10/08/2026
"Bulek, nggak ke rumah sakit?" tanyaku pada Bulek Ndaru yang tiba-tiba datang ke rumah saat aku tengah berkemas.
Rencananya aku akan keluar dari rumah ini dan p**ang ke rumah orang tuaku untuk sementara waktu hingga semua urusan selesai dan aku bisa pindah keluar kota.
Rumah ini sendiri akan kugembok berlapis agar Mas Indra tak bisa masuk. Kunci rumah pun sudah kuganti baru agar dia tak punya akses masuk lagi.
Rumah ini akan kubiarkan kosong menjelang penetapan majelis hakim turun dan aku bisa menjualnya melalui Dina.
"Ke rumah sakit? Ngapain ke sana? Siapa yang sakit?"
"Udah! Kamu nggak usah ngalihin pembicaraan. Bulek cuma mau tanya apa maksud kamu ngirim foto ini ke Bulek kemarin?" lanjut Bulek Ndaru dengan nada mengintimidasi seperti biasanya padaku sembari memperlihatkan foto Mas Indra dan Rani yang sedang dempet kemarin yang kukirim padanya.
Aku tersenyum tipis.
"Bulek kan punya TV dan HP. Masa Bulek nggak bisa lihat sendiri berita soal Mas Indra dan Rani? Mereka saat ini masih berada di rumah sakit karena d3mpet, Bulek! Nggak bisa lepas saat begi-tuan di hotel. Makanya Bulek, nasehatin putri Bulek supaya jangan s**a ganggu suami orang, Begitu kan akibatnya?" kataku sambil tersenyum sinis.
Selama ini aku hampir tak pernah memb4las ucapan Bulek Ndaru dengan lisan yang sama. Aku selalu berusaha menghargainya meski dia tak pernah menghargaiku. Tapi hari ini, entah kenapa kesabaranku rasanya sudah habis. Aku tak bisa lagi mengalah menghadapi s*kap Bulek Ndaru yang selalu menyudutkanku ini.
"Apa katamu? D3mpet? Nggak mungkin! Rani nggak ngomong apa-apa sama Bulek! Kalau dia di rumah sakit, pasti dia udah menghubungi Bulek dari kemarin. Kamu nggak usah bohong!" sergah Bulek lagi tetap tak percaya.
Mendengar perkataan Bulek itu, kali ini aku tertawa lebar.
"Rani nggak menghubungi Bulek karena malu! Nih, coba Bulek lihat sendiri berita di Facebo0ok, di Inst4gram, di Tiktok, semuanya bahas Mas Indra yang ketahuan berbuat asu-sila sama Rani. Makanya Lisa bilang, Bulek buka saja sendiri beritanya supaya Bulek tahu apa yang terjadi sama putri tercinta Bulek sekarang ini. Mudah-mudahan sih saat ini mereka sudah bisa dipisahkan. Tapi kabar buruknya, Lisa sudah melaporkan Mas Indra dan Rani ke kantor polisi!"
"Jadi silahkan Bulek cek sendiri ke rumah sakit! Sudah cukup Lisa mengalah selama ini, Bulek. Kali ini Lisa akan melawan!" ucapku tegas sembari memperlihatkan layar ponselku yang tengah memperlihatkan pemberitaan soal Mas Indra dan Rani, lalu setelah itu gegas membuka pintu lebar-lebar supaya Bulek Ndaru bisa pergi.
"Sekarang Bulek pergi. Kalau nggak, jangan salahkan Lisa berbuat kasar!" ucapku sembari menarik tangannya supaya bersedia keluar dari rumah karena aku masih punya banyak urusan lain yang harus kuselesaikan sekarang juga.
Mendengar ucapanku, Bulek Ndaru tampak tak terima, namun terpaksa keluar juga meski sambil mem-aki, setelah tangannya k*tarik paksa, dan tubuh t4mbunnya sedikit kudorong agar bersedia keluar rumah.
Setelah Bulek Ndaru pergi, aku pun kembali meneruskan packing barang-barangku karena sore ini juga aku hendak kembali untuk sementara waktu ke rumah orang tuaku.
✓✓✓
POV INDRA
"Apa, Dok? Jadi saya... saya imp0ten?" gumamku dengan suara bergetar dan ekspresi tak percaya menatap dokter yang berdiri di depanku.
Dokter itu menganggukkan kepala pelan, lalu menatapku dengan penuh kehati-hatian.
"Tapi ini baru diagnosis awal, Pak Indra. Saya mohon jangan langsung menyimpulkan bahwa kondisinya akan selamanya seperti itu. Saat operasi, kami menemukan adanya c3dera pada sebagian jaringan di area sen-sitif Bapak akibat tekanan dan kondisi yang terjadi sebelum tindakan dilakukan. Jadi mohon Bapak bisa mengerti situasinya."
"Cedera seperti itu pada beberapa pasien bisa memengaruhi fungsi seks-ualnya untuk sementara waktu, tetapi pada sebagian kasus juga dapat berlangsung lebih lama. Untuk itu, untuk memastikan tingkat pemulihannya, kami perlu melakukan kontrol rutin, pemeriksaan lanjutan, serta melihat respons tubuh Bapak selama masa penyembuhan."
"Karena itu, saya menyarankan Bapak mengik*ti seluruh terapi dan pengobatan yang akan kami berikan nanti. Kami berharap kondisinya bisa membaik seiring waktu. Tetapi untuk saat ini kami belum bisa memberikan jaminan kapan fungsi tersebut dapat kembali normal."
Aku hanya mampu menatap dokter itu dengan tatapan penuh rasa kecewa. Begitu p**a Ibu dan Bapak yang ik*t mendengarkan yang juga ik*t kecewa dan terlihat sh0ck.
Setiap kata yang keluar dari mulut dokter itu terasa seperti palu yang mengh4ntam kepalaku bertubi-tubi.
"Jadi... saya belum tentu bisa sembuh, Dok?" tanyaku lirih. Suaraku nyaris tak terdengar.
Dokter itu menarik napas pelan.
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin, Pak. Namun kami juga tidak bisa memberikan harapan yang berlebihan. Yang bisa kami lakukan hanyalah memantau proses penyembuhan Bapak hingga Bapak bisa beraktivitas kembali."
Jantungku serasa berhenti berdetak. Tubuhku mendadak lemas. Tanganku gemetar hingga selimut yang kugenggam ik*t bergetar.
"Kenapa... kenapa bisa begini, Dok?" desisku penuh sesal dan kekecewaan. "Padahal saya berharap dokter dan tim bisa memberikan kesembuhan dan mengembalikan kondisi saya seperti semula. Tapi semuanya malah jadi begini," ucapku penuh rasa kecewa.
Dokter itu hanya menghela napas pelan.
"Kami juga berharap kondisi Bapak bisa pulih seperti semula. Tapi kami juga memiliki keterbatasan, Pak. Apalagi kondisi Bapak sebelum tiba di rumah sakit juga sudah berlangsung cukup lama sehingga menyebabkan tekanan dan gangguan pada jaringan di area tersebut. Jadi tolong jangan menyalahkan kami, karena kami juga sudah berusaha semaksimal mungkin," ucap dokter tersebut tak terima mendengar aku menyalahkan kinerja mereka.
Menyadari kesalahanku itu, aku pun akhirnya hanya bisa mengangguk dan menatap dokter itu dengan tatapan tak berdaya.
"Baiklah, Dok. Jadi... saya benar-benar tidak bisa kembali normal?" tanyaku akhirnya dengan nada suara putus asa.
"Masih ada kemungkinan bisa sembuh lagi karena tubuh setiap pasien memiliki respons yang berbeda-beda, Pak. Tapi untuk sementara, hanya itulah diagnosa yang bisa kami berikan," pungkas dokter di akhir penjelasannya.
Mendengar itu, aku hanya mampu menggigit bi-bir kuat-kuat dan mengepalkan tangan erat-erat.
Ya. Semua ini terjadi karena Lisa! Aku yakin dialah yang sudah menukar krim itu sehingga aku dan Rani bisa mengalami insiden mem4lukan sekaligus memilukan seperti ini.
Untuk itu, selepas keluar dari rumah sakit ini, aku pasti akan segera membuat perhitu-ngan dengannya, batinku penuh amarah.
Aku pun menatap Bapak dan Ibu, selepas dokter keluar ruangan.
"Pak, Bu. Aku yakin semua ini terjadi karena Lisa! Dia yang sudah membuatku jadi begini! Untuk itu selepas keluar dari rumah sakit ini, aku pasti akan bikin perhitu-ngan dengannya, Pak, Bu! Dia bukan saja sudah menguras habis seluruh isi t4bunganku, tapi juga membuatku jadi lelaki tidak normal seperti sekarang ini! Jadi bantu aku untuk balas d3ndam sama Lisa, Pak, Bu! Aku nggak rela dia senang-senang di atas penderitaanku!" ucapku sambil mengepalkan tangan.
Ibu pun ik*t mengepalkan tangan dengan tatapan penuh kebencian.
"Ibu pasti bantu kamu, Ndra! Ibu juga nggak rela dia menikmati semua harta kamu seenaknya! Kalau saja kondisimu tidak harus cepat ditangani seperti tadi, Ibu pasti sudah menemui istri kamu itu untuk memberinya pel4jaran!"
"Jadi kamu cepat sembuh ya, Ndra! Ibu sudah nggak sabar lagi ingin segera membuat perhitun-gan dengannya!" ucap Ibu p**a tak terima.
Begitu p**a Bapak, meski beliau biasanya tak sefrontal Ibu.
"Iya, Ndra. Bapak juga dukung kamu. Kamu sudah capek-capek kerja jadi anggota dewan yang berjuang keras untuk menegakkan keadilan, tapi malah diperlakukan begini sama istrimu sendiri. Kalau begitu lawan dia, Ndra. Tunjukkan kalau kamu mampu. Apalagi kamu punya banyak pendukung dan teman-teman di D , mereka pasti tidak rela rekannya diperlakukan sewenang-wenang seperti ini."
"Oh ya, ngomong-ngomong teman-temanmu mana ya, Ndra? Kok mereka nggak bezuk kamu? Pimpinan dewan dan petinggi partaimu juga kok nggak kelihatan? Apa mereka nggak tahu kamu masuk rumah sakit?"
"Cepat beritahu mereka, Ndra. Sampaikan kalau kamu dirawat di rumah sakit sekarang. Tidak harus memberi tahu detailnya kenapa bisa masuk RS kan? Jadi teman-temanmu tidak akan tahu penyebab kamu masuk RS. Yang penting mereka datang dan memberikan sumbangan," kata Bapak p**a memberi ide.
Aku pun menganggukkan kepala. Ya, kenapa tidak aku memberi tahu rekan-rekanku dan pimpinan dewan kalau aku masuk RS dan butuh bantuan? Toh, mereka tidak akan tahu kenapa aku bisa masuk RS karena rumah sakit pasti tak sembarangan membocorkan identitas pasien dan kondisi medis pasiennya. Apalagi aku dan Rani tak gancet lagi.
Berpikir begitu, aku pun gegas mengambil ponselku, hendak menghubungi rekan-rekanku di dewan dan memberi tahu pimpinan dewan.
Akan tetapi baru saja hendak mengambil ponsel, pintu ruang perawatan di mana saat ini aku berada, tiba-tiba diketuk dan dibuka dari luar lalu beberapa petugas berseragam coklat khas kepol-isian tiba-tiba masuk dengan tatapan penuh selidik sembari mengacungkan surat yang sepertinya surat perintah untuk melakukan pemeriksaan dan penyelidikan.
Baca selengkapnya di KBM APP.
Judul : LEM SUPER GLUE UNTUK SUAMIKU
Penulis : Aura_Aziiz16