Majalah Hidayah

Majalah Hidayah MAJALAH HIDAYAH Sebuah Intisari Islam Arifin Ilham dan KH Ali YAfie. Selama 10 tahun ini kami sudah menjalin silaturahmi yang erat dengan pembaca.

Majalah HIDAYAH merupakan media Islami yang mengangkat kisah-kisah hikmah serta topik dan tema yang memiliki unsur dakwah dan nilai keislaman secara aktual, populer dan bersandar pada rujukan yang kuat dan masyhur. Kami sudah terbit lebih dari 10 tahun dan sudah menyapa pembaca di banyak wilayah tak hanya Indonesia, tapi juga Malaysia, Singapura, Brunei, Hongkong, Cina, bahkan Arab Saudi. Kami men

yajikan rubrikasi Iktibar, Fikih, Tasawuf, Kisah Kitab, Kisah Nabi, Nisa, Alam Gaib, Sains Islam, Masjid, Pesantren, Kisah Sedekah, Kisah Haji, serta konsultasi keagamaan yang diasuh oleh Mamah Dedeh, KH. Terbukti dengan prestasi pernah menjadi majalah terlaris di Indonesia dan menjadi majalah Islam terbaik versi AC Nielsen dan sejumlah penghargaan lainya. Ini adalah fan page resmi Majalah Hidayah. Semoga bermanfaat buat kebaikan dunia dan akhirat.

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan 1437 H. Semoga bulan suci membawa keberkahan dan keindahan untuk kita semua.
05/06/2016

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan 1437 H. Semoga bulan suci membawa keberkahan dan keindahan untuk kita semua.

18/04/2016

Membaca surat al-Fatihah 100 kali setiap hari, menurut alm. KH. Abdul Hamid Pasuruan, akan mendapatkan keajaiban-keajaiban yang tidak terduga. Bacaan ini bisa dicicil dengan membaca 30 kali setelah shalat Shubuh, 25 kali setelah shalat Dzuhur, 20 kali setelah shalat Ashar, 15 kali setelah shalat Maghrib, dan 10 kali setelah shalat Isya.

18/04/2016

Dalam mencari ilmu, Imam Malik rela mengorbankan apa saja. Menurut satu riwayat, beliau sampai menjual tiang rumahnya hanya untuk membayar biaya pendidikannya. Baginya, tak layak seorang mencapai derajat intelektual tertinggi sebelum berhasil mengatasi kemiskinan. Kemiskinan, katanya, adalah ujian hakiki seorang manusia.

20/03/2015

IHWAL PERJODOHAN

Assalamu’alaikum wr. wb.
Kepada Pak Kyai Ali Yafie yang mudah-mudahan dimuliakan Allah swt. Saya gadis (32 tahun) sudah dua kali dijodohkan, tapi selalu gagal karena hati saya selalu berontak dan tidak menerima. Dan untuk ketiga kalinya, saya kembali dijodohkan lagi dengan pria (34 tahun). Pria tersebut sekampung dengan saya. Jadi sudah tahu seluk-beluk keluarga masing-masing. Dengan pria ini, saya merasa tenang. Dia sangat baik. Sayangnya dia sekeluarga tidak menjalankan perintah Allah, seperti shalat dan sebagainya. Pertanyaannya:
1. Bagaimana jika saya menyetujui perjodohan dengannya?
2. Jika pilihan yang diharapkan kurang ideal, sementara usia terus beranjak, apakah salah menerima perjodohan dengan lelaki yang tidak menjalankan agama namun berharap nantinya bisa saling memperbaiki diri dan mengingatkan?
Wassalamu’alaikum wr. wb.
Hamba Allah
Hong Kong

Wa’alaikumsalam wr. wb.
1. Sulit memang mengharapkan calon yang betul-betul ideal. Apalagi dalam masyarakat, perempuan cenderung menunggu datangnya laki-laki. Namun, pilihan Anda terhadap yang terakhir ini sudah cukup baik karena berbagai pertimbangan yang Anda sudah ketahui. Hanya saja, satu yang kurang dari pria terakhir tersebut adalah belum menjalankan perintah agama. Dalam bahasa agama, orang seperti ini --yang tidak menjalankan shalat, tidak puasa, tidak zakat dan sebagainya-- disebut fasik.
Akan tetapi tak mengapa, pilihan yang terakhir ini rasanya yang terbaik di antara pria-pria yang pernah dijodohkan kepada Anda. Kalau Anda berniat untuk mempengaruhi suami Anda saat sudah menjadi suami istri agar nantinya bisa menjalankan perintah agama, niat ini sudah terbilang mulia dan insya Allah dihargai oleh Allah swt. Mengenai berhasil atau tidaknya upaya yang Anda lakukan untuk memperbaiki diri, itu soal lain.
2. Dengan niat baik ini, Anda bisa menerima perjodohan itu. Allah swt. tentu sangat menghargai upaya Anda terlebih lagi jika harapan Anda agar suami taat beribadah, menjalankan perintah Allah menjadi kenyataan. Namun jika kemudian hari jadi menikah dan sudah berusaha cukup lama untuk menjalankan perintah Allah swt., namun kenyataannya tak berhasil, Anda pun bisa mengajukan gugatan cerai ke pengadilan jika keberatan terhadap suami Anda yang tetap tidak mau menjalankan perintah-Nya.
[Arsip Konsultasi Fiqih Edisi 103]

16/03/2015

MENCELA WAKTU.

“Kita sering mencela zaman, padahal zaman tidak bersalah. Kitalah sesungguhnya yang salah. Kita telah menyalahgunakan zaman.”
[Imam Syafi’i]

16/03/2015

TUHAN TAK ADIL?

“Betapa anehnya kau marah kepada Tuhanmu; menyalahkan-Nya, menganggap-Nya tak adil, menahan rezeki, dan tak menjauhkan musibah. Tidakkah kau tahu bahwa setiap kejadian ada waktunya, dan setiap musibah ada akhirnya?” [Syekh Abdul Qadir Al-Jailany]

16/03/2015

YANG BERILMU

“Aku melihat pemilik ilmu itu akan mulia, meskipun ia dilahirkan di tengah keluarga yang buta huruf. Ilmu selalu dapat mengangkat derajat pemiliknya, sehingga semua orang mulia menghormatinya.” [Imam Syafi’i]

13/03/2015

Musik Sebagai Terapi Pengobatan Islam

Seni musik yang berkembang pesat di era keemasan Islam tidak hanya sekedar mengandung unsur hiburan. Para musisi Islam legendaris seperti Abu Yusuf Yaqub ibnu Ishaq al-Kindi (801-873 M) dan al-Farabi (872-950 M) menjadikan musik sebagai alat pengobatan atau terapi. Al-Kindi adalah psikolog muslim pertama yang mempraktikkan terapi musik. Pada abad ke-9 M, ia menemukan adanya nilai-nilai pengobatan pada musik. Al-Kindi atau Al-Kindus merupakan ilmuwan jenius yang hidup di era kejayaan Islam Baghdad.[Uup]
[Arsip Tahukah Anta 97]

13/03/2015

Shalat Terakhir

Isam bin Yusuf adalah seorang ahli ibadah yang terkenal wara’ dan khusyuk dalam shalat. Tetapi, dia selalu merasa bahwa apa yang dia lakukan itu tak cukup untuk membuatnya hidup tenang dan tentram. Isam selalu dihantui perasaan gelisah; ia ragu kalau-kalau ibadahnya itu tidak seperti yang ia harapkan. Dia pun selalu bertanya pada orang yang dianggapnya khusuk dalam shalat, dengan tujuan untuk memperbaiki shalatnya yang selalu dirasa kurang sempurna.
Suatu hari, dia datang ke majelis seorang abid yang bernama Hatim Al-Isam. Dalam kesempatan itu, ia bertanya: "Bagaimana caranya tuan mendirikan shalat?"
Hatim menjawab dengan santun, "Apabila masuk waktunya shalat, aku wudhu dengan wudhu zahir dan batin."
"Bagaimana cara melakukan wudhu zahir dan batin itu?" tanya Isam lebih jauh.
"Wudhu zahir itu sebagaimana biasa, membasuh semua anggota wudhu dengan air. Sedang wudhu batin itu membasuh anggota dengan tujuh perkara, yakni; taubat, menyesali dosa yang dilakukan, tidak tergila-gila dunia, tidak mencari atau mengharap pujian dari orang (riya’), meninggalkan sifat berbangga, meninggalkan sifat khianat atau menipu dan yang terakhir neninggalkan sifat dengki.
“Kemudian aku pergi ke masjid, bersiap shalat dan menghadap kiblat. Aku berdiri penuh kewaspadaan. Aku bayangkan Allah ada di hadapanku, surga di sebelah kananku, neraka di sebelah kiriku, malaikat maut di belakangku. Aku bayangkan p**a bahwa aku seolah-olah berdiri di atas titian ‘Shiratul Mustaqim’. Aku menganggap shalatku kali itu adalah shalat terakhirku, kemudian aku niat dan bertakbir dengan baik,” terang Hatim.
Isam terdiam, mendengarkan penuh perhatian.
“Setiap bacaan dan doa dalam shalatku itu aku pahami maknanya, kemudian aku ruku’ dan sujud dengan tawadhu. Aku bertasyahud dengan penuh pengharapan dan aku salam dengan ikhlas. Begitulah aku menunaikan shalat selama 30 tahun," lanjut Hatim.
Setelah mendengar penjelasan Hatim, Isam tiba-tiba menitikkan air mata. Isam sedih, karena dia tahu bahwa ibadahnya kurang baik dibandingkan dengan Hatim.
Kisah di atas sejatinya menyadarkan kita bahwa untuk bisa mencapai tingkat shalat khusuk sebagaimana yang dikerjakan Hatim selama 30 tahun memang tidak gampang. Pasalnya, mulai dari wudhu hingga shalat berlangsung, ia harus merasakan kehadiran Allah. Bahkan setiap mengerjakan shalat, Hatim selalu beranggapan bahwa shalatnya itu ‘shalat terakhir’, seolah-olah ia akan menemui ajal.
Dengan menjadikan setiap shalat yang dikerjakan itu sebagai shalat terakhir, tak mustahil kalau shalat itu bisa menjadi bentuk kepasrahan seorang hamba secara total kepada Allah. Tak ada yang diharapkan kecuali keridhaan Allah. Tak ada yang dibutuhkan kecuali keinginan bertemu Allah. Tak ada hal dunia yang dapat mengusik ketenangan hati, karena shalat itu akan menjadi shalat terakhir.
Dengan cara demikian, shalat tidak hanya sekadar gerakan tubuh, tapi dialog langsung antara hamba dengan Sang Khalik hingga tak ada balasan yang direngkuh kecuali ampunan Allah dan ketenangan hati. (lihat QS. al-Baqarah [2]:45 dan QS. al-Mukminun: 1-2 dan QS. al-Ma'arij: 19-23).
Oleh karena itu, sudahkah kita menjadikan setiap shalat yang kita kerjakan sebagai shalat terakhir? [N. Mursidi/arsip Tazkirah 97]

11/03/2015

Kenapa Nabi Menganjurkan Makan dengan Tangan Kanan?

Marilah kita merujuk hadits dalam Shahih Muslim. Dari Ibnu Umar disebutkan bahwa Nabi bersabda, “Jika seseorang makan, maka hendaklah makan dengan tangan kanannya, dan jika dia minum, maka hendaklah dia minum dengan menggunakan tangan kanannya. Sebab, setan makan dan minum dengan menggunakan tangan kirinya.” Dalam Musnad Ahmad disebutkan p**a bahwa Rasulullah bersabda, “Jika seseorang makan menggunakan tangan kirinya, maka setan pasti ikut minum bersamanya. Dan jika ia minum dengan tangan kirinya, pasti setan ikut makan bersamanya.”
[Arsip Tahukah Anta edisi 109]

09/03/2015

Doa Rasulullah saw:

Ya Allah, masukkanlah rasa bahagia kepada penghuni kubur…
Ya Allah, kayakanlah semua orang-orang miskin…
Ya Allah, kenyangkan orang-orang yang lapar…
Ya Allah, berilah pakaian orang-orang yang telanjang…
Ya Allah, bayarkan hutang orang-orang yang berhutang…
Ya Allah, bebaskan kesulitan orang yang mendapat kesulitan…

09/03/2015

BAGAIMANA HUKUM BERDAGANG DI LAHAN YANG DILARANG PEMERINTAH?

Assalamu’alaikum wr. wb.
Yang saya hormati Bapak KH. Ali Yafie. Banyak orang berdagang di tanah trotoar, stasiun dan lahan-lahan yang dilarang oleh pemerintah. Banyak orang juga digusur karena dianggap mengotori keindahan kota. Mereka memanfaatkan ruang-ruang terbuka yang harusnya terbebas dari pedagang-pedagang kaki lima. Tapi sisi lain, mereka butuh makan, mereka terpaksa memanfaatkan tempat-tempat tersebut untuk sekedar memenuhi kebutuhan sehari-hari karena kemiskinannya. Sementara dalam Undang-Undang, pemerintah berkewajiban memberikan kesejahteraan kepada rakyatnya. Bagaimana Pak Kyai melihat fenomena semacam ini? Apakah praktik-praktik semacam itu dibolehkan agama?
Atas perhatiannya, saya ucapkan banyak terima kasih.
Wassalamu’alaikum wr. wb.

May
Bekasi Utara

Wa’alaikumsalam wr. wb.
Memang pada dasarnya orang tidak bisa berdagang, mencari nafkah di tempat-tempat miliknya atau tempat-tempat umum yang tidak dibolehkan. Tapi keadaan kita sekarang ini rumit. Karena seharusnya pemerintah berkewajiban mencarikan lapangan pekerjaan kepada rakyatnya (fardhu kifayah), termasuk ruangan kerja harus dipenuhi. Bila tidak dipenuhi berarti kedua-duanya salah. Rakyat menerobos dengan menggunakan lahan-lahan terlarang untuk berdagang, sementara pemerintah juga salah karena tidak memberikan lapangan pekerjaan seluas-luasnya kepada rakyat. Bukan rakyat benar, tetapi pemerintah juga salah. Ini masalah rumit terutama di negara-negara miskin dan baru berkembang, kalau di negara-negara maju, kejadian seperti ini kemungkinan kecil tidak ada. Semuanya teratur, karena pemerintah menyediakan ruang kerja dengan baik. Kalau negara-negara berkembang seperti di Indonesia, memang serba susah.
Hasil dari berdagang tersebut termasuk syubhat. Artinya status upah tersebut belum jelas kehalalannya dan menimbulkan keraguan dalam hati.
[Arsip Hidayah edisi 94]

Address

Jalan Transyogi Alternatif Cibubur KM 6, Senkom Amsterdam Kota Wisata Cibubur
Cibubur
16968

Telephone

+622184932194

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Majalah Hidayah posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Majalah Hidayah:

Share

Category