18/04/2020
Belajar Ekonomi Nasionalis dari Kulonprogo
Hasto Wardoyo, bupati Kulonprogo, Hasti Wardoyo yang seorang dokter spesialis kandungan lulusan Universitan Gadjah Mada ini, seorang yang lincah dalam mengurus wilayahnya. Saking lincahnya, sorot media pun tak menyadari gerakannya itu mesti diinformasikan karena menginspirasi.
Upaya bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo, dalam mengurus daeragnya bertolak belakang dengan pimpinan pusat yang mana mengutamakan impor.
Apa yang terjadi di Kulonprogo saat ini? Teladan dalam Senyap.
Kulonprogo bukanlah daerah yang jadi sorotan media. Bukan kota besar seperti Bandung, Surabaya, apalagi Jakarta. Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo, tak sepopuler Emil. Meski tanpa sorotan Media, Hasto, telah meletakan spirit kemandirian bangsa. Ia mengajak warganya keluar dari kemiskinan dengan kekuatannya sendiri.
Ia memberi teladan dalam senyapnya publikasi serta memulai dengan 'gerakan bela dan beli' Kulonprogo yakni, mengeluarkan kebijakan berpakaian bagi para pelajar dan PNS di wilayahnya. Mereka diwajibkan mengenakan seragam bati geblek renteng, batik khas Kulonprogo, pada hari tertentu.
Ternyata, dari jumlah 80.000 pelajar dan 8.000 PNS, kebijakan ini mampu mendongkrak industri batik lokal. Sentra kerajinan batik tumbuh pesat. Awanya hanya dua, kini menjadi lima puluhan. Hingga akhirnya, ribuan pengrajin batik Kulonprogo, biasanya bekerja di Yogyakarta, kini bekerja di Kulonprogo.
Uang ratusan miliar rupiah dari usaha kecil inipun berputar di Kulonprogo. Puryanto, seorang pengusaha batik di desa Ngentarejo, mengaku omzetnya meningkat bahkan pernah hingga mencapai 500 persen.
Tidak hanya dalam segi berpakaian, Ia pun mewajibkan pada PNS untuk membeli beras [10kg/bulan] hasil produksi petani Kulonprogo.Bahkan beras raskin yang dikelola Bulog setempat, kini menggunakan beras produksi petani Kulonprogo.
Sang Bupati yang juga dokter spesialis kandungan ini membuat PDAM dalam mengembangkan usaha rakyat dengan memprodusi Air kemasan merek AirKu (air Kulonprogo ).
AirKu kini menguasai seperempat ceruk pasar air kemasan di Kulonprogo. Anto, staf setempat, menuturkan, kini jumlah permintaan lebih besar dari produksi. Karena itu, volume produksi AirKu akan segera ditingkatkan.
Selain menyumbangkan PAD, keberadaan air kemasan ini membangkitkan kebanggaan warga setempat dengan mengkonsumsi air produk sendiri.
Dalam membela hak kesehatan rakyat, Ia pun memberlakukam Universal Coverage dalam pelayanan kesehatan. Yakni, Pemkab Kulonprogo menanggung biaya kesehatan warganya Rp. 5.000.000/orang. Untuk mengimbangi program Universal Coverage, RSUD Wates Kulonprogo memberlakukan layanan tanpa kelas. Artinya, ketika kelas 3 penuh, pasien miskin bisa dirawat di kelas 2, kelas 1, bahkan VIP.
Bahkan di Kulonprogo, minimarket tidak diizinkan untuk membuka usaha di wilayahnya, kecuali mau bermitra bersama Koprasi yang bersyarat dan ketentuannya. Salah satu syaratnya menampung produk UKM [...] dan memperkerjakan karyawan dari anggota koprasi. Dan setelah bermitra, penamaannya pun tidak menggunakan nama minimarket tersebut, namun diganti jadi Tomira (Toko Milik Rakyat).
Berbagai kebijakan lewat Program Bela dan Beli, ternyata mampu menurunkan angka kemiskinan di Kulonprogo; Dari 22,54 % pada tahun 2013 menjadi 16,74 % pada tahun 2014 (data Bappeda).
Oh ya, jika Anda ke Kulonprogo, Anda tak akan menemukan papan iklan rokok. Pemerintah Kulonprogo memang menolak sponsor dari perusahaan rokok. Kebijakan ini tentu mengurangi pendapatan daerah. Namun, memimpin daerah bukan cuma soal menggenjot pendapatan tapi, 'menempatkan posisi moral' yang memihak rakyat.
Sumber data: Ahmad Taufik
Penulis: Abah
Editor: Idang
Listen to this episode from Rakyatbekerja on Spotify. Bupati Kulonprogo ini tegas dan tepat sasran dalam menjawab masalah sosial. Ia fokus dalam memberdayakan potensi warganya. Ketika pemerintah pusat sibuk memberi bantuan, Bupati Kulonprogo sibuk mengembangkan kapabilitas warganya. Baginya, bekal u...