19/10/2026
"GUNDIK AYAHKU DATANG KE ULANG TAHUN NENEK DENGAN MEMBAWA ANAKNYA... LALU MEMAKSA AKU TURUN DARI KURSI PEWARIS KELUARGA. TAPI BEBERAPA MENIT KEMUDIAN, SELURUH RUANGAN LANGSUNG GEMPAR."
***
BAB 4
"Maksud Ibu apa?" Suara Maya terdengar lebih keras dari sebelumnya.
Tatapannya berpindah dari Nenek kepada Pak Harun. Lalu kepada amplop yang masih berada di tangan pengacara tua itu. Aku melihat ketakutan yang benar-benar tidak bisa disembunyikan dari wajahnya.
Pak Harun melangkah maju. Beliau membuka amplop tersebut. Kemudian mengeluarkan beberapa lembar dokumen.
Ruangan kembali sunyi. Tidak ada yang berani berbicara. Semua orang menunggu. Termasuk Maya. Termasuk Ayah.
"Nyonya Maya Santoso."
Pak Harun menyebut nama lengkapnya. Maya langsung menegang.
"Sebelum menjalin hubungan dengan Pak Dimas, Ibu Maya pernah menikah sebanyak dua kali."
Beberapa tamu langsung saling berpandangan. Bisik-bisik mulai terdengar. Aku melihat wajah para paman dan bibi berubah. Bukan karena Maya pernah menikah. Melainkan karena selama ini Maya selalu memperkenalkan dirinya dengan cerita yang berbeda.
"Saya tidak mengerti kenapa itu harus dibahas." Maya mencoba memotong.
Namun Pak Harun tetap melanjutkan.
"Karena selama setahun terakhir, Ibu Maya menyampaikan kepada banyak orang bahwa kedua pernikahan tersebut berakhir karena ditinggalkan suami."
Wajah Maya semakin pucat.
Pak Harun mengangkat salah satu dokumen.
"Namun dokumen pengadilan menunjukkan hal yang berbeda."
Ruangan mendadak lebih hening.
Aku bahkan bisa mendengar suara pendingin ruangan di sudut langit-langit. Pak Harun membaca isi dokumen itu dengan tenang.
"Pernikahan pertama berakhir setelah gugatan cerai diajukan oleh suami pertama."
Maya langsung bersuara. "Itu urusan pribadi saya!"
"Benar."
Pak Harun mengangguk. "Tetapi Ibu sendiri yang menjadikannya bahan cerita ketika memperkenalkan diri kepada keluarga ini."
Maya terdiam. Tidak mampu membalas.
Pak Harun melanjutkan.
"Dalam berkas tersebut disebutkan adanya hubungan dengan pria lain selama pernikahan berlangsung."
Suara bisik-bisik langsung membesar. Beberapa tamu terlihat terkejut. Paman Arman menggeleng pelan. Sedangkan Bibi Rina menatap Maya tanpa berkedip.
"Itu bohong."
Maya berkata cepat. "Itu hanya tuduhan."
Pak Harun tidak terpancing. Beliau mengambil dokumen berikutnya.
"Pernikahan kedua berakhir dua tahun kemudian."
Jantungku berdetak lebih cepat. Karena aku mulai mengerti ke mana arah pembicaraan ini. Dan ternyata dugaanku benar.
"Gugatan kembali diajukan oleh pihak suami."
Pak Harun menatap dokumen itu sejenak.
"Lagi-lagi disertai bukti hubungan dengan pria lain."
Suasana ruangan langsung berubah. Kalau tadi orang-orang hanya penasaran. Kini mereka benar-benar terkejut. Maya yang selama ini selalu tampil sebagai wanita lemah yang disakiti kehidupan... Ternyata tidak sepenuhnya seperti cerita yang ia bangun sendiri.
"Itu fitnah!"
Maya berteriak. "Semuanya fitnah!"
Pak Harun menurunkan dokumen.
"Dokumen ini berasal dari arsip pengadilan."
"Tetap saja fitnah!" Maya melangkah maju. Wajahnya merah. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Apa keluarga ini sengaja ingin mempermalukan saya?"
Tidak ada yang menjawab. Karena kenyataannya, dokumen itu tidak dibuat oleh keluarga kami. Dokumen itu sudah ada jauh sebelum Maya mengenal Ayah.
"Maya." Nenek akhirnya berbicara. Suaranya tetap tenang.
"Saya hanya ingin mengetahui siapa perempuan yang akan masuk ke keluarga saya."
"Itu tidak memberi Ibu hak untuk mengadili saya!" Maya membalas. Nada suaranya penuh kemarahan.
"Apa semua orang di sini sempurna?"
"Tidak." Nenek menjawab singkat. "Termasuk saya."
Maya terdiam sesaat. Namun kemarahannya belum hilang.
"Kalau begitu kenapa saya diperlakukan seperti penjahat?"
Paman Surya langsung berdiri. "Karena kamu datang ke sini sambil berbohong."
"Itu bukan kebohongan!"
"Itu kebohongan."
Paman Arman menyahut. "Kamu bilang ditinggalkan. Padahal ceritanya jauh lebih rumit."
Maya menggigit bibirnya.
Aku bisa melihat dadanya naik turun. Dia berusaha keras mengendalikan dirinya. Namun semuanya sudah terlambat. Rahasia itu sudah terungkap. Dan tidak mungkin dimasukkan kembali.
"Mama..." Suara Celine terdengar pelan.
Gadis itu memegang tangan ibunya. Wajahnya terlihat cemas. Tetapi Maya bahkan tidak menoleh. Perhatiannya hanya tertuju pada satu orang.
Ayah.
Pria yang sejak tadi lebih banyak diam. Pria yang seharusnya menjadi orang pertama membelanya.
"Apa kamu juga percaya mereka?" Maya bertanya.
Semua mata langsung beralih kepada Ayah. Ruangan kembali hening. Karena semua orang ingin mendengar jawabannya. Ayah menatap Maya cukup lama. Kemudian menarik napas pelan.
"Aku tahu."
Hanya kata sederhana. Namun dampaknya langsung terasa. Maya membeku. Para paman membeku. Para bibi membeku. Aku pun ikut terkejut.
"Kamu... tahu?" Suara Maya terdengar lirih.
Ayah mengangguk.
"Aku tahu semuanya."
Ruangan seakan berhenti bergerak. Paman Surya langsung menatap Ayah.
"Kamu tahu tentang dua pernikahannya?"
"Iya."
"Kamu tahu alasan perceraian itu?"
"Iya."
"Kamu tahu semuanya?"
Ayah kembali mengangguk.
"Iya."
Suara bisik-bisik kembali memenuhi ruangan. Kali ini bukan tentang Maya. Melainkan tentang Ayah. Karena ternyata bukan hanya Maya yang menyembunyikan sesuatu.
Ayah juga melakukannya. Beliau mengetahui seluruh masa lalu Maya. Tetapi tidak pernah memberitahukan kepada keluarga.
"Dimas."
Bibi Rina menatapnya tidak percaya. "Kamu tetap memilihnya setelah mengetahui semua itu?"
Ayah terdiam sesaat. Lalu menjawab. "Iya."
Maya langsung menoleh. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Di depan mataku, aku melihat wajahnya melemah. Bukan karena marah. Melainkan karena terkejut. Mungkin bahkan dia tidak menyangka Ayah akan mengakuinya di depan semua orang.
"Aku tidak peduli masa lalunya."
Ayah melanjutkan. "Aku memilih Maya karena siapa dirinya sekarang."
Ruangan kembali riuh. Beberapa orang menggeleng. Beberapa lainnya menghela napas panjang. Sedangkan Maya mulai menangis. Namun tangisan itu tidak membuat siapa pun berubah pikiran. Karena masalahnya bukan hanya masa lalu. Masalahnya adalah kebohongan yang terus disembunyikan.
"Aku tidak percaya."
Paman Arman berkata pelan. "Kamu mempertaruhkan keluarga demi perempuan yang bahkan belum jujur sejak awal."
Ayah tidak menjawab.
Beliau hanya berdiri di samping Maya. Seolah sudah memutuskan akan tetap berada di sana apa pun yang terjadi.
Aku melirik Nenek.
Beliau terlihat semakin tenang. Terlalu tenang. Dan itu selalu menjadi pertanda buruk. Karena biasanya setelah itu akan muncul sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang belum diketahui siapa pun.
Tepat saat aku memikirkan hal itu, suara kursi bergeser terdengar.
Celine berdiri.
Wajah gadis itu merah karena menahan emosi. Air mata masih membasahi pipinya. Namun sorot matanya berubah. Bukan lagi ketakutan. Melainkan kemarahan.
"Kalian jahat!"
Semua orang menoleh kepadanya.
"Kalian terus menyerang Mama!"
"Celine..." Maya mencoba menenangkannya.
Namun gadis itu tidak mau diam.
"Mama memang punya masa lalu!"
Suaranya menggema di seluruh ruangan.
"Tapi keluarga kalian juga tidak sesempurna itu!"
Kalimat itu membuat seluruh ruangan membeku. Aku melihat wajah para paman berubah. Bibi Rina langsung menatap tajam ke arah Celine. Sedangkan Ayah terlihat terkejut. Seolah tidak mengira gadis itu akan mengatakan sesuatu seperti itu.
Dan yang paling mengejutkan... Sudut bibir Nenek perlahan menghilang dari ketenangannya.
Seolah Celine baru saja menyentuh rahasia yang selama ini tidak boleh dibicarakan oleh siapa pun.
Lanjut?
Lengkap full di KBM
Penulis Muhamadirata
Judul Satu Nama Terakhir