syifa.cute

syifa.cute Hello terimakasih supportnya🙏

GAJI Rp100.000, NAIK Rp5.500 JADI TOTAL GAJI IBU AKSAMINA Rp105.500 Aksamina merupakan guru honorer di SD, beliau sudah ...
01/09/2025

GAJI Rp100.000, NAIK Rp5.500 JADI TOTAL GAJI IBU AKSAMINA Rp105.500

Aksamina merupakan guru honorer di SD, beliau sudah mengajar selama 24 tahun. Banyak s**a dan duka yang dialami Ibu Aksamina mengenai perjuangan seorang guru.

"Kita terima apa adanya yang ada disini, gaji juga masih kurang sekali" ujarnya.

Gaji awal Ibu Aksamina mengajar disana hanya Rp100.000, kemudian sampai sekarang baru naik gaji Rp5.500 jadi total gajinya Rp105.500

Walaupun dengan gaji Rp105.500 Ibu Aksamina tetap bersyukur pada Tuhan, walaupun sedikit bisa dipakai untuk kebutuhan sehari-hari.

"Sedih, kalau saya cerita tentang ini" tambahnya.

"Hadapi saya", tapi dianya kabur, ga abis pikir 🤭
31/08/2025

"Hadapi saya", tapi dianya kabur, ga abis pikir 🤭

Akhirnya Presiden kita, Pak Prabowo, muncul dengan pernyataan:“Saya sudah perintahkan insiden tadi malam diusut secara t...
30/08/2025

Akhirnya Presiden kita, Pak Prabowo, muncul dengan pernyataan:

“Saya sudah perintahkan insiden tadi malam diusut secara tuntas dan transparan”

“Mohon percaya dengan pemerintah yang saya pimpin..… kita akan menjadi bangsa yang hebat dan kuat...”

Sumpah.. saya percaya sama Bapak!
Tapi pejabat Bapak dan seluruh jajaran Bapak gimanaa? Dan sayangnya gak ada satu pun dari kalimat itu yang benar-benar menyentuh inti permasalahan yang menjadi pemicu demonstrasi massal dan tragedi nyawa ojol yang melayang baru-baru ini..

Ini loh Pak yang mau dibahas:

1. Sahkan RUU Perampasan Aset untuk pemberantasan korupsi agar koruptor tidak hanya dihukum tetapi asetnya dikembalikan ke rakyat dan buat mereka jatuh miskin!!

2. Hentikan PHK massal dan bentuk Satgas PHK untuk melindungi pekerja dari pemecatan tanpa kejelasan..

3. Reformasi pajak perburuhan termasuk menaikkan PTKP menjadi sekitar Rp 7,5 juta/bulan, menghapus pajak atas THR, pesangon, JHT, dan diskriminasi pajak terhadap pekerja perempuan menikah..

4. Sahkan RUU Ketenagakerjaan baru tanpa Omnibus Law, selaras dengan putusan MK agar regulasi ketenagakerjaan lebih pro-rakyat  .

5..Hapus sistem outsourcing dan tolak upah murah.

6. Revisi RUU Pemilu untuk mendesain ulang sistem pemilu 2029 yang lebih adil dan transparan  .

7. Potong tunjangan mewah anggota DPR di tengah upah rakyat yang rendah.. fasilitas para wakil rakyat dinilai berlebihan dan memicu kemarahan publik Pak..

8. Dll..

Rakyat tidak menolak impian menjadi bangsa yang kuat dan dihormati dunia. Tapi sebelum mewujudkannya… keadilan, kesejahteraan, dan perlindungan sosial wajib didahulukan..
Pidato soal “percaya pemerintah” dan “bangun bangsa hebat” tidak ada salahnya jika disertai tindakan nyata yang menyentuh akar persoalannya..

Tanpa itu, kata-kata mulia akan terdengar hampa Pak. Rakyat sedang kecewa, marah dan terluka.. jawab keresahan kami Pak..

Menolak lupa bahwa ini bukan antara rakyat dan Brimob...

Prestasi😒
29/08/2025

Prestasi😒

10.Selama ini Amara mempercayakan perusahaannya pada Erland. Sejak dia memutuskan fokus menjalani pengobatan, Amara resm...
28/08/2025

10.

Selama ini Amara mempercayakan perusahaannya pada Erland. Sejak dia memutuskan fokus menjalani pengobatan, Amara resmi mundur dari jabatan utama di perusahaan keluarganya. Toh, Erland juga suaminya. Kalau kemungkinan buruk terjadi, dia meninggal dunia misalnya, maka Erlandlah yang akan mewarisi seluruh harta kekayaannya. Amara ikhlas.

Tadinya.

Begitu memasuki lobi, beberapa karyawan yang baru datang terkejut dan refleks membungkuk. Tidak ada penyambutan oleh petinggi kantor, karena Amara memang memutuskan datang mendadak. Amara berjalan lurus menuju lift khusus eksekutif. Setelah itu dia langsung masuk ke ruangan CEO yang kini dipangku oleh Erland.

"Loh, Bu Amara .... " Kiara yang tadinya duduk sambil memoles lipstik di bibir seksinya buru - buru berdiri menyambut Amara. Perempuan yang masih betah melajang itu kemudian melongokkan kepala di balik punggung Amara mencari keberadaan orang lain. "Sendirian, Bu? Pak Erland ke mana?"

"Iya, sendiri. Saya mau ke dalam dulu," jawab Amara lalu masuk ke dalam ruangan.

Kiara berdiri canggung. Dia tidak punya hak melarang Amara, tetapi membiarkan perempuan itu masuk juga terasa salah. Akhirnya yang bisa dia lakukan adalah buru - buru menghubungi Erland.

"Mas, si Amara pagi - pagi udah datang ke kantor. Aku, kan, gak bisa halangin dia masuk," lapor Kiara sebal.

"Iya, aku tahu. Biarin aja. Ini juga on the way ke kantor. Amara sedang apa?" Erland mengetuk - ngetukkan jarinya di tepi jendela mobil yang melaju cukup kencang.

"Lagi baca laporan keuangan enam bulan ke belakang. Dia ngapain, sih, kayak gitu? Mau jadi CEO lagi? Kalau dia jadi CEO, Mas Erland gimana? Turun jabatan gitu? Terus aku gimana?" Kepanikan begitu terasa dari nada suara Kiara.

"Kamu berisik banget. Aku pusing. Satu jam lagi aku sampai." Erland dengan sadis menutup panggilan teleponnya tanpa menunggu persetujuan sekretaris sekaligus kekasih gelap yang selama ini selalu menghangatkan ranjangnya.

Kiara langsung cemberut dan hanya bisa menggerutu di meja kerjanya.

Sementara itu di dalam ruangan, Amara begitu fokus membaca laporan keuangan perusahaan. Sesekali dia mengangguk melihat kinerja Erland yang tergolong memuaskan. Laba perusahaan naik, dan Erland juga sedang menggarap bisnis baru di bidang kecantikan.

Puas melihat laporan keuangan, Amara jadi ingat satu hal. Dia mengambil ponsel dari dalam tas dan mengetikkan nama Rachel pada pencarian kontak.

"Rachel ini aku" Tulis Amara. Setelah menekan tombol send, Amara menunggu respon dari sahabat lamanya itu. Senyum di wajahnya terbit setelah melihat centang abu berubah menjadi biru.

"Siapa, ya? Kita kenal?" Balasan dari Rachel membuat Amara tertawa pelan. Sahabatnya itu pasti masih sakit hati.

"Ketemuan boleh? Kamu bebas mengatai dan caci maki aku di sana. Sampai puas." Tulis Amara lagi.

"Tawaran menarik. Oke."

Amara lalu mengetikkan alamat kafe yang lokasinya berada tak jauh dari gedung kantor Amara. Setelah itu, dia segera bangkit dan bersiap untuk bertemu dengan Rachel.

"Bu Amara, mau ke mana? Enggak tunggu Pak Erland dulu? Katanya beliau udah di jalan." Kiara berdiri dan menyambut Amara yang keluar dari ruang CEO.

"Mau ke depan." Amara menjawab pendek. Dia merasa tidak perlu menjelaskan kegiatannya pada sekretaris Erland itu. Kiara mengangguk dan mengantarkan Amara hingga ke muka lift.

Amara yang berjalan satu langkah di depan kemudian berhenti dan mengamati lekat - lekat penampilan Kiara dengan rok pendek dan kemeja ketatnya. Kiara menjadi rikuh dan menarik ujung roknya agar lebih menutupi paha mulusnya.

"Kamu selalu berpakaian gini, Kia? Pas ketemu klien juga?" tegur Amara dengan tatapan ji jik. "Diubah, ya? Aku gak mau perusahaan kita dinilai negatif karena pegawainya berpakaian seronok begini. Pela cur juga insecure kayaknya liat kamu begini."

Kiara menunduk sambil menggigit bibirnya menahan kesal. Saat Amara menghilang dari balik pintu lift, Kiara langsung mengumpat dan menyumpahi Amara agar perempuan itu cepat dipanggil Tuhan.

*

Coffee shop ini dulu menjadi tempat nongkrong Amara dan Rachel. Mereka s**a sekali dengan racikan kopi Americano sang barista dan roti cinnamon rollsnya. Sejak hubungan keduanya renggang, Amara hampir tidak pernah menginjakkan kaki di tempat ini.

Amara tentu saja tiba lebih dulu. Sambil menunggu Rachel datang, Amara memesan satu gelas Americano dan roti cinnamons hangat. Ingatan tentang hangat persahabatan dengan Rachel berkelebat di dalam kepala Amara. Lamunan Amara buyar saat Rachel tiba dan berdiri di depan kursinya dengan gaya angkuh. Amara mempersilakan Rachel duduk tepat di depannya.

"Silakan, Chel, maki dan omelin aku sepuasnya. Aku memang salah." Amara membuka percakapan. Matanya sudah terasa panas. Rindu, malu, juga perasaan bersalah karena dulu pernah meragukan niat tulus Rachel menggempurnya jadi satu.

"Memang!" kata Rachel judes. "Kamu perempuan bodoh. Seribu kata - kata cacian yang keluar dari mulutku bahkan tidak sanggup mengobati rasa sakit hati dan kecewaku padamu"

"Maaf." Cuma itu yang bisa Amara katakan dengan kepala menunduk.

"Aku marah sekali sama kamu, Amara. Tapi ... aku juga kangen kamu." Suara Rachel yang serak membuat Amara mengangkat wajah dan menatap sahabatnya itu.

"Kayaknya aku yang lebih bodoh, karena masih merindukan sahabat yang jahat kayak kamu." Bola mata Rachel sudah berkaca - kaca. Wajahnya sudah tidak seangker waktu dia datang tadi.

Hati Amara gerimis mendengar pengakuan Rachel. Impulsif dia berdiri dan memeluk sahabatnya itu sambil menangis. "Maaf, Rachel. Maaf. Aku yang salah!"

Rachel menepuk punggung Amara lembut menenangkan. Setelah Amara menguraikan pelukannya, Rachel tersenyu hangat dan mengusap p**i Amara yang basah. "Kamu kenapa kurus begini? Enggak dikasih makan Erland kamu?"

Amara tertawa pelan. Dia lalu menceritakan kejadian waktu koma dan apa yang dia dengar dari mulut Erland dan mamanya.

"Bang* memang mereka!" maki Rachel emosi. "Lingkungan kamu toksik banget, Mara!"

Amara mengangguk dan menyatakan niatnya untuk segera berpisah dari Erland. Dia ingin Rachel mengirimkan foto perselingkuhan Erland yang dulu pernah dikirimkan padanya. Rachel meyanggupi dan berjanji akan mencarikan file itu di laptopnya yang ada di rumah.

Puas mengobrol dan melepas rindu, Amara dan Rachel memutuskan kembali ke kantornya masing - masing.

Tubuh Amara sebenarnya sudah terasa lemas akibat hari ini tidak mengkonsumsi vitamin hariannya. Belum lagi emosinya yang terkuras setelah curhat pada Rachel. Ingin rasanya dia langsung pulang ke rumah saja. Akan tetapi dia ingat janji akan menunggu Ray di kantor.

Dengan sisa tenaganya, Amara berjalan di trotoar dan menyebrang untuk sampai ke kantornya. Kulitnya yang putih dan sensitif mulai kemerahan terbakar matahari. Dipercepat langkahnya agar segera sampai di ruangannya yang dingin ber - AC.

Amara berada di dalam lift, dan menyandarkan punggungnya. Napasnya juga mulai terasa pendek - pendek. Begitu pintu lift terbuka, terhuyung Amara melangkah di lorong dan hendak berbelok menuju ruangan CEO.

Namun, saat hendak berbelok, Amara mendapati pemandangan mengejutkan di depan ruangan itu. Amara kembali mundur bersembunyi di balik dinding, merogoh tasnya dan mengeluarkan ponsel miliknya.

Dengan tangan gemetar, Amara menekan tombol rekam untuk mengabadikan momen kemesraan Erland dan juga Kiara yang tengah berciuman panas.

"Kayaknya aku enggak perlu bukti dari Rachel lagi," desis Amara dengan senyuman pahit.

Saat dia sedang fokus mengambil gambar, pandangan Amara menggelap karena tertutup telapak tangan yang menutupi kedua matanya. Tangan Amara yang gemetar memegang ponsel juga terasa digenggam hingga pegangannya pada ponsel menjadi lebih stabil. Refleks Amara menoleh dan mendapati Ray berdiri tepat di belakangnya.

"Biar aku yang rekam, kamu jangan lihat lagi," bisik Ray di telinga kiri Amara. Jarak meereka begitu dekat, hingga Amara bisa merasakan embusan napas Ray yang panas di tengkuknya.

***

Penulis: Kalishgan
Judul: Amarantha (Dendam sang Pewaris)

Kakak Ipar Rasa Suami♥️♥️♥️♥️Bab 1"Uweekkk!!!" Aku mual m u n tah, saat membersihkan k o to r an Mas Ziyan yang bercecer...
27/08/2025

Kakak Ipar Rasa Suami

♥️♥️♥️♥️

Bab 1

"Uweekkk!!!"

Aku mual m u n tah, saat membersihkan k o to r an Mas Ziyan yang berceceran di lantai karena jatuh dari P a mp ers.

"Uweeekkk!!"

Aku hendak m unt ah lagi, sebab bau k o to r an orang dewasa benar-benar b u s u k.

"Pakai pewangi cepetan, Sa! B a u sekali ini!" pekik Mbak Sofia menjauh. Pakaiannya sudah rapi. Bersiap hendak ke kantor.

"Ini sudah aku bersihkan. Tapi b a u sekali, Mbak!" sahutku langsung menyemprotkan pewangi di dalam ruangan.

"Ish. J i j i k sekali aku!" seru Mbak Sofia keluar menjauhi suaminya yang sakit.

Aku yang panas, lantas mengejarnya keluar.

“Mbak, kenapa selalu aku yang harus mengurus Mas Ziyan? Mbak itu istrinya, bukan aku,” protesku, mencoba menahan rasa kesal.

“Ssst. Diamlah, Sabrina. Aku menggaji kamu untuk mengurus lelaki itu. Aku harus bekerja keras untuk biaya pengobatannya,” jawab Mbak Sofia dingin.

“Tapi, Mbak... saat harus mengelap dan membersihkan badan juga anunya, selalu aku yang menyentuhnya,” aku membalas pelan, mencoba melawan perasaan yang berkecamuk. "Harusnya mbak sendiri yang melakukannya."

“Jangan berpikir macam-macam! Anggap saja dia pasienmu, bukan kakak iparmu. Aku percaya sama kamu karena kamu adikku. Kalau orang lain, aku nggak yakin mereka akan menjaga batas. Sudah, Sa, lakukan saja tugasmu. Aku sibuk!”

"Tapi, mbak. Apa aku berdosa?"

"Nggak usah pikirkan dosa dulu. Kamu urus aja dia. Masalah kamu pegang-pegang punya dia, anggap saja kamu seperti m e ny e ntuh suami sendiri."

Aku terkejut mendengar kata Mbak Sofia. Kenapa dia bicara begitu?

"Mbak?"

"Sudah. Laksanakan apa kataku."

Dengan langkah cepat dan ekspresi tak terbaca, Mbak Sofia melajukan mobilnya keluar. Hanya aku dan Mas Ziyan yang tersisa di rumah besar ini.

Aku m e n d es*h panjang. Kehidupanku seperti terhenti semenjak lulus sekolah. Masa gadisku tergerus habis karena mengurus Mas Ziyan yang hanya terbaring tanpa daya. Bahkan sudah lebih dari satu tahun aku hidup dalam rutinitas merawat orang koma.

Tiba-tiba, suara deru mobil kembali terdengar dari depan rumah. Aku menoleh dan mendapati seorang pria turun dari mobil.

Pak Dokter spesialis yang menangani Mas Ziyan muncul dengan langkah tenang. Dia membawa tas dokternya sambil tersenyum tipis.

“Selamat pagi, Sabrina. Bagaimana kondisinya hari ini?” tanyanya.

Aku mengangguk sopan. “Masih sama, Pak Dokter. Nggak ada perubahan.”

Dia menghela napas, pandangannya mengarah ke kamar tempat Mas Ziyan dirawat. “Baiklah, mari kita lihat keadaannya.”

Aku mengikuti langkahnya menuju kamar, mencoba mengabaikan rasa tidak nyaman yang muncul setiap kali melihat wajah Mas Ziyan. Namun, hari itu terasa berbeda. Ketika dokter memeriksa denyut nadinya, mata Mas Ziyan perlahan terbuka, meski hanya sedikit.

“Pak Dokter ... dia sadar?” tanyaku, nyaris tak percaya.

Dokter tersenyum kecil, "Doakan saja, ya."

Mendengarnya, hatiku benar-benar bahagia. Semoga saja Kakak iparku segera pulih agar aku tak lelah lagi mengurusnya.

"Syukurlah ...." Aku menjawab.

"Iya. Tetap berikan dia obatnya agar Pak Ziyan segera sembuh," pesan Pak Dokter pribadi Mas Ziyan sebelum beranjak pergi. "Tapi... ada yang aneh sebenarnya. Kenapa Pak Ziyan lama sekali koma, ya? Harusnya dia sudah menunjukkan kemajuan."

Aku mengernyit, memandangnya dengan bingung. "Apanya yang aneh, Dok?"

Pak Dokter menghela napas. "Entahlah. Saya juga bingung. Obatnya tetap diminum, kan?"

"Tetap, Dok. Setiap hari, sesuai jadwal yang Bapak berikan," jawabku cepat.

Dia mengangguk, meski sorot matanya tampak ragu. "Baiklah. Kalau begitu, lanjutkan seperti biasa. Kalau ada perubahan sekecil apa pun, segera kabari saya."

"Baik, Dok," jawabku sambil tersenyum tipis. Setelah dia membereskan alat-alat kedokterannya, aku mengantar pria tinggi berjas putih itu hingga ke pintu depan.

Setelah mobilnya melaju pergi, aku kembali ke kamar Mas Ziyan. Hening menyambutku. Kamar ini selalu terasa dingin, entah karena suhu ruangan atau suasananya yang menyeramkan.

Aku duduk di sisi ranjangnya, menatap t u b uh Mas Ziyan yang tampak semakin kurus dan pucat. Jam segini biasanya adalah waktuku untuk membersihkan t u b u h n ya. Namun, tanganku selalu gemetar setiap kali melakukannya.

Aku meraih lap basah yang sudah kusiapkan di baskom kecil. Perlahan, aku mulai mengelap t u b u hnya, berusaha sebaik mungkin menjaga rasa hormatku pada pria yang seharusnya dirawat oleh istrinya sendiri.

Namun, istrinya ....

Mbak Sofia lebih sering sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan, pernah dalam tiga hari, dia tidak pulang sama sekali. Katanya dia ada urusan ke luar kota. Entah apa yang dia lakukan.

Saat aku mengusap tangannya yang dingin, tatapanku terhenti pada sesuatu yang aneh di kulitnya. Ada bintik-bintik kecil yang sebelumnya tidak pernah kulihat. Jantungku berdebar.

“Mas Ziyan, kenapa dengan tanganmu?” bisikku pelan, meski aku tahu dia tidak akan menjawab.

Aku mencoba mengabaikan perasaan ganjil itu dan melanjutkan membersihkan t u buhnya. Namun, pikiranku terus berputar pada kata-kata Pak Dokter tadi: Kenapa dia lama sekali koma?

Apakah ada sesuatu yang salah?

Aku mencoba menepis segala prasangka buruk, memaksa diriku mengabaikan perasaan ganjil yang terus mengusik hati. Mungkin ini hanya lelah... mungkin semuanya hanya kebetulan, pikirku, mencoba meyakinkan diri.

Setelah memastikan t u bu h Mas Ziyan bersih, aku mengambil handuk kecil untuk mengeringkan setiap inci kulitnya. Bahkan, saat harus membersihkan bagian sensitifnya, aku melakukannya dengan mata terpejam dan tangan bergetar.

"Ampuni dosaku, Ya Allah," gumamku lirih, mencoba melawan perasaan canggung yang selalu muncul saat harus menjalani tugas ini.

Setelah selesai, aku mengumpulkan tisu bekas yang basah ke dalam kantong plastik kecil dan membuangnya ke tong sampah di sudut ruangan. Namun, pandanganku tiba-tiba tertuju pada sebuah bungkus plastik berwarna putih yang terselip di dasar tong.

Mataku membelalak. Apa ini?

Bersambung ....

Judul: Kakak Ipar Rasa Suami
Penulis: Linda M

Tumbuhan masa kecil dulu 😍
26/07/2025

Tumbuhan masa kecil dulu 😍

Address

Jalan Tengku Uma No 12
Cikarang 3
6212

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when syifa.cute posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category