Soni28 🔰jangan lupa ikuti ✅
🔰 akun Reels ✅
(1)

Tes kecerdasan✅Berhadiah💸💸
14/05/2026

Tes kecerdasan✅
Berhadiah💸💸

Aku mengunci istriku di rumah agar bisa menemui cinta lamaku. Kupikir laporannya soal kebakaran rumah kami hanyalah dram...
14/05/2026

Aku mengunci istriku di rumah agar bisa menemui cinta lamaku. Kupikir laporannya soal kebakaran rumah kami hanyalah drama cemburunya agar aku cepat pulang.

Sejak saat itu istriku tak lagi cemburu, bahkan dia melakukan sesuatu yang membuatku tercengang. Ternyata dia .....

Part 2

"Kamu ingin aku m a t i, Mas?" desis Amira dengan tenggorokan yang terasa r o b ek.

"Lihat saja, aku akan hidup untuk menjadi penyesalan terbesarmu."

Amira berusaha berdiri, lalu berlari mengambil kain serbet yang basah, menutup hidungnya, lalu mengambil kursi kayu di dekat meja makan.

Dengan sisa kekuatan, ia mengha n tamkan kursi itu ke kaca jendela kecil di atas tempat cuci piring.

PRANG!

Kaca itu pecah. Amira memanjat dengan tangan yang terluka parah dan kvlit yang melepuh, mengabaikan serpihan ta j am yang mer o bek telapak tangannya.

Ia berhasil melompat keluar tepat saat ledakan kecil dari ruang tamu menghancvrkan dinding tempatnya bersandar tadi.

Amira terjatuh di atas rumput halaman belakang, terengah-engah dengan tubvh dipenuhi asap dan d a r ah.

Ia menatap rumahnya yang mulai runtuh, lalu menatap ponsel yang masih ia genggam erat, layar yang menampilkan pesan ke j am dari suaminya.

Di restoran, Dea meletakkan tangannya di atas jemari Saga. Ia menatap Saga dengan mata bulat yang berkaca-kaca, tampak begitu rapuh dan tulus.

"Saga, jangan terlalu keras pada Amira. Aku tau dia hanya sangat mencintaimu," ucap Dea dengan nada lembut yang menenangkan.

"Meski cara dia berbohong tentang kebakaran itu sangat ekstrim, itu pasti karena dia merasa terancam oleh kehadiranku. Aku benar-benar merasa bersalah menjadi beban bagi kalian."

Saga men d e s a h, merasa tersentuh oleh kebaikan hati Dea. "Kamu terlalu baik, Dea. Amira memang selalu punya cara untuk mendramatisir keadaan. Kamu tidak perlu merasa bersalah atas kelakuannya yang kekaπak-kaπakan."

"Tapi, Saga ... bagaimana kalau benar ada sesuatu?" Dea menatap ponsel Saga yang m a ti.

"Nanti kalau dia makin marah, aku jadi tidak enak. Aku ingin kita semua baik-baik saja. Aku tidak mau dianggap sebagai wanita jahat."

Saga tersenyum tipis, menggenggam balik tangan Dea. "Dia hanya sedang mencari perhatian. Percayalah, nanti saat kita pulang, dia pasti sudah tidur atau pura-pura menangis di ka m a r."

*
*
*

Satu jam kemudian, Saga memarkirkan mobilnya di depan rumah. Namun, jantvngnya seolah berhenti berdetak saat melihat kerumunan orang dan sisa-sisa api yang masih dipadamkan oleh petugas.

"Amira!" Saga berlari histeris.

"Tuan! Tuan Saga!" seorang tetangga menahannya. "Nyonya Amira sudah dibawa ke ambulans. Dia berhasil keluar lewat jendela belakang."

Saga tertegun. Ia berlari menuju ambulans yang masih terparkir di ujung jalan. Di sana, ia melihat Amira.

Wajah istrinya yang cantik kini dipenuhi noda hitam dan lvka bakar ringan. Tangannya dibalut perban yang sudah mer e mbes d a r ah. Namun, yang membuat langkah Saga membeku bukanlah luka-luka itu, melainkan tatapan mata Amira.

Mata itu tidak lagi sembab oleh tangis. Tidak ada lagi binar cinta atau amarah yang meledak-ledak. Mata Amira kosong, sedalam palung, dan sedingin es yang tidak akan pernah mencair.

"Amira! Ya Allah, maafkan aku," Saga mencoba meraih tangan Amira yang tidak terluka.

"Aku pikir kamu hanya bercanda, aku—"

Amira men a rik tangannya perlahan, gerakannya begitu tenang hingga membuat Saga merasa seperti orang asing yang men ji jikkan.

Amira menoleh ke arah petugas medis tanpa sedikit pun menatap wajah suaminya.

"Tolong bawa saya sekarang," ucap Amira datar.

"Mir, dengarkan aku! Aku menguncimu dari luar karena aku takut kamu mengejarku, aku tidak bermaksud—"

Amira akhirnya menatap Saga. Hanya satu detik. Sudut bi b irnya terangkat membentuk senyum yang begitu tipis, sebuah senyum kematian untuk lima tahun pernikahan mereka.

"Jangan khawatir, Mas," bisik Amira pelan, hampir tak terdengar di tengah keramaian.

"Mulai detik ini, kamu tidak perlu mengunci pintu lagi. Karena ke mana pun kamu pergi, aku tidak akan pernah mengejarmu lagi. Bahkan jika kamu m a t i di depanku sekalipun."

Baca keseruannya di KBM
Judul : Istriku Tak Lagi Cemburu
Penulis : CilokBilu

Tangis Seorang Ibu Yang Terpaksa Mem3nj4rak4nAnaknya Sendiri 🥺🥀🥀Ibu Siti 60 Tahun, Asal Medan Melaporkan An4kLaki Lakiny...
14/05/2026

Tangis Seorang Ibu Yang Terpaksa Mem3nj4rak4n
Anaknya Sendiri 🥺🥀🥀

Ibu Siti 60 Tahun, Asal Medan Melaporkan An4k
Laki Lakinya Zufrid 32 Tahun Karena Kerap
Meng4nc4m Dirinya Mengunakan P4rang
Saat Meminta Uang.

Mirisnya Lagi, U4ng Yang Di Minta Zufrid
Dipergunakan Untuk M3mbel! N4rkobo!🤧🥀

Saat Angota Polsek Medan Akhirnya M3n4ngkap
Zufrid, Ibu Siti Tak Kuasa Menahan Tangis 🥺💔

Ibu Siti🗣️ Saya Sudah Tak Tahan, Setiap Hari
Minta 100/ 200 Ribu....Uang Dari Mana? 🥺
Utang Ibu Sudah Banyak. Ucapnya Pilu 🥺🥀🥀

Dalam Pen4ngk4pan Tersebut, Turut Di 4mankan
Juga Sebuah P4rang Yang Biasa Di Pakai
P3l4ku Untuk M3ng4nc4m Ibunya 🤧🥀

Aku mengunci istriku di rumah agar bisa menemui cinta lamaku. Kupikir laporannya soal kebakaran rumah kami hanyalah dram...
13/05/2026

Aku mengunci istriku di rumah agar bisa menemui cinta lamaku. Kupikir laporannya soal kebakaran rumah kami hanyalah drama cemburunya agar aku cepat pulang.

Sejak saat itu istriku tak lagi cemburu, bahkan dia melakukan sesuatu yang membuatku tercengang. Ternyata dia .....

Part 1

"Pergilah, Mas. Pakai dasi biru dongker itu. Dia selalu s**a kamu memakainya, bukan?"

Suara Amira dingin, datar, seperti es yang membeku di tengah badai. Namun, di balik ketenangan itu, ada sesuatu yang hancur berkeping-keping di dasar da danya. Ia sedang menyerahkan suaminya sendiri kepada wanita lain.

Saga mematung di depan cermin. Tangannya yang sedang merapikan kerah kemeja terhenti. Dia menatap bayangan istrinya melalui pantulan kaca—Amira yang duduk di pinggir raπjang, mer e mas ujung sprei hingga jemarinya memutih.

"Amira ...."

"Jangan sebut namaku dengan nada kasihan itu," potong Amira cepat. Matanya yang sembab menatap lurus ke arah punggung suaminya.

"Aku sudah menyiapkan parfumnya di atas meja. Aroma aquatic. Bukankah itu aroma yang selalu dia puji saat kalian masih kuliah?"

Sagara berbalik. Wajahnya dilingkupi rasa bersalah, namun matanya tidak bisa berbohong. Ada binar kegembiraan yang tertahan di sana. Binar yang tidak pernah Amira lihat dalam lima tahun pernikahan mereka.

"Dia baru saja kembali ke kota ini, Mir. Dia sedang hancur karena perceraiannya. Aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja."

"Hanya memastikan?" Amira tertawa kecil, suara tawa yang lebih menyakitkan daripada tangisan.

"Kamu bangun tengah malam hanya untuk membalas pesannya. Kamu tersenyum pada ponselmu seolah duniamu baru saja terbit kembali. Dan sekarang, di hari ulang tahun pernikahan kita yang kelima, kamu ingin pergi menemuinya?"

"Ini darurat, Amira!" Suara Saga meninggi.

"Lalu aku apa, Mas? Apakah aku hanya stasiun pemberhentian sementara kamu menunggu kereta lamamu kembali ke jalur?"

Amira meraih tangan Saga, menempelkannya ke da danya. "Rasakan ini. Jantungku berdetak untukmu. Tapi malam ini, jantung ini rasanya ingin berhenti saja. Sakit sekali, Mas. Di sini sangat sakit."

Air mata Amira tumpah. Ia tersedu, bahunya berguncang hebat. Namun, saat ponsel di atas meja bergetar, sebuah notifikasi dari nama
Dea masuk, pandangan Saga langsung teralih.

Detik itu juga Amira tau. Dia telah kalah dari kenangan.

"Pergilah," bisik Amira li r ih.

Saga ragu sejenak, namun ego dan rasa penasarannya pada cinta lama itu lebih kuat.

Suara langkah kaki Saga menjauh, disusul suara pintu depan yang tertutup pelan. Dan satu bunyi yang membuat jantung Amira mencelos.

Klik.

Pintu dikunci dari luar.

Amira ambruk. Di atas meja makan, lilin-lilin romantis mulai meleleh habis. Dalam isaknya yang sesak, ia tak sengaja menyenggol taplak meja. Salah satu lilin terjatuh, apinya langsung membakar kain itu.

Dalam hitungan detik, api sudah menari-nari di langit-langit.

Amira berlari ke pintu depan, memutar gagangnya dengan kasar.

Terkunci.

"Mas! Mas Saga! Buka pintunya!" teriaknya histeris. Asap mulai mence k i k paru-parunya.

Dengan jari gemetar, ia menelepon Saga.

Panggilan dialihkan ....

Panggilan dialihkan ....

Amira mengirim pesan singkat dengan sisa tenaga.

[Amira] : Mas, pulang! Rumah kebakaran! Tolong, aku terkunci di dalam.

Satu menit berlalu. Layar ponselnya menyala.

Balasan dari Sagara masuk:

[Mas Saga❤️] : Jangan kekanak-kanakan, Amira. Aku tau kamu sedang bersandiwara agar aku tidak jadi menemui Dea. Berhenti mencari perhatian dengan cara yang gila seperti ini. Tidurlah, aku akan pulang kalau hatimu sudah membaik.

Amira menatap layar itu dengan pandangan mengabur. Sebuah tawa hambar lolos dari bi-birnya. Ia jatuh terduduk, bersandar di pintu yang tetap kokoh mengurungnya. Di depannya, kobaran api sudah melahap semua kenangan mereka.

"Inikah akhirnya, Mas? Inikah cara Tuhan menjawab doaku agar rasa sakit ini berhenti?"

Amira memejamkan mata, membiarkan air mata terakhirnya menguap oleh panas, tepat saat langit-langit ruang tamu mulai runtuh di hadapannya.

Baca keseruannya di KBM
Judul : Istriku Tak Lagi Cemburu
Penulis : CilokBilu

Wanita yg dapat jodoh pria berambut spt ini sangat beruntung 🤣
13/05/2026

Wanita yg dapat jodoh pria berambut spt ini sangat beruntung 🤣

12/05/2026

Gajadi deh 🤣


Saya telah diakui sebagai kreator asli!
07/05/2026

Saya telah diakui sebagai kreator asli!

06/05/2026

Bisa bisa nyah 🤣



Beki hoream
05/05/2026

Beki hoream

03/05/2026

Gede bener tuh lato lato 🤣



02/05/2026

Moal baleg 🤣



Address

Ciranjang
Cianjur Regency

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Soni28 posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Soni28:

Share