Radio Rodja

Radio Rodja Halaman ini adalah Fans Page resmi Radio Rodja 756 AM / 100.1 FM
(5574)

HUKUM KULIT BANGKAIBangkai adalah binatang yang mati tanpa melalui penyembelihan yang syar’i, baik binatang tersebut bia...
29/12/2025

HUKUM KULIT BANGKAI

Bangkai adalah binatang yang mati tanpa melalui penyembelihan yang syar’i, baik binatang tersebut biasa dimakan maupun yang tidak boleh dimakan.
Binatang yang boleh dimakan, seperti kambing, unta, sapi, atau unggas seperti ayam. Jika mati tanpa disembelih secara syar’i, maka disebut bangkai.
Binatang yang tidak boleh disembelih, seperti keledai, anjing, babi, atau kucing. Jika mati, maka ia juga menjadi bangkai.

Bangkai memiliki beberapa anggota tubuh:
• Daging dan Jeroan: Anggota ini jelas haram dimakan dan tidak dapat disucikan.
• Kulit: Bagian ini juga tidak boleh dimakan karena merupakan bagian dari bangkai dan najis. Namun, yang membedakan adalah kulit ini bisa disucikan. Inilah yang menjadi pembahasan penulis, bahwa kulit bangkai dapat menjadi suci dengan proses dibagh.

Dibagh adalah proses penyamakan kulit, yaitu proses yang membersihkan kulit dari bagian-bagian yang dapat membuatnya busuk. Ini mencakup pembersihan sisa daging yang menempel, lemak, dan semacamnya. Setelah dibersihkan, kulit bangkai tersebut diolah lebih lanjut dengan berbagai bahan penyamakan, biasanya berupa dedaunan atau tumbuh-tumbuhan yang dikenal oleh para ahli penyamakan yang biasanya memiliki sifat pedas.
Proses ini dilakukan sedemikian rupa hingga kulit menjadi lembut. Jika kulit yang telah diproses kemudian direndam dalam air, ia tidak akan membusuk.

Proses penyamakan dianggap berhasil jika memenuhi tiga kriteria:

• Dibersihkan dari bagian-bagian yang membuatnya busuk (daging atau lemak).
• Kulitnya menjadi lembut setelah diproses dengan bahan penyamakan.
• Jika direndam, kulit tersebut tidak membusuk.

Apabila kulit bangkai sudah disamak (melalui proses dibagh), maka ia menjadi suci. Suci di sini berarti boleh dipakai untuk alas shalat, untuk duduk, dan jika disentuh, tangan tidak menjadi najis lagi. Namun, proses ini tidak menjadikannya halal atau boleh dimakan. Ia hanya menjadikannya suci, sehingga boleh dimanfaatkan untuk kegunaan yang tidak berhubungan dengan makanan.

Adapun jika kulitnya berasal dari binatang yang disembelih secara syar’i, maka kulit tersebut sudah suci. Ia tidak najis dan tidak membutuhkan proses penyamakan (dibagh) untuk menjadi suci. Jadi, yang membutuhkan proses dibagh agar menjadi suci adalah kulit dari bangkai.

Simak selengkapnya:

Memanfaatkan Kulit Bangkai merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Anas Burhanuddin, M.A. dalam pembahasan Matan Al-Ghayah Wat Taqrib. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 18 Jumadil Akhir 1447 H/ 9 Desember 2025 M. Kajian Tentang Memanfaatkan Kulit Bangkai Penulis Rahimahullah...

📢 PENGUMUMAN UNTUK PENDENGAR & PEMIRSA RODJAKami informasikan kepada para pendengar dan pemirsa setia Radio Rodja 100.1 ...
28/12/2025

📢 PENGUMUMAN UNTUK PENDENGAR & PEMIRSA RODJA

Kami informasikan kepada para pendengar dan pemirsa setia Radio Rodja 100.1 FM dan Rodja TV Rodja TV, bahwa saat ini layanan siaran radio dan TV sedang mengalami gangguan teknis (troubleshooting).

Adapun kendala yang terjadi meliputi:
Server streaming tidak dapat menyala
Salah satu kipas (fan) server mati
Terjadi panas berlebih (overheat)
Sehingga berdampak pada terganggunya siaran.

Tim teknis saat ini sedang berupaya melakukan perbaikan agar layanan dapat kembali normal secepatnya, insyaAllah.

Kami mengajak para pendengar dan pemirsa
berpartisipasi dalam program dakwah ini melalui:

🏦 Bank Syariah Indonesia (BSI)
Nomor Rekening: 756 1212 001
Atas Nama: Yayasan Cahaya Sunnah

Semoga Allah ﷻ membalas setiap dukungan dengan pahala yang berlipat ganda dan menjadikannya sebagai amal jariyah.
Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan.

Terimakasih kepada para pendengar dan pemirsa setia Radio Rodja dan RodjaTV

Jazakumullahu khairan katsiran.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

26/12/2025

harta yang diinfakkan untuk nafkah keluarga lebih istimewa daripada sedekah biasa.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyatakan bahwa harta yang diinfakkan untuk nafkah keluarga lebih istimewa daripada ...
26/12/2025

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyatakan bahwa harta yang diinfakkan untuk nafkah keluarga lebih istimewa daripada sedekah biasa.

Dalam Shahih Muslim, beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي رَقَبَةٍ، وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ، وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ، أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِي أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ
“Satu dinar yang engkau infakkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau gunakan untuk membebaskan budak, satu dinar yang engkau sedekahkan kepada orang miskin, dan satu dinar yang engkau gunakan untuk memberi nafkah keluargamu; yang paling agung pahalanya adalah harta yang engkau gunakan untuk memberi nafkah keluargamu.” (HR. Muslim)

Beliau juga bersabda kepada Sa’d bin Abi Waqqas Radhiyallahu ‘Anhu:
إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا أُجِرْتَ بِهَا حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فَمِ امْرَأَتِكَ
“Sesungguhnya, tidaklah engkau memberikan suatu nafkah pun yang engkau harapkan dengannya wajah Allah ‘Azza wa Jalla melainkan engkau akan diberi pahala atasnya, sampai pun suapan yang engkau masukkan ke mulut istrimu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Harta adalah titipan Allah ‘Azza wa Jalla. Oleh karena itu, sebagaimana berhati-hati dalam mencari, Muslim juga harus bijak dalam menggunakan titipan-Nya, sehingga siap menjawab ketika ditanya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kelak.

Simak selengkapnya:

Rombongan Pertama yang Masuk Surga adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Shahih Jami’ Ash-Shaghir. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Emha Hasan Ayatullah pada Kamis, 20 Jumadil Akhir 1447 H / 11 Desember 2025 M. Kajian Islam Tentang Rombongan Pertama y...

24/12/2025

Sebagai seorang anak, kita tidak akan pernah mampu membalas kebaikan orang tua, seburuk apa pun akhlak atau seberapa besar keburukan yang pernah dilakukan seorang ayah.
Karena sebesar apa pun pengorbanan kita, tidak akan pernah setara dengan jasa kedua orang tua hingga kapan pun.
Berbakti kepada orang tua adalah kewajiban yang tidak gugur oleh keburukan akhlak mereka, selama bukan dalam perkara maksiat kepada Allah ﷻ.
Disampaikan oleh:
🎙 Ustadz Ahmad Zainuddin Al Banjary, Lc.

Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah menukil perkataan Imam Al-Junaid bin Muhammad Rahimahullah, seorang ulama besar ahli zuhu...
24/12/2025

Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah menukil perkataan Imam Al-Junaid bin Muhammad Rahimahullah, seorang ulama besar ahli zuhud. Beliau memberikan prinsip utama dalam berilmu dan beramal:

الطُّرُقُ كُلُّهَا مَسْدُوْدَةٌ عَلَى الْخَلْقِ إِلَّا عَلَى مَنْ اَقْتَفَى اٰثَارَ الرَّسُوْلِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Semua jalan tertutup bagi manusia, kecuali bagi orang yang mengikuti peninggalan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.”

Maksudnya, jalan untuk meraih ridha Allah, keberuntungan, dan keselamatan di akhirat semuanya buntu dan terputus, kecuali melalui satu jalan, yaitu mengikuti warisan ilmu dan pedoman hidup yang telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Imam Al-Junaid bin Muhammad Rahimahullah juga menegaskan bahwa seseorang tidak dapat dijadikan panutan dalam perjalanan menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala jika ia meninggalkan dasar-dasar ilmu:

“Barang siapa yang tidak memahami Al-Qur’an dan tidak menuntut ilmu hadits, maka ia tidak bisa dijadikan panutan dalam urusan ini (perjalanan menuju ridha Allah), karena ilmu kami terikat dengan Al-Qur’an dan Sunnah.”

Hal ini berbeda dengan sebagian orang yang menisbatkan diri pada tarekat tertentu dan menukil perkataan Imam Al-Junaid hanya untuk melegitimasi tradisi mereka, padahal beliau sendiri menekankan bahwa ibadah harus berlandaskan wahyu. Siapa pun yang ingin meraih ridha dan kemuliaan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala hendaknya membekali diri dengan ilmu agama yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah.

Simak melalui:

Ilmu Satu-satunya Jalan Menuju Ridha Allah merupakan kajian Islam yang disampaikan oleh: Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A. dalam pembahasan Amalan-Amalan Hati. Kajian ini disampaikan pada Jumat, 21 Jumadil Akhir 1447 H / 12 Desember 2025 M. Kajian Tentang Ilmu Satu-satunya Jalan Menuju Ridha Allah...

23/12/2025

kewajiban bagi seorang pendakwah adalah memiliki ilmu yang mumpuni terkait materi yang akan disampaikannya.

Kita melihat banyak bencana yang menimpa, terutama di negeri kita. Banjir bandang, gunung yang meletus, demikian p**a be...
22/12/2025

Kita melihat banyak bencana yang menimpa, terutama di negeri kita. Banjir bandang, gunung yang meletus, demikian p**a bencana-bencana yang lainnya. Semua bencana dan musibah itu telah Allah kabarkan dalam Al-Qur’an bahwasanya itu semua akibat perbuatan dosa manusia. Bukan sebatas fenomena alam semata seperti yang diklaim oleh orang-orang yang tidak beriman. Allah berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ…

“Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan akibat perbuatan dosa manusia…” (QS. Ar-Rum[30]: 41)

Allah berfirman:
وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ…

“Tidak ada satupun musibah yang menimpa kecuali semua itu akibat daripada perbuatan dosa-dosa kalian…” (QS. Asy-Syura[42]: 30)

Gunung tidak mungkin meletus kecuali dengan perintah Rabbnya, air bah pun tidak akan pernah menerpa kecuali dengan perintah Allah ‘Azza wa Jalla. Semua makhluk tunduk dan patuh hanya kepada penciptanya saja. Maka Allah memberikan bencana demi bencana tiada lain adalah untuk kebaikan kita, yaitu dalam rangka mengingatkan agar kita kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, agar kita mau mengakui dosa-dosa kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, agar kita kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak memaksiatinya.
Namun ternyata ketika manusia tidak mau mengambil pelajaran, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala pun memberikan bencana demi bencana kepada diri kita tak henti-hentinya.

selengkapnya: rodja.id/3bx

18/12/2025

kewajiban bagi seorang pendakwah adalah memiliki ilmu yang mumpuni terkait materi yang akan disampaikannya

16/12/2025

Kematian akan datang secara tiba-tiba,
tanpa menunggu usia, tanpa melihat kesiapan.
Tidak ada satu pun yang mampu menghalangi datangnya kematian. Harta, jabatan, kekuasaan, dan kedudukan
semuanya tidak bisa menunda ajal walau sesaat.
Ingatlah, kematian itu ada sakaratul mautnya.

Saat di mana lisan terdiam, tenaga melemah,
dan yang tersisa hanyalah amal yang pernah kita lakukan.

📌 Faedah singkat nasihat kematian
Disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc.

16/12/2025

Diantara adzab paling keras yang Allah berikan kepada hamba di dunia adalah dipalingkan hatinya dari mengingat Allah.

Kita melihat banyak bencana yang menimpa, terutama di negeri kita. Banjir bandang, gunung yang meletus, demikian p**a be...
16/12/2025

Kita melihat banyak bencana yang menimpa, terutama di negeri kita. Banjir bandang, gunung yang meletus, demikian p**a bencana-bencana yang lainnya. Semua bencana dan musibah itu telah Allah kabarkan dalam Al-Qur’an bahwasanya itu semua akibat perbuatan dosa manusia. Bukan sebatas fenomena alam semata seperti yang diklaim oleh orang-orang yang tidak beriman. Allah berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ…
“Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan akibat perbuatan dosa manusia…” (QS. Ar-Rum[30]: 41)

Allah berfirman:
وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ…
“Tidak ada satupun musibah yang menimpa kecuali semua itu akibat daripada perbuatan dosa-dosa kalian…” (QS. Asy-Syura[42]: 30)

Gunung tidak mungkin meletus kecuali dengan perintah Rabbnya, air bah pun tidak akan pernah menerpa kecuali dengan perintah Allah ‘Azza wa Jalla.

Semua makhluk tunduk dan patuh hanya kepada penciptanya saja. Maka Allah memberikan bencana demi bencana tiada lain adalah untuk kebaikan kita, yaitu dalam rangka mengingatkan agar kita kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, agar kita mau mengakui dosa-dosa kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, agar kita kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak memaksiatinya.

Namun ternyata ketika manusia tidak mau mengambil pelajaran, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala pun memberikan bencana demi bencana kepada diri kita tak henti-hentinya. selengkapnya:

Khutbah Jumat: Penyebab Datangnya Petaka dan Bencana ini merupakan rekaman khutbah Jum'at yang disampaikan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.

Address

Jalan Pahlawan Kampung Tengah (belakang Polsek Cileungsi) RT 03 RW 03 Cileungsi, Bogor
Cileungsi
16821

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Radio Rodja posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Radio Rodja:

Share

Category