27/08/2025
Kakak Ipar Rasa Suami
♥️♥️♥️♥️
Bab 1
"Uweekkk!!!"
Aku mual m u n tah, saat membersihkan k o to r an Mas Ziyan yang berceceran di lantai karena jatuh dari P a mp ers.
"Uweeekkk!!"
Aku hendak m unt ah lagi, sebab bau k o to r an orang dewasa benar-benar b u s u k.
"Pakai pewangi cepetan, Sa! B a u sekali ini!" pekik Mbak Sofia menjauh. Pakaiannya sudah rapi. Bersiap hendak ke kantor.
"Ini sudah aku bersihkan. Tapi b a u sekali, Mbak!" sahutku langsung menyemprotkan pewangi di dalam ruangan.
"Ish. J i j i k sekali aku!" seru Mbak Sofia keluar menjauhi suaminya yang sakit.
Aku yang panas, lantas mengejarnya keluar.
“Mbak, kenapa selalu aku yang harus mengurus Mas Ziyan? Mbak itu istrinya, bukan aku,” protesku, mencoba menahan rasa kesal.
“Ssst. Diamlah, Sabrina. Aku menggaji kamu untuk mengurus lelaki itu. Aku harus bekerja keras untuk biaya pengobatannya,” jawab Mbak Sofia dingin.
“Tapi, Mbak... saat harus mengelap dan membersihkan badan juga anunya, selalu aku yang menyentuhnya,” aku membalas pelan, mencoba melawan perasaan yang berkecamuk. "Harusnya mbak sendiri yang melakukannya."
“Jangan berpikir macam-macam! Anggap saja dia pasienmu, bukan kakak iparmu. Aku percaya sama kamu karena kamu adikku. Kalau orang lain, aku nggak yakin mereka akan menjaga batas. Sudah, Sa, lakukan saja tugasmu. Aku sibuk!”
"Tapi, mbak. Apa aku berdosa?"
"Nggak usah pikirkan dosa dulu. Kamu urus aja dia. Masalah kamu pegang-pegang punya dia, anggap saja kamu seperti m e ny e ntuh suami sendiri."
Aku terkejut mendengar kata Mbak Sofia. Kenapa dia bicara begitu?
"Mbak?"
"Sudah. Laksanakan apa kataku."
Dengan langkah cepat dan ekspresi tak terbaca, Mbak Sofia melajukan mobilnya keluar. Hanya aku dan Mas Ziyan yang tersisa di rumah besar ini.
Aku m e n d es*h panjang. Kehidupanku seperti terhenti semenjak lulus sekolah. Masa gadisku tergerus habis karena mengurus Mas Ziyan yang hanya terbaring tanpa daya. Bahkan sudah lebih dari satu tahun aku hidup dalam rutinitas merawat orang koma.
Tiba-tiba, suara deru mobil kembali terdengar dari depan rumah. Aku menoleh dan mendapati seorang pria turun dari mobil.
Pak Dokter spesialis yang menangani Mas Ziyan muncul dengan langkah tenang. Dia membawa tas dokternya sambil tersenyum tipis.
“Selamat pagi, Sabrina. Bagaimana kondisinya hari ini?” tanyanya.
Aku mengangguk sopan. “Masih sama, Pak Dokter. Nggak ada perubahan.”
Dia menghela napas, pandangannya mengarah ke kamar tempat Mas Ziyan dirawat. “Baiklah, mari kita lihat keadaannya.”
Aku mengikuti langkahnya menuju kamar, mencoba mengabaikan rasa tidak nyaman yang muncul setiap kali melihat wajah Mas Ziyan. Namun, hari itu terasa berbeda. Ketika dokter memeriksa denyut nadinya, mata Mas Ziyan perlahan terbuka, meski hanya sedikit.
“Pak Dokter ... dia sadar?” tanyaku, nyaris tak percaya.
Dokter tersenyum kecil, "Doakan saja, ya."
Mendengarnya, hatiku benar-benar bahagia. Semoga saja Kakak iparku segera pulih agar aku tak lelah lagi mengurusnya.
"Syukurlah ...." Aku menjawab.
"Iya. Tetap berikan dia obatnya agar Pak Ziyan segera sembuh," pesan Pak Dokter pribadi Mas Ziyan sebelum beranjak pergi. "Tapi... ada yang aneh sebenarnya. Kenapa Pak Ziyan lama sekali koma, ya? Harusnya dia sudah menunjukkan kemajuan."
Aku mengernyit, memandangnya dengan bingung. "Apanya yang aneh, Dok?"
Pak Dokter menghela napas. "Entahlah. Saya juga bingung. Obatnya tetap diminum, kan?"
"Tetap, Dok. Setiap hari, sesuai jadwal yang Bapak berikan," jawabku cepat.
Dia mengangguk, meski sorot matanya tampak ragu. "Baiklah. Kalau begitu, lanjutkan seperti biasa. Kalau ada perubahan sekecil apa pun, segera kabari saya."
"Baik, Dok," jawabku sambil tersenyum tipis. Setelah dia membereskan alat-alat kedokterannya, aku mengantar pria tinggi berjas putih itu hingga ke pintu depan.
Setelah mobilnya melaju pergi, aku kembali ke kamar Mas Ziyan. Hening menyambutku. Kamar ini selalu terasa dingin, entah karena suhu ruangan atau suasananya yang menyeramkan.
Aku duduk di sisi ranjangnya, menatap t u b uh Mas Ziyan yang tampak semakin kurus dan pucat. Jam segini biasanya adalah waktuku untuk membersihkan t u b u h n ya. Namun, tanganku selalu gemetar setiap kali melakukannya.
Aku meraih lap basah yang sudah kusiapkan di baskom kecil. Perlahan, aku mulai mengelap t u b u hnya, berusaha sebaik mungkin menjaga rasa hormatku pada pria yang seharusnya dirawat oleh istrinya sendiri.
Namun, istrinya ....
Mbak Sofia lebih sering sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan, pernah dalam tiga hari, dia tidak pulang sama sekali. Katanya dia ada urusan ke luar kota. Entah apa yang dia lakukan.
Saat aku mengusap tangannya yang dingin, tatapanku terhenti pada sesuatu yang aneh di kulitnya. Ada bintik-bintik kecil yang sebelumnya tidak pernah kulihat. Jantungku berdebar.
“Mas Ziyan, kenapa dengan tanganmu?” bisikku pelan, meski aku tahu dia tidak akan menjawab.
Aku mencoba mengabaikan perasaan ganjil itu dan melanjutkan membersihkan t u buhnya. Namun, pikiranku terus berputar pada kata-kata Pak Dokter tadi: Kenapa dia lama sekali koma?
Apakah ada sesuatu yang salah?
Aku mencoba menepis segala prasangka buruk, memaksa diriku mengabaikan perasaan ganjil yang terus mengusik hati. Mungkin ini hanya lelah... mungkin semuanya hanya kebetulan, pikirku, mencoba meyakinkan diri.
Setelah memastikan t u bu h Mas Ziyan bersih, aku mengambil handuk kecil untuk mengeringkan setiap inci kulitnya. Bahkan, saat harus membersihkan bagian sensitifnya, aku melakukannya dengan mata terpejam dan tangan bergetar.
"Ampuni dosaku, Ya Allah," gumamku lirih, mencoba melawan perasaan canggung yang selalu muncul saat harus menjalani tugas ini.
Setelah selesai, aku mengumpulkan tisu bekas yang basah ke dalam kantong plastik kecil dan membuangnya ke tong sampah di sudut ruangan. Namun, pandanganku tiba-tiba tertuju pada sebuah bungkus plastik berwarna putih yang terselip di dasar tong.
Mataku membelalak. Apa ini?
Bersambung ....
Judul: Kakak Ipar Rasa Suami
Penulis: Linda M