Liliana

Liliana KONTEN QUOTES
QUOTES
QUOTES

Cerita kehidupan🥺
12/08/2026

Cerita kehidupan🥺

“Novia punya a nak YA TIM, itu sebabnya aku menikah dengannya, Marsha putri Novia   bu tuh so sok ayah.”“Dia ha us kasih...
11/08/2026

“Novia punya a nak YA TIM, itu sebabnya aku menikah dengannya, Marsha putri Novia bu tuh so sok ayah.”
“Dia ha us kasih sayang seorang ayah.”

Alasan ba si!

Kau pilih JAN DA dan memberikan ge lar itu pada istrimu sendiri.

Kau pilih anak YA TIM, maka kau akan kehilangan dua anakmu, Mas!!

PART 7

"Terima kasih ya Mas."
Aisha tersenyum pada penolongnya hari ini.

Mereka sudah kembali ke tempat Tiara menitipkan mobilnya.

“Sama-sama Mbak,” baalas Kafka dengan senyuman tak kalah manisnya.

Kafka lalu mero goh sa ku ba ju dinasnya.

Ia mengeluarkan sebuah kartu nama.

"Nih.”

“Simpan kartu nama saya, barangkali Mbak Aisha butuh bantuan saya lagi.”

“Saya akan siap membantu kapan saja dan dimana saja.”

Aisha menerimanya.

Alisnya terangkat saat membaca tulisan yang tertera.

Kafka - Damkar Tercepat yang Anda Bu tuhkan

Di bagian bawah tertera nomor telepon dan alamat kantor.

"Damkar terce pat?" beonya.

"Karena pekerjaan saya memang sering datang saat orang lagi pa nik.”

“Mbak bel kapan saja, saya dan mobil saya pasti akan datang.”

"Jangan su n kan," tambah Kafka lagi.

"Siapa tahu nanti ada yang perlu dipa damkan lagi."

Tatapan Kafka penuh arti.

"Terima kasih sekali lagi."

"Sama-sama."

**

Sepanjang perjalanan p**ang, Tiara beberapa kali melirik sahabatnya.

Namun Aisha hanya diam.

Tatapannya ko song menem bus jendela.

"Aish."

"Hm?"

"Kamu baik-baik saja?”

Aisha tersenyum hambar.

"Gak tahu."

"Kamu mau na ngis?"

"Udah gak minat.”

Tiara menggenggam tangan sahabatnya.

"Kamu gak sendirian."

“Aku tinggal mengu atkan hati si kembar, agar mereka ku at menerima co baan ini.”

Membayangkan suaminya bukan lagi suaminya lagi, dan ke dua a naknya bukan lagi prio ritas Ramdan lagi.

Pasti setelah ini, Novia akan memo no po li Ramdan.

Perempuan kedua bukan hanya mere but cinta, tapi juga perhatian dan har ta.

Aku gak akan biarkan dua a nak-a nakku tersa ki ti.
Batin Aisha.

**

Mobil berhenti tepat di depan rumah Aisha.

“Terima kasih atas bantuannya, Tiara.”

“Hubungi aku kapanpun kamu bu tuh, aku lho! Bukan Mas Dam kar yang tampan itu.” Tiara mencoba berkelakar.

Aisha hanya terkekeh.

“Oke.”

Dia baru sadar, lelaki bernama Kafka itu memang tampan.

Mana mungkin dia sempat menga gumi coba?

Aisha turun perlahan.

Rumah yang selama ini dia jaga sepenuh hati kini terasa berbeda.

Seolah rasa ha ngat dan nyaman sudah sir na entah kemana.

Saat pintu dibuka, suara riang langsung menyambutnya.

"Mama p**ang!"

Reno berlari paling dulu.

Disusul Raisa.

Keduanya tampak berse mangat.

"Mana vi deo ca ll-nya, Ma?"

"Iya nih! Katanya hari ini ada ke jutan."

"Gimana hasilnya? Papa mana? Kok Mama p**ang sendiri?”

"Apa Mama dan Papa langsung din ner? Tapi kok ba junya gak gan ti.”

“Mama kok ba u a sem?”

“Ada surp raise apa nih Ma? Papa mana?”

Pertanyaan demi pertanyaan langsung mendera Aisha.

Dari si kembar, Reno dan Raisa.

Mereka sama sekali tidak tahu bahwa ke ju tan yang terjadi hari ini jauh lebih bu ruk daripada yang mereka bayangkan.

Aisha memak sakan senyum.

"Reno, Raisa.”

Aisha mene lan lu dah.

Da danya kembali se sak.

Dia belum siap menceritakan semuanya.

Belum siap melihat hati a nak-a naknya han cur.

"Mama mau man di dulu ya, soalnya kan Mama ba u a sem dan sedikit ca pek."

"Kok wajah Mama.”
Raisa tampak menye lidik.

“Seperti habis na ngis, Mama kenapa?”

Aisha buru-buru menggeleng.

"Enggak, Mama gak apa-apa kok.”

"Bo hong, Mama kayak habis na ngis, Papa mana Ma? Kok gak p**ang sama Mama?"

“Mama izin man di dulu ya, baru Mama cerita nanti.”
“ Oke? Mama ba u a sem nih.”

Reno dan Raisa saling pandang.

Semakin bingung.

Biasanya Aisha akan langsung bercerita apa pun yang terjadi.

Namun kali ini berbeda.

“Jangan pakai lama ya Ma, kami pena saran.”

“Oke.”

Aisha segera masuk ke ka mar.

Begitu pintu tertutup, tu buhnya langsung mero sot ke lantai.

Air mata yang sedari tadi dita han akhirnya ja tuh lagi.

Dia menu tup mu lutnya sendiri agar ta ngisnya tidak terdengar keluar.

Namun rasa sa kit itu tetap meng han cur kan.

“Ya Tuhanku, apa yang harus aku katakan pada a nak-a nakku? Aku gak mau melihat mereka han cur karena kelakuan Papanya.”

**

Satu jam kemudian.

Terdengar suara mobil memasuki halaman.

Reno yang sedang duduk di ruang keluarga langsung berdiri.

"Itu Papa."

Raisa ik*t menoleh.

“Iya Papa, Mungkin Papa p**ang malam, dan Mama sedih kali.”

Segera Raisa membuka pintu.

“Papa?”

Ramdan tak berniat memba las sapaan putrinya, dia langsung masuk.

Wajahnya ge lap.

Langkahnya cepat.

"AISHA!"

Ben takannya membuat Reno dan Raisa terkejut.

“Papa kenapa?”

Seketika Raisa ketak*tan.

Belum pernah dia melihat Papanya sema rah ini.

**

Aisha yang baru keluar ka mar langsung terke jut.

Ia tak menyangka suaminya p**ang hari ini juga.

Dan kedatangannya seperti orang yang ingin melu apkan kema rahan.

Gak salah?

"Kamu pu as sekarang?" ben tak Ramdan.

Aisha mengernyit.

"Kamu pu as memper ma lukan aku di depan semua orang!"

Reno dan Raisa saling pandang.

“Pa, ada apa?"

Ramdan menunjuk Aisha.

"Tanya Mamamu! Hari ini perbuatannya sama sekali mirip orang ku rang wa ras!"

Aisha mulai merasa tidak e nak.

Apa dia bilang, ku rang wa ras? Sebenarnya yang kurang wa ras siapa?

"Mas, jangan di depan a nak-a nak."

"Kenapa? Tak*t mereka tahu?"

"Mas!"

Namun Ramdan sudah kehilangan kendali.

"Kamu datang ke pernikahanku dan Novia lalu bi kin keri bu tan! Kamu han curkan impian Novia hari ini, yang sudah dia ran cang sedemikian rupa, dan kamu buat aku ma lu di depan semua para tamu!”

DE G!

Dunia seakan berhenti berputar bagi si kembar.

Wajah Reno langsung pu cat.

Raisa membe ku.

"Papa bilang... apa?" tanya Raisa dengan bi bir ge me tar.

Ramdan tidak peduli.

“Kamu sok-sokan seperti perempuan yang punya keku a tan dan mampu hidup tanpa u ang dariku, Oh atau jangan-jangan lelaki tadi itu se ling ku hanmu, iya!”

P L AK K K!!!

Aisha tak ta han lagi.

Telapak tangannya akhirnya menda rat di pi pi Ramdan.

Sejak tadi dia sudah pu tuskan untuk berhati-hati dalam menyampaikan semua ini pada si kembar, tapi suaminya malah?

“Yang salah itu kamu Mas!” ma ki Aisha.

“Yang gak war as itu kamu!” un juk Aisha.

“Bisa-bisanya kamu ni kah lagi, sementara kamu itu punya istri dan anak-anak di rumah ini! Kamu gi la Mas! Gi la!”

Reno terlihat te gang.
Sementara Raisa sudah berkaca-kaca.

Putri Aisha ini sangat terpu kul sekali.

“Apa? Papa ni kah lagi?”
Air matanya turun berde rai.

Sementara Reno menge palkan ke dua telapak tangannya di samping tu buhnya.

Am arahnya mulai naik pada sang ayah.

Lelaki yang dia jadikan panu tan selama ini.

"Ma, benar itu?” tanya Raisa.

Aisha meme jamkan mata.

Dia tidak menyangka.

Tidak menyangka Ramdan akan membu ka semuanya seperti ini.

Tanpa persiapan.

Tanpa memikirkan perasaan a nak-a nak.

Ramdan mende ngus.

"Meski Papa meni kah lagi, semua tak akan berubah.”

Seperti orang yang baru mendarat di bumi, Ramdan baru sa dar ada dua a nak-a naknya yang kini jadi sak si keri butan mereka.

“Semua akan berubah Pa, Papa ja hat sama Mama! Papa ja hat sama kami!” teriak Raisa.

“Raisa.” Aisha segera me reng kuh putrinya.

“Lihat apa yang kamu lakukan pada putrimu, Mas!”

“Ini semua karena kamu! Kalau kamu gak menga cau acara hari ini semua gak akan terjadi, A nak-a nak gak tahu, dan semua baik-baik saja!”

Aisha tertawa menge nas kan.

“Kamu salahkan aku, Mas! Aku!”

“Hari ini, dengan begitu penuh cinta aku buat ku e untuk ke jutan ke kantormu, Tapi di sana aku dapat fak ta kalau suamiku tengah ambil cu ti untuk urusan keluarga, sementara aku dan a nak-a nak seperti orang bo doh menunggumu p**ang!”

“Itu yang kamu bilang baik-baik saja? Kamu punya o tak gak sih Mas! Kamu sama sekali gak mikirkan perasaan aku dan a nak-a nak!”

“Aku sudah katakan, aku akan adil, Aisha! Gak ada yang berubah meski aku meni kahi Novia!”

“ Aku akan tetap bertanggung jawab pada rumah ini, padamu dan a nak-a nak! Novia hanya meminta sedikit perhatianku untuk a.naknya yang membu tuhkan kasih sayang seorang ayah! Anaknya ya tim, Aisha!”

“Kenapa harus kamu Mas! Kenapa harus ayah dari a nak-a nakku!” ma ki Aisha.

“Di luar sana,” unjuk Aisha ke arah jalanan.

“Masih banyak lelaki la jang, Mas, Kenapa dia harus pilih suamiku! Kenapa dia harus minta perhatian ayah a nak-a nakku!”

“Papa se ling kuh selama ini dibelakang Mama,” de sis Reno yang sejak tadi diam.

Aisha dan Ramdan menoleh.

“Papa te ga sama Mama?”

Wajah Reno tampak emo si.

“Papa hanya-“

“AKU GAK S**A PAPA JA HA TI MAMA AKU!”

Putra kembar Ramdan langsung pa sang ba dan di hadapan Aisha.

“PAPA HA DAPI AKU DULU SEBELUM PAPA JA HATI MAMA AKU!”

BACA SELENGKAPNYA DI APK KBM

JUDUL : KUSA PU BER SIH PELA MINAN SI PELA KOR DENGAN DAM KAR

PENULIS HERNI RAFAEL
“Novia punya a nak YA TIM, itu sebabnya aku menikah dengannya, Marsha putri Novia bu tuh so sok ayah.”

"Bulek, nggak ke rumah sakit?" tanyaku pada Bulek Ndaru yang tiba-tiba datang ke rumah saat aku tengah berkemas.Rencanan...
10/08/2026

"Bulek, nggak ke rumah sakit?" tanyaku pada Bulek Ndaru yang tiba-tiba datang ke rumah saat aku tengah berkemas.

Rencananya aku akan keluar dari rumah ini dan p**ang ke rumah orang tuaku untuk sementara waktu hingga semua urusan selesai dan aku bisa pindah keluar kota.

Rumah ini sendiri akan kugembok berlapis agar Mas Indra tak bisa masuk. Kunci rumah pun sudah kuganti baru agar dia tak punya akses masuk lagi.

Rumah ini akan kubiarkan kosong menjelang penetapan majelis hakim turun dan aku bisa menjualnya melalui Dina.

"Ke rumah sakit? Ngapain ke sana? Siapa yang sakit?"

"Udah! Kamu nggak usah ngalihin pembicaraan. Bulek cuma mau tanya apa maksud kamu ngirim foto ini ke Bulek kemarin?" lanjut Bulek Ndaru dengan nada mengintimidasi seperti biasanya padaku sembari memperlihatkan foto Mas Indra dan Rani yang sedang dempet kemarin yang kukirim padanya.

Aku tersenyum tipis.

"Bulek kan punya TV dan HP. Masa Bulek nggak bisa lihat sendiri berita soal Mas Indra dan Rani? Mereka saat ini masih berada di rumah sakit karena d3mpet, Bulek! Nggak bisa lepas saat begi-tuan di hotel. Makanya Bulek, nasehatin putri Bulek supaya jangan s**a ganggu suami orang, Begitu kan akibatnya?" kataku sambil tersenyum sinis.

Selama ini aku hampir tak pernah memb4las ucapan Bulek Ndaru dengan lisan yang sama. Aku selalu berusaha menghargainya meski dia tak pernah menghargaiku. Tapi hari ini, entah kenapa kesabaranku rasanya sudah habis. Aku tak bisa lagi mengalah menghadapi s*kap Bulek Ndaru yang selalu menyudutkanku ini.

"Apa katamu? D3mpet? Nggak mungkin! Rani nggak ngomong apa-apa sama Bulek! Kalau dia di rumah sakit, pasti dia udah menghubungi Bulek dari kemarin. Kamu nggak usah bohong!" sergah Bulek lagi tetap tak percaya.

Mendengar perkataan Bulek itu, kali ini aku tertawa lebar.

"Rani nggak menghubungi Bulek karena malu! Nih, coba Bulek lihat sendiri berita di Facebo0ok, di Inst4gram, di Tiktok, semuanya bahas Mas Indra yang ketahuan berbuat asu-sila sama Rani. Makanya Lisa bilang, Bulek buka saja sendiri beritanya supaya Bulek tahu apa yang terjadi sama putri tercinta Bulek sekarang ini. Mudah-mudahan sih saat ini mereka sudah bisa dipisahkan. Tapi kabar buruknya, Lisa sudah melaporkan Mas Indra dan Rani ke kantor polisi!"

"Jadi silahkan Bulek cek sendiri ke rumah sakit! Sudah cukup Lisa mengalah selama ini, Bulek. Kali ini Lisa akan melawan!" ucapku tegas sembari memperlihatkan layar ponselku yang tengah memperlihatkan pemberitaan soal Mas Indra dan Rani, lalu setelah itu gegas membuka pintu lebar-lebar supaya Bulek Ndaru bisa pergi.

"Sekarang Bulek pergi. Kalau nggak, jangan salahkan Lisa berbuat kasar!" ucapku sembari menarik tangannya supaya bersedia keluar dari rumah karena aku masih punya banyak urusan lain yang harus kuselesaikan sekarang juga.

Mendengar ucapanku, Bulek Ndaru tampak tak terima, namun terpaksa keluar juga meski sambil mem-aki, setelah tangannya k*tarik paksa, dan tubuh t4mbunnya sedikit kudorong agar bersedia keluar rumah.

Setelah Bulek Ndaru pergi, aku pun kembali meneruskan packing barang-barangku karena sore ini juga aku hendak kembali untuk sementara waktu ke rumah orang tuaku.

✓✓✓

POV INDRA

"Apa, Dok? Jadi saya... saya imp0ten?" gumamku dengan suara bergetar dan ekspresi tak percaya menatap dokter yang berdiri di depanku.

Dokter itu menganggukkan kepala pelan, lalu menatapku dengan penuh kehati-hatian.

"Tapi ini baru diagnosis awal, Pak Indra. Saya mohon jangan langsung menyimpulkan bahwa kondisinya akan selamanya seperti itu. Saat operasi, kami menemukan adanya c3dera pada sebagian jaringan di area sen-sitif Bapak akibat tekanan dan kondisi yang terjadi sebelum tindakan dilakukan. Jadi mohon Bapak bisa mengerti situasinya."

"Cedera seperti itu pada beberapa pasien bisa memengaruhi fungsi seks-ualnya untuk sementara waktu, tetapi pada sebagian kasus juga dapat berlangsung lebih lama. Untuk itu, untuk memastikan tingkat pemulihannya, kami perlu melakukan kontrol rutin, pemeriksaan lanjutan, serta melihat respons tubuh Bapak selama masa penyembuhan."

"Karena itu, saya menyarankan Bapak mengik*ti seluruh terapi dan pengobatan yang akan kami berikan nanti. Kami berharap kondisinya bisa membaik seiring waktu. Tetapi untuk saat ini kami belum bisa memberikan jaminan kapan fungsi tersebut dapat kembali normal."

Aku hanya mampu menatap dokter itu dengan tatapan penuh rasa kecewa. Begitu p**a Ibu dan Bapak yang ik*t mendengarkan yang juga ik*t kecewa dan terlihat sh0ck.

Setiap kata yang keluar dari mulut dokter itu terasa seperti palu yang mengh4ntam kepalaku bertubi-tubi.

"Jadi... saya belum tentu bisa sembuh, Dok?" tanyaku lirih. Suaraku nyaris tak terdengar.

Dokter itu menarik napas pelan.

"Kami akan berusaha semaksimal mungkin, Pak. Namun kami juga tidak bisa memberikan harapan yang berlebihan. Yang bisa kami lakukan hanyalah memantau proses penyembuhan Bapak hingga Bapak bisa beraktivitas kembali."

Jantungku serasa berhenti berdetak. Tubuhku mendadak lemas. Tanganku gemetar hingga selimut yang kugenggam ik*t bergetar.

"Kenapa... kenapa bisa begini, Dok?" desisku penuh sesal dan kekecewaan. "Padahal saya berharap dokter dan tim bisa memberikan kesembuhan dan mengembalikan kondisi saya seperti semula. Tapi semuanya malah jadi begini," ucapku penuh rasa kecewa.

Dokter itu hanya menghela napas pelan.

"Kami juga berharap kondisi Bapak bisa pulih seperti semula. Tapi kami juga memiliki keterbatasan, Pak. Apalagi kondisi Bapak sebelum tiba di rumah sakit juga sudah berlangsung cukup lama sehingga menyebabkan tekanan dan gangguan pada jaringan di area tersebut. Jadi tolong jangan menyalahkan kami, karena kami juga sudah berusaha semaksimal mungkin," ucap dokter tersebut tak terima mendengar aku menyalahkan kinerja mereka.

Menyadari kesalahanku itu, aku pun akhirnya hanya bisa mengangguk dan menatap dokter itu dengan tatapan tak berdaya.

"Baiklah, Dok. Jadi... saya benar-benar tidak bisa kembali normal?" tanyaku akhirnya dengan nada suara putus asa.

"Masih ada kemungkinan bisa sembuh lagi karena tubuh setiap pasien memiliki respons yang berbeda-beda, Pak. Tapi untuk sementara, hanya itulah diagnosa yang bisa kami berikan," pungkas dokter di akhir penjelasannya.

Mendengar itu, aku hanya mampu menggigit bi-bir kuat-kuat dan mengepalkan tangan erat-erat.

Ya. Semua ini terjadi karena Lisa! Aku yakin dialah yang sudah menukar krim itu sehingga aku dan Rani bisa mengalami insiden mem4lukan sekaligus memilukan seperti ini.

Untuk itu, selepas keluar dari rumah sakit ini, aku pasti akan segera membuat perhitu-ngan dengannya, batinku penuh amarah.

Aku pun menatap Bapak dan Ibu, selepas dokter keluar ruangan.

"Pak, Bu. Aku yakin semua ini terjadi karena Lisa! Dia yang sudah membuatku jadi begini! Untuk itu selepas keluar dari rumah sakit ini, aku pasti akan bikin perhitu-ngan dengannya, Pak, Bu! Dia bukan saja sudah menguras habis seluruh isi t4bunganku, tapi juga membuatku jadi lelaki tidak normal seperti sekarang ini! Jadi bantu aku untuk balas d3ndam sama Lisa, Pak, Bu! Aku nggak rela dia senang-senang di atas penderitaanku!" ucapku sambil mengepalkan tangan.

Ibu pun ik*t mengepalkan tangan dengan tatapan penuh kebencian.

"Ibu pasti bantu kamu, Ndra! Ibu juga nggak rela dia menikmati semua harta kamu seenaknya! Kalau saja kondisimu tidak harus cepat ditangani seperti tadi, Ibu pasti sudah menemui istri kamu itu untuk memberinya pel4jaran!"

"Jadi kamu cepat sembuh ya, Ndra! Ibu sudah nggak sabar lagi ingin segera membuat perhitun-gan dengannya!" ucap Ibu p**a tak terima.

Begitu p**a Bapak, meski beliau biasanya tak sefrontal Ibu.

"Iya, Ndra. Bapak juga dukung kamu. Kamu sudah capek-capek kerja jadi anggota dewan yang berjuang keras untuk menegakkan keadilan, tapi malah diperlakukan begini sama istrimu sendiri. Kalau begitu lawan dia, Ndra. Tunjukkan kalau kamu mampu. Apalagi kamu punya banyak pendukung dan teman-teman di D , mereka pasti tidak rela rekannya diperlakukan sewenang-wenang seperti ini."

"Oh ya, ngomong-ngomong teman-temanmu mana ya, Ndra? Kok mereka nggak bezuk kamu? Pimpinan dewan dan petinggi partaimu juga kok nggak kelihatan? Apa mereka nggak tahu kamu masuk rumah sakit?"

"Cepat beritahu mereka, Ndra. Sampaikan kalau kamu dirawat di rumah sakit sekarang. Tidak harus memberi tahu detailnya kenapa bisa masuk RS kan? Jadi teman-temanmu tidak akan tahu penyebab kamu masuk RS. Yang penting mereka datang dan memberikan sumbangan," kata Bapak p**a memberi ide.

Aku pun menganggukkan kepala. Ya, kenapa tidak aku memberi tahu rekan-rekanku dan pimpinan dewan kalau aku masuk RS dan butuh bantuan? Toh, mereka tidak akan tahu kenapa aku bisa masuk RS karena rumah sakit pasti tak sembarangan membocorkan identitas pasien dan kondisi medis pasiennya. Apalagi aku dan Rani tak gancet lagi.

Berpikir begitu, aku pun gegas mengambil ponselku, hendak menghubungi rekan-rekanku di dewan dan memberi tahu pimpinan dewan.

Akan tetapi baru saja hendak mengambil ponsel, pintu ruang perawatan di mana saat ini aku berada, tiba-tiba diketuk dan dibuka dari luar lalu beberapa petugas berseragam coklat khas kepol-isian tiba-tiba masuk dengan tatapan penuh selidik sembari mengacungkan surat yang sepertinya surat perintah untuk melakukan pemeriksaan dan penyelidikan.

Baca selengkapnya di KBM APP.
Judul : LEM SUPER GLUE UNTUK SUAMIKU
Penulis : Aura_Aziiz16

Melihat pela minan itu ba sah karena sira kan DAM KAR,  bagiku masih belum cukup.Apalagi pela kor itu bilang aku ma ruk ...
10/08/2026

Melihat pela minan itu ba sah karena sira kan DAM KAR, bagiku masih belum cukup.
Apalagi pela kor itu bilang aku ma ruk karena tak mau berba gi suami.

Ya sudah kuhan curkan saja sekalian pela minan mereka dengan bam bu!

Kalau gini, baru a dil kan?

PART 6

“Aku ti tip suamiku ya, soalnya sekarang banyak sekali pela kor di luar sana.”

Aisha ingat pesannya pada Novia, rekan kerja suaminya yang sudah dia anggap sebagai sahabat.

Kalimat itu kembali terngiang di kepala Aisha.

Dulu dia mengucapkannya sambil tertawa kepada Novia.

Saat itu mereka sedang duduk bersama di ruang tamu rumah Aisha.

Tapi siapa sangka, perempuan yang selama ini dia percaya justru berdiri di pela minan bersama Ramdan.

Mengenakan ga un pengan tin.

Menjadi istri kedua suaminya.

“Oh jadi ini alasan kalian ambil cu ti dari kantor? Ada urusan keluarga? Keluarga baru maksudnya?”

Suara Aisha berge tar menahan ama rah.

Ga un yang dikenakan Novia sudah ba sah akibat sira man air tadi.

Ria sannya lun tur.

Begitu p**a Ramdan yang kini tampak beran takan dan kehilangan wi ba wa.

Namun bagi Aisha, itu belum cukup.

Lima belas tahun peng khia na tan tidak bisa diba yar hanya dengan rasa ma lu.

Aisha menatap keduanya bergantian.

Tatapan yang penuh lu ka.

Tatapan seorang istri yang baru saja melihat rumah tangganya dihan curkan oleh dua orang yang paling dia percaya.

“Aisha, kamu … bagaimana bisa kamu ada di sini dan membuat o nar?” tanya Ramdan bingung.

Aisha tertawa pendek.

Tawa yang terdengar lebih menya kitkan daripada ta ngi san.

“Kamu bertanya Mas? Kamu kira Tuhan akan diam saja ketika umatnya tersa ki ti?”

Pandangan Aisha bolak balik pada dua mempe lai yang sudah ba sah mirip ti kus go t ini.

“Lima belas tahun Mas, aku setia! Lima belas tahun aku dampingi kamu dari kamu su sah, dari kita isi rumah kost-kostan sem pit, dari kita hanya punya motor bu tu t! Tapi sekarang? Setelah kamu suk ses dengan karirmu, ini ba la sanmu?”

Mata Aisha kembali berkaca-kaca.

Rasa se dih bercampur ama rah.

“Kami sudah meni kah Aisha, kamu gak bisa berbuat apa-apa.”

Suara Novia terdengar ge me tar, namun dia dengan penuh percaya diri menu jukkan kepe mi likan atas diri Ramdan.

Keter la luan sekali.

Aisha langsung menoleh pada Novia.

“Ya, bagus! Bagus sekali! Kalian sudah meni kah. Ni kah si ri kan? Hasil membo ho ngi dan membo dohi istri s ah, yang menunggu kep**angan suaminya di rumah? Kamu bang ga Novia? Bang ga?”

Novia menun duk.

Namun Ramdan segera ma ju.

“Semua ini bukan sa lah Novia, Aisha.”

“Aku yang sa lah.”

“Gak Mas, ini bukan salah kita,” sahut Novia cepat sambil meng geng gam tangan Ramdan.

“Kita saling cinta, dan cinta kita tak mungkin terpisahkan lagi.”

“Wah he bat ya!”

Aisha tepuk tangan disela-sela rasa sa kit hati yang mengo yak ji wa.

Da danya terasa se sak.

Begitu mudah mereka mengatasnamakan cinta.

Padahal yang mereka ba ngun adalah peng khia na tan.

“Sekarang kalian saling melindungi satu sama lain? Tadi apa? Cinta? Luar biasa sekali.”

Belum sempat siapa pun menjawab, seorang lelaki berusia sekitar enam puluh tahun melangkah mendekat.

Wajahnya me rah mena han emo si.

“Maaf ibu siapa? Kenapa bikin hu ru ha ra di acara perni kahan anak saya!”

Aisha menoleh.

Tatapannya ta jam.

“Anda siapa? Oh anda ayah dari Novia?”

Aisha tak ta k*t akan apapun.

Ibarat kata, dia sudah seperti in duk si nga yang akan mener jang siapapun yang meru sak sing ga sa nanya.

“Iya saya Ayah Novia!”

“Kalau gitu, kenalkan saya Aisha, istri Ramdan.”

Wajah lelaki itu langsung berubah pu cat.

“Apa? Istri Ramdan?”

Lelaki yang menjadi ayah kan dung Novia itu menoleh pada pasangan pe ngan tin yang ba sah dua-duanya itu.

“Apa-apaan ini RAMDAN! Kamu nikahi putriku tapi kamu masih bersta tus suami orang?” ben taknya tak terima.

Ramdan tampak salah ting kah.

Sementara Novia mulai terlihat pa nik.

Aisha tersenyum pa hit.

“Lho memangnya selama ini putri bapak gak pernah cerita sama bapak? Atau bapak gak pernah selidiki dulu, kalau lelaki yang hari ini menikahi putri bapak, adalah suami orang? Suami saya dan ayah dari dua anak?”

“Ya Tuhan, Novia! Kamu pela kor?”

Novia geleng kepala.

“Ayah, ini gak seperti yang Ayah kira.”

“Aku dan Mas Ramdan saling cinta dan Mas Ramdan janji akan a dil.”

“Ayah tidak pernah setuju kamu me ram pas keba ha giaan perempuan lain Novia!”

“Pak, jangan salahkan Novia.”
“ Sekarang dia sudah sah jadi istri saya. Saya janji akan berlaku adil pada Aisha dan Novia.”

Ramdan kembali membela Novia.

“Marsha bu tuh so sok ayah, itu sebabnya aku terima Mas Ramdan, Ayah.”

Novia berikan alasan yang membuat Aisha mu al.

“Jangan kor bankan putrimu demi naf su gi la kalian berdua! Novia, aku gak sangka selama ini aku menganggapmu seperti sahabatku sendiri.”

“ Aku terima kamu di rumahku, aku jamu kau dengan berbagai makanan dan aku titipkan suamiku, tapi ternyata kau ini seri gala berbu lu dom ba!”

“Aisha, aku tak akan mere but Mas Ramdan darimu!” bentak Novia.

“Hey kalian sudah menikah, dan itu artinya kamu sudah mere but suamiku!” ba las Aisha.

“Aku hanya minta sedikit saja perhatian dari Mas Ramdan.”

“Hanya sedikit Aisha.”

“Su dikah kiranya kau memba gi kebahagiaanmu padaku dan putriku. Bukankah selama ini hidupmu sudah sedemikian sempurna?”

Aisha menga nga lebar.

“Dasar sa kit ji wa!”

Ramdan maju.

“Demi Tuhan Aisha, aku janji tak akan ada yang berubah.”

“Kamu tetap istriku.”
“Aku akan berlaku adil pada kalian berdua,” ujar Ramdan.

Ama rah Aisha mengge legak sudah.

“C I H!”

Dia melu dah dengan ka sar ke lantai.

“Aku tak su di dima du! Menji jikan!”

“Jangan kurang a jar Aisha!” Emo si Ramdan mulai naik.

Aisha tersenyum si nis dan melakukan sebuah hal yang tak pernah Ramdan duga.

“Novia,” de sis Aisha lagi dengan tatapan ta jam pada ma dunya itu.

“Terhitung hari ini, aku berikan laki-laki mu rahan ini buat kamu, Novia!”

Dia lem parkan cin cin ni kah yang selama lima belas tahun ini meling kar di ja ri ma nisnya.

Dihadapan Ramdan dan juga Novia.

Benda itu meng ge lin ding dan terhenti di depan kaki Ramdan.

“Apa-apaan ini Aisha! Aku sudah katakan padamu, kalau aku akan berlaku a dil!”

Aisha mengge leng.

“Teruskanlah rumah tanggamu bersamanya Mas.”

“Aku akan ajukan gu ga tan ce rai, dan anak-anak akan ik*t aku.”

“ Kami gak butuh suami dan ayah penge cut sepertimu.”

E go Ramdan tersen til.

“Kamu tidak akan bisa pi sah dariku Aisha! Mau makan dari mana kalau kau pi sah dariku, h ah! Kau kira biaya si kembar itu sedikit? Kau lupa kalau selama ini semua kebu tu hanmu, aku yang penuhi?”

Ramdan dengan e gonya masih merasa di atas angin.

“Oh jadi karena kau pikir aku ini hanya ibu rumah tangga, lantas kau bisa se e nak ji dat khia nati aku Mas? Kamu belum tahu siapa aku, Mas!”

“Ayolah Aisha! Jangan ma ruk jadi perempuan!”

Novia sepertinya minta di sli d ding mu lutnya.

“Harusnya kamu re la dan ikh las karena Mas Ramdan mau bantu anak ya tim.”

“Har ta Mas Ramdan itu banyak, Aisha, Gak akan mis kin kamu meski Mas Ramdan nikahi aku, aku juga kerja, gak akan nun tut banyak u ang suami kita!”

“Ma ruk katamu! Sekarang aku kasih tahu, seperti apa ma ruk itu!’

Aisha ra ih bam bu panjang yang ter ong gok di kakinya.

Lalu-

P RA NG!!

P RA NG!!

Ia ha n tam kan bam bu itu ke arah pela minan yang sudah nyaris han cur jadi kian han cur.

“Aisha! Hen tikan!” Ramdan teri ak.

“Aisha, kau gi la!” Novia ik*tan his te ris.

“Ini baru ma ruk! Kalian lihat! Aku han curkan ini!”

P RA NG!!

“Aku ba bat ha bis ini!”

P RA NG!

Semua berge lim pa ngan di lantai.

Piring, mangkok dan semua hia san pela mi nan.

Na pas Aisha naik turun.

Setelah pu as, perempuan itu menatap pa sangan pengan tin yang melo tot tak percaya.

Hari bahagia mereka berubah jadi kehan curan.

“Ini baru yang namanya ma ruk!”

Aisha menoleh pada Kafka setelah lem parkan bam bu itu ke lantai.

“Ayo Mas kita kembali. Urusanku sudah selesai di sini.”

BACA SELENGKAPNYA DI APK KBM

JUDUL : KU SA PU BER SIH PELA MINAN SI PELA KOR DENGAN DAMKAR

PENULIS HERNI RAFAEL

BUKAN HANYA PELA MINANYANG HAN CUR.TAPI NY4RIS SEMUA!!PRAS MA NAN AC4K K4DUTTAMU K0CAR K4CIRDAN PENGAN TIN ITU, SUAMIKU ...
10/08/2026

BUKAN HANYA PELA MINAN
YANG HAN CUR.

TAPI NY4RIS SEMUA!!

PRAS MA NAN AC4K K4DUT
TAMU K0CAR K4CIR

DAN PENGAN TIN ITU, SUAMIKU DAN ISTRI KEDUANYA B4SAH KU YUP

SELAMAT ULANG TAHUN MAS.

HADI AH DARIKU BERKESAN, BUKAN?

PART 5

Suara sire ne me ra ung di tengah hari bo long itu.

Nyi ung

Nyi ung

Nyi ung

Warga yang sejak tadi mema dati jalan menuju rumah besar tempat pesta perni kahan itu langsung menoleh.

“Lho, ada keba karan?” tanya salah satu tamu kebingungan.

“Di mana a pinya?”

“Iya dimana ya? Kok langit baik-baik saja. Gak ada a sap kok.”

Semua menatap ke arah langit.

Saat itu langit memang cerah dan pa nas.

“Mungkin cuma num pang lewat.”

“Tapi ini kan udah ma cet.”

Para penduduk desa yang kaget dengar suara dam kar segera membantu memberi jalan.

“Ayo minggir-minggir. Kasih lewat dam karnya, ini da rurat.”

Mobil-mobil yang sejak tadi memenuhi jalan perlahan memberi ruang saat sebuah mobil dam kar merah besar mene ro bos masuk.

Di belakang ke mudi, Kafka duduk tegap dengan ra hang menge ras.

Dia kendarai mobil damkar yg besar. Dan di belakangnya ada dua dam kar ukuran kecil.

Tatapan mata Kafka fokus ke depan.

Sementara di kursi samping, Aisha duduk mema tung. Bersama Tiara.

Dua perempuan itu ik*t naik ke mobil dam kar milik Kafka.

“Wah ke ren, Aisha. Kita dapat jalan be bas ham batan,” puji Tiara.

Tangan Aisha kian terasa di ngin.

Jantungnya berde tak sangat ke ras.

Semakin dekat ke lokasi, na pasnya semakin se sak.

Hari ini benar-benar nyata.

Suamiku menikah lagi.

Lima belas tahun Mas, tidakkah selama ini aku dan si kembar berarti buatmu?

Kenapa kamu te ga pada kami?

“Mbak Aisha?”

Suara be rat Kafka membuat perempuan itu tersadar.

Aisha mengerjap.

“Kalau anda berubah pikiran, kita bisa berhenti.”

Aisha tersenyum kecil.

Tapi senyum itu pa hit.

“Kalau saya berhenti sekarang, yang han cur cuma saya dan anak-anak saya Pak. Saya gak ikh las mereka bahagia di atas air mata kami.”

Kafka diam.

Matanya sempat melirik perempuan di sebelahnya.

Wajah itu can tik, tapi sem bab.

Tatapannya ko song.

Seperti seseorang yang kehilangan dunia hanya dalam semalam.

“Saya cuma gak mau anda menye sal, karena apa yang anda lakukan akan membuat suami anda mur ka,”ucap Kafka tenang.

Aisha tertawa kecil.

Pelan.

Nyaris seperti suara orang pa tah.

“Menye sal?” ulangnya li rih.

“Saya sudah terlalu menye sal mencintai orang yang salah, dan saya sudah gak perduli padanya karena saya harus pikirkan perasaan si kembar, mereka yang kini berarti dalam hidup saya.”

D eg.

Entah kenapa ucapan itu membuat da da Kafka terasa ik*tan sa kit.

Kok bisa ada suami se breng sek ini?

Ia kembali fo kus menyetir.

Tak lama kemudian, rumah besar itu mulai terlihat.

Deko rasi bunga putih dan warna e mas memenuhi halaman.

Ba lon-ba lon berdiri di kanan kiri gerbang.

Tenda be sar terpa sang me gah.

Mobil tamu memenuhi area sekitar.

Benar-benar pesta be sar.

“Pernikahan kami dulu sederhana. Jauh dari kata me wah,” bi s*k Aisha.

Tangannya perlahan menge pal.

“Wah…” gumam Tiara dari samping Aisha.

“Ini nikahan apa kon ser artis? Me wah ba nget untuk ukuran orang kampung.”

Kafka memperlam bat laju kendaraan.

“Mbak Aisha?”

Kini nada suaranya seri us.

“Sebentar lagi kita sampai.”

Tatapan Aisha lurus ke depan.

Matanya menang kap sesuatu.

Pela minan.

Tepat di ujung aula terbuka.

Di sana, dia melihat suaminya.

Tu buh Aisha membe ku.

Ramdan.

Berdiri ga gah memakai j as putih.

Tersenyum.

Bahagia.

Di sampingnya berdiri Novia dengan ga un pengan tin me wah.

Cantik.

Ang gun.

Dan tampak sangat bahagia.

Seolah tak sedang mere but suami orang.

Dunia Aisha run tuh dalam sekejap.

Da danya seperti dire mas.

Lelaki itu bahkan tampak begitu tampan hari ini.

Persis seperti lima belas tahun lalu saat mengucap a kad dengannya.

Namun bedanya.

Hari ini lelaki itu menikahi perempuan lain.

“Ya Tuhan…”

Aisha menutup mu lutnya.

Tu buhnya berge tar.

Semua rasa sa kit yang selama ini coba dia tahan pe cah begitu saja.

Lima belas tahun dia menemani dari nol.

Saat Ramdan belum punya apa-apa.

Saat lelaki itu jatuh ba ngun cari kerja dan makan cuma mi ins tan demi bertahan hi dup.

Lalu mela hirkan si kembar bu ah hati keduanya.

Semua pengor banan itu.

Dibu ang begitu saja.

“Mbak Aisha.”

Kafka memanggil pelan. Dia kasi han sekali pada perempuan ini.

Perempuan itu menoleh.

Tatapan mereka bertemu.

Dan untuk pertama kali sejak tadi, Kafka melihat kehan curan nyata di mata seseorang.

“Saya telat ya, Pak?” bi s*k Aisha li rih.

“Harusnya saya sadar dari dulu kalau rumah tangga saya udah terba kar.”

Kafka sampai kehilangan kata.

Entah kenapa, ia jadi ik*t ma rah pada lelaki bernama Ramdan itu.

“Dia bahkan kelihatan bahagia, lupa pada anak dan istrinya,” gumam Aisha sambil menatap pela minan.

Tangannya kian menge pal.

“Anak-anak kami bahkan belum tahu ayah mereka ternyata pengkhi a nat.”

Air mata terus ja tuh.

Lalu perlahan tatapan se dih di wajah Aisha berubah.

Lu ka itu perlahan berganti mur ka.

Tatapannya mena jam.

“Hari ini mereka bikin saya teng ge lam dalam rasa sa kit.”

Aisha menarik napas panjang.

Tangannya mengha pus air mata ka sar.

Nada suaranya berge tar.

“Tapi saya gak mau teng ge lam sendirian. Pak Kafka.”

“Iya Mbak?”

“Kalau rumah sudah keba karan.”

Aisha menoleh perlahan.

“Kadang harus disi ram sampai ha bis kan?”

**

Beberapa tamu mulai melirik aneh ke arah mobil dam kar di depan mereka.

Panitia tampak kebingungan.

Ramdan bahkan mulai terlihat menoleh.

Sirene kembali mera ung ke ras.

NYIUUNG! NYIUUNG!

“Lho kok ada damkar?”

Ramdan menghitung.

Ada tiga damkar, dua kecil, satu ukuran besar.

Posisi mobil yang besar berdiri di tengah, dengan begitu ga gah, di apit mobil damkar yang kecil.

Beberapa petugas turun dari mobil dan bersiap dengan se lang panjangnya.

Semua tamu pa nik.

Beberapa ibu-ibu mulai berdiri.

“Ya ampun ada apa ini? Ada keba karan kah?”

“Mana? Mana?”

Panitia acara berham buran.

“Mas kamu un dang dam kar?”

Novia istri kedua Ramdan ik*tan bingung.

Dia gak sangka di acara bahagia akan kedatangan tamu yang tak biasa.

“Gak sayang, aku gak undang damkar, aku gak kenal mereka.”

“Lho terus mereka ke sini mau apa Mas? Terus kenapa mereka turunkan selang, mereka mau apa Mas?”

Novia pa nik, Ramdan juga.

“Mas aku ta k*t.”

Novia mulai ge li sah.

Pasalnya ini hari bahagia mereka.

“Kamu tenang saja, biar Mas yang tanya apa mau mereka. Jangan-jangan mereka salah alamat.”

Kok main tu runkan se lang saja sih? Gang gu acara orang aja!

Ramdan hendak melangkah ke arah mobil pemadam keba karan itu.

Namun baru saja beberapa langkah, detik berik*tnya—

Mata Ramdan membe lalak.

Karena tiba-tiba -

B Y U R!!!!

Se lang be sar itu mengeluarkan air yang sangat de ras.

“Air! Ka bur!”

Ramdan ka get bukan kepalang.

Kok tamuku di sem prot?

BRU A A AA AK K!!

Hia san ja tuh karena sem protan.

Air menyem bur de ras ke arah para tamu yang sontak ko car-ka cir, lalu ke arah pras ma nan,

P RA NG!!

Piring dan makanan ha n cur bera n takan.

Ramdan sho ck, demikian juga Novia.

“Apa-apaan ini?”

Dan terakhir.

“Mas Ramdan! To lo o oo ong!”

Te ria kan Novia mengge ma.

Ramdan menoleh ke arah suara.

Ya Tuhan!

Pasalnya se lang mengarah ke pe la minan.

Tepatnya ke arah pengantin.

B Y U R R R !!!

“A rg hhh hhh!” Novia terjung kal.

“Novia!” Ramdan his teris.

Ia segera mengham bur ke pela minan.

Dia lindungi istrinya dari amu kan air yang keluar dengan begitu de ras.

“Hen tikan! Hen tikan semua!”

Ba sah!

Novia ba sah, Ramdan ba sah.

Semua ba sah.

Setelah semua han cur sesuai pe sanan, sem pro tan itu terhenti.

Ramdan yang ba sah ku yup me me luk Novia yang mena ngis terse du-se du.

“SIAPA KALIAN DAN KENAPA KALIAN HAN CVRKAN PERNI KA HANKU!”

Ge le gar suara Ramdan terdengar.

Au ranya penuh ang ka ra mur ka.

Saat itulah dari mobil dam kar yang besar, turunlah seso sok tu buh yang Ramdan dan Novia kenali.

B R A K K

Bahkan pintu mobil pun diban ting Aisha.

“A-Aisha?”

Jantung Ramdan nya ris long.sor ke tanah.

Bagaimana mungkin?

Aisha istri s ah Ramdan berdiri dengan da gu terangkat dan tersenyum si nis.

“Bagaimana Mas, ke ju tan dariku?”

BACA SELENGKAPNYA DI
APK KBM

JUDUL : KUSA PU BER SIH PELA MINAN SI PELA KOR DENGAN DAM KAR

PENULIS HERNI RAFAEL

Address

Cilacap Regency

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Liliana posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share