12/01/2026
Ngamumule Budaya Cianjur
Cerita Sejarah Kuda Kosong
Cianjur adalah tanah yang kaya akan jejak sejarah, doa para karuhun, dan nilai kearifan lokal yang terus hidup hingga hari ini. Salah satu warisan budaya yang masih dikenang dan dijaga adalah Tradisi Kuda Kosong, tradisi tua yang telah berusia ratusan tahun, sarat makna tentang hormat, amanah, dan kebijaksanaan hidup.
Kisah Kuda Kosong bermula pada masa pemerintahan Bupati Cianjur Rd. Aria Wira Tanu II, sekitar akhir abad ke-17. Saat itu, Rd. Natadimanggala atau Aria Kidul menerima amanah membawa seekor kuda jantan hitam dari Eropa, hadiah dari Raja Mataram Sunan Amangkurat II, yang diperuntukkan khusus bagi Bupati Cianjur.
Dalam perjalanan panjang dari Keraton Mataram menuju Cianjur, kuda tersebut tidak pernah ditunggangi. Aria Kidul merasa teu wasa, tidak pantas menaiki kuda hadiah raja yang bukan haknya. Kuda itu hanya dituntun hingga tiba di Pendopo Bupati, berjalan tanpa penunggang. Dari situlah lahir sebutan Kuda Kosong—kosong di punggungnya, namun penuh makna dalam nilainya.
Seiring waktu, tradisi ini mengalami dinamika. Pada tahun 1948, Kuda Kosong sempat dikaitkan dengan tokoh gaib Rd. Suryakancana, hingga menimbulkan perbedaan pandangan dan akhirnya dihentikan. Namun semangat ngamumule budaya tidak pernah padam.
Melalui dialog dan musyawarah, pada tahun 2007 tradisi ini kembali dihadirkan sebagai simbol budaya, tanpa unsur ritual spiritual. Kini, Kuda Kosong tampil setiap Hari Jadi Cianjur, menjadi pengingat bahwa budaya dan iman dapat berjalan berdampingan—melangkah ke zaman anyar tanpa melupakan akar jati diri.
Email: [email protected]
mohammadwahyunajmahnurislami
sejarah
budayajawabarat
tradisionalcianjur