25/12/2025
Tak semua penyesalan bisa dit3bus dengan kata—sebagian hanya bisa diserahkan pada Tuhan, sambil berharap cinta masih mau menunggu.
Ada momen dalam hidup ketika seorang lelaki yang terlihat kuat di mata dunia, tiba-tiba runtuh di hadapan nuraninya sendiri.
Bukan karena jabatan, bukan karena sorotan publik—melainkan karena satu kesadaran pahit: ia pernah lalai menjaga hati yang paling setia.
Di titik itulah sesak itu lahir.
Sesak yang tak terucap, namun menekan dada.
Sesak karena cinta yang tulus telah lebih dulu memberi, sementara ia masih belajar menjadi cukup.
Kepada Atalia, ia tak membawa pembelaan.
Tak ada alasan, tak ada dalih.
Hanya seorang suami yang menunduk, mengakui bahwa cinta pun bisa terluka oleh kelalaian orang yang paling dipercaya.
Dunia terasa terlalu sempit untuk menampung penyesalan itu.
Waktu terasa terlalu singkat untuk men3bus setiap khilaf.
Maka ia memilih satu jalan terakhir: memohon, dengan sepenuh hati dan kerendahan jiwa.
Bukan sekadar maaf di dunia,
melainkan harapan agar ampunan itu menjadi jembatan menuju jannah.
Agar kelak, saat semua gelar dan nama ditanggalkan,
yang tersisa hanyalah dua tangan yang kembali saling menggenggam—
melintasi gerbang surga, bersama.
Karena pada akhirnya,
cinta sejati bukan tentang tak pernah salah,
melainkan tentang berani mengakui, menyesali, dan tetap memilih pulang—
kepada orang yang sama, hingga akhirat. .........🌹