14/05/2026
Aku mengunci istriku di rumah agar bisa menemui cinta lamaku. Kupikir laporannya soal kebakaran rumah kami hanyalah drama cemburunya agar aku cepat pulang.
Sejak saat itu istriku tak lagi cemburu, bahkan dia melakukan sesuatu yang membuatku tercengang. Ternyata dia .....
Part 2
"Kamu ingin aku m a t i, Mas?" desis Amira dengan tenggorokan yang terasa r o b ek.
"Lihat saja, aku akan hidup untuk menjadi penyesalan terbesarmu."
Amira berusaha berdiri, lalu berlari mengambil kain serbet yang basah, menutup hidungnya, lalu mengambil kursi kayu di dekat meja makan.
Dengan sisa kekuatan, ia mengha n tamkan kursi itu ke kaca jendela kecil di atas tempat cuci piring.
PRANG!
Kaca itu pecah. Amira memanjat dengan tangan yang terluka parah dan kvlit yang melepuh, mengabaikan serpihan ta j am yang mer o bek telapak tangannya.
Ia berhasil melompat keluar tepat saat ledakan kecil dari ruang tamu menghancvrkan dinding tempatnya bersandar tadi.
Amira terjatuh di atas rumput halaman belakang, terengah-engah dengan tubvh dipenuhi asap dan d a r ah.
Ia menatap rumahnya yang mulai runtuh, lalu menatap ponsel yang masih ia genggam erat, layar yang menampilkan pesan ke j am dari suaminya.
Di restoran, Dea meletakkan tangannya di atas jemari Saga. Ia menatap Saga dengan mata bulat yang berkaca-kaca, tampak begitu rapuh dan tulus.
"Saga, jangan terlalu keras pada Amira. Aku tau dia hanya sangat mencintaimu," ucap Dea dengan nada lembut yang menenangkan.
"Meski cara dia berbohong tentang kebakaran itu sangat ekstrim, itu pasti karena dia merasa terancam oleh kehadiranku. Aku benar-benar merasa bersalah menjadi beban bagi kalian."
Saga men d e s a h, merasa tersentuh oleh kebaikan hati Dea. "Kamu terlalu baik, Dea. Amira memang selalu punya cara untuk mendramatisir keadaan. Kamu tidak perlu merasa bersalah atas kelakuannya yang kekaπak-kaπakan."
"Tapi, Saga ... bagaimana kalau benar ada sesuatu?" Dea menatap ponsel Saga yang m a ti.
"Nanti kalau dia makin marah, aku jadi tidak enak. Aku ingin kita semua baik-baik saja. Aku tidak mau dianggap sebagai wanita jahat."
Saga tersenyum tipis, menggenggam balik tangan Dea. "Dia hanya sedang mencari perhatian. Percayalah, nanti saat kita pulang, dia pasti sudah tidur atau pura-pura menangis di ka m a r."
*
*
*
Satu jam kemudian, Saga memarkirkan mobilnya di depan rumah. Namun, jantvngnya seolah berhenti berdetak saat melihat kerumunan orang dan sisa-sisa api yang masih dipadamkan oleh petugas.
"Amira!" Saga berlari histeris.
"Tuan! Tuan Saga!" seorang tetangga menahannya. "Nyonya Amira sudah dibawa ke ambulans. Dia berhasil keluar lewat jendela belakang."
Saga tertegun. Ia berlari menuju ambulans yang masih terparkir di ujung jalan. Di sana, ia melihat Amira.
Wajah istrinya yang cantik kini dipenuhi noda hitam dan lvka bakar ringan. Tangannya dibalut perban yang sudah mer e mbes d a r ah. Namun, yang membuat langkah Saga membeku bukanlah luka-luka itu, melainkan tatapan mata Amira.
Mata itu tidak lagi sembab oleh tangis. Tidak ada lagi binar cinta atau amarah yang meledak-ledak. Mata Amira kosong, sedalam palung, dan sedingin es yang tidak akan pernah mencair.
"Amira! Ya Allah, maafkan aku," Saga mencoba meraih tangan Amira yang tidak terluka.
"Aku pikir kamu hanya bercanda, aku—"
Amira men a rik tangannya perlahan, gerakannya begitu tenang hingga membuat Saga merasa seperti orang asing yang men ji jikkan.
Amira menoleh ke arah petugas medis tanpa sedikit pun menatap wajah suaminya.
"Tolong bawa saya sekarang," ucap Amira datar.
"Mir, dengarkan aku! Aku menguncimu dari luar karena aku takut kamu mengejarku, aku tidak bermaksud—"
Amira akhirnya menatap Saga. Hanya satu detik. Sudut bi b irnya terangkat membentuk senyum yang begitu tipis, sebuah senyum kematian untuk lima tahun pernikahan mereka.
"Jangan khawatir, Mas," bisik Amira pelan, hampir tak terdengar di tengah keramaian.
"Mulai detik ini, kamu tidak perlu mengunci pintu lagi. Karena ke mana pun kamu pergi, aku tidak akan pernah mengejarmu lagi. Bahkan jika kamu m a t i di depanku sekalipun."
Baca keseruannya di KBM
Judul : Istriku Tak Lagi Cemburu
Penulis : CilokBilu