.

"Papa ... papa ... haruskah aku meminta tolong papa? Setelah aku dihapus dari keluarga, karena memilih mualaf?"

Bersambung

judul: Bidadari Rumah Sakit Jiwa
Penulis: Majarani

baca sampai tamat di kbm app

(2) Ru mah sa kit memiliki b4unya sendiri. Bukan hanya b4u antiseptik yang menye ngat, tapi juga b4u kekhawatiran, b4u p...
13/07/2026

(2) Ru mah sa kit memiliki b4unya sendiri. Bukan hanya b4u antiseptik yang menye ngat, tapi juga b4u kekhawatiran, b4u pasrah, dan b4u-b4u ha lus lain yang tidak kasatm4ta. Nadira sudah tiga hari menghirup aroma itu. Tiga hari ia du duk di kursi plastik ker as di samping tem pat tid ur Fadil, sesekali mengu sap ke ning sua minya yang masih terasa panas meskipun infus sudah terpasang sejak semalam.

Dokter bilang Fadil mengalami demam tinggi akibat stres be rat disertai dehidrasi. “Istirahat total dan hindari tek4nan psikologis,” ujar dokter muda berk4cam4ta itu sambil memeriksa lembar rekam medis. Nadira mengangguk patuh, berterima kasih, lalu kembali ke sisi sua minya.

Tek4nan psikologis. Ia mengulang-ulang kalimat itu di kep4lanya. Tek4nan apa yang sedang dihadapi Fadil? Apakah kantornya sedang memberinya be ban berlebih? Apakah ada target yang tidak tercapai? Atau... ada hal lain yang tidak ia ketahui?

Nadira tidak sempat berpikir panjang. Sebagai is tri, tugasnya sekarang adalah menjaga dan memastikan Fadil pulih. Urusan lain bisa dibicarakan nanti.

Fadil terba ring lem ah. Waj ahnya yang biasanya tampan dengan rah ang te gas kini terlihat ku sam dan cekung. Ma tanya terpejam rapat, na pasnya teratur tapi dangkal. Tu buhnya yang dulu hangat saat dipe luk sekarang terasa dingin meskipun demamnya masih tinggi. Nadira mengge nggam tan gan sua minya, berharap keh4ngatannya bisa menul4r.

Hari pertama di ru mah sa kit, Fadil masih cukup sadar untuk berbicara meskipun separuh waktunya digunakan untuk tid ur. Nadira menyuapinya bubur, membantunya ke toil et, dan membacakan pesan-pesan dari kantor yang titip rekan kerjanya. Fadil hanya mengangguk-angguk le mas, kadang tersenyum tipis sebagai tanda terima kasih.

Hari kedua, kondisinya tidak kunjung membaik. Dokter memutuskan untuk menambah dos is ob4t dan memberikan suntikan penen4ng agar Fadil bisa beristirahat maksimal. “Tub uhnya butuh recovery total, Bu. Kalau terus ge lis ah seperti ini, proses penyembuhannya akan lama.”

Ge lis ah. Nadira memperhatikan bagaimana Fadil ge li sah. Bukan ge li sah seperti orang yang khawatir pekerjaan, tapi ge li sah seperti orang yang kehil4ngan sesuatu.

Ma tanya bolak-balik ke ponsel yang Nadira letakkan di meja samping tem pat ti dur. Sesekali ia meraihnya meskipun tan gannya gemet4ran, lalu menghela na pas kecewa saat membaca layar, lalu meletakkannya kembali dengan ger akan ke sal.

“Ada yang kamu cari, M4s?” tanya Nadira hati-hati.

Fadil menggelang cepat. “Tidak. Tidak ada.”

Tapi ma tanya berbo hong.

Sekarang, di malam hari ketiga, Fadil tertidur pulas. Efek obat yang disun tikkan ke selang in fusnya bekerja sempurna. Na pasnya dal am dan lam bat, tu buhnya benar-benar le mas, dan untuk pertama kalinya dalam tiga hari ini, ia tidak meraih ponselnya sekali pun.

Nadira dud uk di kursi di samping tem pat tid ur. Ru4ngan VIP kecil itu sunyi. Hanya ada suara tetesan infus yang ritmis dan dengungan AC yang samar. Lampu redup menyala di sudut ruangan, menerangi wa jah Fadil yang tampak damai dalam tid urnya—damai yang ironisnya tidak pernah ia tunjukkan saat sadar.

Ponsel Fadil tergeletak di atas meja samping tem pat ti dur. Layarnya gelap. Benda mungil itu tampak tidak bersalah, seolah tidak menyembunyikan apa pun.

Nadira men4tap ponsel itu lama. Bukan karena ia ingin memeriksanya. Ia hanya sedang melamun, menunggu waktu kunjungan dokter besok pagi.

Ma tanya kosong, pikirannya melayang entah ke mana—ke kelasnya yang ditinggalkan, ke murid-muridnya yang mungkin bertanya-tanya kenapa Bu Nadira tidak masuk, ke rumah mereka yang sekarang sepi tanpa penghuni.

Lalu ponsel itu menyala.

Bunyi notifikasi singkat, get4ran pendek yang terdengar sangat ker4s di ru4ngan yang sunyi. Layar menyala terang, menampilkan pesan yang ma suk dari seseor4ng.

Nadira refleks menoleh. Bukan karena ia sengaja ingin melihat, tapi karena refleks alami manusia ketika ada sesuatu yang bergerak atau berubah di bidang penglihatannya.

Dan di situlah semuanya runtuh.

Layar ponsel Fadil memamerkan pesan itu dengan jelas, tanpa perlu membuka kunci layar. Namanya tersimpan dengan panggilan manis yang tidak pernah Nadira dengar sebelumnya.

Bebe: “Aku ka ngen. Tapi jangan hubungi aku lagi kalau kamu belum berani bilang jujur sama is trimu. Aku capek jadi sim pa nan.”

Jan tung Nadira berhenti berde tak.

Bukan kiasan. Bukan perumpamaan. Ia benar-benar merasakan da danya kosong, seperti ada sesuatu yang menghilang dari dalam tu buhnya. Udara di sekitarnya terasa padat dan tipis bersamaan—aneh, menyesakkan.

Bebe.

Panggilan itu bukan untuknya. Nadira tidak pernah dipanggil Bebe oleh Fadil. Fadil memanggilnya Ra, Sa yang, atau Bunda meskipun mereka belum punya an ak. Tapi tidak pernah Bebe.

Sim pa nan.

Kata itu mengha ntam lebih ker as dari seribu palu. Sim pa nan. Berarti ada wa nita lain. Berarti selama ini... selama Fadil pulang terlambat, selama ia lebih sering men4tap ponselnya daripada men4tap ma ta is trinya, selama ia menjadi dingin dan asing di rumah mereka sendiri... semua itu karena ia sibuk menyembunyikan hu bu ngan dengan pe rem pu an lain.

Nadira merasakan tang annya berge tar. Seluruh tu buhnya berge tar. Da danya naik turun tidak beraturan. Ia ingin men4ngis, menje rit, membangunkan Fadil dan melemp4rinya dengan bantal sambil menuntut jawaban.

Tapi tu buhnya tidak berge rak. Ia hanya duduk membatu, men4tap layar ponsel yang perlahan kembali gelap.

Satu menit. Dua menit. Lima menit.

Nadira menarik na pas pan jang. Lalu ia meraih ponsel itu.

Tang annya geme tar hebat saat j4ri-j4rinya menyentuh layar dingin. Ia menggeser notifikasi itu, membu ka pesan, dan membaca seluruh percakapan yang tersimpan di sana.

Percakapan yang dibatasi—kemungkinan besar Fadil sengaja menghapus riwayat lama—tapi cukup untuk membuat Nadira mengerti gambaran besarnya.

Nama wanita itu Sari. Rekan kerja Fadil di kantor. Hu bu ngan mereka sudah berjalan hampir satu tahun. Sari awalnya tidak tahu bahwa Fadil sudah menik4h—atau mungkin pura-pura tidak tahu. Tapi belakangan Sari mulai mende sak. Ia ingin Fadil memilih: is tri atau dia.

Dan kabar terbaru? Sari yang memutuskan untuk pergi. Ia bilang ia sudah menemukan lel4ki lain yang bisa ia ajak serius. Fadil panik. Fadil memohon-mohon. Fadil bahkan sampai sa kit seperti ini.

Su4miku sa kit karena wa nita lain.

Kalimat itu berputar-putar di kepa la Nadira seperti paku yang dipalu berulang kali ke tul ang teng kor aknya.

Tapi anehnya, setelah badai pertama meredam, yang tersisa bukanlah am4rah. Bukan tangisan histeris. Yang tersisa adalah keheningan yang dingin—keheningan seperti sebelum badai besar benar-benar datang.

Nadira menggenggam ponsel itu er4t-er4t. Ia men4tap wa jah Fadil yang ti dur dengan damai. L4ki-l4ki yang ia cint4i. L4ki-l4ki yang ia percayai. L4ki-l4ki yang ternyata selama setahun terakhir ini berm4in 4pi di bela kangnya.

Lalu ia membu ka lagi pesan terakhir dari Sari.

“Capek jadi sim pa nan.”

Nadira mengetik balasan. Ja rinya bergerak cepat, tanpa berpikir panjang, seolah-olah ada kekuatan lain yang menggerakkannya.

“Aku minta maaf. Aku sadar aku salah. Aku mau ketemu kamu. Tolong.”

Ia tekan tombol kirim.

Hanya butuh beberapa detik sebelum balasan datang.

Bebe: “Kamu beneran mau ketemu? Jangan main-main, Dil. Aku udah ka pok.”

Nadira mengetik lagi.

“Serius. Aku mau jelasin semuanya. Aku mau putusin is triku. Tapi aku harus ketemu kamu dulu.”

Bo hong. Setiap kata adalah keboh ongan. Tapi Nadira tidak peduli.

Bebe: “Di mana? Kapan?”

Nadira men4tap jam di sudut layar. Pukul sembilan malam. Ia memikirkan tempat—tempat yang tidak terlalu jauh dari rum ah sak it, tempat yang aman, tempat yang bisa ia jangkau tanpa meninggalkan Fadil terlalu lama.

“Cafe Little Spoon. Dekat RS. Jam sepuluh.”

Bebe: “Oke. Aku datang. Jangan ingkar lagi, Dil.”

Nadira meletakkan ponsel kembali ke meja samping tem pat tid ur. Ia men4tap Fadil sekali lagi. Sua minya itu tidak berge rak sedikit pun, tidak menyadari apa yang baru saja dilakukan is trinya.

Dengan ha ti yang han cur berkeping-keping namun da da yang terasa sa ngat te gak, Nadira berdi ri. Ia merapikan roknya, mengambil tas kecil, dan melirik cermin di sudut ruangan. Wa jahnya pu cat, ma tanya sem bab mena han tangis yang belum sempat keluar.

Tapi ia tidak menangis. Tidak sekarang.

Sekarang, ia harus menemui wa nita itu.

Sekarang, ia harus melihat dengan ma ta kepa lanya sendiri siapa Bebe yang membuat sua minya sa kit.

Sekarang, ia akan melakukan sesuatu yang bahkan tidak pernah ia bayangkan akan ia lakukan dalam hidupnya.

Ia akan menjemput keka sih gel ap sua minya.

Lanjut baca ke apli-kasi KBM app

Judul : SAAT CINTA KEHILANGAN RUMAHNYA
Penulis : DLaksana



13/07/2026

Part 2

***

"Calon suami Nissa pasti bakalan malu kalau tahu kakaknya Nissa itu kamu," imbuh ibu.

Aku mengelus dada, menahan emosi.

"Emang siapa sih calon suami Nissa?!" sentakku.

"Midi, anaknya haji Anwar."

Aku langsung terbelalak lebar. "Midi?"

Dia kan calon suamiku? Kenapa malah mau menikah sama Nissa?

Aku langsung bergegas keluar, ingin menanyakan langsung kepada Nissa. Namun tangan ibu buru-buru mencekal lenganku.

"Ibu yang menyuruh Midi menikah dengan Nissa. Lagian mereka terlihat s**a sama s**a," sergah ibu dengan wajah ketak*tan.

"Ibu gila ya? Midi itu sudah lama pacaran sama aku, kenapa malah disuruh nikah sama Nissa?" sentakku kesal.

"Nissa lebih pantas menjadi pendamping Midi daripada kamu Mita. Nissa seorang sarjana, sementara kamu? Sekolah saja tidak lulus," cibir ibu sambil memasang wajah ketus.

"Kenapa sih selalu Nissa dan Arum yang ibu banggakan? Padahal kalau butuh apapun ibu selalu minta tolong sama Mita?!" protesku dengan mata berkaca-kaca.

"Owh jadi kamu mulai perhitungan sama ibu?"

Aku sudah muak dengan ini semuanya. Dari dulu ibu tidak pernah berubah. Kupikir dengan semua pengabdianku selama ini, ibu bisa sedikit memberikan kasih sayangnya kepadaku. Ternyata dugaanku salah. Nissa dan Arum selalu menjadi kebanggaannya, sementara aku selalu menjadi kambing hitam.

Kuputuskan untuk menelpon Midi saja. Untuk meminta penjelasan darinya langsung. Namun Midi tak kunjung mengangkat teleponnya.

Kami kenal sejak zaman SMP, kemudian memutuskan pacaran setelah kembali menyapa lewat sosmed. Semenjak pacaran kami belum pernah ketemu.

Dan sekarang lah saatnya, ketika aku sudah pulang. Kami akan bertemu dan akan melangsungkan pernikahan, tapi ternyata Midi akan menikah dengan adikku sendiri.

Aku menatap layar ponselku dengan nanar. Satu kali, dua kali, bahkan sampai panggilan kelima, suara operator yang sama kembali terdengar, memberitahu bahwa nomor Midi sedang tidak dapat dihubungi. Dadaku terasa sesak. Laki-laki yang selama ini k*tunggu, yang berjanji akan menjadikanku ratunya setelah aku pulang, tiba-tiba menghilang bak ditelan bumi tepat di saat badai ini datang.

"Sudah, tidak usah sok sibuk menelepon Midi!"

Suara ketus ibu memecah keheningan.

Beliau melipat kedua tangannya di dada, menatapku dengan pandangan menuntut yang amat kukenali.

Pandangan yang sama setiap kali beliau menginginkan sesuatu dariku.

"Daripada kamu mengemis pada calon suami adikmu, sekarang mana janji kamu? Ibu minta uang 100 juta yang kemarin kamu janjikan untuk biaya pesta pernikahan Nissa. Jangan sampai kurang sepeser pun, ibu tidak mau tahu!"

Aku tertawa getir, air mata yang sejak tadi k*tahan akhirnya luruh juga. "Uang itu hasil tabunganku bertahun-tahun, Bu. Rencananya untuk modal nikahku sama Midi, bukan untuk membiayai pesta pernikahan mereka!"

Wajah ibu langsung mengeras. Beliau melangkah mendekat, menudingkan jarinya tepat di depan wajahku.

"Kamu jangan egois, Mita! Kalau kamu tidak mau memberikan uang itu, jangan harap kamu bisa menginjakkan kaki di rumah ini lagi. Ibu akan coret nama kamu dari kartu keluarga, dan jangan pernah anggap ibu sebagai orang tuamu!" ancamnya tanpa kedipan ragu.

Coret dari kartu keluarga. Dianggap mati.

Ancaman klasik yang selalu berhasil membuatku bertekuk lutut selama ini.

Namun kali ini, ada sesuatu yang patah di dalam dadaku. Rasa pasrah yang teramat sangat menyelimuti seluruh tubuhku. Aku lelah. Aku mengangguk pelan, menyeka air mata dengan kasar.

"Besok uangnya aku transfer ke rekening Ibu," bisikku lirih, nyaris tanpa tenaga.

Ibu tersenyum puas, seolah baru saja memenangkan lotre, lalu melenggang pergi meninggalkanku sendirian di kamar yang terasa semakin mencekik.

Begitu pintu tertutup, aku terduduk di lantai yang dingin. Bau pengkhianatan ini begitu menyengat, meracuni setiap sudut rumah yang dulunya kurindukan.

Ibu yang melahirkanku memanfaatkanku, adik yang kusayangi merebut kebahagiaanku, dan kekasih yang kupercaya berselingkuh di balik punggungku. Mereka memperlakukanku tak lebih dari sekadar mesin anjungan tunai mandiri (ATM) berjalan.

Aku menatap koperku yang bahkan belum sempat kubongkar sepenuhnya. Sebuah tekad bulat tiba-tiba muncul di benakku.

Cukup. Aku tidak akan menjadi keset kaki di rumah ini lagi. Aku akan memberikan uang 100 juta itu sebagai "uang tebusan" atas seluruh sisa pengabdianku, sekaligus modal bagi mereka untuk memulai kehancuran mereka sendiri. Setelah itu, aku akan pergi. Jauh dari tempat beracun ini, ke mana pun kakiku melangkah, di mana tidak ada satu pun dari mereka yang bisa menemukanku lagi.

Judul : Aku bukan Babu, Bu

Karya : Kang Fere

Selengkapnya di KBM app.

Address

Ciamis

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when TienzStory posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share